Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Isi Pesan Lea


__ADS_3

Mengetuk setir kemudi dalam cengkraman sambil menanti dengan gusar, langit cerah di mata Rava tidak menembus mendung bergemuruh dan berkilat dahsyat di hatinya. Menggeram dengan rahang mengeras dan sorot mata dingin, Rava mencoba bersabar, ia tidak ingin merusak hari indah bersama Ara yang baru bisa terwujud setelah raga dan komunikasi keduanya terpisah oleh jarak dan sinyal.


Meski nyatanya keindahan yang seharusnya terwujud juga sudah ternoda cekcok berbuntut dari kesalahan semalam. Namun bukan berarti kemesraan mereka hilang begitu saja, apa lagi Rava yang terlebih dahulu tersulut emosi, tapi langsung padam melemah. Dasar bucin akut.


“Kok lama sih, Yang..” Gumam Rava yang baru saja ditinggal 5 menit oleh Ara. Menelungkup kan wajahnya dengan dahi menopang pada setir kemudi, Rava masih sempat-sempatnya menggulir puluhan pesan yang sengaja belum ia buka dan balas satu per satu, bahkan tampak sebuah nama tidak asing juga menghuni daftar pesan diabaikan Rava.


Masih ingat dengan Dian? Iya, Dian masih terus menghubungi Rava. Mulai dari sekedar basa-basi hingga membagikan sebuah informasi penting yang nyatanya bukan kewenangan Rava lagi.


Menguatkan hatinya, Rava membuka sebuah pesan berisi rekaman video yang dikirimkan seseorang yang sengaja Rava bayar untuk membantu menjaga Ara. Tanpa pernah Rava tau sebelumnya bahwa ada pengkhianatan dari kepercayaan yang Rava berikan.


Mencoba berpikir jernih, Rava meneliti adegan per adegan yang sebenarnya tampak biasa saja, namun jelas tatapan dan tawa Zen pada Ara menyiratkan sesuatu yang berbeda. Dengan dada bergemuruh Rava mengakhiri sesi menyimak video yang baginya bergenre horror thriller itu.


Jika saja bukan karena ancaman Ara yang ingin mogok bicara, maka dapat dipastikan Rava sudah menyusul dan menempel pada Ara. Ingin diam-diam menyusul tapi tiba-tiba nyalinya ciut membayangkan Ara benar-benar mogok bicara padanya.


Ara memang tidak akan marah-marah di depan umum, tapi Rava sudah hafal tabiat nekat dan sikap keras kepala Ara. Jelas saja apa yang Ara ucapkan bukan hanya ancaman belaka, tapi benar-benar terjadi bila Rava melanggar dan membuatnya kesal berkepanjangan.


“Minta video call aja kali ya?” Gumam Rava bertanya pada dirinya sendiri. Jarinya sudah menekan simbol panggilan video ke nomor ponsel Ara. Namun seketika dahinya mengerut, kepalanya tertoleh pada kursi penumpang.


“Argh..!!” Geram Rava saat mendapati ponsel Ara tergeletak di kursi sebelahnya.


Sedangkan Ara yang di dalam Kafe juga merasa bersalah dan tidak tenang sudah melarang Rava ikut masuk bersamanya. Ara melupakan sebuah fakta bahwa tidak mungkin agenda pertemuannya tidak memakan waktu cukup lama.


“Ra, nanti balik sama aku mau? Kamu kan gak bawa motor.” Ajak Feby tiba-tiba pada Ara, ia menatap ramah pada Ara dan sedikit sinis saat bersirobok dengan mata Lea yang sudah mendelik.


“Maaf Feb, aku udah ada jemputan.” Tolak Ara halus, nyatanya bukan sekedar jemputan, tapi Ara justru sedang ditunggui dari awal hingga saat ini.


Penolakan Ara yang terkesan biasa bagi orang lain menghadirkan senyum miring di wajah Lea. Ia sudah cukup jengah dengan sifat munafik Feby. Jujur saja selama dirinya mengamati Ara secara diam-diam, tanpa sengaja Lea selalu mendapati Feby yang gemar mencuri foto atau menunjukkan gelagat mencurigakan.


Diam-diam Lea mengetikkan sesuatu di ponselnya, mengirimkan kalimat cukup panjang beserta bukti yang sengaja ia dapatkan. Tentu saja bukti itu pula yang menjadi akar masalah Lea dan Feby.

__ADS_1


Tidak akan pernah Lea biarkan Feby berhasil menghancurkan hubungan Ara dan Rava. Ia bukan fans garis keras pasangan itu, namun ada sesuatu yang membuat Lea menginginkan Ara bahagia. Anggap saja sebagai penebus dosa, meski Ara tidak mengingat bahkan mengenali sosok Lea, baik di masa lalu maupun saat ini juga.


“Buka ponsel mu.” Bisik Lea tepat di daun telinga Ara, mengejutkan dan membuat Ara terperanjat kaget sampai mengusap daun telinganya karena geli yang menggelitik. Mengyengir tanpa dosa, Lea memainkan sepasang alisnya naik-turun serentak.


“Ponsel ku ketinggalan.” Ucap Ara pada Lea dengan berbisik pula. Tidak mungkin Ara bisa berucap santai jika teman-temannya yang lain sibuk membahas dan mencocokkan jadwal menemui Dosen pembimbing kelompok KKN mereka.


Sedangkan ponsel Ara yang berdering terus menerus menarik perhatian Rava. Pasalnya ponsel itu berada di genggaman Rava, menampilkan kalimat pembuka percakapan yang cukup membuat Rava penasaran.


Tanpa permisi dan tanpa izin tentunya, Rava langsung membuka isi pesan yang telah Lea kirimkan pada Ara. Terbelalak dengan rahang mengeras dan gigi bergemelatuk, Rava menertawakan kebodohannya.


“Brengsek!!” Umpat Rava keras, mengepal kuat dan memukul pintu mobil yang berada di sisi kanannya.


📩


Lea FE KKN


Sekilas Rava kembali membaca isi pesan Lea bersama rentetan foto yang diambil diam-diam beserta rekaman suara dari orang yang sangat ia kenali. Benar, mata-mata sialan yang justru ingin mengusik kebahagiaan Ara, sang pujaan hati. Bahkan lebih bodohnya lagi dia berhasil membuat Rava dan Ara saat ini perang hangat, tidak dingin saling mendiamkan atau panas karena saling menyerang dengan brutal.


“Gak tau diri! Sialan! Argh!!” Umpat Rava sekali lagi.


Bergegas menyusul Ara dengan aura dingin yang menguar. Rava seakan ingin mengoyakkan Feby hingga tercerai-berai. Sejenak kilasan percakapan saat di warung bubur ayam kembali menyapa di ingatan Rava.


Tertawa semu tanpa suara, Rava semakin mengeratkan giginya yang terkatup rapat.


Flashback On.


“Gak pernah ada pantangan deh selama ini Ara makan, kecuali udang. Lagi pula Ara kalau beli bubur ayam yang ada tambahan kacang tanahnya selalu pakai, kan gurih juga Mas.” Jelas Ara pada Rava, menyangkal tuduhan sebagai penikmat bubur ayam tanpa kacang tanah goreng.


Tangan kiri Rava bergerak menyentuh wajahnya. Ibu jari bertumpu di dagu dan telunjuk di atas bibir, menutup sedikit celah pada lubang hidung. Kedua jari itu mengapit bibirnya. Tidak ketinggalan kerutan halus diantara alis yang semakin lama terlihat sangat jelas.

__ADS_1


“Tapi bukannya selama ini kalau sakit Mas kasih bubur ayam yang ada kacangnya gak pernah kamu makan ya?” Tanya Rava dengan tatapan lekat menyelidik pada sepasang pupil mata Ara.


Mengelap meja dengan tisu, Ara berkata tanpa menolehkan wajahnya pada Rava. “Kapan Mas pernah kasih Ara bubur ayam?”


“Seingat Ara baru kali ini kita makan bubur ayam berdua.” Imbuh Ara yang akhirnya memandang Rava. Sangat kentara raut wajah Rava berubah muram seakan ada hal yang tidak wajar.


“Jangan-jangan Mas ngajak perempuan lain tapi lupa kalau perempuan itu bukan Ara.” Celetuk Ara asal, namun bisa jadi sebuah kebenaran, begitu pikir Ara.


...****************...


*


*


*


Misteri bubur ayam, ada apa sebenarnya?🤔


*


*


Hayoo.. Tim diaduk atau nggak ini kalau makan bubur ayam?😄 Hana sih tim keduanya😬


Ini serius. Diriku ini kalau makan bubur ayam separuh diaduk, separuhnya lagi nggak😂 Kenapa gitu? Biar kalau eneg sama yang diaduk bisa netral lagi rasanya makan bubur yang gak diaduk.


*


Terima kasih ya sudah kasih dukungan sebanyak-banyaknya untuk karya Hana ini🥰

__ADS_1


__ADS_2