Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Cium Nih..


__ADS_3

Rembulan bersinar terang di kegelapan malam meski tanpa kerlipan bintang. Deburan ombak di pantai yang tidak terlalu jauh juga terdengar nyata di malam yang sunyi. Tidak ada kendaraan bermotor yang berlalu-lalang.


Jika di Kota besar bunyi klakson masih saling bersautan, maka di Desa L sudah benar-benar seperti Desa mati. Menemukan keramaian kendaraan merupakan kelangkaan di Desa L. Mayoritas masyarakat lebih gemar bersepeda dan baru menggunakan motor bila jarak tempuh terlampau jauh.


Bukan karena mereka tidak memiliki kendaraan bermotor, bahkan meninggalkan motor dengan mencabut kunci saja terasa aneh bagi mereka, benar-benar chulture shock bagi Ara dan teman-temannya.


“Tugas kamu masih sama, tapi bertambah awasi Zen. Saya gak suka dia terlalu dekat dengan Ara. Ini tambahan untuk tugas kamu.” Ucap Rava lirih, menyodorkan sebuah amplop berbahan kertas padi berisi beberapa lembar uang. Tidak jelas berapa nominalnya, saat ini hanya Rava yang tau.


“Terima kasih, Pak.”


“Hm.” Dehem Rava singkat, memutar badannya acuh. Namun sedetik kemudian Rava menegang, menoleh gusar ke arah belakang pada seseorang yang baru saja bertransaksi dengannya, takut sosok yang menatap heran bercampur penasaran salah paham pada dirinya.


“Mas ngapain sama di-..”


“Ayah ku titip uang ke Pak Kim, Ra.” Selanya memotong ucapan Ara.


Mengernyitkan dahinya, Ara memiringkan kepala. “Ayah?”


“Iya, Sayang. Kebetulan Ayahnya kerja di kantor yang sama dengan Mas.” Ucap Rava mencoba bersikap tenang, menghampiri Ara dan langsung merangkulnya.


‘Cih.. Dasar nyusahin.’ Umpatan tidak suka terucap ketus di dalam hati. Rasanya ia benar-benar kesal memandang sejoli kasmaran yang sudah berjalan di depannya.


“Oh, gitu..” Mengangguk ragu, Ara melirik sekilas memandang wajah Rava, ada kekhawatiran samar yang sudah tertutupi rasa lega yang dapat Ara lihat.


Menyipitkan mata, suasana remang minim pencahayaan itu jelas membuat Ara curiga. Bahkan mata yang biasanya tidak awas itu kini bisa melihat jelas segala perubahan ekspresi Rava, sensor cemburu benar-benar bekerja dengan baik membantu Ara lebih peka.


“Mas gak jadi berangkat sekarang? Tadi Ara gak sengaja papasan sama teman Mas. Dia udah nungguin di depan.” Ucap Ara sambil bersedekap masih dalam posisi bahunya dirangkul oleh Rava.


“Tadi dia bilang agak lama tinggalin Mas di sini.”


“Ck! Mas sih kelamaan pacaran diam-diam. Habis waktu juga gak sadar.” Sindir Ara dengan perasaan dongkol, kesal, sebal dan macam-macam lainnya.


“Kamu cemburu?” Menaikkan alis kanannya, Rava tersenyum tipis.


“Gak!” Melengos menyentak tangan Rava dari bahunya, Ara menapak kasar hingga menimbulkan bunyi tamparan pasir dan sandal yang ia kenakan.


Berlari kecil Rava menghadang langkah kaki Ara. “Jangan cemberut gini.. Mas jadi makin gak rela ninggalin kamu.” Ucap Rava sambil mengapit kedua sisi pipi Ara.

__ADS_1


“Iiih.. Ini cemberut gara-gara Mas tau!! Main himpit aja, ngeselin deh!!”


“Jangan ngambek, Yang.. Mas tadi kan cuma kasih uang titipan sama teman kamu. Gak mungkin Mas macam-macam.”


“Ketahuan aja makanya gak macam-macam.” Ucap Ara ketus tanpa mau menatap Rava yang terus mencoba mengalihkan wajah Ara agar menghadap ke arahnya.


“Sstt! Mas gak suka ya kamu bilang gitu. Kamu itu paling penting di hidup Mas, begitu pula kamu yang juga harus menempatkan Mas jadi yang terpenting. Udah ingat itu aja, jangan berpikir jelek lagi. Cinta Mas ini sepenuhnya milik kamu.”


“Kebiasaan Mas ini nih yang sering ngomong manis bikin Ara takut. Awas aja kalau diam-diam oleng, Ara sumpahin biar karam sekalian!” Ucap Ara sewot dengan tatapan sinis.


Memang serba salah ingin membela diri di hadapan seseorang yang sudah terbakar api cemburu. Niatnya bukan menggombal atau sekedar berbibir manis, Rava serius dengan setiap kalimat yang diucapkannya.


“Iya sumpahin aja karam kalau oleng.” Ucap Rava asal.


“Jadi Mas mau coba-coba oleng!?? Jahat..!!” Nah kan masih berlanjut, tapi Rava justru senang mendapati Ara cemburu. Fenomena langka dan perlu diabadikan bila Ara sudah menunjukkan perasaannya.


“Manis banget sih Sayang nya Mas ini.” Ucap Rava gemas sambil mencubit pelan hidung Ara.


“Orang kesel dibilang manis, aneh!”


“Loh kamu marah aja imut. Gemesin banget jadi pengen cium..”


“Boleh?” Menyeringai, Rava mengedikkan dagunya.


Plak.


Bukan jawaban yang Rava terima, justru pukulan kencang di lengannya yang menyapa. Mengusap sekilas lengan berdenyut yang Ara pukul, tangan Rava kemudian beralih menarik tangan Ara. Meniup pelan telapak tangan Ara yang gunakan untuk memukulnya.


“Sebenarnya gak mau pergi dari sini.” Celetuk Rava putus asa.


“Betah kamu di sini Mas? Iya juga sih, di sini enak meski sinyal susah.” Ucap Ara sambil mengangguk pelan. Ia bertanya, namun juga menjawabnya sendiri.


Mengelus puncak kepala Ara yang menurun hingga ke pipi, Rava menatap sendu Ara yang tampak tenang. Sedangkan Rava sudah dari kemarin malam sulit tidur memikirkan Ara yang akan ditinggalkan. “Bukan betah, tapi kamu kan di sini.”


“Gak sampai 24 hari lagi juga selesai terus pulang.” Ujar Ara menenangkan Rava, tapi tentu saja tidak mempan.


“Mas tau gak kalau di sini itu laki-laki sama perempuan sering jalan bareng udah dipandang sebelah mata, kebayang gak Ara bakal disebut apa kalau Mas terus rangkul, cubit-cubit gemas terus usap-usap gini?” Ucap Ara panjang lebar, baru saja ada seorang warga yang lewat dengan berjalan kaki memandang aneh ke arah Rava dan Ara.

__ADS_1


“Pak Kades sampai ke RT, RW di sini udah Mas kasih tau kok kalau kamu calon istri Mas.” Ucap Rava yang seketika membuat rahang bawah Ara terasa jatuh. Tercengang Ara pada sebuah fakta yang baru saja ia ketahui.


“Serius?” Tanya Ara dengan wajah pias, ia terlalu syok.


“Iya.” Jawab Rava singkat, tersenyum sumringah dengan bangga.


“Ara, USB merah punya Lea sama kamu?” Sebuah suara tiba-tiba mengusik keduanya. Berdiri di halaman depan bangunan yang Ara dan teman-temannya tempati, sosok yang tiba-tiba hadir itu tersenyum tanpa dosa.


Inilah yang membuat Rava semakin ragu meninggalkan Ara. Meskipun keberadaan Ara di sini mengemban tugas, namun bagi Rava ancaman itu bisa berada di mana saja.


Apa lagi Zen, bukan hanya cukup pintar, Rava sangat tau jika Zen termasuk mahasiswa yang cukup menonjol. Tidak melulu pada bidang akademik, namun Zen juga terkenal cukup cekatan, disiplin dan masuk dalam salah satu jajaran most wanted di kampus.


Bagaimana Rava tau? Tentu saja kekuatan uang dan informan.


Menyesal Rava tidak bermain curang memilih sedikit anggota laki-laki di tim KKN Ara. Dirinya hanya bisa memberikan permohonan agar Ara di tempatkan pada Desa L sesuai rekomendasinya, tentunya bersama mata-mata bayangan. Akan tetapi cukup jelas Rava tidak bisa ikut andil terlalu jauh pada anggota tim lain yang ditentukan secara acak.


...****************...


*


*


*


Siapakah ancaman sebenarnya di sini?🤔


*


*


Sedikit cerita, latar Desa L ini sebenarnya Hana ambil dari tempat waktu Hana KKN dulu. Dapat tempat tinggal yang belakang rumahnya langsung pantai, bersih banget.


Terus tentang kunci motor itu juga bener. Dulu waktu pinjam motor warga dan cabut kuncinya malah dimarahin, katanya buat apa dilepas nanti bingung nyari. Padahal motor itu mau ditinggal. Besoknya waktu survei Desa sama teman-teman malah lebih banyak lihat motor dibiarin di pinggir jalan lengkap kunci dan helm, benar-benar terasa aman.😂


Buat yang nunggu Hana UP, pasti hafal kan Hana sering UP itu malam, jadi liat notif malam atau besok pagi aja. Nah kalau gak sempat, baru deh gak ada UP🤭


*

__ADS_1


Terima kasih untuk semuanya yang terus memberikan Hana dukungan tanpa lelah, semoga kita semua selalu diberikan kesehatan🥰


__ADS_2