
“Ada hubungan apa kamu dengan Zen?” Tanya Rava dengan rahang yang tampak mengeras, menatap datar tepat di manik mata Ara.
“Hubungan? Teman satu kelompok.” Mengernyit heran, Ara menjawab pertanyaan Rava seadanya dan apa adanya. Tidak ada hubungan apapun antara Ara dan Zen yang perlu dijelaskan.
Menghela nafas pelan, Ara menangkap sesuatu yang berbeda pada diri Rava. Tidak ada tatapan hangat, yang ada hanya Rava memalingkan pandangannya seolah enggan melihat Ara.
“Kamu kenapa Mas?” Tanya Ara lirih, kerutan di dahinya semakin terlihat dalam.
“Ayo pulang!” Ucap Rava ketus, berlalu meninggalkan Ara yang baru saja akan menghabiskan sate ayam miliknya. Namun baru 3 langkah Rava sudah berhenti dan berbalik badan, kembali pada posisi duduk sembari mengacak kasar rambutnya.
“Kamu kenapa sih Mas?” Tanya Ara dengan nada suara meninggi, masa bodoh dengan tatapan orang di sekitarnya. Ia tidak suka pada perubahan sikap Rava. Tidak mungkin Rava merajuk hanya karena tidak boleh ikut ke toilet, begitu pikir Ara.
Jika memang masalahnya toilet tadi, maka Ara tidak akan segan-segan menyeret Rava untuk ikut masuk ke dalam toilet khusus wanita, biar sekalian diteriaki oleh orang-orang, meski sejujurnya Ara tidak akan mampu melakukan hal itu pada Rava.
“Maaf.” Ucap Rava tiba-tiba dengan wajah menelungkup di atas meja. Suaranya lirih seakan menahan tangis yang sekilas juga terdengar menggeram marah. Jelas hal itu semakin membuat Ara kebingungan.
Mendongak menatap lekat pada Ara, sontak hal itu mengejutkan Ara. Mata memerah yang berkaca-kaca menghiasi wajah Rava yang tampak kacau.
“Ya ampun Mas.. Kamu kenapa sih? Jangan buat aku makin bingung dan takut.” Ucap Ara sembari mendekat pada Rava, menarik kursi di sebelah Rava dan menangkup wajah kekasihnya itu.
“Kenapa?” Tanya Ara lagi dengan raut khawatir.
“Jangan tinggalin Mas. Jangan pernah berpaling. Besok jangan pernah ketemu Zen lagi. Mas gak mau kamu ketemu sama laki-laki itu lagi.” Cerocos Rava memohon pada Ara dengan lirih yang masih mampu Ara dengarkan. Jujur saja Ara semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada Rava.
“Kita pindah tempat ya? Ara gak enak di sini kita dilihatin orang-orang. Kita ngobrol di parkiran aja ya?” Ucap Ara lembut, menyusut sedikit sudut mata Rava yang basah. Jika saja Rava tidak bertingkah mellow bak bocah bangun tidur kehilangan induknya, mungkin Ara sudah marah-marah karena sikap tidak jelas Rava.
“Bayar dulu ya sate nya.” Lanjut Ara berucap sambil meraih tas ranselnya, berniat mengambil uang dari dalam dompet yang kebetulan sengaja dibawa. Padahal biasanya Ara lebih sering meletakkan uang sembarangan di salah satu kantung tambahan di dalam tas ransel miliknya.
__ADS_1
“Biar Mas aja.” Cegah Rava dengan menahan pergelangan tangan Ara. “Kamu udah gak mau makan lagi?” Tanya Rava mengimbuhi ucapannya, ekor matanya menangkap beberapa tusuk sate yang masih tersisa.
“Udah gak mood.” Jawab Ara ketus. Mood nya benar-benar hancur meski perutnya masih meraung meminta asupan yang tertunda dilanjutkan. Ingin marah pada Rava justru emosinya yang memuncak luruh tidak bersisa karena mendapati mata Rava yang berkaca-kaca.
“Maaf.. Mas kan yang bikin kamu gak mood? Cari camilan mau?” Bujuk Rava yang tampak sangat menyesal, tapi percuma, Ara sudah tidak berminat mengunyah apapun. Bahkan lebih baik jangan memancing Ara untuk mengunyah jika tidak ingin membuat Ara justru menggigit Rava.
“Nggak usah Mas. Ara lebih mau kita selesaikan masalah gak jelas ini secepatnya.” Tolak Ara halus, ia mencoba bersabar. Saat Rava sulit mengendalikan emosi, maka disitulah Ara yang harus mengalah. Begitu pula sebaliknya. Apa lagi setelah Ara kumpulkan segala ingatan dalam waktu singkat bagaimana selama ini Rava sudah cukup bersabar dan menyayangi dirinya.
“Maaf. Ayo, ikut Mas bayar dulu.” Ucap Rava sembari menggenggam erat jemari Ara. Rava benar-benar tidak ingin kehilangan Ara. Bahkan jika bayangan Ara menghilang saja rasanya Rava tidak akan rela.
Bergegas ke parkiran motor setelah membayar sate ayam dan es jeruk peras yang tidak dihabiskan, kini Ara masih membiarkan Rava mendiamkannya. Berulang kali Rava menghembuskan nafas kasar, menyugar rambut dan mengusap wajahnya asal.
“Udah tenang?” Tanya Ara menyela kegiatan Rava yang cukup menguras waktu. Mengusap lengan kekar laki-laki yang sepertinya sedang dirundung masalah besar, Ara bingung harus melakukan apa lagi untuk Rava.
Sedangkan Rava yang merasakan usapan lembut di lengan berbalut kemeja yang membungkus tubuh bagian atasnya langsung menarik tangan dan bahu Ara secara bersamaan. Rava mendekap erat dan menenggelamkan kepala Ara di dadanya. Gemuruh yang menggelora seketika mereda, berganti ketenangan.
Ara tidak menghilang, Ara tetap miliknya, begitu Rava berkata dalam benaknya.
“Ara pasti maafin Mas Rava, tapi tolong jelaskan ada apa sebenarnya? Kenapa Mas tiba-tiba marah? Gak mungkin karena gak Ara bolehin ikut ke toilet kan?” Rupanya Ara masih mengira Rava merajuk karena dilarang mengikutinya ke toilet. Benar-benar tebakan yang super dangkal, tapi mau bagaimana lagi jika tidak ada petunjuk lain selain hal itu.
Mendorong pelan tubuh Rava agar menjauh, Ara menepis lembut lengan Rava yang melingkar di bahunya. Saat ini tatapan sepasang kekasih itu saling beradu pandang, menyiratkan perasaan yang tidak sama.
“Jujur, Mas tadi kenapa?”
“Bukan apa-apa. Mas cuma terbayang kamu sama Zen selama Mas gak ada di Desa L, belum lagi kalian selalu ada waktu bersama, kayak tadi. Mas kira kamu kerja kelompok gak sama Zen juga.” Kilah Rava pada Ara dengan sedikit kebenaran.
Memang benar Rava sempat mengira Ara akan berkumpul bersama beberapa teman KKN nya saja dan tentunya hanya para perempuan. Namun nyatanya saat Rava menjemput Ara justru melihat kehadiran sosok Zen.
__ADS_1
Tanpa siapapun yang menyadari kecuali Zen, Rava sempat melirik sinis pemuda yang pernah menjadi mahasiswa nya itu. Tatapan tidak ramah sama sekali. Entah mengapa Rava seolah memberi peringatan lewat sorot matanya kepada Zen agar berhenti berharap dan berhenti memupuk rasa yang salah.
‘Bohong.’ Gumam Ara dalam hati menanggapi penjelasan Rava. Seketika binar kebahagiaan yang tersisa di mata Ara menghilang. Ada sedikit rasa nyeri yang menjalar ke tulang, memberikan sensasi ngilu yang tidak mampu Ara halangi.
Ara memang bukan tipe orang yang peka. Namun bukan berarti Ara benar-benar tidak bisa membaca tindak tanduk kebiasaan Rava atau bahkan orang lain. Ia tetap bisa menjadi sosok yang super sensitif.
“Pulang. Antar Ara pulang!” Ucap Ara datar, menunduk dan menghembuskan nafas panjang tanda dirinya mulai kesal.
Selama perjalanan keduanya terdiam, meski jemari Rava tiada henti mengusap punggung tangan Ara yang dipaksakan nya melingkar, memeluk Rava dari belakang.
Ara sibuk dengan dugaan buruk yang tiba-tiba terasa mengerikan untuk hidupnya. Sedangkan Rava sibuk berpikir mencari bukti yang lebih akurat lagi. Meski sebuah video yang dikirimkan ke ponselnya belum juga dibuka, jelas karena Rava sudah terlanjut terbakar api cemburu lewat beberapa hasil jepretan.
...****************...
*
*
*
Ada apa sebenarnya?🤔
*
*
Konflik bucin on the way😂
__ADS_1
*
Terima kasih semuanya yang sudah kasih dukungannya tiada henti buat Hana di kisah Ara ini🥰