Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Jam Malam


__ADS_3

Senja di ufuk barat nyaris menghilang. Samar-samar warna kemerahan menghiasi di ujung pandang, langit memang belum menggelap, namun rembulan sudah hadir menyapa.


Suara anak-anak terdengar riuh di sebuah gang area kompleks perumahan. Masih sibuk saling menendang benda bundar yang bisa menggelinding dan mental ke sana-sini. Tidak ketinggalan teriakan wanita berlabel ‘Ibu’ yang memerintah agar anak-anaknya kembali pulang, mandi dan berdiam diri di rumah saat malam menyapa.


“Uwaahh..!! Capek punggung ku!” Keluh Lea sembari merebahkan dirinya ke atas lantai teras kos Arini.


“Sabar. Sebentar lagi selesai untuk hari ini. Besok kita lanjut sedikit lagi.” Ujar Zen seolah menyemangati Lea. Meski begitu ia juga ikut menyusul merebahkan dirinya dengan tangan terentang di sisi teras yang berlawanan. Beruntung teras tempat kos Arini cukup luas.


Seandainya saja tidak ada Zen, pasti Ara, Lea dan Arini lebih memilih berjibaku dengan rentetan laporan kegiatan di dalam kamar kos. Jika punggung terasa kaku dan pegal bisa langsung dihempas ke atas kasur empuk. Namun sayangnya ada Zen yang jelas dilarang keras masuk ke kamar kos Arini yang hanya berupa sebuah ruangan dengan kamar mandi di dalamnya.


“Enak kali ya anak-anak itu dipikirannya cuma main, makan sama jajan aja.” Ucap Lea sembari beringsut menyeret tubuh berbaringnya mendekati Ara, kepalanya diangkat dan bertumpu seenaknya pada paha Ara.


“Akh!” Pekik Ara yang terperanjat kaget. Ia sedang fokus mengamati laporan pertanggungjawaban kegiatan selama berada di Desa L.


Plak.


Bukan Ara yang melayangkan pukulan yang lebih mirip tamparan itu. Melainkan Arini yang memukul kaki Lea yang tidak sengaja menyenggol kepala tertunduk nya.


“Sakit oneng!”


Mengacungkan dua jari kanannya, Lea menyengir pada Arini. “Peace. Nggak sengaja, Rin.” Ucap Lea sambil menduselkan kepalanya di paha Ara. Risih, jelas itulah yang Ara rasakan.


“Lea, bentar deh, minggir dulu.” Ucap Ara lembut, mendorong pelan kepala Lea dari paha kirinya, menggeser tubuh duduk menjauh beberapa senti, Ara meregangkan kaki yang sudah terasa kesemutan.


“Kamu kenapa sih suka nempel-nempel sama Ara? Penasaran aku dari mulai kita perkenalan kamu doyan gelayutan, mendusel-dusel kayak meong gitu.” Seloroh Arini bernada sewot, bahkan terkesan melengking hingga teriakan anak-anak yang merengek tidak mau mandi bisa tersamarkan.


“Ara wangi.” Jawab Lea cepat, kini ia sudah duduk di samping Ara dan menyandarkan tubuhnya seperti tidak bertulang.


“Aku juga wangi tapi kamu gak gitu. Eh, tapi bagus lah.” Celetuk Arini, raut wajahnya yang sewot berubah dengan binar penuh kelegaan.


Mengabaikan Arini dan Lea yang mengobrol tidak tentu arah serta Zen yang nyaris ketiduran, Ara meraih ponselnya, membaca sebuah pesan dari Rava yang baru Ara sadari, padahal sudah masuk beberapa belas menit sebelumnya. Dering ponsel yang sengaja disenyapkan membuat Ara yang jarang memegang ponsel semakin melupakan keberadaan benda pipih miliknya itu.

__ADS_1


“Jemputan aku udah mau sampai.” Ucap Ara tiba-tiba, menarik kedua sudut bibirnya hingga menghadirkan seulas senyum tipis. Mendongak menatap wajah-wajah yang mempersiapkan diri pada perpisahan kecil, kecuali Arini yang tinggal masuk ke dalam kamar kos nya saja.


“Dijemput siapa Ra?” Tanya Zen pada Ara sambil mengemas laptop miliknya ke dalam tas, menggulung kabel charger ponsel dan laptop secara asal, yang penting bisa secepatnya beres dan menghuni tas ranselnya saja.


“Oh, itu..” Ucap Ara terbata, entahlah dirinya masih sedikit malu bila menyebut Rava sebagai pacar pada orang lain selain Dimas dan Yuki. Namun bukan berarti malu dalam artian buruk, melainkan rasa malu yang menghadirkan semu merah di pipi karena perasaan yang tiba-tiba berbunga-bunga.


“Sayang..”


Seperti barisan penyambut tamu undangan dalam sebuah pesta pernikahan, baik Lea, Arini dan Zen mendadak langsung berdiri. Menyapa hormat dan sopan pada Rava yang pernah menjadi Dosen pengajarnya, terkhusus untuk Arini dan Zen yang sama-sama dari Fakultas Ekonomi.


“Udah sampai Mas?” Tanya Ara pada Rava yang jelas hanya basa-basi. Sudah jelas Rava di hadapannya, kenapa masih ditanya sudah sampai segala.


Melangkah mendekat meraih tas yang hendak Ara kenakan, Rava seakan menganggap kehadiran orang lain diantara dirinya dan Ara tidak lebih dari sekedar tiang beton. “Iya, kamu udah selesai?”


Mengangguk pelan, Ara beralih mengenakan sandal jepit hitam miliknya. “Udah kok.”


“Aku duluan ya..” Pamit Ara sembari melambaikan tangan sejajar bahunya.


“Bye..”


“Duluan ya, mari..” Ucap Rava yang akhirnya menatap ketiga teman Ara satu per satu.


...----------------...


“Gimana Sayang? Udah selesai tugasnya?” Tanya Rava sambil mengusap sudut bibir Ara yang terkena saus kacang. Membatin Ara ingin berteriak agar Rava tidak perlu repot-repot membersihkan noda kecil itu. Bukan karena risih dengan tatapan iri atau baper orang lain, namun Ara menyayangkan saus kacang yang masih bisa ia jilat dengan ujung lidahnya itu.


Menggeleng pelan dan masih terus mengunyah, Ara menjawab singkat. “Belum.”


“Perlu Mas carikan orang yang bisa ngerjain? Tinggal bayar aja dan kamu gak usah capek-capek lagi.” Tanya Rava memberikan usulan, kebetulan ia memiliki kenalan yang mahir dan sudah terjun langsung dalam dunia yang memang menjadi bagian dari pekerjaannya.


Menggeleng kuat menolak usulan Rava, Ara menopang siku di atas meja dengan telapak tangan menggenggam satu sama lainnya. “Gak perlu Mas. Ara mau hasil kerja sendiri. Gak apa-apa kalau hasilnya biasa aja, yang penting usaha sendiri.” Ucap Ara serius, ia tidak suka dengan apa yang menjadi kewajibannya harus dikerjakan orang lain.

__ADS_1


“Tapi jangan terlalu capek ya, Yang. Kalau kamu mau mungkin teman Mas bisa bantu arahkan aja. Bisa jadi pekerjaan kamu jadi cepat selesai.” Tutur Rava lembut, menyeruput es jeruk peras di malam yang cukup dingin.


“Mas, Ara ke toilet dulu ya..” Ucap Ara tiba-tiba, merasakan dobrakan gelombang urine yang secara mendadak menyerang.


“Mau Mas temani?” Tanya Rava yang juga ikut beranjak dari duduknya.


“Apaan sih.. Gak, bisa sendiri.” Tolak Ara dengan mata membeliak jengah. Jika diiyakan sudah pasti Rava akan mengekor.


“Pasti udah kebelet banget.” Ucap Rava sambil menggeleng samar, menopang dagunya dengan tangan bertumpu di meja, tersenyum memerhatikan Ara yang berlari kecil dengan terburu-buru.


“Gak pernah aku sangka kalau kamu bisa ada di dekat aku, bahkan menerima kehadiran aku.” Gumam Rava sembari menunduk, menyelesaikan suapan terakhir dari potongan lontong di piringnya.


‘Seandainya Papa langsung merestui kita buat langsung menikah, pasti sekarang aku gak tersiksa batas jam malam.’ Membatin Rava mengunyah lontong di mulutnya dengan santai. Mendongak menatap ponsel miliknya yang tiba-tiba bergetar, sebuah nama familiar tertera di layar ponsel Rava.


Melangkah dengan ringan, dahi Ara berkerut saat sorot mata Rava menajam dan berkilat marah di mata Ara. “Mas kenapa?”


...****************...


*


*


*


Apa yang sebenarnya terjadi pada ponsel Rava?🤔


*


*


Kita mulai masuk konflik sedikit ya setelah ini😊 konflik versi bucin🤭

__ADS_1


*


Terima kasih untuk semuanya yang sudah kasih dukungan untuk kisah Ara, semoga masih setia menanti kelanjutannya 🥰


__ADS_2