
“Cucu dari saudara Oma ku lah.. Memang kalian pikir kalau aku anak tunggal, terus Mama dan Papa ku anak tunggal, jadi orang tuanya harus anak tunggal juga? Nggak ya..” Kilah Yuki cukup masuk akal bagi Dimas dan Ara. Keduanya kompak mengangguk membenarkan perkataan Yuki.
“Tapi kenapa kamu gak pernah cerita? Tumben banget..”
“Lagian aneh nih anak, Ra. Biasa mana mau diturunin jauh gitu.. Apa jangan-jangan saudara mu yang pelit mau hemat bensin beberapa mili ya?” Ujar Dimas dalam candaannya. Meski masih ada sesuatu yang menurutnya mengganjal, ia tidak ingin memaksa kejujuran Yuki. Diam-diam Dimas ingin mengajak Ara menjadi tim detektif dadakan.
“Baru kemarin sama hari ini aku turun agak jauh. Biasa juga dekat gedung. Kalian aja ini yang negatif mulu pikirannya.” Tukas Yuki sembari menatap Dimas dan Ara silih berganti dengan tatapan menuduhnya.
“Awas aja kalau kamu bohong, Ki.” Ucap Ara penuh penekanan.
‘Maaf.. Aku belum bisa jujur sama kalian.’ Ujar Yuki dalam hati dengan pikiran berkecamuk. Posisinya benar-benar sulit untuk dijelaskan. Seandainya melarikan diri berani tidak beresiko, maka Yuki lebih memilih untuk kabur saat ini juga.
“Oya, Ra.. Hari ini Pak Rava jadi berangkat ke luar Kota?” Tanya Yuki yang sebenarnya sedang mengalihkan pembicaraan.
“Jadi.. Ini hari terakhir bisa ketemu Mas Rava sebelum dia berangkat." Jawab Ara sambil matanya menelusuri kembali rentetan kalimat dari buku tebal yang baru saja berganti halaman.
"Ya ampun jam berapa ini!!??” Seketika Ara panik. Matanya berkeliling meja memindai keberadaan ponselnya, namun nihil.
“Di tas coba cari!” Celetuk Dimas seolah paham arti tatapan bingung Ara.
“Oh ya.. Lupa.” Menepuk dahinya, Ara meraih tas ransel yang sengaja diletakkan di lantai, di sisi luar kursi dan berdekatan dengan kaki kanannya.
“Gila banget ini..!!” Menggigit kuku ibu jari kanannya, Ara cemas pada angka berwarna merah yang tersemat pada aplikasi pesannya.
“Kenapa lagi Ra?” Tanya Yuki gemas, ia tidak cemas seperti Ara, namun penasaran pada hal yang membuat Ara panik.
“Mas Rava kirim pesannya udah ngalahin tukang kredit sama sales pinjaman pakai bunga rendah nih..!” Ujar Ara sambil mendengus sebal. Ada sekitar seratusan pesan singkat yang terkirim dalam kurun waktu yang tidak kalah singkatnya. Tentu saja tidak akan Ara baca seluruhnya, karena baru juga seperempat jemari Ara menelusuri deretan pesan itu sudah bertambah lagi.
“Lagian kok gak sadar sih di kirimin teror kayak gitu?”
“Ponselku mode silent. Tau kan kelas terakhir di suruh nyari jurnal dadakan? Kalau gak aku silent bisa berisik pas nyambung Wi-Fi kampus terus ada notifikasi di ponsel ini.” Gerutu Ara.
“Ya udah cepat balas sana!! Bisa dibongkar kampus kita kalau Pak Rava gak berhasil ketemu kamu.” Ucap Dimas.
“Lagi aku telepon nih..!” Tunjuk Ara pada Dimas dengan layar ponselnya yang tampak tertera nama Rava.
[Halo sayang..] Sapaan itu terdengar jelas di telinga tiga anak manusia yang sebelumnya sempat berbincang tidak tentu arah.
“Udah nyambung tuh Ra..” Seru Dimas dengan pupil mata yang membesar.
[Sayang?] Ucap Rava lagi di seberang sana. Ia cukup kaget mendengar suara laki-laki yang terdengar familiar.
__ADS_1
“Mas.. Maaf baru cek ponsel. Ara tadi harus nyalain ponsel di kelas, jadi mode silent dulu. Maaf ya Mas.. Maaf banget.” Ucap Ara memberondong kata maaf sebelum Rava mulai melancarkan banyak pertanyaan.
[Syukurlah kalau kayak gitu. Mas udah kepikiran jelek kamu tiba-tiba gak ada kabar. Padahal setengah jam lalu harusnya kamu udah pulang.] Ucap Rava yang justru membuat Ara terbelalak.
Spontan saja Ara langsung menjauhkan ponsel miliknya dari telinga. Matanya menatap layar ponsel yang menyala dengan tatapan meragu. Jelas ia tidak percaya bahwa niat awal ingin sedikit mencatat tugasnya sembari menanti Rava justru berakhir membuat Rava menunggu, bukan setengah jam, melainkan 45 menit tepatnya.
“Mas sekarang dimana?” Tanya Ara sambil berharap Rava terlambat menjemputnya.
[Di parkiran gedung kamu.] Jawab Rava ringan.
“Astaga Mas.. Maaf banget.” Ucap Ara sambil mengemasi buku-bukunya. Ponsel dengan panggilan yang masih terhubung itu dijepit oleh bahu dan pipi kiri Ara.
“Aku duluan ya.." Pamit Ara tergesa-gesa pada Dimas dan Yuki. Tangan Ara sudah melambai tanpa menatap ke arah belakang.
[Jangan lari-lari sayang..!] Ucap Rava saat suara nafas tersengal Ara samar-samar terdengar.
“Mas di parkiran sebelah mana? Tempat biasa?” Tanya Ara yang mengabaikan peringatan Rava.
[Sayang,,]
“Sayang..”
Melangkah dengan lebih cepat, Ara juga mematikan sambungan teleponnya. Dahinya mengerut pada kebiasaan Rava yang tidak menunggu di parkiran saja. Selalu merepotkan dirinya sendiri untuk mencari atau sekedar mendatangi Ara, sama seperti saat ini.
“Kenapa gak tunggu di mobil aja? Kebiasaan banget deh Mas ini.” Ucap Ara sembari menghembuskan nafas panjang.
“Sini..” Bukannya menjawab, Rava justru mengambil alih tas ransel Ara.
“Gak apa-apa, Mas. Biar Ara aja yang bawa.” Tolak Ara halus.
“Sebentar lagi sampai di mobil biar Mas yang taruh.”
“Justru karena mau sampai jadi Ara aja yang bawa.”
“Udah sini tasnya.. Nanti Mas taruh kursi depan.”
“Kan Ara juga duduk di depan.” Sambil mendengus jengah Ara akhirnya merelakan tas ransel miliknya berpindah pada tangan Rava.
“Hari ini duduknya di belakang aja ya.” Ucap Rava sambil mengusap kepala Ara.
“Mas hari ini aneh lagi.” Celetuk Ara dengan bibir manyun yang hanya ditanggapi kekehan Rava.
__ADS_1
Pemandangan singkat perdebatan seputar tas itu tentu saja disaksikan beberapa orang. Semuanya sudah tidak terkejut lagi. Pandangan orang-orang itu hanya mengintip sekilas lalu sibuk pada tujuannya masing-masing.
Berbeda dengan beberapa hari lalu saat pertama kali Rava menjemput Ara, tepat di kelas terakhirnya sambil tersenyum dengan sambutan hangat, tentu hanya untuk Ara. Kala itu hampir seluruh pasang mata terperangah takjub, tidak terkecuali Dosen pengajar Ara yang rupanya teman masa sekolah Rava.
Kini semuanya sudah benar-benar percaya bahwa status Ara adalah calon istri Rava, bukan pelakor atau perempuan genit yang menggoda Rava. Bahkan beberapa orang terang-terangan mendukung dan mendoakan agar keduanya segera terikat dalam ikatan suci pernikahan.
Tentu tidak dengan Dian yang saat ini sudah mengepalkan tangannya dengan mata yang terus menatap tajam pada kedua sejoli dimabuk asmara itu. Meskipun selama ini Dian diam, tapi tetap saja ia terbakar api cemburu. Melihat Ara saja amarahnya sudah memuncak, apalagi harus melihat kemesraan yang terpampang jelas di matanya.
“Siapa?” Bisik Ara lirih kala matanya mendapati sosok asing di balik kemudi mobil Rava.
“Temen kerja Mas. Jadi nanti Mas ke luar Kota sama dia.” Jelas Rava sambil meletakkan tas Ara di kursi depan.
“Kamu jangan main duduk di belakang ya Rav!!” Seru sosok laki-laki berkaos maroon dengan celana jeans biru dongker.
“Rav.. Pacarannya nanti virtual aja kan masih bisa..” Lanjutnya lagi.
“Ayo sayang naik..” Ucap Rava pada Ara, mengabaikan seruan yang layaknya kicauan burung di telinga Rava.
Dengan canggung Ara mendudukkan dirinya tepat di belakang kursi kemudi. Rasa asing dan aneh sejenak Ara rasakan saat harus berada dalam mobil Rava dengan orang tidak dikenal.
...****************...
*
*
*
Masih manis atau kurang manis?🤔
*
*
Kisah Yuki akan di kupas tuntas dalam lapaknya sendiri. Di sini Hana cuma mau berbagi spoiler nanggung.
Ini ajang promosi terselubung.🤭
*
Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰
__ADS_1