Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Setitik Noda


__ADS_3

“Kamu udah ketemu akunnya?” Tanya Yuki lagi dengan mengerjap lucu matanya, sok imut.


“Belum lah, Yuki.. Kan tadi aku udah bilang kalau aku udah bergadang 3 harian ini, tapi nggak dapat juga hasilnya. Makanya tambah stres..” Merendahkan suaranya, Ara mengatupkan rapat barisan para gigi yang sudah gatal. Sangat gatal ingin mengunyah Yuki.


“Kantung mata besar, membengkak, menghitam, tapi nggak ada hasil..” Lagi-lagi Ara mengeluh.


“Gak mungkin kamu belum punya orang yang dicurigai!” Memicingkan matanya, Yuki juga melipat tangan di depan dada. Bersilang dengan gaya angkuh, jari-jemari kanannya mengetuk seirama lengan kiri atas bergantian.


“Memang ada, tapi aneh aja.” Jawab Ara ragu. Sebenarnya sudah ada setitik noda yang Ara temukan, namun ia masih cukup kurang mempercayai hasil penemuannya.


“Siapa??” Melebarkan kelopak matanya, pupil mata yang ikut membesar itu jelas menunjukan jiwa kepo membuncah Yuki.


“Nindy..” Jawab Ara lirih.


“Siapa dia??” Bukan Yuki yang bertanya, namun Dimas yang terusik dengan pembicaraan Yuki dan Ara.


“Perawat yang kerja di klinik Dokter Dion.” Jawab Ara cukup singkat.


“Dokter Dion itu..” Memutar bola matanya, Yuki sedang menyusun potongan ingatan akan sosok Dion. Meski belum pernah bertemu, namun Yuki cukup ingat wajah tampan yang muncul di website rumah sakit kala ia mencari tau siapa lagi Dokter yang menangani Ara.


“Dokter spesialis mu kan?” Tanya Yuki sedikit berbisik setelah sempat memantau sekelilingnya. Ia masih cukup sadar pada suara cemprengnya yang suka tancap gas tanpa rem.


“Iya.. Aku tau dia gak suka sama aku. Beberapa kali dia sinis sama aku, cuma alasannya apa kalau beneran dia?” Mengedikan bahunya, Ara masih menutupi dugaan yang terputar di otaknya.


“Kamu ada masalah apa sama dia?”


“Gak ada masalah Yuki.. Tapi, kayaknya dia gak suka aku dekat sama Dokter Dion.” Ujar Ara sambil mengerutkan dahinya seolah sibuk menyelami pikiran. Ia yakin Nindy cemburu padanya, namun Ara sangat ingat bahwa Nindy sudah memiliki kekasih. Kecemburuan Nindy jelas terasa aneh bagi Ara.


“Dia naksir Dokter mu itu?” Tanya Yuki penasaran.


“Kayaknya..”


“Jelas sih ini sama kasusnya kayak cinta di tolak gosip bertindak.” Mengusap dagunya perlahan, kedua jari Yuki layaknya logo sepatu brand ternama yang banyak imitasinya di pasaran.


“Lah kan bukan aku yang tolak cinta dia..!!” Sungut Ara tidak habis pikir.


“Tapi pasti Dokter mu itu punya perasaan yang beda sama kamu. Terus si Nindy dendam dan mau kamu sengsara gara-gara berhasil mendapatkan hati Dokter mu itu.” Jawab Yuki ringan, seringan pukulan manja di lengan Ara.


“Drama banget sih kamu, Ki. Gak ada ya sampai kayak gitu.” Ucap Ara menampik dugaan buruk Yuki. Walaupun kini perasaan Ara meragu pada kebenaran ucapan Yuki, ada sisi menolak dan mempercayai yang muncul bersamaan.


“Bisa jadi loh, Ra. Pasti kamu sebenarnya tau kan kalau Dokter Dion mu itu naksir kamu??” Tepat sasaran. Ara baru-baru ini memang tersadar akan perhatian Dion yang selama ini berbeda. Membuka hatinya untuk Rava rupanya membuat Ara sedikit lebih peka.


“Apaan sih!??” Mengibaskan tangannya di depan wajah, Ara sedang menyanggah pertanyaan Yuki. Nyatanya semua itu benar.

__ADS_1


“Hah..” Helaan kasar tiba-tiba terhembus. Yuki sedang melepas rasa irinya pada Ara.


“Kapan aku jadi disukai banyak orang gitu ya..??” Keluh Yuki memelas, ditatapnya lamat-lamat Ara yang dianggap sudah beruntung dalam hal cinta.


“Jalani aja, Ki. Kamu yang sabar ya jadi jomblo, suatu hari nanti..” Ucap Dimas terjeda, menatap Yuki sambil menyeringai.


“Mungkin.. Kamu masih jomblo.” Tersenyum mengejek, Dimas mengangguk-anggukan kepala pelan sambil memainkan kedua alisnya naik-turun.


Seketika Yuki melotot tajam. Rahangnya mengeras, mengatupkan gigi rapat dengan bibir sedikit terbuka dan kulit hidung mengerut. Jangan lupakan jika rupanya lubang hidung Yuki juga ikut melebar akibat tingkahnya itu. Layaknya banteng siap mengamuk, Yuki beranjak dari duduknya. Tidak berpindah, hanya berdiri menantang saja.


“Itu bukan kata-kata ku loh..” Lanjut Dimas lagi dengan wajah tanpa dosa.


“Heh!! Jelas-jelas bibir sadis mu itu barusan yang ngomong..!! Mau aku remas sampai kamu ngaku!!??” Ucap Yuki meninggi dengan bumbu kesal sambil meremas udara di depan wajahnya.


Meneguk air putih dari botol air minum Ara, Dimas hampir saja menyembur. Tingkah masa bodohnya pada kalimat Yuki dihadiahi jitakan maut. Yuki memang tidak pernah setengah hati bila meluapkan emosinya. Yakinlah bekas jitakan itu terasa panas dan berdenyut sakit.


“Nyaris tersedak aku, Ki. Tega banget..!!” Menepuk dadanya perlahan, Dimas juga menutup kembali botol air minum Ara.


“Lain kali kasih doa ke temen itu yang baik-baik!!” Ucap Yuki ketus. Sorot matanya menatap Dimas sinis nan tajam, setajam golok milik Pak Kumis. Bukan tokoh legendaris, namun Pak Kumis si satpam kompleks perumahan Yuki yang juga menjual es degan langsung dari buah kelapanya.


“Kan bisa jadi fakta juga itu.. Suatu hari nanti juga bisa besok. Kamu besok pasti masih jomblo, belum ada yang datang bilang ‘Yuki.. Aku cinta banget sama kamu. Jadi pacar aku ya?’, nah gitu.. Yakin deh pasti belum ada.” Ucap Dimas mencibir Yuki. Bahkan dalam satu tarikan nafas intonasi Dimas berubah-ubah layaknya seorang pengisi suara sebuah audio novel.


“Kalau besok tiba-tiba ada yang nembak aku, awas aja kamu!!” Bentak Yuki sambil berkacak pinggang. Berdiri menantang Dimas yang jelas sebentar lagi akan terpancing.


“Percaya diri banget!! Kalau nggak gimana tuh??” Lagi-lagi suara Dimas penuh ejekan. Masih duduk manis menatap Yuki yang semakin terbakar kekesalan.


‘Jadi lapar..’ Batin Ara menatap soto yang kuahnya hampir tumpah akibat si empu terlonjak kaget.


“Kalau gak!!??” Suara Dimas ikut meninggi, bukan marah, jelas sedang saling debat meremehkan.


“Iya!!” Teriak Yuki ketus sambil membuka kelopak matanya lebar-lebar.


“Nggak!!” Balas Dimas mencibir.


“iya!!”


“Nggak!!”


“Iya.. Iya.. Iya..!!”


“Ng..”


“UDAH!!” Akhirnya suara yang lebih menggelegar terlontar kuat dari bibir Ara.

__ADS_1


“Berdenyut kepala ku kawan..” Memijat pelipisnya, Ara menunduk terpejam.


“Bisa-bisanya kalian paduan suara langsung di dekat telinga ku. Mental-mental suara kalian di kepala ini..” Menelungkupkan kepala di sela lipatan tangan, Ara merasa kesal tidak jelas.


“Maaf, Ra.. Itu salah Dimas!!” Ucap Yuki sambil melirik sinis pada Dimas.


“Fitnah..!!” Balas Dimas tidak terima.


“Aku doakan kalian jodoh kalau berantem terus!!” Ujar Ara kesal penuh penekanan.


“OGAH..!!” Jawab Dimas dan Yuki serentak.


“Menolaknya aja udah serasi banget.. Udah jodoh aja kalian itu.”


“Gak ya..!! Amit-amit jodoh sama si curut ini!! Mending Jomblo!!” Menolak keras Yuki pada perkataan Ara. Kedua tangan Yuki juga mendukung penolakan itu dengan membentuk silang di udara.


“Gak usah ngarep lu, Ki!! Ogah juga aku sama kamu!!” Sarkas Dimas.


...****************...


*


*


*


Benarkah dugaan Yuki tentang Nindy?🤔


*


*


Hayyoooo.. Coba tebak, akankah Dimas dan Yuki akan Hana buat berjodoh?🤭


By the way, salah satu kalimat yang Dimas ucapkan terinspirasi dari salah satu komen pembaca tersayang (untuk diriku sendiri 😶).



Hana udah izin ya buat comot kalimatnya.😁✌


FYI, Hana buat cerpen pertama.. Silakan mampir diwaktu luangnya bagi yang belum. Klik profil Hana dan temukan 'SENJA KU PERGI'.🥰


__ADS_1


*


Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰


__ADS_2