Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Devga Divta Jozef Addi


__ADS_3

Kondisi Ara sudah lebih baik. Saat ini ia sudah dipindahkan ke ruang rawat inap biasa. Tidak mungkin mengambil ruang VIP. Keluarga Ara memang mampu tapi tidak cukup kaya untuk menghabiskan uang hanya untuk ruang VIP.


"Dek ayo bangun. Sampai kapan kamu mau tidur terus. Maafin Mas mu ini ya dek.. Harusnya dulu Mas bisa kasih kekuatan buat mu. Huh.." Genggaman pada tangan kiri Ara kian mengerat. Ada nafas tersekat yang tidak mampu untuk meneruskan ucapannya.


"Mas janji bakal buat perhitungan sama dalang biadab itu. Mas gak tau kalau kamu lebih terpuruk dari pada Mas. Mas ngerasa paling tersakiti, merasa ditipu, dibodoh-bodohin, tapi gak pernah mau tau apa yang kamu alami. Maafin Mas ya Ra?? Jawab Ra!!" Suara parau Ega tidak diikuti isak tangis, namun air mata terus berlinang jatuh hingga membasahi satu titik di sisi ranjang Ara.


"Apa yang terjadi sama Adik mu itu bukan salah kamu. Lagian orang-orang itu udah di penjara. Jadi jangan merasa bersalah ya, nak." Tepukan kecil di pundak Ega diberikan oleh Papa Yudith.


"Ega ada salah.. Ega gak tau waktu itu kalau Ara habis dilecehkan. Egaa.." Tidak mampu rasanya Ega melanjutkan ucapannya.


Ega menguatkan hati dan tekadnya. Ega juga berharap kedua orang yang sudah dianggap sebagai orang tuanya itu tidak marah dan mau mengampuninya.


"Selama ini Ega marah sama Mama Papa, kenapa gak sayang dan ninggalin Ega sama Ibu Laura. Makanya Ega putusin semua kontak ke Mama Papa. Hari dimana Eyang meninggal, Ega baru tau kalau Ega bukan anak kandung Mama Papa, Ara bahkan tau 5 tahun sebelum Ega tau. Ega marah juga sama Ara kenapa tega bohongin Ega." Menarik nafas dalam-dalam, rongga dada Ega rasanya sangat sesak.


Menatap lekat mata kedua orang dewasa di depannya bergantian, Ega kembali berucap, "Hari itu juga Ega bilang gak usah panggil Mas lagi, Ega gak mau punya Adik lagi, Ega benci sama Ara. Ega harap gak pernah ketemu Ara selamanya, Ega jijik punya adik kayak Ara. Tapi Ega salah.. Ega lepas kendali, Ega dorong Ara Pa Ma, padahal Ara gak salah apa-apa." Akhirnya tangis Ega pun pecah saat jeritan dan tangisan Ara kala itu kembali menggema di telinganya.


Mama Lauritz meratapi nasib keluarganya. Kesedihan 5 tahun lalu bukan hanya miliknya dan suaminya saja, namun juga Ara dan Ega. Bila sudah sering mendapat perlakuan semena-menanya saja masih sakit hati atas hinaan-hinaan itu, apalagi Ara yang memang sedang terpuruk.


Berbeda dengan Papa Yudith yang sangat kecewa dengan dirinya sendiri. Bagaimana bisa di tahun yang sama anak gadisnya itu menderita berturut-turut dan harus diakui dia juga menjadi salah satu penyumbang rasa sakit.


Kondisi Papa Yudith terlalu emosional. Kala harga dirinya diinjak dan ingin ditukar dengan sebidang tanah menyulut amarahnya. Pada saat yang sama Ara justru menuntut membeberkan status Ega dengan menyebutkan 'anak haram' membuat Papa Yudith gelap mata dan menampar Ara untuk pertama kalinya.


Tanpa Mama Lauritz dan Papa Yudith ketahui bahwa derita Ara bukan bermula sejak 5 tahun lalu, namun sejak Ara mengerti apa itu arti dibuang.


"Astaga Mas.. Sampai kapanpun Mas itu tetap anak sulung Papa dan Mama. Gak pernah sedikitpun sengaja ninggalin Mas."

__ADS_1


"Maafin Mama yang gak bisa pertahankan Mas waktu itu. Kamu tau kan keluarga Ayah mu berkuasa di rumah sakit? Keluarga besar juga gak ada yang dukung keluarga kecil kita. Waktu Papa dan Mama berusaha ambil kamu lagi, mereka datang menggugat dengan bukti tes DNA. Akhirnya mau gak mau Mas harus kembali sama mereka." Menghapus sisa air mata, Mama Lauritz sekali lagi kecewa dengan keluarga besarnya.


"Papa Mama juga mulai rela setelah kami lihat Ibu mu udah berubah jadi sayang sama mu Mas. Kamu juga tetap dapat keluarga utuh." Lanjut Papa Yudith menimpali ucapan Mama Lauritz.


"Ega gak pernah bahagia di sana. Awalnya semua baik-baik aja, sampai akhirnya Ayah Arya sama Ibu Laura sering cekcok. Ibu suka pergi sama temennya foya-foya, Ayah sibuk kerja, Ega di rumah sendiri terus. Ega ngerasa dibuang Pa Ma. Makanya Ega marah banget waktu lihat Ara masih bisa bahagia sama Mama Papa" Meski suaranya masih parau, air mata Ega mulai kering.


"Baru 2 tahun lalu Ega tau kalau Mama Papa gak buang Ega, malah karena Mama Papa Ega bisa hidup di sini dan gak dibuang. Udah dari setahun yang lalu Ega pengen ketemu Ara minta maaf, tapi Ega malu, Ega takut Ara gak mau maafin Ega." Lanjut Ega.


Meskipun Ega bukan anak kandung Mama Lauritz dan Papa Yudith, namun kasih sayang yang diberikan sama dengan yang diberikan pada Ara, Jona dan Rian. Bahkan nama 'Devga Divta' saja pemberian Mama Lauritz dan Papa Yudith, karena setelah lahir hampir saja Ega akan langsung dibuang oleh Ibu kandungnya sendiri.


Jika saja dahulu Tante Laura tidak mengambil Ega diam-diam saat berusia 4 tahun, mungkin nama Ega akan tetap menjadi 'Devga Divta Jozef Addi' dan statusnya sah di mata hukum menjadi kakak kembar Ara.


Tentu saja kesengajaan itu dibuat untuk menutupi fakta kelahiran Ega. Namun ternyata semua usaha Papa Yudith dan Mama Lauritz sia-sia. Kebenaran tetap saja akan terungkapkan. Sama seperti serapat apapun kita menyimpan durian, bau nya tetap akan menyeruak.


"Mama.."


Suara diiringi pintu ruang rawat Ara yang terbuka menampilkan Rian bersama 4 orang dewasa bagi Rian kecil.


"Tante.. Maafin Yuki ya tante.. Hiks.. Hiks.." Suara disertai isak tangis menyerbu tanpa dipersilahkan.


"Kamu tau nak?" Seolah mengerti untuk apa permohonan maaf dari Yuki.


"Sekitar 2 bulan lalu Yuki pernah lihat Ara.. Maaf, kayak orang gila.. karena.. " memutus perkataannya sambil melirik sinis pada satu sosok, "Terus itu tante.." Yuki mengarahkan jari telunjuknya pada lengan kiri Ara yang penuh sayatan. Seketika tatapan mata Mama Lauritz berubah sendu.


Mama Lauritz tidak menyangka bahwa luka dipergelangan tangan yang katanya cakaran kucing ternyata sayatan sudah memenuhi lengan kiri putrinya. Selama 5 hari Ara terbaring sudah setiap waktu luka itu terlihat karena baju pasien berlengan pendek yang Ara pakai. Meskipun terkadang ditutupi oleh selimut atau scraft seperti saat ini.

__ADS_1


"Tante maaf, Dimas sama Yuki baru datang, ini juga gak bisa lama. Ada kegiatan kampus yang gak bisa dilepas kendali. Setelah Ara sadar, tante gak usah takut kalau bakal ada omongan di kampus. Dimas sama Yuki udah urus, mereka semua taunya Ara kecelakaan biasa dan lagi berobat." Dimas berbicara langsung pada intinya, ia dan Yuki benar-benar tidak punya waktu. Apalagi bagian Ara juga akhirnya diambil alih keduanya.


"Om sama Tante mu malah gak enak Dim.. Maaf ya kalau Ara malah ngerepotin tugas kuliah kalian yang numpuk." Papa Yudith sangat berterimakasih pada kedua teman Ara.


Merasa tidak ingin merusak suasana haru itu, seseorang yang juga ikut masuk ke ruangan tadi memilih keluar tanpa izin. Biarlah ia menjadi tidak sopan. Ia juga tidak mampu bertemu Ara yang tengah berada diantara semua orang yang menyayanginya, takut menjadi perusak meski Ara belum tersadar.


Beberapa saat setelah Dimas dan Yuki berpamitan perhatian Mama Lauritz beralih pada sosok yang masih terdiam mengamati interaksi semuanya sedari tadi. Senyum ramah Mama Lauritz langsung terlukis kala melihat sosok itu.


"Nak Bima sejak kapan datang?"


"Bang Bima sama Rian, Mama.. Rian udah kangen Kakak, tapi Mamas belum pulang sekolah. Terus waktu Rian mau cari angkot ada Bang Bima yang nawarin antar Ma." Senyum ceria Rian sungging kan.


"Maaf ya Om, Tante. Bima gak tau kalau Ara di rawat, jadi Bima gak bawa apa-apa." Ucap Bima sesal sambil sesekali melirik sosok yang masih menggenggam erat tangan Ara.


"Kita semua malah makasih kamu udah antar Rian ke sini Bim." Ucap Papa Yudith.


"Oya, kenalin ini Mas nya Ara Bim namanya Ega. Mas, ini Bima, lebih tua dari mu jadi yang sopan ya.. Calon Pak Dokter loh si ganteng ini." Terkekeh jenaka Papa Yudith memperkenalkan Mas ega dan Bima.


Sedangkan di sudut lorong rumah sakit tempat Ara di rawat ada seorang manusia yang sedang gundah. Kesalahan meninggalkan Ara menjadi boomerang baginya.


...****************...


*


*

__ADS_1


*


Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰


__ADS_2