
“Mas, kamu mulai sekarang panggil Ara dek aja ya?” Celetuk Ara tiba-tiba.
“Adek maksudnya?” Mengernyitkan dahinya, Rava menatap lekat sisi samping wajah Ara.
“Iya.. Mau ya?” Tanya Ara dengan mata berbinar sambil menganggukkan kepala, kini ia sudah membalas tatapan mata Rava. Menurut Ara panggilan itu cukup terdengar manis.
“Gak mau. Nanti kalau di luar kamu dikira Adiknya Mas gimana?” Tolak Rava sembari meraih tangan Ara ke dalam genggamannya. “Cukup kamu disangka ponakan, gak mau sampai ada yang ngira kamu Adiknya Mas!”
“Memang Mas gak malu kalau panggil Ara sayang di depan orang rumah?” Tanya Ara sembari mengayunkan tangannya dalam genggaman Rava bak anak TK yang sedang bergandengan tangan menyebrang jalan.
“Nggak tuh.. Kenapa juga Mas harus malu? Bangga tau Mas udah bisa panggil kamu sayang.”
“Hih..” Ara memutar bola matanya malas mendapati jawaban Rava. Jujur saja justru Ara yang akan salah tingkah setiap Rava memanggilnya sayang di depan Mama Lauritz dan Papa Yudith, berbeda bila di hadapan kedua bocil nya, Ara sudah kebal.
“Oh ya.. Mas lupa bilang. Kamu nanti kirim jadwal jam kuliah sama jam biasa kamu mau berangkat ke kampus atau kemana pun selama seminggu ke depan.”
“Kirim ke Mas?”
“Iya.. Mas minggu depan harus ke luar Kota lagi, ada sedikit urusan yang harus Mas selesaikan.”
“Pulang pergi atau bakal stay di sana dulu?”
“Selama kamu ujian Mas gak akan ada di sini. Tapi Mas janji buat pulang secepatnya.”
“Berarti semingguan ya di sana?” Gumam Ara tanpa suara, bahkan pergerakan bibirnya terlalu samar untuk diterka.
“Ngapain aja sih kok lama?” Tanya Ara penasaran. Baginya, Rava terlalu sering pergi ke luar Kota.
“Kerja sayang.. Buat tabungan masa depan kita sama keluarga kita nanti.”
“Khem!” Deheman tiba-tiba itu berasal dari Ara yang menutupi rasa malu-malu. Ia benar-benar harus membiasakan diri menerima ujaran Rava yang semanis madu alami.
“Sama satu lagi.. Tempat yang kali ini Mas datangi agak susah sinyal, jadi maaf kalau nanti Mas gak ada kabar.” Ucap Rava penuh sesal. Binar matanya berubah sendu dengan raut wajah sedih. Jika bisa memilih sekalipun, Rava akan tetap menjalani pekerjaannya, ada tujuan besar yang ingin ia capai.
“Yaah.. Kok bisa? Pelosok banget ya?” Rupanya kesedihan itu juga Ara rasakan. Entah mengapa Ara merasa tidak rela.
“Iya, sayang.” Jawab Rava singkat. Helaan nafas pasrah itu terdengar nyata.
Seketika ada rasa sedih menohok yang menyelinap di ulu hati Ara. Rasanya ia seakan ditinggalkan. Meskipun nyatanya Ara sadar bahwa apa yang dipikirkannya jelas tidak benar.
__ADS_1
Bugh.
Bukan pukulan, apalagi bogem mentah. Bunyi kuat itu berasal dari Ara yang tiba-tiba menubruk ke dalam dekapan Rava. Bukan menubruk layaknya sapi karaban yang mengamuk.
“Kangen.” Rava mematung dengan kejutan tidak terduga. Hanya pupil matanya yang bergetar sibuk mencerna situasi yang ada. Ia linglung bak robot salah pengaturan. Terdiam, namun tidak membeku hingga kehilangan nafas.
Bukan hanya ungkapan rindu yang mengejutkan. Saat ini Ara membenamkan wajahnya di dada bidang Rava dengan manja.
“Ara kangen sama Mas Rava. Padahal belum ditinggal. Padahal baru sebentar gak ada kabar. Padahal kemarin Mas juga ke luar Kota, kenapa pergi lagi?”
‘Padahal Ara yang sering menghindar.’ Sambung Ara dalam hati. Ia mengakui segala sikapnya yang terlalu acuh.
Entah apa yang Ara pikirkan, bisa-bisanya ia melupakan salah satu penyebab kerinduan itu juga karena tingkah bodohnya yang mendiamkan Rava. Belum lagi kebodohannya yang lupa telah memblokir nomor ponsel Rava.
Jangan tanya setinggi apa lonjakan frekuensi debaran jantung Rava. Jelas nyaris mengalahkan riuhnya musik festival bahkan bunyinya seolah berlomba dengan dentuman bom nuklir. Namun bagi Ara debaran itu menghangatkan hatinya, sangat nyaman.
“Sa-sayang?? Kamu gak apa-apa kan?” Tanya Rava yang justru khawatir. Rasa senang yang sempat ia rasakan seketika menguap. Jangan lupakan pula Ara yang mendadak bertingkah manis pada Rava. Rava takut perubahan sikap Ara karena sesuatu yang buruk telah terjadi.
“Kangen aja.” Mendongakkan kepalanya sejenak, Ara memberikan tatapan yang berbeda. Dan untuk pertama kalinya jantung Rava dipaksa berdegup berjuta-juta kali lebih kencang lagi. Tidak ada kecanggungan, amarah apalagi kesedihan, tatapan mata Ara sarat akan kerinduan.
“Beneran kangen?” Ujar Rava sambil membelai rambut Ara. Keduanya lupa pada keadaan sekitar, beruntung parkiran sedang sepi. Tidak ada pula yang berlalu lalang untuk memergoki adegan penuh drama yang meresahkan jiwa para jomblo hingga ingin membanting dirinya ke dasar laut. Atau mungkin semua kebetulan yang dibalut keberuntungan.
Seakan dunia merestui, Rava memarkirkan mobil di ruas paling pinggir yang berbatas pagar tanaman dan pohon besar. Alasannya jelas karena lahan parkir lain sudah terisi jejeran mobil dan motor. Tentu bukan karena ia bisa melihat masa depan dan memprediksi Ara akan memeluknya.
Berlebihan super memuakkan yang dulu Ara pikir, nyatanya sedang ia alami. Apa memang begitu jika sudah jatuh cinta?
“Setelah kamu lulus kuliah, kita sah kan ya hubungan kita?” Ucap Rava tanpa basa-basi. Keduanya saling mengunci tatapan. Saling menyalurkan rasa cinta yang akhirnya terputus oleh kedipan mata Ara yang mulai terasa pedih. Terpaan angin di alam terlalu kuat berhembus, apalagi keduanya masih berada dekat dengan wilayah tepi laut.
“Mas akan berjuang buat minta restu ke Papa sama Mama. Hanya satu yang Mas mau pastikan, mau kan saling bertanggungjawab untuk masa depan kita?” Tanya Rava tulus, namun yakinlah ia sejujurnya sedang gugup dan bersiap pada penolakan kesekian kalinya.
“Mau.”
“Udah Mas duga kamu pasti bilang gitu. Gak apa-ap.. APA!!???” Ucapan putus asa Rava berubah menjadi teriakan yang mengejutkan Ara.
“MAS!!” Pekik Ara tidak kalah kuat. Ia terkejut dengan suara dan cengkeraman erat kedua tangan Rava di bahu dan lengannya.
“Pukul Mas sekarang!”
“Ha!?”
__ADS_1
“Pukul!”
Ctak!
Bukannya memukul, Ara justru dengan ringannya menyentil dahi Rava. Meninggalkan jejak kemerahan dengan mata Rava yang terbelalak lebar.
“Mas gak mimpi!? Ini beneran?? Ini nyata!!??” Pertanyaan Rava terdengar histeris dan tidak jelas terlontar untuk siapa. Pasalnya ia sedang tidak menatap Ara, melainkan langit yang masih berwarna biru dengan telapak tangan kanan yang memegangi dahinya.
“Sayang kamu beneran mau??” Tanya Rava dengan menangkupkan kedua tangan saling meremas di depan dada. Seakan ia sedang berdoa dan memohon jika semua itu kenyataan yang ada.
...****************...
*
*
*
Tebak lagi, Ara akan menikah akhir semester atau setelah lulus kuliah?🤔
*
*
Ada yang merasa Hana buat alurnya tiba-tiba terlalu terburu-buru?😬
Ayo kita ibaratkan dengan sambal pete yang akhirnya Hana suka.🤭
Awalnya Hana gak suka pete. Bukan gengsi di bau, tapi di lidah yang kerasa aneh. Semua itu berubah jadi doyan gara-gara Mama buat pete dalam olahan sambal.😄
Meski awalnya ada rasa gak mau dan ragu-ragu, tapi akhirnya jadi suka dan ketagihan. Pernah disaat Hana pengen makan lagi malah mikir ‘nanti lagi deh’, dan disitulah itu sambal nyaris ludes dimakan Papa.😣
Kehilangan? Kesal? Sedih? Pasrah?🤔
Semuanya campur aduk cuma gara-gara sambal pete, tapi yang pasti Hana jadi sadar kalau udah suka sama pete.😆
Nah.. Meski gak sebanding, tapi hampir sama kan kayak perasaan Ara ke Rava?🤭
Maafkan perumpamaan yang aneh bin nyata ini.😁🙏
__ADS_1
*
Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰