Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Aquila Ravandra (...)


__ADS_3

Jika sebelumnya sudah ada yang bersiap menyaksikan drama opera sabun colek atau bahkan fenomena negara api menyerang, maka selamat karena harus menerima kekecewaan. Bersiap-siaplah memupuk banyak kekecewaan karena Bang Dewa memilih mundur terpaksa. Niat hati ingin memaksa Ara mengakui kebohongannya, namun harus terhempas kasar sebab sosok pelindung Ara adalah atasannya sendiri.


Bang Dewa masih yakin bila Ara memiliki otak kotor yang akan terus menjatuhkan Kak Dinda demi mendapatkannya. Meskipun cukup benar bila otak dan pikiran Ara tidak suci, ada banyak trik kotor bahkan licik dan picik jika Ara benar-benar ingin memanfaatkannya. Namun sungguh sangat kepedean sekali Bang Dewa jika berpikir Ara masih mengharapkannya.


"Makasih Pak udah bantuin saya tadi." Ucap Ara sembari menundukkan kepala sekilas tanda hormat.


"Tapi saya serius tadi Ra."


"Iya makanya itu saya ucapin makasih banget ke Bapak yang udah serius tolongin saya." Kekeh Ara dengan wajah datarnya.


"Bukan itu maksud saya. Apa yang saya ucapkan tadi serius." Lidahnya kelu, bahkan tampak tercetak jelas raut wajah penuh kegusaran.


"Sumpah bertele-tele banget ini orang tua." Batin Ara kesal dalam hati. Jemari Ara sudah terkepal erat di belakang punggung, meski bibirnya menyunggingkan senyuman ramah. Sungguh kurang ajar sekali Ara ini.


"Iya saya tau kok Pak. Jadi ya makasih karena udah serius." Ucap Ara dengan raut wajah yang sama sekali tidak berubah. Sangat datar, jutek, cuek, sombong dan dingin.


Memiringkan kepalanya sambil mengernyit, kepalan jemari Ara terurai. Dibantu dengan ujung kakinya yang sedikit berjinjit, tangan Ara tiba-tiba terulur, "Maaf ya Pak."


"Hehe.. Lucu banget. Daun nangkanya nyangkut jadi Bapak kayak pakai jepit. Hari ini anginnya kuat banget, tadi aja saya sempat ditampar keluarganya daun ini." Ucap Ara sambil menertawakan daun nangka yang kali ini masih hijau telah berpindah di genggamannya itu.


Tidak tahukah Ara bila tawa dan senyumnya mengandung marshmello yang manis dan bisa lumer hampir melelehkan sosok gletser berjalan. Sekuat tenaga Ara coba menahan tawa yang lebih kencang kala matanya menatap wajah bersemu merah yang Ara yakini sedang malu-malu tapi mau itu. Ingin rasanya Ara menggoda lebih jauh lagi.


"Saya duluan ya Pak.. Yuki sama Dimas pasti udah nung.. guin sa-ya." Kalimat Ara terputus-putus kala matanya bersibobrok dengan manik mata milik Dimas dan Yuki.


Melipat silang kedua tangannya di depan dada seperti nyonya bos, Yuki menyeringai pada Ara. Sedangkan Dimas tampak berkacak pinggang dengan senyum mengejek. Sungguh sial nampaknya nasib Ara selanjutnya.


Memilih menghindari kedua temannya, Ara memutar badan berlari kecil menuju kantin terdekat dari area parkiran. Daripada menghampiri persidangan Pak Hakim Dimas dan Bu Hakim Yuki, lebih baik Ara pergi ke kantin menyegarkan dahaga dengan teh tarik dingin. Ara sepertinya lupa bahwa semua yang ia butuhkan berada di dalam tas yang sedang Yuki tenteng.


"Hish!! Yuki, Dimas ngelihat berdua lagi. Pasti heboh. Lagian ini orang tua gak mau aja langsung to the point." Gerutu Ara lirih dengan masih berlari kecil.


"Padahal tinggal bilang 'aku Rava, Aquila Ravandra Kim, orang yang kasih kertas cinta buat kamu', gitu aja kok repot." Ujar Ara kembali dengan sewotnya, namun tetap lirih.


Ara hanya mampu menggerutu dengan sangat lirih agar sosok yang mengekor seperti anak ayam di belakangnya tidak ikut mendengar. Ara sungguh tidak suka pada sesuatu yang tidak efektif dan efisien, bertele-tele juga tidak langsung pada intinya saja. Bagi Ara, jika memang menginginkan sesuatu dengan serius lebih baik katakan saja langsung secara lantang meski nantinya harus gagal.


"Ara tunggu saya dulu."


"Pelan-pelan Ra. Nanti kamu jatuh."


"Ara.. Sebentar Ra. Hati-hati."


"Ara, pelan."


Sepanjang perjalanan Ara diiringi kalimat-kalimat bernada cemas itu. Layaknya anak bayi yang baru belajar jalan Ara harus terus diingatkan untuk berhati-hati. Meski Ara sempat terkejut karena sosok yang biasanya hemat suara itu tiba-tiba sangat cerewet. Tidakkah Ara juga akan terkejut bila menyadari keduanya saat ini sudah menjadi pusat perhatian banyak pasang mata.

__ADS_1


Sedangkan Yuki dan Dimas, kedua sosok yang masih diam mengamati Ara dari kejauhan sudah hampir selesai menyusun hasil observasi dengan objek temannya sendiri. Siapa lagi kalau bukan Ara tentunya.


Terdapat 3 hipotesa, dimana yang pertama mengatakan bahwa Pak Kim menaruh rasa pada Ara yang tampaknya benar adanya. Hanya perlu menunggu pengamatan lebih lanjut. Kedua, Ara sudah mengetahui gelagat lawan jenisnya dan lagi-lagi keduanya setuju sepertinya memang benar. Terakhir adalah dugaan Pak Kim mengejar Ara yang sudah terbukti benar terpampang nyata pada mata Yuki dan Dimas.


"Keliatan sekarang siapa yang naksir duluan dan lagi kasmaran Dim." Yuki masih menatap lurus ke depan. Masih dapat tertangkap lensa matanya sepasang manusia berlainan jenis tampak sedang memperagakan adegan film Bollywood.


"Ck!! Gak nyangka kisahnya bakalan kayak gini." Ganti Dimas yang berucap sembari menggelengkan kepalanya.


"Kok lucu ya kalau dipikirin Ki. Mereka itu udah kayak rangkai listrik tipe seri. Cuma ini yang ngalir bukan elektron tapi gelombang cinta. Bu Dian ngalir ke Pak Kim, terus Pak Kim ngalir ke Ara. Bedanya kalau listrik seri sambungan kabel di lampu satu mati pasti lampu berikutnya juga mati gara-gara elektron gak bisa ngalir. Tapi kalau ini, aliran cinta Bu Dian diputus malah lebih bagus deh kayaknya." Ucap Dimas dengan wajah sok seriusnya.


"Kira-kira bisa timbul reaksi reversibel gak ya antara Pak Kim sama Ara??" Menyentuh dagunya, Dimas tatap Yuki yang kini sudah melanjutkan perumpamaan dalam teori kimia.


"Mau doain takut Ki. Tau sendiri Ara pernah bilang mau hidup solo dan yolo aja menikmati kesendiriannya tanpa pusing mikir pasangan."


"You only look once??" Tanya Yuki dengan dahi berkerut.


"Itu algoritma yolo. Ini yolo yang you only live once.. ckckck!" Ucap Dimas dengan berdecak kesal.


"Kebanyakan makan slide ppt sama jurnal bikin omongan receh aja masih kebawa-bawa materi ilmiah." Lanjut Dimas menimpali ucapan sebelumnya.


"Kalian berdua itu sama. Bukannya dirimu juga gak percaya komitmen dan pernikahan ya Dim??" Ucap Yuki menohok jiwa dan raga Dimas.


Hening.


"Iya. Makanya itu aku jadi paham ketakutan Ara. Kami berdua sama-sama takut dicampakkan atau dibuang lagi. Aku gak bisa bilang lebih beruntung Ara karena masih punya Tante Lauritz sama Om Yudith. Tapi aku juga gak bisa bilang lebih beruntung aku yang disayang keluarga orang tua ku." Ucapan Dimas terdengar sangat tegar, namun sorot matanya mengkhianati. Ada kepedihan mendalam dalam setiap untaian kata yang baru saja terucap.


Apalagi ditambah kisah cinta Ara yang baru ingin disentuh atau bahkan dicerna, namun sudah kandas terlebih dahulu. Karena itulah bila ada sosok yang mulai mendekatinya memiliki keluarga besar yang utuh, maka Ara akan secepat mungkin memangkas tali pengharapan rasa yang ada.


Ada ketakutan bila ia akan disia-siakan sama seperti yang terjadi pada Mama Lauritz dan Papa Yudith. Ketakutan lain juga muncul dalam bayangan Ara bagaimana ia akan dicampakkan begitu saja, bahkan Ara sangat takut bila harus memiliki anak bernasib sama sepertinya.


Sedangkan Dimas sejak kecil sudah diasuh oleh nenek dari keluarga ayahnya. Ibunya pergi meninggalkan keluarganya dan ketiga anaknya setelah melahirkan adik bungsunya yang masih merah, kala itu Dimas berusia 9 tahun dan memiliki seorang adik yang masih balita juga. Ayahnya yang selalu bersikap acuh tanpa kasih sayang seolah tidak memberi pengaruh apapun pada Dimas.


Dimas remaja sudah tidak mengenal rasanya bermain lagi, ia harus bekerja membantu neneknya yang sudah tua untuk menghidupi adik-adiknya. Bahkan hingga kini ia masih bekerja serabutan meskipun menjadi kuli panggul atau kuli bangunan, maka dari itu segala tawaran di kampus akan ia terima demi uang. Beruntung Dimas mampu mendapatkan beasiswa full pendidikan, ia adalah seorang pemuda yang cerdas. Perasaan senasib inilah yang mampu membuat Ara menerima hadirnya Dimas disekitarnya.


"Aduh uangnya lupa.." Sesal Ara saat menyadari ia hanya membawa dirinya saja dengan segelas teh tarik dengan bongkahan dadu es batu. Tidak mungkin berkata 'utang dulu ya' di kantin yang sedang ramai itu. Ingin Ara bersembunyi dalam kaos kaki kremnya.


"Saya bayar." Ucap sosok di belakang Ara yang menyodorkan selembar uang biru pada Ibu kantin itu.


"Ayo.. Kita duduk di sana." Wajah Ara sangat merah padam, bukan karena marah.


Ara menunduk sepanjang jalan menuju meja yang dimaksud. Genggaman erat di pergelangan tangannya memberi sinyal bahaya. Ditarik sekuat mungkin justru genggaman itu mengerat. Namun anehnya Ara tidak merasa jijik seperti saat Bang Dewa menyentuhnya sebelumnya. Padahal jelas-jelas kini kulitnya sedang beradu dengan kulit si penarik.


"Pak, bisa tolong lepas. Bisa mati meleleh saya dipelototi sama orang-orang di sini." Cicit Ara sekecil mungkin, namun masih mampu didengar sosok di depannya.

__ADS_1


Bukan jawaban yang Ara dapatkan. Jemarinya kini justru saling bertautan. Sudahlah, Ara sudah pasrah menerima nasib buruknya yang pasti akan datang.


"Kita duduk di sini ya." Mendengus sebal Ara menatap tajam sampai nyaris melotot pada sosok lancang di hadapannya. Tidak perduli lagi Ara jika harus dikatakan sebagai mahasiswa kurang ajar.


"Pak Rav.. Maksud saya Pak Kim mau apa sih!?" Ketus Ara yang sudah nyaris keceplosan memanggil dengan nama 'Rava'. Iya, sosok di hadapan Ara ini Pak Rava atau Pak Kim, alias satu orang yang sama bernama lengkap 'Aquila Ravandra Kim'.



...****************...


Algoritma YOLO : You Only Look Once merupakan sebuah pendekatan baru untuk sistem pendeteksian objek, yang ditargetkan untuk pemrosesan secara real-time yang membingkai pendeteksian objek sebagai masalah regresi tunggal, dimana dari piksel gambar langsung ke kotak pembatas (bounding box) spasial yang terpisah dan probabilitas kelas yang terkait.


Reaksi reversibel : Reaksi bolak balik yang berjalan dua arah dan membentuk kesetimbangan dengan kecepatan/ laju pembentukan produk sama dengan laju pembentukan reaktan (pereaksi).


Rangkaian Listrik Seri : Rangkaian listrik yang komponennya disusun secara berderetan hanya melalui satu jalur aliran listrik.



(Itu 👆 contohnya dan perbandingan dengan rangkaian listrik yang lain, yaitu paralel. Selain itu juga ada rangkaian listrik campuran ya😊)


*


*


*


Jadi gimana nih pendukung Pak Rava dan Pak Kim?? Apa sudah mau bergabung??😄 Atau tetap mau terpisah nih??🤭


Terima kasih buat kakak-kakak yang udah berhasil nebak dari awal kalau Rava dan Kim adalah orang yang sama dengan nama lengkapnya Aquila Ravandra Kim. Jadi disini jelas juga ya kalau nama Dokter Dion lengkapnya pasti Ursa Dion Kim.


Kisah keluarga Kim?? Nanti bakal dijelasin sekilas di bab selanjutnya (yang masih gak tau bab berapa😆)


Mau nanya juga nih, kalau Hana ubah gaya bahasa dengan hapus sebutan 'Pak, Bang, Mas' dibeberapa kalimat diluar dialog gimana menurut kakak-kakak??🤔


*


*


Terima kasih ya udah setia memantau kisah Ara😘


Peluk, Cium, Sayang ku buat Kakak-kakak semuanya 🤗🥰😘😘


...****************...

__ADS_1


Selamat jalan wahai jiwa besar yang selalu mengembara di lautan. Semoga riuh ombak mengobati yang tertinggal.


#PrayForKRINanggala402


__ADS_2