
"Sakit banget ya Pak??"
"Gak kok. Gak apa-apa." Ucap Rava dengan senyuman pada Ara, namun kemudian menatap tangan yang sedang digerak-gerakkan sambil meringis. Mana bisa juga Ara percaya punggung tangan yang sudah dipijak kakinya yang seperti kaki badak itu akan baik-baik saja.
"Di kompres dulu deh Pak.." Bujuk Ara pada Rava sembari mendorong mangkuk kecil berisi sebongkah es batu yang Ara pecahkan tidak beraturan lengkap dengan handuk kecil.
"Cuma ngilu sedikit Ra." Ucap Rava lembut agar Ara tidak khawatir, meski ia senang Ara menaruh perhatian padanya. Tidak masalah bila harus melewati ujian berat layaknya penyiksaan jika mampu menarik perhatian sekecil apapun dari Ara.
"Maaf ya Pak.. Saya tadi reflek dorong Bapak gara-gara kaget Adik saya teriak, terus waktu mau pergi gak sengaja injak tangan Bapak lagi. Sumpah ya Pak, saya gak sengaja. Saya cuma mau cepet-cepet kabur tapi malah buat Bapak apes lagi." Ucap Ara penuh sesal. Ibarat perumpamaan sudah jatuh tertimpa tangga, maka Ara yang seperti maling salah target itu sudah jatuh ditimpuk warga ditambah lagi digelandang ke penjara penuh kubangan penyesalan.
"Saya tau kok kamu gak maksud marah sama saya sampai sengaja pijak tangan saya. Saya udah hafal banget kalau kamu itu emang perempuan bar-bar yang saya cinta tapi punya hati lembut dan gak tegaan. Lagian kamu kenapa juga mau kabur?? Doyan banget kamu menghindari saya. Padahal percuma juga kamu mau kabur kemanapun juga bakal saya kejar."
Jika bukan karena masih merasa bersalah maka sudah pasti bogeman indah akan melayang dan mendarat cantik pada lengan Rava. Bisa-bisanya disaat Ara merasa sangat bersalah justru diberi gombalan maut yang pasti sudah memasak sempurna pipi sampai daun telinga Ara hingga merah pekat.
"Diminum dulu Om teh nya.." Rava menghela nafas berat perlahan.
Sudah Kakaknya memanggilnya 'Bapak', sekarang ditambah adiknya memanggil 'Om'. Sadar jika memang sudah berumur, bahkan adik dari Ara, perempuan yang dicintainya saja jika dilihat dari segi usia sudah seperti ayah dan anak dengan perbedaan usia 22 tahun. Rava hanya bisa pasrah menerima kenyataan dengan harapan bisa masuk dalam keluarga Ara sebagai suami, menantu dan abang bagi kedua calon adik ipar kecilnya.
"Rian yang buat??" Tanya Ara pada Rian yang masih mendekap nampan bekas wadah segelas teh hangat.
"Iya Kak. Kenapa??" Tanya Rian pada Ara dengan kepala yang sedikit dimiringkan.
"Pakai gula kan??"
"Ih Kakak nih.. Ya pakai gula lah!!" Menghentak kesal kedua kakinya bergantian, tingkah Rian di mata Ara sangat menggemaskan. Jika Rava tidak ada diantara mereka sudah pasti Ara akan menggigit gemas pipi Rian.
Bukan tanpa alasan Ara bertanya teh yang Rian buat ditambahkan gula atau tidak. Seumur hidup Rian baru 2 kali menyajikan minuman teh hangat. Teh kedua yang Rian buat disuguhkan untuk Rava, sedangkan teh pertamanya dinikmati oleh teman tongkrongan Papa Yudith.
Teh hangat manis yang harusnya nikmat berubah menjadi teh segar di tangan Rian sesegar rasa hambar beraroma daun teh. Bisa-bisanya saat diinterogasi Rian dengan santai menjawab 'Kan disuruh buat air teh, Papa gak bilang pakai gula apa bilang teh manis gitu sih'.
"Gimana Rav? Masih sakit?" Tanya Papa Yudith tiba-tiba yang sudah siap dengan setelan katelpak biru dongker, topi baseball hitam dan sandal jepit hijau di ambang pintu dari arah teras rumah.
"Gak kok Om. Gak sakit." Suara lembut itu hilang, berubah menjadi berwibawa dan penuh ketegasan.
"Ya udah ayo berangkat sekarang!"
"Papa mau kemana sama Pak Rava??" Tanya Ara pada Papa Yudith sambil beranjak dari duduknya bersama Rava dan menghampiri Papa Yudith.
"Ke bengkel. Katanya mau belajar mesin motor sama Papa. Iya kan Rav??"
"Iya Om. Mari Om pakai mobil saya aja." Ucap Rava dengan keempat jari ditekuk dan ibu jari menunjuk mobil hitamnya.
"Gak usah naik mobil.. Pakai motor supra di garasi aja, sekalian ngetes mesin motor punya orang itu." Jawab Papa Yudith berganti menunjuk garasi kecil tanpa pintu berisi sebuah motor matic dan 2 motor bebek. Jangan tanya dimana mobil milik Papa Yudith, karena jelas jawabannya ada di bengkel terparkir rapi sebagai mobil operasional.
"Tumben Pa ambil servis motor lagi??"
"Mogok di depan bengkel Kak, kasian juga udah tua masa disuruh dorong nyari bengkel motor dulu."
"Orangnya pulang naik apa kalau motornya di rumah kita??"
"Papa suruh Gilang ngantar pulang. Pas juga searah sama toko Om Ahong.. Ya sekalian aja kan beli kampas rem sama ambil filter solar."
__ADS_1
"Filter solar buat truk?"
"Iya. Kemarin Jona udah Papa suruh beli. Baru juga diganti malah bocor lagi.. Ternyata karyawan si Ahong itu salah kasih barang reject ke kita. Untung aja yang dapat kita Kak, kalau orang lain apa gak tambah habis kena omel itu karyawan." Ucap Papa Yudith yang membuat Ara bergidik ngeri membayangkan suara cempreng Om Ahong yang suka ngegas saat bicara.
Sedangkan Rava merasa kecil dan terasing diantara anak dan bapak yang tampak asik membahas seputar onderdil atau sparepart mobil. Ingatannya kembali saat dikenalkan pada yang katanya 'calon menantu' pilihan Papa Yudith, Rava hanya mampu menyimak segala macam obrolan tanpa sanggahan atau sautan. Tidak ada yang benar-benar ia pahami tentang mesin mobil bahkan motor sekalipun. Menyesal Rava membuang waktunya tidak membuat rancangan pendekatan dengan persiapan perang yang matang.
...----------------...
"Lang.. Kasih pinjam Rava baju kotor ya Lang.."
"Baju yang mana Om??" Tergesa-gesa Gilang menghampiri suara yang memanggilnya sambil mengangkat 1 setang piston mobil di tangan kirinya.
"Baju mu yang buat besok itu kasih pinjam dulu ke Rava."
"Anak baru ya Om?" Tanya Gilang lirih, berbisik pada Papa Yudith sambil mengamati laki-laki matang yang sudah ia perhatikan sejak tapak kakinya menyentuh pelataran bengkel.
"Dosennya Ara itu. Masa masih muda udah pikun sih Lang?? Yang pernah ketemu di rumah itu.." Papa Yudith menggelengkan kepalanya tidak percaya pada ingatan jangka pendek pemuda di sampingnya.
"Besok Gilang kerja pakai kolor aja nih Om.. Bajunya udah disandera. Di rumah masih numpuk belum dicuci. Butuh naik gaji ini nih kayaknya buat beli baju baru dulu.." Ucap Gilang tidak serius, meminta kenaikan gaji lewat candaannya.
"Nanti saya ganti." Celetuk Rava yang justru menanggapi ocehan Gilang dengan serius.
"Santai Mas Bro.. Cuma becanda kok."
"Ini pakai aja bajunya.. Gratis. Aman juga, bebas penyakit kulit menular. Warnanya emang jelek, tapi ini baru dicuci kok." Menyodorkan sepasang kaos dan celana training hitam, Gilang juga menyakinkan bahwa pakaian miliknya tidak berbahaya.
Meraih dalam genggaman kedua tangannya, Rava memperhatikan kaos oblong yang warnanya sudah tampak pudar di bagian ujung lengan. Namun saat diperhatikan seksama tampaknya kaos itu korban tersiram cairan pemutih.
"Belajar dari dasar dulu ya Rav. Kenal dulu sama jenis dan ukuran mur baut. Kotak ini udah ada tulisan ukurannya, kalau bentuk nya ngikutin aja sama yang udah ada di dalam kotak ini. Kalau nanti bingung langsung tanya Gilang aja ya.." Ucap Papa Yudith sambil meletakkan kotak plastik berbentuk balok yang bersekat dengan label angka penanda ukuran mur baut.
"Lang.. Ajarin Rava nanti ya.. Yang sopan juga manggilnya jangan Rav-Rav. Panggil Mas apa Bang. Kamu lebih muda."
Jujur Rava memang sadar umurnya tidak muda lagi, bahkan jika Ara yang mengatainya 'tua' ia akan terima saja. Akan tetapi rasanya sangat berbeda saat Papa Yudith yang mengucapkannya di depan Gilang, Rava merasa tersindir hingga merasa cukup malu karena mendekati Ara yang jelas 12 tahun lebih muda darinya. Apalagi saat ini Rava harus berhadapan dengan Gilang sebagai mentor nya, atau lebih tepatnya berhadapan dengan 'calon menantu' pilihan Papa Yudith untuk Ara.
"Gilang.." Menurunkan egonya, Rava memanggil Gilang. Seperti kata pepatah malu bertanya sesat di jalan, maka Rava harus menurunkan ego persaingan karena memang Gilang lebih handal dalam perbengkelan dibandingkan dengan Rava.
"Perlu apa Bang?"
"Ini maksud baut M 8 apa ya?" Menunjuk pada kotak berlabel 'M 8', Rava masih kebingungan setelah ia selesai menyortir mur baut berdasarkan visual bentuknya. Mur baut yang sudah di sortir terkumpul membentuk bulatan menumpuk di atas lantai. Tidak ingin hanya sekedar melakukan sortir, Rava juga ingin paham berbagai istilah umum bagi orang-orang yang sering bergulat di bengkel. Bisa runtuh harga diri Rava jika Papa Yudith tiba-tiba mengetes kebodohannya.
"Oh itu.." Terkekeh geli Gilang sempat berpikir Rava memanggilnya karena pertanyaan serius dan mendesak.
"M ini maksudnya metrik Bang. Ini itu ukuran diameternya, jadi baut M 8 itu punya diameter 8 mm. Tapi kalau mau buka baut 8 ini gak bisa pakai kunci set 8 ya Bang.."
"Kenapa??" Mengernyit heran Rava masih saja bingung dengan penjelasan Gilang.
Menurut Rava harusnya wajar baut berdiameter 8 mm akan dibuka dengan kunci set ukuran 8 juga. Selama hidupnya dan selama ia memiliki mobil, Rava tidak pernah sekalipun menyentuh mesin mobilnya. Jika mogok yang dilakukan bukan membuka kap depan mobil, namun menelepon bala bantuan montir mobil di tempat servis resmi yang sudah terdaftar asuransi mobil miliknya.
"Kan yang 8 mm diameter badan baut Bang, bukan kepalanya. Kalau baut 8 ini harus pakai kunci set ukuran 12." Jelas Gilang sambil mempraktikkan kecocokan mur baut M 8 dengan kunci set 12.
"Oke deh. Makasih Lang." Ucap Rava yang kemudian melanjutkan sisa pekerjaannya.
__ADS_1
"Bang Rava Dosennya Ara ya??" Tanya Gilang tiba-tiba yang sudah ikut duduk di sisi kanan Rava.
"Iya. Kenapa??" Tanpa menoleh Rava menjawab singkat pertanyaan Gilang.
"Pasti kesel punya mahasiswi kayak Ara kan?? Dingin, datar, tapi kalau ngomong ketus, sinis, sewot, banyak nyuruh lagi." Ucap Gilang sekenanya tanpa sadar lawan bicaranya sudah mengeratkan genggaman pada 5 baut ukuran M 10. Marah Rava pada ucapan yang menjelekkan Ara menyeruak pendengarannya.
"Kamu gak suka sama Ara??" Tanya Rava tanpa basa-basi. Tidak ingin membuang waktu lainnya untuk memikirkan musuh semu, ia harus mengulik langsung lawan yang harus disingkirkannya.
"Suka." Nafas Rava tercekat mendengar jawaban singkat Gilang. Jika biasanya ia benci mendengar orang yang banyak bicara kecuali Ara, maka kali ini Rava sangat ingin menuntut penjelasan langsung selanjutnya dari mulut Gilang.
"Ara itu udah kayak adik ku sendiri Bang. Kalau ada pengen dikunyah, tapi kalau gak ada ngangenin." Jawab Gilang dengan tawa kecil yang membuat Rava mengernyit heran.
"Jangan takut kalau Om Yudith bilang Gilang ini calon mantu ya.. Tapi gak tau juga deh kalau nanti akhirnya emang Gilang yang berhasil memperistri Ara." Memainkan kedua alisnya naik turun, Gilang berlalu meninggalkan Rava secepatnya. Mata Gilang jelas melihat kepalan tangan yang siap memberikan bogeman mentah kapan saja.
...----------------...
Sedangkan di tempat berbeda pada waktu yang hampir bersamaan, sepasang anak manusia sedang bersitegang. Siapa lagi jika bukan Ara dan seorang laki-laki yang pernah mengisi rasa cintanya.
"Kamu tau kan kalau aku gak bakal ambil lagi sesuatu yang aku buang? Sampah yang aku buang itu udah gak punya arti apapun. Beda kalau barang daur ulang, gak akan aku buang meski di tempat terburuk dan gak layak sekalipun pasti tetap bakalan aku simpan. Jelaskan sekarang bedanya sama sampah?" Ucap Ara sembari tersenyum puas sekilas dan beralih dengan wajah yang sinis dan seringai lebar.
"Hubungan kita masih bisa kita perbaiki Ra!! Aku tau masih ada cinta buat aku. Kamu gak mungkin masih marah sama aku kalau rasa cinta itu udah hilang. Aku benar kan!!??" Peryataan dan pertanyaan yang tidak kalah ngotot terlontar melawan untaian kalimat menusuk dari bibir Ara.
"Aku itu udah muak!! Jangan salah artikan marah ku karena cemburu. Gak usah kepedean banget deh. Muka mu emang ganteng dan bikin banyak mata pasti kepincut awalnya, tapi buka mata mu lebar-lebar kalau masih banyak cowok yang lebih baik dari mu!!" Tegas Ara dengan tatapan tajam. Lelah sudah pikirannya menghadapi makhluk Tuhan yang tergolong laki-laki yang satu ini.
"Apa kamu juga mau bilang kalau salah satunya itu Pak Kim??" Suara berat dengan tangan terkepal itu ikut menatap Ara dengan tajam.
"Perbedaan umur kalian terlalu jauh Ra. Kamu gak cocok sama dia!!" Suara bentakan menarik perhatian tukang siomay gerobak yang tiba-tiba lewat di sisi kanan Ara. Iya, Ara sedang berada di tepi jalan yang niat awalnya menanti Kang Siomay langganannya lewat. Namun sungguh nasibnya yang malang justru mengantarkannya bertemu cinta keduanya, Lauwis Hans yang tidak tau diri.
...****************...
*
*
*
Terima kasih buat yang terus pantau Kisah Ara dan terus Kasih Dukungan Hana🥰
*
*
Efek muncul di Beranda Utama bikin yang Favorit nambah😍😍 Terima kasih buat yang baru gabung baca Kisah Ara, semoga makin suka ya😘
Buat pembaca lama jangan pernah bosan menghadapi Hana yang suka gabut juga ya😁
*
Akhirnya Hana ungkapin juga nama lengkap pilihan Papa Yudith.. Meski hati ini cekit-cekit, cekit-cekit, menahan tangis gak rela😭 Calon Suami Ku menjadi Calon Suami Karakter Novel ku (eeeaaaakkkk🤣🤣🤣 judulnya udah cocok masuk list sinetron ikan ngambang belum??😁)
__ADS_1
Kalau ada yang mau ditanyakan cuss langsung meluncur jarinya ke komen😉