Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Nasi Goreng


__ADS_3

Tak.


Semerbak aroma bawang mendominasi indera penciuman pasangan muda yang duduk berhadapan di kursi meja makan. Seporsi besar nasi goreng ala kampung dengan ekstra bawang putih tersaji. Tampak sayuran hijau dari sawi memberikan warna dari nasi goreng putih polos yang juga diselingi warna kuning telur orak-arik.


“Keasinan ya, Mas?” Mengernyit dan menyengir Ara bertanya ragu-ragu pada Rava. Sesuap nasi goreng buatannya sudah berhasil memenuhi rongga mulut Rava. Tergerus dengan gigi graham bagian kiri yang saling bersinggungan.


Menelan suapannya dengan mata berbinar puas, Rava menggeleng singkat dan mengacungkan ibu jari kirinya. “Nggak kok. Pas, enak banget.”


“Beneran?” Ucap Ara bertanya memastikan, seolah ada keraguan di pupil matanya. “Tadi Ara cicipi rasanya pas. Tapi biasanya kalau di lidah Ara pas, berarti keasinan. Gitu sih biasanya..”


“Coba sekarang dirasa lagi..!” Menyodorkan satu sendok nasi goreng sejajar bibir Ara, Rava meminta Ara agar kembali mencoba nasi goreng buatannya sendiri.


“Mmm.. Pas sih..” Ucap Ara ragu dengan dahi mengerut, mencoba menerjemahkan rasa yang terecap di lidah dengan tingkat keasinan menurut versi nya.


“Berarti memang udah pas rasanya. Enak kok. Makasih ya, Sayang..” Ucap Rava berterima kasih. Sejenak Rava menikmati pemandangan pagi yang sebenarnya membuat dirinya enggan beranjak dari rumah. Tampilan Ara yang sederhana dengan setelan baju tidur, rambut digulung asal dan apron yang masih melekat.


Jika mencari definisi orang cantik itu bebas, maka begitulah yang Rava temukan pada diri Ara. Berantakan, tapi tetap selalu cantik. Apalagi jika sudah berada di bawahnya dan memberikan tatapan sayu menggoda. Roboh pertahanan Rava untuk tidak segera menerkam.


“Ini mau makan sepiring berdua kan?” Tanya Rava sambil menunjuk seporsi besar nasi goreng di hadapannya. Sangat tidak mungkin Rava bisa menghabiskan semuanya jika tidak dipaksa atau sedang kelaparan. Apa lagi hari masih pagi, perutnya tidak bisa langsung menerima asupan dalam jumlah banyak.


“Iya, Mas.” Jawab Ara mengiyakan disertai anggukan. Rambutnya yang tercepol ikut terguncang hingga beberapa helai poni yang terikat lepas.


“Duduk di sebelah Mas. Kenapa jauh-jauh gitu?” Menarik kursi di sisi kirinya, Rava mengintruksikan Ara agar berpindah posisi, duduk di sampingnya.


“Oh iya, lupa. Hehe..” Menepuk dahinya dengan telapak tangan, Ara memberikan cengiran pada Rava. Berpindah duduk dengan cepat sambil melepas ikatan tali apron di pinggangnya. Meletakkan di pengait gantungan khusus untuk apron.


Kini keduanya sudah duduk bersisian. Memulai agenda sarapan sepiring berdua dengan menu sederhana. Jika beberapa hari yang lalu selalu terhidang sandwich telur atau yang paling mewah sayur sop dengan tempe atau ayam goreng, maka pagi itu hanya nasi goreng. Ara belum sehandal itu untuk memasak beraneka menu.


“Kamu gak mau sarapan roti bakar dikasih telur ceplok? Biar Mas buatkan.” Tanya Rava saat melihat Ara dengan santai memakan nasi goreng yang sebagian masih cukup panas.

__ADS_1


Percayalah nasi goreng yang sedang mereka santap keasinan. Penawaran Rava praktis untuk membujuk Ara agar tidak memakan nasi goreng keasinan itu. Cukup tubuhnya saja yang menerima kelebihan kadar garam. Meski memang tidak mampu juga Rava menghabiskan nasi goreng itu seorang diri.


“Nanti terbuang kalau mau makan yang lain. Udah ini aja sarapannya.” Tolak Ara dengan mulut penuh yang sibuk mengunyah.


“Ya udah, pelan-pelan makannya. Kalau ada waktu nanti kita masak berdua ya?” Mengusap kepala belakang Ara, Rava merekah kan senyuman tulus dengan sorot penuh kasih sayang.


‘Bisa-bisanya kamu gak keasinan..’ Membatin Rava menatap takjub Ara dengan kegemarannya terhadap garam. Bagaimana bisa lidah Ara tahan dengan rasa asin yang bisa membuat kebas dan lidah seakan terlapisi selaput yang kaku. Rava benar-benar bertekad akan mengubah perlahan kebiasaan buruk dalam pilihan olahan makanan Ara ini.


Bisa dipastikan jika Mama Lauritz atau Jona yang memakannya, maka kedua orang itu akan berteriak protes. Berbeda dengan Papa Yudith yang selalu memuji masakan anaknya meski kembali menyuruh belajar masak dengan sang Mama. Sedangkan Rian, dia akan menerima apapun asal makan, kenyang dan intinya mulutnya terus mengunyah. Tidak banyak protes, hanya diam-diam memaksakan makanan tertelan.


Begitu pula dengan Rava yang tidak ingin membuat kebahagiaan Ara pecah bak buih sabun. Meski harus menahan dan sesekali menengguk banyak air putih, Rava tetap dengan semangat menghabiskan setiap suapan hingga makanan itu tandas.


"Makasih ya Mas udah habisin nasi goreng keasinan nya.." Celetuk Ara sambil memeluk Rava dari samping. Mengantarkan sang suami menuju garasi mobil sebelum berangkat kerja.


Menatap dengan mata terbelalak Ara yang menduselkan kepala, Rava berdehem kikuk karena ketahuan tidak jujur perihal nasi goreng yang terasa bertabur garam.


"Ara tau kok Mas tadi sengaja bilang enak. Gak mungkin banget tadi itu gak keasinan. Biasa juga Jona suka protes kalau menurut Ara udah pas rasanya." Lanjut Ara berucap dengan malu-malu. Jujur saja Ara tidak terbiasa dengan urusan dapur.


Mungkin karena memang tidak ada niat belajar yang membuat Ara tetap lemah dengan urusan masak-memasak. Apa lagi lidahnya itu sangat suka citarasa asin, asam dan pedas yang kelewatan batas.


"Tapi enak kok. Lama-kelamaan juga kamu bisa jago masak. Nanti kalau Mas libur kita coba belajar masak berdua ya?" Ucap Rava yang terus saja memuji istri nya. Memberikan dukungan semangat agar tidak bersedih dengan kekurangan yang sangat jelas masih bisa dilatihnya itu.


Mengangguk semangat, Ara bersyukur atas pengertian Rava yang tiada habisnya. Melepas pelukannya, Ara membiarkan Rava masuk ke dalam mobil. Tentunya setelah menciumi setiap sisi wajah Ara hingga terasa bagai stempel yang melekat.


“Nanti pulang jam berapa?” Ucap Ara yang masih memerhatikan Rava dari ambang pintu yang terhubung dengan garasi. Tatapannya seakan tidak ingin ditinggalkan, atau mungkin hanya anggapan Rava yang sebenarnya tidak ingin berangkat kerja.


“Sekitar jam 4 sore. Tapi Mas usahakan sebelum jam 4 udah bisa sampai rumah.” Tutur Rava yang langsung disambut senyum ceria Ara. Bosan seharian menghabiskan waktu sendirian di rumah besar itu. meminta Jona dan Rian berkunjung juga tidak bisa berlama-lama. Kedua adiknya itu harus les. Apa lagi Jona yang juga sudah mulai senang dengan dunia otomotif lebih memilih membantu Papa Yudith di bengkel.


“Bibi yang kerja di rumah lama Ayah nanti agak siangan sekitar jam 9 datang, bantu-bantu kamu sedikit.” Imbuh Rava berucap sambil memasang seatbelt melingkar dari bahu kanan hingga ke sekitar area pinggul kirinya.

__ADS_1


“Loh kan Ara udah bilang biar urusan rumah Ara kerjakan sendiri, Mas..! Ara kan harus belajar supaya bisa ngurus rumah sendiri.” Protes Ara tidak suka dengan keputusan sepihak Rava. Wajahnya merengut dengan bibir mengerucut tidak suka.


Tanpa dirundingkan terlebih dahulu Rava mengingkari keinginan Ara yang sebelumnya sudah keduanya setujui. Menghentakkan keras telapak kakinya, tentu Ara kesal.


“Pelan-pelan aja membiasakan ngurus rumah sendiri. Sekarang dibantu Bibi. Mas gak mau kamu capek terus ninggalin Mas tidur.”


“Tapi kan bisa tanya pendapat Ara dulu. Semalam juga Mas gak ada bilang. Ini tiba-tiba hari ini Bibi nya udah mau datang.” Ucap Ara kukuh memprotes Rava. Tidak terima dengan keputusan sepihak Rava. Meski tentu saja tidak bisa diubah lagi. Ara jelas kasihan jika Bibi pengurus rumah peninggalan orang tua Rava itu sudah bersiap-siap ke rumah mereka.


“Gak sempat, Sayang.. Kamu udah tidur duluan. Niatnya Mas mau kasih tau semalam. Lagi pula yang Mas lakuin ini pasti udah tepat. Jangan ngambek ya?” Ucap Rava membujuk. Masih sempat pula Rava memberikan kerlingan genit pada Ara.


“Iya, deh. Maaf kalau Ara gak berguna.” Menunduk lesu Ara mengangguk tidak bertenaga.


Clek.


Spontan Rava turun dari mobilnya. Mana bisa ia meninggalkan Ara dalam suasana hati buruk. Melihat bahu yang menurun lesu saja Rava sudah kelimpungan merasa bersalah. Ditambah lagi kalimat yang Ara ucapkan seolah merendahkan diri sendiri.


“Kenapa istri Mas jadi baper gini?” Mengusap bahu kiri Ara hingga turun ke lengan atas berulang kali, Rava mendongakkan wajah dengan tubuh merendah. Dipandanginya raut wajah Ara yang mendung.


“Siapa bilang gak berguna, hm? Kebiasaan ya kamu suka kayak gini. Mas gak suka. Jangan pernah bilang kayak gitu lagi. Ingat, Mas gak suka kamu merendahkan diri sendiri kayak gini!” Ucap Rava penuh ketegasan. Tatapannya tajam sangat serius sehingga membuat nyali Ara menciut saat ingin membantah.


...****************...


*


*


*


Silakan yang ingin mencari laki-laki seperti Rava untuk menyediakan bantal, guling, selimut. Pastikan kondisi udara gak panas ya.. Mari kita menghalu bersama.🤭

__ADS_1


By the way, untuk yang mau join grup chat Hana tolong sebutkan 2 nama sahabat Ara saat izin masuk. Bukan di komen ini ya, tapi di kotak izin masuk😊


Terima kasih sudah menanti kisah ArVa🥰


__ADS_2