
“Mas Rava duduk aja di situ lihat Ara. Gak usah ganggu! Biarin Ara kerjain semuanya sendiri.” Perintah Ara pada Rava yang langsung diangguki.
“Ini Ara buatin tumis bayam di tambah tahu sama buat telur ceplok ya?” Tanya Ara memastikan menu yang akan dibuatnya sesuai selera Rava. Tampaknya Ara tidak punya kreasi lain sampai memasak sesuai ide Mama Lauritz, hanya saja ada tambahan tahu di tumis bayam.
“Apapun yang kamu masak pasti saya makan.” Jawab Rava mantap. Jantungnya sudah berdebar hebat karena terlalu senang. Menatap sang pujaan hati yang akan menghidangkan masakan spesial hanya untuknya sendiri. Padahal semua terlihat biasa saja jika bisa meminjam mata orang lain.
“Masak air aja kalau gitu.” Membuang pandangannya ke sembarang arah, balasan Ara sekenanya. Sikap yang tampak acuh itu menyembunyikan senyuman tertahan. Mana mungkin Ara tidak baper bila diberikan respon tanpa keraguan dan senyuman yang tulus.
“Iya, gak apa-apa.” Ucap Rava dengan kesadaran minimal. Otak dan hatinya terlalu tertumpuk bunga-bunga bermekaran.
“Haduh..” Ucap Ara sembari menepuk pelan dahinya.
“Kenapa?” Tanya Rava bingung kala menangkap suara keluhan Ara.
“Gak apa-apa. Udah diam aja di situ.”
Membungkam tanpa suara yang terlontar dari bibir, Ara sibuk berkutat pada kuali, ia sudah sibuk menumis. Aroma menggiurkan namun cukup pedas menggelitik rongga hidung Rava. Rasa ingin bersin sebisa mungkin Rava tahan, meski hidungnya sudah sangat gatal dan geli tidak terdefinisi kan.
“Kok kayak kurang asin, tapi dicicip lagi jadi asin.” Mengernyitkan dahinya, Ara mengecap bimbang pada rasa tumis bayamnya. Melirik Rava sekilas yang terus saja tersenyum sedari tadi, Ara akhirnya memilih lidah lain untuk berkomentar.
“Coba deh, Mas!” Ara menyodorkan sedikit bayam dari ujung sendok yang sudah ia tiup sebelumnya.
“Gimana?” Tanya Ara penuh harap kala Rava sudah menerima suapannya dan mulai mengunyah.
“Enak banget.” Ucap Rava sambil mengacungkan kedua ibu jari dengan semangat.
“Syukur deh. Gak perlu tambah garam lagi kan?”
“Gak usah. Gini aja udah enak banget, rasanya udah pas banget di lidah Mas.”
“Tinggal ceplok telur aja kalau gitu. Tunggu sebentar lagi ya, Mas.”
“Iya, kamu pelan-pelan aja.” Ucap Rava santai, sejujurnya ia sempat gugup saat menerima suapan Ara dari sendok yang juga Ara gunakan untuk mencicipi sendiri masakannya. Merutuki pikirannya yang menjalar kemana-mana, Rava berusaha menghapus bayangan ciuman melalui perantara sendok itu.
“Udah siap.. Silakan dimakan Mas..” Ujar Ara dengan senyuman paling mempesona.
“Terima kasih ya, sayang..”
“Makan gih, buruan..!”
“Kamu gak makan juga?”
“Nanti aja, belum pengen makan.”
__ADS_1
“Makan sama Mas aja sini.”
“Sok romantis sepiring berdua kayak gak ada stok makanan lain aja.” Cibir Ara yang ditanggapi kekehan Rava. Ia sudah duduk menyerong di sisi kanan Rava sambil memandang Rava yang mulai menikmati hasil olahannya.
“Minum dulu..” Ucap Ara sambil menyodorkan segelas air putih. Sejujurnya Ara ingin menertawakan Rava yang berusaha menahan pedas. Nyatanya semua itu percuma bila pelipis Rava sudah gencar mengucurkan buliran keringat sebesar durian dengan wajah yang memerah.
Gluk.
Gluk.
Gluk.
“Terima kasih..”
“Kamu kalau gak tahan pedas bilang dong, Mas.. Tau gitu tadi Ara gak masak sesuai selera Ara.”
“Gak apa-apa. Saya harus belajar biar nanti kalau kita menikah gak kaget lagi sama masakan kamu.” Ucap Rava sambil mengusap lembut puncak kepala Ara. Baru saja Ara hendak membantah ucapan Rava, keduanya sudah dikagetkan oleh celetukan Mama Lauritz.
“Nikah aja sana.” Celetuk Mama Lauritz santai sambil membawa seember kecil kencur, kunyit, jahe dan lengkuas hasil panen di pekarangan rumah.
“Habis semester ini Ara nikah sama Rava boleh ya, Ma?” Tanya Rava semangat mengabaikan rona merah di pipi Ara yang sudah menjalar hingga ke daun telinga.
“Terserah.. Kalau Ara mau lanjut aja.” Jawab Mama Lauritz tanpa beban yang melambungkan semangat juang Rava.
Plak!
“Papa kalau bersihin pare yang bener!!” Ujar Mama Lauritz tegas setelah sempat menepuk kuat lengan sang suami.
“Iya, Ma.. Kan Cuma dipotong gini dulu..” Kilah Papa Yudith yang mulai menciut kala ditatap lekat Mama Lauritz.
“Lagian Ara gak sampai setahun lagi lulus. Kamu mau ambil skripsi semester 7 kan Kak?” Mencoba membahas kembali topik panas sebelumnya, Papa Yudith juga sedang berusaha mengalihkan perhatian Mama Lauritz dari pare yang sudah terbagi dua bagian itu.
“Iya, Pa.” Jawab Ara singkat.
“Nah itu.. Rava, kamu ngalah dulu. Anak Papa biar sekolah sampai selesai dulu baru kamu jadikan istri.”
Lemas sudah kaki Rava. Beruntung ia sedang tidak berdiri menopang tubuh besarnya. Angannya meminang Ara secepatnya terpental dahsyat ke dasar jurang. Bukan ia tidak mampu menunggu, bahkan jika diberi umur panjang ia akan tetap rela menanti asal Ara tetap ada di sisinya. Hanya saja perasaan ingin memiliki dengan mengemban tanggung jawab atas hidup Ara dan memberikan seluruh dunianya pada Ara adalah mimpi Rava selama ini.
Seperempat nasi yang masih menanti Rava lahap rasanya tidak mampu ia telan lagi. Ada sesak kala keinginannya ditolak, namun sentakan lembut di lututnya mengejutkan Rava. Ia menatap Ara yang diam-diam terkekeh sambil menekan-nekan lututnya di bawah meja dengan jari telunjuk kiri.
“Kenapa?” Menangkap jari nakal itu dengan cepat, Rava bertanya tanpa suara. Bibirnya bergerak pelan agar Ara mampu memahami maksudnya. Bukan tanpa alasan perlakuan mencurigakan Rava, tentu saja karena keduanya masih berada di satu ruangan dengan Papa Yudith dan Mama Lauritz.
...----------------...
__ADS_1
Meninggalkan waktu yang seolah sempat berjalan begitu lambat, kini Rava dan Ara sedang duduk di teras taman belakang rumah. Keduanya memanfaatkan waktu sore untuk beduaan. Bercengkerama saling menceritakan hal-hal yang terjadi selama beberapa hari tidak bertemu.
“Beneran deh waktu itu sama Yuki kok. Itu juga mau ketemu orang lain, bukan Dokter Dion.” Ucap Ara mencoba membela diri.
“Bisa nggak kamu kabari Mas dulu kalau suatu saat nanti kamu mau ketemu laki-laki lain?” Tanya Rava yang jelas tidak ingin dibantah.
“Mau ketemu Papa di bengkel juga harus lapor Mas?” Ara berbalik bertanya dengan sok bodohnya. Bukan polos, tapi bodoh sesungguhnya dengan kepura-puraan yang sangat basi.
“Mas serius ini!” Ucap Rava tegas. Rasanya Rava ingin memeluk Ara dengan gemas, namun ia harus menahan diri.
“Iya paham kok maksudnya Mas Rava itu gimana. Lain kali Ara bilang sama Mas dulu, tapi kalau gak lupa.” Menyengir Ara mengacungkan dua jari tanda perdamaian.
“Kamu ya..!” Ucap Rava sambil mendelik.
...****************...
*
*
*
Apakah Rava akhirnya berhasil untuk meminang Ara sebelum wisuda?🤔
*
*
Permisi, Hana mau promo cerpen lagi.. Mohon dukungannya ya.. 🙏
Judulnya ‘DRACO ISTVAN’ diambil dari bahasa Yunani Kuno yang berarti ‘Naga yang Bermahkota’.
‘DRACO ISTVAN’ adalah cerpen ke-3 Hana, tapi cerpen ke-2 yang ikut serta dalam lomba setelah ‘The Gladiolus Smell’. Genre nya masih romance juga kok, tapi juga fantasy😊
(FYI, terima kasih atas dukungan dan doa semuanya ‘The Gladiolus Smell’ masuk TOP5 diurutan ke-2🥰)
~Periode lomba ini dari 21 Juli - 27 Juli 2021😁
Silakan mampir ya buat yang berminat.🥰
*
__ADS_1
Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰