
Derap langkah kaki mendekat Ara abaikan. Matanya terlalu fokus menatap wadah dengan berbagai macam jenis noda, ada kecap, lemak dan bekas sambal. Baru saja dirinya dan seluruh anggota keluarga menghabiskan makan malam bersama.
Tadinya mereka berencana makan malam di luar, namun memikirkan kondisi Kakek Baren maka Papa Yudith memutuskan mengorder berbagai jenis makanan dan menikmati makan malam bersama di rumah sederhana dimana keluarga kecilnya tinggal selama ini. Tentu tidak hanya keluarga kecil Papa Yudit, namun juga ada keluarga besar Mama Lauritz serta Dion yang baru saja pergi karena ada panggilan mendadak.
Untuk keluarga besar dari pihak Papa Yudith, semuanya pasti sudah dikabari jauh-jauh hari. Bahkan Rava meminta bantuan orang lain secara khusus untuk langsung menjemput Nenek Ida dan Kakek Bagus, namun terbukti hingga acara resepsi usai tidak nampak sedikitpun kehadirannya. Hanya Tante Sekar, adik Papa Yudith yang tampak hadir mengucapkan selamat dan menghadiahi sindiran atas pilihan Ara menikah muda.
“Kamu baru lulus kan?” Ucap Tante Laura sambil melipat tangannya, berdiri di samping kanan Ara yang mengemas piring bekas makan malam tanpa mengulurkan bantuan sedikitpun.
Baru saja Mama Lauritz pergi meninggalkan dirinya dengan Rava untuk mengantarkan seteko teh manis panas dan berbagai camilan andalan buatan tangan Mama Lauritz. Namun Rava yang dipanggil oleh Papa Yudith untuk mengambil kunci mobilnya terpaksa ikut meninggalkan Ara seorang diri.
“Iya, Tante. Kenapa?” Ucap Ara dengan terus melakukan pekerjaannya. Badannya sudah lelah dan ingin secepatnya membereskan sepetak sisi rumah yang berantakan. Meski dirinya sudah disuruh beristirahat saja, namun Ara yang memang keras kepala kukuh ingin membantu Mama Lauritz.
“Harusnya kerja dulu. Nabung biar cepat kaya. Buat rumah yang besar. Udah tau miskin kok buru-buru nikah. Kalau nabung dulu pasti pesta tadi bisa lebih wah. Tadi itu kelihatan banget biasa aja. Memang kamu nanti gak mikir bisa makan apa nggak?” Ucap Tante Laura sinis.
“Masalah buat Tante?" Menghela nafas dengan jengah, Ara berucap sambil melirik sekilas pada Tante Laura. "Lagi pula aku bukan baru nikah waktu punya anak gede. Tapi di sini aku udah gede dan bisa mikir sendiri.” Menyeringai dengan wajah yang dipalingkan, Ara mana perduli pada Tante Laura yang sudah merah padam karena malu dan marah.
“Dikasih tau orang tua kok gitu! Lagian memang suami kamu punya banyak uang? Pesta tadi juga biasa aja!!” Ucap Tante Laura sewot, menghentakkan kaki meninggalkan Ara yang hanya mampu menggelengkan kepala.
“Kamu sih mau yang sederhana terus.” Celetuk Rava tiba-tiba yang mendengar ucapan terakhir Tante Laura tanpa sengaja.
Terperanjat kaget, jantung Ara berdebar lebih kencang. “Bikin kaget aja sih, Mas!” Ucap Ara kesal sambil memukul tipis lengan Rava yang terkekeh menerima pukulan itu. Tidak sakit, malah bagi Rava perlakuan Ara bak rengekan kemanjaan.
__ADS_1
“Sini biar Mas aja yang nyuci. Nanti kulit telapak tangan kamu bisa terkelupas lagi kalau lama-lama main sabun cuci piring.” Ucap Rava sembari mengambil spons berwarna kuning dengan sisi hijau yang lebih kasar dari tangan kanan Ara. Mengambil alih menyabuni piring-piring kotor yang sudah sempat dibilas dengan air mengalir terlebih dahulu.
Tidak menunggu waktu lama bunyi piring basah yang baru disusun memenuhi dapur. Baik Ara maupun Rava kompak bekerja sama. Ara yang biasanya jarang melakukan pekerjaan rumah mencuci piring saat ini sedang menemani Rava yang menyabuni piring kotor dan Ara bertugas membilas.
Sesekali canda tawa mengiringi kegiatan mereka, topiknya masih seputar kejadian di resepsi pernikahan keduanya belum lama ini. Terkecuali pembahasan seputar hadirnya tamu tidak diundang, siapa lagi kalau bukan Hans.
“Di rumah kita udah Mas sediakan sarung tangan karet buat nyuci. Kalau Mas belum pulang dan kamu mau nyuci, wajib kamu pakai. Oh, iya, nanti kita beli buat di dapur Mama juga ya..” Ucap Rava sambil mengeringkan tangan basah Ara dengan kain lap. Menempelkan pelan-pelan pada sela jari-jemari Ara seolah tulang jari Ara mudah retak jika Rava memberikan tekanan terlalu keras.
“Mas dari kemarin bilang rumah kita mulu, tapi Ara belum tau apa-apa.” Gerutu Ara lirih, mencebikkan bibir sambil menumpu bobot tubuhnya bersandar pada wastafel dapur.
“Jangan manyun gitu bibirnya. Mas jadi pengen cium.” Ucap Rava sembari mengetukkan jari telunjuknya dibibir Ara yang nyaris bisa diikat dengan karet gelang.
“Halaah..” Memutar bola matanya malas, Ara memalingkan wajahnya yang sudah tersetrum getaran semburat merah.
“Nanti kamu lihat sendiri. Kita izin sama Mama, Papa lagi ya Sayang untuk langsung tinggal di rumah kita sendiri. Kemarin rencana Mas setelah selesai resepsi langsung pulang ke rumah kita sendiri. Kamu ingatkan waktu dulu kita pernah izin tapi malah Rian yang nangis gak mau kamu tinggal.” Ucap Rava sambil mengusap kepala Ara dengan sayang yang hanya diangguki oleh Ara.
Sudah cukup lama Ara tau bahwa Rava telah menyiapkan rumah untuk mereka berdua tempati. Bahkan dengan terang-terangan Rava pernah meminta izin pada Papa Yudith dan Mama Lauritz, namun hasilnya gagal karena Rian yang merengek tidak memperbolehkan Ara pergi dari rumah.
Adik bungsu Ara itu justru membuat Rava cemburu karena terus-menerus bergelayut tidak ingin lepas dari Ara. Alhasil Mama Lauritz meminta agar sepasang calon pengantin kala itu sementara tidak pindah terlebih dahulu.
...----------------...
__ADS_1
Jarum jam di dinding terus berputar yang menandakan malam sudah semakin larut. Di sudut sofa ruang keluarga, pengantin baru itu enggan melepas tautan jemarinya sejak turun dari mobil, makan bersama dan kini berkumpul di ruang keluarga dengan televisi yang menyala. Beruntung Jona masih memerhatikan tayangan yang terputar, jika tidak maka ceritanya akan menjadi televisi yang menonton perbincangan hangat sebuah keluarga dengan tambahan satu orang lagi.
Melebarkan kelopak matanya, Ara sudah mulai mengantuk. Namun rasanya canggung jika harus masuk ke kamar yang tentunya akan diikuti Rava. Jika boleh, Ara ingin mengunci pintu sebelum Rava berhasil menyusul. Tapi tentu saja dirinya tidak bisa melakukan hal itu. Jika saja kamar di lantai atas yang bersebelahan dengan kamar Ara tidak ditempati Kakek Baren, bisa jadi diam-diam Ara memaksa Rava untuk sementara tidur terpisah di kamar itu.
Mengenai keluarga besar Mama Lauritz, mereka memilih menginap di hotel. Lagi pula tidak ada kamar tersisa lagi jika ingin menginap di rumah Papa Yudith. Mungkin bisa saja bagi yang laki-laki tidur di ruang keluarga ini, menggelar kasur tipis dan tidur bersama layaknya jejeran ikan pindang. Sayangnya selain Mama Lauritz, semua anak Kakek Baren terlalu arogan dan besar gengsi, jelas saja ide itu ditolak mentah-mentah.
“Ma, Pa, besok Rava sama Ara mau pergi ke rumah Ayah dan Bunda. Terakhir ke sana kan Ara belum jadi istri Rava.” Ucap Rava sambil menatap Mama Lauritz dan Papa Yudith bergantian. Tangan kanan Rava sudah meraih jemari tangan kanan Ara dan memindahkan genggaman itu ke atas pahanya. Sedangkan tangan kiri Rava melingkar di pinggang Ara dengan ibu jari yang sesekali bergerak mengusap tipis. Meski geli, Ara berusaha belajar untuk terbiasa.
...****************...
*
*
*
Yang menanti MP kecewa🤣
Fyi, Hana udah buat bab tentang MP akhir Agustus lalu setelah bertapa di berbagai referensi baca dengan tag khusus 21+🙈, tapi 2 hari lalu baca ulang malah geli sendiri dan jatuhnya hareudang melebihi kebiasaan Ara dan Rava di kisah sebelumnya.
Jadi mau gak mau saat ini harus menghalu lagi. Ini tantangan baru buat aku, jadi mohon maaf kalau nanti flat.🙏
__ADS_1
Sekali lagi terima kasih dan maaf karena slow update di 2 novel Hana🙏