
“Dion akan coba bicarakan ke klinik senior waktu pendidikan dulu. Lebih baik kita singkirkan Nindy dengan ancaman yang halus.” Ucap Dion dengan suara berat tertahan. Dadanya terasa panas ingin memaki Nindy, namun ia harus tetap berpikir rasional. Menjaga kewarasannya guna menghindari hal yang tidak diinginkan.
“Abang setuju. Mau bagaimana pun juga dia tetap butuh uang untuk kebutuhannya. Meski memang harusnya dia di hukum lebih berat atas tindakannya.” Menghembuskan nafas kasar, Rava menopang punggungnya pada sandaran kursi.
“Dion bisa bawa ini sebagai laporan ke atas Bang.”
“Lebih baik jangan dulu. Kita bisa pakai semua bukti ini kalau seandainya dia mulai berulah lagi. Abang yakin bukan masalah materi dia melakukan ini.” Cegah Rava pada Dion. Ia ingin mengantisipasi kemungkinan terburuk atas tindakan Nindy selanjutnya.
“Aku gak nyangka banget dia bisa segila ini. Selama ini aku paham banget Bang kalau dia gak suka sama Ara. Tapi ya nggak harus sampai menjatuhkan Ara apalagi mempertaruhkan reputasi diri dia, aku dan juga klinik punya ku lah. Gak suka ya udah diam aja, kenapa bisa melebih-lebihkan informasi kayak gini?” Geram Dion sembari membanting kertas yang hampir diremasnya.
“Kamu kayak gak paham aja, Yon. Emosi sesaat yang mengalahkan logika dan hati nurani, jelas dia bertindak gila demi yang gak disenangi menderita.” Ujar Rava seolah sedang menyindir dirinya sendiri.
Jujur saja Rava memang pernah menjatuhkan seseorang demi menuntaskan kemarahannya, namun yang Rava lakukan jelas bertolak belakang dengan Nindy. Mungkin Rava tidak sadar atau terlupa bahwa Ayah Dinda yang dijebloskan ke penjara atas kasus penggelapan dana juga merupakan Ayah kandung Nindy.
“Abang terima beres aja habis ini. Semua ini sekarang urusan Dion. Alasan apapun yang akan dia berikan gak akan membenarkan tindakan bodohnya.”
“Gak bisa gitu, Yon. Abang juga harus turun tangan. Semua ini masih urusan Abang, apalagi berkaitan dengan Ara. Gak bisa Abang biarin kamu selesaikan sisanya sendiri.” Ucap Rava yang tanpa sadar menyesakan ruang kecil di dada Dion. Ada rasa menusuk yang tidak kasat mata.
‘Ikhlas? Omong kosong!! Nyatanya tetap sakit tau Bang Rava sesayang itu sama Ara.’ Maki Dion dalam hati pada dirinya sendiri. Ia tersenyum tipis sekilas, bukan bahagia melainkan senyum miris dengan tatapan yang berubah sendu. Tentu Rava tidak menyadari perubahan secepat kilat raut wajah Dion itu.
“Jangan anggap remeh masalah ini.”
“Kasih Dion waktu 3 hari untuk urus kepindahan dia.”
“Secepat itu?” Mengernyit heran Rava pada tenggat waktu yang Dion minta.
“Gak Bang. Itu hanya waktu untuk kita negosiasi. Sebelumnya Dion juga harus menjelaskan alasan sebenarnya dari permasalahan Nindy ke pihak lain. Akan ada kesepakatan yang harus kita buat. Sebenarnya Dion lebih mau Nindy langsung dipecat aja.” Menghela nafas panjang, Dion berujar sambil membuang pandangannya ke arah jalanan yang penuh lalu lalang kendaraan.
Flashback Off.
“Udah? Gitu aja?” Tanya Ara dengan mata terbelalak lebar. Rasanya Ara tidak puas dengan sekelumit cerita singkat Rava. Belum lagi hasil ia menyimak tidak adanya kisah interogasi Rava dan Dion terhadap Nindy.
Seakan tidak percaya dengan cerita yang tampaknya mengalir dengan mudah. Apalagi membayangkan dirinya yang harus rela berubah menjadi monster panda demi secuil informasi yang mengarah pada Nindy. Ara benar-benar dirundung kepo akut.
“Ya intinya Mas sama Dion ajak dia ngobrol aja. Tapi dia tetap bungkam tentang orang yang bantu. Entah apa maunya dengan yakin bilang gak ada yang bantu dia dari pihak kampus.” Jelas Rava lagi.
“Terus..!?” Ujar Ara yang menuntut kelanjutan cerita itu.
“Mas biarkan aja meski Dion sempat marah-marah. Rasanya percuma menekan orang yang udah kukuh dengan kebohongan yang keras kepala begitu.” Ucap Rava yang terkesan santai. Nyatanya ia tetap waspada dan siaga pada sosok-sosok yang mencurigakan.
__ADS_1
“Mas curiga ya ada orang di kampus yang memang gak suka sama Ara? Lagian biarin aja sih kalau orang gak suka. Kalau isi hati dan otaknya buat gak suka sama Ara ya udah suka-suka dia deh. Ara gak apa-apa kok. Jadi Mas gak perlu terlalu khawatir, Ara baik-baik aja.” Ucapan Ara membuat Rava terdiam. Dari lubuk hatinya yang terdalam, Rava jelas mencurigai Dian.
Kehadiran Dian bagi Rava adalah sebuah ancaman. Ia takut sosok perempuan dewasa itu kehilangan kontrol diri dan melukai Ara, tidak hanya fisik namun juga batin.
Bugh.
Pukulan gemas Ara menyadarkan Rava dari lamunan sesaat. Menoleh sambil mengernyit kebingungan, Rava sudah dihadiahi tatapan tajam oleh Ara. Seolah paham ada hal tidak beres, reflek Rava memiringkan kepalanya, membalas tatapan Ara dengan senyum manis.
“Kamu hutang satu penjelasan lagi!!” Memicingkan matanya, Ara berucap penuh penekanan. Dagu yang diangkat dan bibir manyun itu seakan memberi peringatan agar Rava tidak melarikan diri.
“Penjelasan apa lagi yang kamu maksud?” Tanya Rava bingung, bukan pura-pura, Rava benar-benar tidak mengerti maksud dari ujaran Ara.
“Sadar gak tadi kamu cerita awalnya gimana?” Masih dengan mata yang memicing, Ara menyorot lekat sepasang bola mata Rava.
“Apa ya?” Dahinya berkerut dan jemarinya saling meremas, Rava mencoba mengingat apa yang salah dari semua perkataan atau tindakannya. Cukup lama keduanya saling terdiam dengan Rava yang bergelut dalam pikirannya, tiba-tiba hembusan angin seakan membawa kepingan ingatan Rava.
Gugup. Tentu saja Rava sangat-sangat gugup. Hal yang ingin ia simpan nyatanya terlepas begitu saja lewat bibirnya. Rava hanya ingin Ara mengingat kisah mereka dengan sendirinya.
Anggap saja Rava buang-buang waktu. Namun sejujurnya Rava hanya berharap sedikit kisah lama yang masih terkenang di ingatan Ara. Ia ingin sosoknya 11 tahun lalu tersimpan dalam angan Ara.
“Tadi Mas itu.. Eh.. Maksud kamu yang mana ya?” Tanya Rava dengan senyum kaku. Tatapannya gusar tidak menentu.
“Pulang sekarang!” Ucap Ara datar, sedatar raut wajahnya. Bak musim semi yang terhantam badai, begitulah kiranya perubahan raut wajah Ara
“Apaan sih?? Mas gak ada aneh-aneh loh..” Bujuk Rava pada Ara dengan memelas.
“Masih gak mau jujur?” Ara beranjak dari duduknya sambil tersenyum miring.
“Pulang sana.” Ucap Ara lagi sembari mengedikan dagunya.
“Sayang.. Iya yang tadi itu bener.” Merengek Rava memegangi kedua sisi bahu Ara.
“Beneran gak mau cerita?” Tanya Ara dengan lembut.
“Bukan..” Tatapan Rava penuh keraguan. Hembusan nafasnya terdengar sangat gusar.
“Jadi apa?”
“Kita memang pernah bertemu waktu kamu kecil.” Mencoba mengalihkan pandangan ke sembarang arah, suara Rava terdengar lirih.
__ADS_1
“Seriusan?” Dahi Ara berkerut. Ia seolah tidak percaya dengan penuturan Rava.
“Hah.. Iya..” Menghembuskan nafas kasar, Rava juga mengangguk mantap.
“Sejak kapan Mas tau?”
“Sejak awal.” Jawaban Rava sukses membuat Ara terbelalak. Pasalnya semua sungguh di luar nalar Ara. Bagaimana bisa ia pernah bertemu Rava di masa lalu, begitu pikir Ara.
“Ceritakan dari awal tanpa ada yang disembunyikan lagi!” Ucap Ara sambil menyingkirkan tangan Rava dari bahunya.
“Apa kamu gak ingat sedikit aja tentang Mas?” Tanya Rava sendu. Hatinya seolah tersentil kala memikirkan setidak berartinya kisah lama itu untuk Ara.
“Jujur aku gak ingat apapun. Tapi siapa tau aku jadi ingat setelah Mas cerita.” Lemas kaki Rava seketika. Rupanya memang benar hanya ia yang menyimpan rapat kisah mereka dalam ingatan yang begitu indahnya.
“Mas lebih suka kalau kamu sebut diri kamu pakai nama. Gak aku-akuan gini..”
“Ck! Gak usah mengalihkan pembicaraan deh..!!” Berdecak kuat menunjukan kekesalannya, Ara mengerti bahwa Rava berusaha mengalihkan pembicaraan.
...****************...
*
*
*
Apakah akan terkuak kisah lama Ara dan Rava pada 1 bab setelah ini?🤔
*
*
Hana dulu pernah kepikiran, “Nanti tamatin di bab 100 lah.” Dan sekarang udah lebih dari 100 tapi kisahnya masih panjang.🤭
By the way, apk kalian error juga nggak?🤔
Internal server error mulu mangatoon & noveltoon Hana. 🤧
*
__ADS_1
Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰