
Meski Ara dan Rava berada pada Desa yang sama, namun keduanya sadar harus menjaga sikap. Tidak bisa memamerkan kemesraan seenaknya. Itulah sebabnya Rava sering uring-uringan. Puncaknya hari ini, hari terakhir dirinya bisa memantau langsung, diam-diam atau lewat agen informasi gadungan nya.
“Gak pamit ke istri mu dulu Rav?” Mengancingkan lengan kemejanya, sosok itu berjalan santai di hadapan Rava yang tampak mendung dengan wajah kusut.
“Pamit.” Jawab Rava datar tidak bersemangat.
Mengernyitkan dahinya memandang Rava yang biasanya sudah memburu sarapan pagi dan berlalang buana di jalanan demi menemui sang pujaan hati. “Terus kenapa masih di sini?”
“Kamu ngusir aku, Ris?” Tanya Rava sewot, suasana hatinya benar-benar buruk.
Niatnya memulai dan menyelesaikan proyek di Desa L bermula agar bisa memberi Ara sarana yang lebih memadai sekaligus mendapat kesempatan memantau Ara di atas alasan pekerjaan.
Rava rela menggelontorkan dana pribadi membangun beberapa dermaga kayu menjadi beton kokoh. Bersusah payah bolak-balik menaiki kapal ro-ro atau terkadang dengan speedboat jika terdesak waktu. Belum lagi menghadapi diskusi berbelit dengan pejabat setempat seputar breakwater.
Meski semua demi Ara dan dirinya merasa bisa membiayai semuanya, namun Rava tetaplah pengusaha yang harus memikirkan keuntungan bagi perusahaan yang menaungi banyak orang. Oleh karena itu Rava bersikeras memenangkan kesepakatan hitam di atas putih.
Namun semua itu kandas saat semalam ia menerima telepon yang mengharuskan kembali ke kantor di Kota B. Benar, Rava belum sepenuhnya terlepas dari tanggung jawab pekerjaannya sebagai Direktur Keuangan di perusahaan yang sebenarnya miliknya sendiri. Usulan pengunduran diri dari posisi nya belum mendapatkan persetujuan.
Mengumpat kesal Rava pada sinyal yang seolah memusuhinya. Di saat ingin melepas rindu dengan Ara meski hanya singkat lewat sambungan telepon, sinyal itu bersembunyi dan menghilang. Tapi bisa-bisanya saat telepon kantor datang sinyal itu tidak bersembunyi, bahkan semakin mengejek dengan memamerkan eksistensinya di layar ponsel Rava.
“Bukan gitu, biasa semangat banget kalau mau ketemu Ara, kenapa ini lemas, letih, lesu kayak gitu?”
“Pagi ini Ara ada kegiatan di Kelurahan. Siang nanti sama teman-temannya bantu kegiatan imunisasi.” Menyandarkan punggungnya pada kursi, Rava menengadah menatap lampu yang sejak satu jam lalu dimatikan.
“Aris, minggir!” Geram Rava saat pemandangan lampu berubah menjadi wajah Aris. Iya, sosok yang selama ini bersama Rava bernama Aris, tepatnya Aristides Mahavir.
Bukannya menyingkir, Aris justru menyengir. “Jam makan siang kita ke warung makan di dekat Kelurahan. Aku yakin mereka gak akan masak lagi siang ini, tapi makan di sana. Lagi pula kapal kita berangkat malam, setuju gak?”
“Bilang aja kamu sekalian mau caper.” Seloroh Rava mencibir Aris yang sudah beberapa kali terpergok oleh mata Rava curi-curi pandang dengan salah satu teman KKN Ara.
“Idih, sotoy..” Kilah Aris dengan wajah memerah.
“Aku juga laki-laki, tau banget lirikan kamu itu penuh makna.” Ucap Rava santai.
“Sok peka.” Ejek Aris pada Rava dengan bibir dicebikkan.
__ADS_1
“Harus, karena di sana ada Ara.” Tegas Rava. Nyatanya memang benar kepekaan Rava bermula dari sikap posesif pada Ara. Takut bila mata Aris jelalatan menatap Ara nya.
“Oh jadi ceritanya ada yang cemburu dan waspada.. Syukur ya aku gak main mata sama Ara.” Mengelus dadanya, Aris tidak habis pikir dengan tingkah Rava yang dikenalnya cuek, dingin dan pendiam. Lama mengenal Rava akhirnya Aris paham bahwa sikap Rava bisa menggila jika berhubungan dengan sang kekasih hati.
“Gak usah macam-macam kamu!” Ancam Rava dengan sorot mata menghunus tajam.
“Hii.. Takut..” Bukannya benar-benar takut, bergidik ngeri atau sekedar merinding, Aris justru menggetarkan tubuhnya heboh pura-pura takut dengan suara mendayu bak tikus kejepit.
...----------------...
Brak..!
“Sabar Rav.. Mereka cuma selesaikan tugas aja.” Terperanjat kaget, Aris berkata dengan suara yang sempat meninggi.
“Aku udah ngerasa gak enak dari awal lihat anak itu.” Ucap Rava kesal, matanya masih memandang lekat 2 orang yang bersama Ara. Namun jelas bukan keduanya yang membuat Rava menggebrak pintu mobilnya.
Zen, nama itu akan Rava ingat dan tandai selama belum menjauh dari Ara. Setelah kegiatan yang berhubungan dengan KKN selesai, Rava pastikan akan memblokir segala akses yang berhubungan dengan Zen dari hidup Ara. Begitulah dahsyatnya cemburu yang memburu Rava.
“Positif aja itu anak emang naksir pacar mu, tapi gak ditanggapi. Lihat itu cewek mu fokus aja sama laptopnya.” Nyaris saja kalimat pertama Aris mendapat hantaman dari Rava yang sudah emosi.
Berkilat marah, Rava tidak suka dengan ucapan Aris. “Tutup mata kamu!! Jangan bayangin yang aneh-aneh tentang Ara!!”
“Peace, ampun..” Mengacungkan 2 jari tanda perdamaian, Aris akan menghentikan sejenak ucapan pemicu cemburu Rava.
Sedangkan Ara yang sedang dipantau tidak pernah sadar pada mobil yang berhenti sedikit jauh dari tempatnya mengerjakan laporan kegiatan. Ara terlalu fokus berdiskusi dengan Lea dan Zen. Bahkan Ara yang mulanya risih dengan Lea yang doyan bergelayut padanya menjadi abai.
Jujur saja awalnya Ara merasa kurang nyaman dengan sikap Lea yang terlalu menempel seperti tentakel sotong, namun kini keduanya tampak kompak. Apalagi minat mereka bisa dikolaborasikan. Ara mengurus blog kegiatan disela waktunya mengumpulkan materi dokumentasi dan promosi Desa L, sedangkan Lea berkutat dengan naskah untuk mengisi redaksi.
Tentu saja semua itu selalu dengan bantuan Zen yang sering memicu gerutuan cemburu yang harus Ara terima dari Rava. Tidak terhitung berapa banyak pesan cinta yang berakhir pertanyaan berbalut cemburu menuntut yang masuk saat secara ajaib sinyal muncul. Ara baru tau rupanya Rava bisa nyinyir juga.
“Feby sama Arini udah survei pantai buat kegiatan pelepasan anak penyu kan?” Tanya Ara tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop, jemarinya sibuk menari-nari di atas keyboard. Mengecek font style, typo dan mengatur desain artikel yang akan diterbitkan, itulah yang sedang Ara lakukan.
“Iya, mereka juga udah koordinasi sama panitia acara. Surat keikutsertaan kita juga udah masuk 3 hari yang lalu.” Jawab Zen yang berkutat dengan penyuntingan video, butuh waktu cukup lama menstabilkan sepotong rekaman jika menginginkan kualitas tetap high definition. Belum lagi jika terjadi kesalahan cutting atau pemilihan bahan dasar video dari rekaman yang salah, rasanya ingin menangis meraung dan berteriak histeris.
“Besok kita jadi sosialisasi tentang pemanfaatan sampah plastik yang numpuk di pantai?” Tanya Lea dengan kepala tetap menyandar pada bahu Ara.
__ADS_1
“Jadilah, lagi pula masyarakat itu sebenarnya udah paham pemanfaatannya. Cuma yang dibutuhkan di sini penggerak. Niat dan ide aja gak cukup kalau gak ada yang nekat mau memulai duluan.” Jelas Ara sambil menegakkan punggungnya.
Menyipitkan mata sambil mengernyit, mata Ara kini bersirobok dengan bayangan samar yang tampak familiar. Maklum saja, Ara ini penderita astigmatis yang sulit melihat karena ada kelainan pada kelengkungan kornea matanya. Dirinya benar-benar kesulitan menangkap pembiasan cahaya yang masuk ke mata jika tidak ada bantuan kacamata.
'Mas Rava kan ya itu?' Gumam Ara dalam hati.
Turun dari mobil, tersenyum sumringah dan melambaikan tangan dengan santai, Rava lupa pada cemburu yang meluap saat Ara seakan menyadari kehadirannya. Sedangkan Aris yang masih setia di dalam mobil hanya mampu terkekeh menyaksikan perubahan sikap Rava.
...****************...
FYI, buat yang belum tau kenapa Rava pemilik tapi jadi Direktur Keuangan alias CFO (Chief Financial Officer) bukan Direktur Utama atau CEO (Chief Executive Officer).
Nah status Rava di sini owner dan owner bisa jadi Direktur Utama atau CEO. Tapi lewat musyawarah dewan direksi posisi itu bisa diisi orang lain. Dan di kisah Rava udah jelas kalau posisi CEO diisi mantan sekretaris Ayahnya Rava.
*
*
*
Akankah Rava jadi meninggalkan Ara dan hanya mengandalkan mata-mata yang mungkin mengkhianatinya?🤔
*
*
Kaget gak ada label 'END'? 🤭
Hana sengaja taruh itu, tapi percayalah ini belum tamat. Ceritanya masih cukup panjang.. Biar tenang nih Hana kasih spoiler.
CERITA INI BAKAL TERUS BERLANJUT KARENA ANAK ARA & RAVA YANG UDAH HANA KEEP BELUM ON THE WAY RILIS DI SINI🤣
*
Terima kasih buat semuanya yang udah setia sama Aara meski Hana suka jarang UP🥰😘
__ADS_1