Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
CALON ISTRI


__ADS_3

Pagi ini, ruang makan yang biasanya masih terisi perbincangan singkat namun tetap hangat terasa sangat sunyi dan mencekam. Tidak ada suara piring dan sendok berdenting lagi, hanya aroma kopi dan coklat panas yang saling menguarkan mengisi kekosongan ruang makan.


Seolah ada dinding tebal transparan yang tidak mampu diruntuhkan, Dokter Dion memilih memutar arah dibandingkan melewati Pak Rava. Helaan nafas berat Pak Rava akhirnya mengawali harinya pagi ini. Sikap Dokter Dion yang masih tidak menerima kenyataan sangat dipahami oleh Pak Rava.


Sedangkan Dokter Dion yang masih kalut tidak bisa memfokuskan diri pada pekerjaannya. Rasa kesal, marah dan kecewa yang dialami tidak sebesar rasa bersalahnya. Seandainya sejak awal Abangnya itu memperingati, maka ia tidak akan memupuk dan menyirami rasa yang muncul dihatinya pada Ara.


Rasa kecewa itu hadir kala dengan jelas dalam ingatan Dokter Dion bagaimana Abangnya, Pak Rava, yang terlihat biasa saja membaca rekap data diri Ara yang tidak sengaja ia jatuhkan. Bahkan sudah terhitung 2 kali Pak Rava menyelamatkan Ara, tapi sikapnya seolah tidak ada apa-apa.


Bergegas meninggalkan area rumah sakit, Dokter Dion terburu-buru pulang. Pikirannya tertuju pada kotak kayu usang yang berada di dalam ruang kerja Pak Rava.


Brak


Pintu kayu itu terhempas kasar dimana sang pemilik tentunya masih sibuk pada tumpukan kertas atau sedang memandangi si seksi layar monitornya. Berjalan tergesa menuju ruang lain di dalam kamar itu, kotak kayu usang yang sudah menari-nari dalam angannya berada di atas meja.


Ctak


Krek


Hening, bahkan helaan nafas juga menghilang. 5 Detik pertama terasa kosong, hingga detik berikutnya nyaris terjadi remasan pada tepi meja kayu. Kaki Dokter Dion lemas. Jemari yang hampir meremas tepi meja kayu terkulai lemah di sisi tubuhnya.


Brugh


Tubuh kokoh sosok yang tadinya dengan ganas menghempas kasar pintu kayu itu roboh, luruh, terduduk di lantai dingin dalam ruang krem yang terhubung dengan kamar bernuansa hitam. Selembar foto memusnahkan ketidakpercayaannya.


Kotak kayu usang itu masih setia di atas meja meminta untuk diobrak-abrik. Tidak hanya 1, 10 bahkan 50, namun Dokter Dion yakin ada ratusan lembar foto.


Buku bersampul hitam yang terselip dalam tumpukan foto menarik perhatian Dokter Dion, tangannya sudah terulur untuk meraih, namun berubah menjadi kepalan. Rasa penasarannya sudah cukup terjawab dengan foto-foto yang sudah layaknya kejahatan penguntitan, ia merasa tidak perlu lagi terlalu lancang membuka goresan tinta Abangnya yang tidak lain adalah Pak Rava.


"Hahaha.. Bang Rava gila. Kenapa bisa segila ini dia sama Ara??" Tawa hampa Dokter Dion tidak habis pikir dengan kegilaan Abangnya. Dokter Dion tidak menyangka akan sesulit ini saat jatuh cinta untuk pertama kalinya pada gadis yang bahkan gadis itu juga cinta pertama dari Abangnya sendiri.


Dokter Dion sangat frustasi. Mungkin saja cintanya tidak sebesar milik Pak Rava, namun rasa itu nyata. Sebesar apapun nilai atau ukuran cintanya bila dipertanyakan juga tidak bisa menampik bahwa rasa cinta itu benar-benar nyata adanya.


Beranjak menuju kamarnya, sekelebat bayangan kejadian sepele kala itu muncul dalam ingatan Dokter Dion saat Ara secara tiba-tiba datang menemuinya di rumah sakit. Tidak pernah terbayang pertemuan tidak sengaja dengan Pak Rava setelah keduanya berpisah bukan hanya kebetulan semata, namun karena Pak Rava mengikuti Ara. Bodohnya Dokter Dion kala itu percaya saat Pak Rava berkata hanya ingin melihat dirinya bekerja.


Sudah hampir 13 hari hubungan kakak beradik itu merenggang. Rumah yang biasanya terisi suara meski hanya sekadar kata sapaan menjadi sunyi, seolah tidak berpenghuni. Layaknya keajaiban alam dimana angin muson timur dan angin muson barat yang beradu pada satu wilayah. Dari mata Dokter Dion akan tampak api kemarahan, sedangkan Pak Rava memilih bersikap sangat acuh dan merekat bibirnya rapat-rapat.


Tidak ada yang ingin mulai melunak. Keduanya sedang berperang batin dan berebut dalam diam. Tidakkah keduanya berpikir semuanya akan sia-sia jika pada akhirnya hanya Ara yang mampu menjadi penentu nasib keduanya.


Mengabaikan kedua sosok dewasa yang kekanakan. Ara tengah sibuk mengumpulkan lembar isian rencana studi milik teman-teman jurusan seangkatannya. Tugas yang mulanya milik Dimas itu harus beralih tangan pada Yuki dan Ara. Si pelaku utama biang kerepotan sedang asik menyetor di toilet kampus berkali-kali karena susu kadaluarsa. Sudah tidak terhitung setoran dari atas atau bawahnya, tapi Dimas tetap kekeh tidak ingin ke rumah sakit, ia hanya butuh minuman penambah ion saja.


"Udah enakan?" Tanya Yuki pada Dimas yang duduk di lantai merenggangkan kakinya dan menyandarkan punggungnya pada dinding dengan lemas seperti tidak bertulang.


"Lumayan. Jadi lapar banget aku. Tapi gak kuat mau gerak lagi." Ujar lirih Dimas sembari mengelus permukaan perutnya, nafasnya berhembus perlahan dan matanya tertutup.


Pletak


"Haduh!! Kok malah di sentil ini jidat." Keluh Dimas sembari melotot pada Yuki yang melipat lengan acuh tidak perduli setelah menyentil dahi Dimas.


"Kapok!! Lagian gak lihat tanggal dulu, udah tau setahun di kardus baru di minum." Celetuk Yuki pada Dimas dengan ketus.


"Ya kan kirain masih lama." Dimas kembali berujar lirih dan menutup matanya. Lemas tidak terkira melanda tubuhnya, bahkan bibirnya saja nyaris memutih karena terlalu pucat.



Dimas Zuwitd (Chan A.C.E)


(Tolong anggap aja pucat kayak gitu ya👆👆)


"Nih makan." Ara yang sedari tadi menghilang tiba-tiba menyodorkan mangkuk hangat pada Dimas.


"Bubur?" Mengernyit heran Dimas menatap Ara.


"Iya.. Tadi beli nasi 3 ribu di kantin terus pinjam pantry fakultas." Jelas Ara yang ikut duduk di sisi Dimas.

__ADS_1


"Tawar Ra." Keluh Dimas pada suapan pertama.


"Memang tawar. Kan itu cuma nasi dihaluskan terus masak lagi pakai tambah air banyak-banyak."


"Kasih garam dikit aja nggak, pelit." Mencebikkan bibir Dimas pandangi bubur yang tampaknya sudah meronta ingin dilumat.


"Ngelunjak banget." Celetuk Yuki.


"Lagian diajak ke rumah sakit gak mau. Puskesmas aja deh yang deket sekarang.. Takutnya dikasih makan aneh-aneh lagi malah merembes lagi tuh." Lanjut Yuki berujar.


"Nanti aja lah."


"Nanti aja lah.. Kapan?? Nunggu kejang-kejang terus mati??" Sarkas Yuki setelah sempat mengikuti gaya bicara Dimas sebelumnya.


"Gak bagus banget sih mulutnya Yuki. Suka bener lagi." Balas Dimas menatap Yuki.


Plak


"Sakit Ra.. Bukan disayang malah dipukul. Aku masih lemes." Mata Dimas menatap Ara dan Yuki memelas, "Susah ya punya istri 2 tapi bar-bar semua."


"Hih!! Jijik!!"


"Hahahaha.." Tawa serentak Ara dan Yuki menyoraki ujaran serupa keduanya.


"Ra.. Jangan perhatian banget deh sama aku."


"Kenapa?? Takut jatuh cinta ya?? Bukannya udah cinta banget ya Dim sama aku??" Ara mengedipkan mata kanannya pada Dimas.


"Astaga!! Tambah mati cepat ini aku." Tatapan horor Dimas memicu gelak tawa Yuki.


"Hahahaha.. Kok lebay gitu sih Dim?" Tanya Ara.


"Gimana gak lebay kalau ada mata macan lagi melotot ke sini." Memainkan kedua alisnya naik turun sekilas seolah menunjukkan sesuatu, Dimas menunduk sembari mengaduk mangkuk berisi bubur dengan tidak jelasnya.


"Kok jadi sering ke fakultas kita ya?" Bisik Yuki sembari merapatkan tubuhnya bersama Ara dan Dimas. Rupanya Yuki juga melirik sekitarnya dan mendapati Pak Kim memandang ke arah mereka.


"Udah jadian sama Bu Dian kali." Jawab Ara sekenanya.


"Hahahaha.. Ups!" Spontan tawa nyaring Yuki terlontar, "Gak mungkin kayaknya. Aku malah curiga sama si ini nih Dim. Iya gak??"


Yuki dan Dimas mengamati Ara dari ujung rambut hingga dasar sepatu yang membuat Ara bergidik ngeri. Keduanya menganggukkan kepala perlahan tanda saling menyetujui sesuatu.


Mencoba mengabaikan pikiran kotor dari otak Yuki dan Dimas, Ara meraih botol minumnya. Baru juga Ara membuka tutup botol, belum sempat menengguk airnya sudah dikejutkan dengan pertanyaan tidak masuk akal Yuki. Bersyukur air itu masih diam menanti di dalam botol, bila di rongga mulut Ara pasti akan menyembur.


"Dirimu gak diam-diam pacaran sama Pak Kim kan Ra??"


"Heh!! Gila ya nanyanya gitu!!??" Melotot tajam Ara ingin membekap mulut tanpa penyaring milik Yuki itu.


"Gak mungkinlah!!" Lanjut Ara.


"Tapi kayaknya dulu ada yang kayak maling keluar dari mobil Pak Kim. Pfft!!" Ujar Dimas yang juga menahan tawanya membuat Ara melotot kaget.


"Mana banyak lagi tingkahnya habis keluar. Hahahaha.." Jika Dimas masih menahan tawanya, berbeda dengan Yuki yang memang sungguh teman sejati langsung menggelegar kan tawa hingga menjadi pusat perhatian.


"Pokoknya gak gitu. Ada alasannya. Pokoknya bukan yang ada di otak kalian deh."


"Udahlah aku mau ke toilet aja sekarang. Yuki ikut gak??" Ucap Ara pada Yuki.


"Gak mau lah. Ada yang mukanya lagi mendidih mau ke toilet soalnya. Hahaha.." Kembali Yuki tergelak tawa kencang.


Berlari sekencang mungkin Ara abaikan tawa Yuki yang kembali menggelegar. Belum juga sampai pada toilet terjauh yang Ara tuju, lengannya sudah ditarik kasar oleh sosok yang menjulang tinggi darinya menuju parkiran.


Tubuhnya yang masih linglung tentu hanya menurut, meski kerutan dahinya lama-kelamaan bertambah banyak. Pikirannya sedang bertanya-tanya apa halusinasinya kini berubah menjadi laki-laki tampan. Tapi jika bisa memilih, Ara lebih baik ditarik paksa oleh Lee Minhyuk dari grup BTOB si om-om tampan rasa mas pacar.

__ADS_1


"Ternyata benar perempuan kemarin itu kamu dan rupanya kamu kuliah di sini." Ucapan itu bernada sangat sinis. Mungkin telinga Ara bisa terkoyak bila suara itu mampu berubah menjadi senjata tajam.


"Foto dan video itu rekayasa kan!!?" Suara itu tidak mengejutkan Ara, namun daun nangka kering yang baru saja menampar menyadarkan Ara yang masih diam terpaku.


"Gak mungkin Dinda kayak gitu. Pasti kamu manipulasi semua itu kan?? JAWAB AKU CEPAT!!" Ara masih setia untuk mengatupkan bibirnya serapat mungkin. Bahunya yang digoncang kasar menimbulkan rasa jijik dan kotor pada tubuhnya.


Menghentak dengan kuat, Ara pegang kedua bahu dengan lengan bersilang. Ingin Ara kupas saja kulitnya jika bisa. Tatapan nyalang Ara tujukan pada sosok kurang ajar itu. Tidak ada rasa iba yang pernah tersisa seperti sebelumnya.


"JANGAN BERANI KAMU SENTUH ARA LAGI!!" Bentakan kuat itu membuat Ara menoleh. Tangan yang akan menyentuh Ara kembali membeku di udara. Seringai tipis muncul di sudut bibir Ara. Akhirnya sosok ini berani muncul melindunginya tidak dalam diam lagi.


"Pak Rava??" Mengernyit heran, sebutan itu terlontar dari sosok beringas yang Ara yakini penuh tanda tanya itu.


"Ada urusan apa kamu sama Ara, CALON ISTRI SAYA??" 'Calon istri saya', Pak Rava menekankan 3 kata itu sembari menatap tajam lawan bicaranya.


"Dia?? Calon istri bapak??" Tangan yang sempat terkulai di sisi tubuh tadi berubah terangkat dengan telunjuk mengarah pada Ara.


"Ada masalah Dewa??"


Meskipun sempat mendelik kesal, Ara menyilang kan kedua lengannya memilih diam menikmati drama. Sungguh Ara sangat miris pada dirinya sendiri yang sempat mencintai sosok Dewa. Sang cinta pertama yang diagungkannya dahulu rupanya laki-laki bodoh, kasar, berpikiran sempit dan entahlah apalagi hal buruk yang ingin Ara sematkan padanya. Tapi setidaknya bagi Ara sosok Dewa cukup setia pada Dinda dan kebodohannya.


Sedangkan sosok yang sempat Ara anggap pengecut kini sudah berani pasang badan langsung untuk menghalau kutu busuk. Meskipun telinga Ara masih gatal mengingat kata-kata calon istri tadi. Memang siapa yang ingin menjadi calon istrinya. Ara?? Tentu saja tidak.


...****************...


Angin muson : Angin musiman akibat adanya perbedaan pemanasan antara belahan bumi utara dan belahan bumi selatan yang terjadi akibat daratan menghangat dan menyejuk lebih cepat daripada air. Angin muson dapat dibagi menjadi muson timur dan muson barat.


Muson timur : Suhu di darat lebih panas daripada di laut. Angin yang dibawa bersifat kering mengakibatkan wilayah Indonesia mengalami musim kering/kemarau. Kondisi ini juga akibat matahari berada di belahan bumi utara, sehingga menyebabkan benua Australia mengalami musim dingin dan benua Asia lebih panas.


Muson barat : Udara di darat menjadi lebih sejuk dengan cepat, tetapi udara panas di laut bertahan lebih lama. Angin yang dibawa bersifat basah sehingga membawa musim hujan/penghujan. Pada kondisi ini benua Australia sedang mengalami musim panas dan benua Asia lebih dingin.


Penjelasan angin muson ini juga gak akan lepas dari hukum Buys Ballot yang berbunyi : "Angin mengalir dari tempat yang bertekanan maksimum (dingin) ke tempat yang bertekanan minimum (panas)."


*


*


*


Nah dari penjelasan angin muson udah lebih kebayang banget gak gimana kondisi hubungan bahkan sikap Dion dan Rava??😄


Lumayan panjang gak hari ini up nya??🤔


Oyaaa.. Akhirnya si Cuit-cuit Dimas Zuwitd kita punya muka ya kakak-kakak 😄


Nih bonus visual Dimas Zuwitd dari samping😉



Kalau mau kenalan sama anak geng Dimas a.k.a Chan bisa nih😚 (ke IG : @official_a.c.e7)


Nah loh tebak sendiri yang mana visual Dimas 😄



*


*


Kalau om-om tampan rasa mas pacar, Lee Minhyuk itu ini ya.. uhh yang tahun ini bakal ultah ke-30 tapi malah tambah imut😚.. Visualnya ini gak masuk tokoh di sini ya.. Cuma mau nunjukin aja yang Hana suka (ups🤭 maksudnya Ara ya😁) IG : @hutazone



*

__ADS_1


FYI, secara perlahan Hana udah mulai revisi Bab sebelum-sebelumnya. Semoga kalau ada yang baca ulang tetap suka😊 Soalnya pas cek ejaan tiba-tiba pengen diaduk-aduk lagi bahasanya😁


__ADS_2