Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Undangan Pernikahan


__ADS_3

"Sayang.."


"Sayang mau kemana??" Berlari kecil, suara centil lolos dari bibir yang terbuka memamerkan deretan gigi. Senyum cerah di wajah cantik terlukis tanpa beban. Namun tidak sebanding dengan jemari yang meremas tali tas selempang berwarna krem di balik punggung. Sekuat tenaga menahan perihnya luka yang terus tergores.


Luka yang setiap waktu Yuki tutupi perban tiada henti terus terkoyak dan menganga lebar. Tatapan tajam bagai mata pisau yang selalu Yuki dapatkan kali ini naik berkali-kali lipat. Tubuh yang gemetaran itu bukan karena takut, justru rasa tercabik yang diam-diam ditahannya.


Blam


Hempasan kasar pintu mobil menyentak tubuh Yuki ke belakang. Tamparan udara terasa nyata di wajahnya. Wajah pias memucat terasa panas sampai ke ubun-ubun dalam sekejap.


"Aku cuma mau kasih ini.." Yuki menyodorkan sebuah undangan pernikahan berwarna silver berpadu pita emas. Tali semu menarik sudut bibir Yuki secara paksa. Tersenyum manis menahan tangis.


"Sesuai janji ku sebelumnya.. Aku udah punya bukti." Masih tetap tersenyum. Memilih mundur selangkah lebih jauh, Yuki mendesah pasrah. Tangis yang belum sempat ia tumpahkan di kamar Ara harus kembali bertambah parah. Waktu yang kurang tepat membawa Yuki setia dalam kepura-puraan.


"Semoga kamu tetap bahagia dengan pilihan mu." Undangan yang masih dalam genggaman Yuki lemparkan begitu saja melewati jendela mobil. Tampak wajah kaget yang mendelik, Yuki tidak perduli lagi.


Cengkeraman kuat pada kemudi mobil menampilkan urat tangan yang mengeras. Belum juga sosok yang hanya terlihat setengah badannya itu membuka mulutnya, Yuki kembali membungkam dengan kalimat perpisahan.


"Huh.. Selamat malam, maaf kalau saya mengganggu. Selamat tinggal." Berucap lebih formal Yuki melangkah pergi. Air mata yang susah payah Yuki tahan lolos begitu saja. Bendungan yang dibangun kokoh tidak mampu menahan besarnya gelombang air mata.


'Aku memang murahan.' Gumaman menyayat hati menusuk jantung Yuki. Menghina harga dirinya sendiri, Yuki mengaku kalah dalam peperangan cintanya. Melangkah bersama kepingan hati yang hancur, ia patah hati.


Setulus hati Yuki berjuang,namun ia harus berhenti sebelum semakin terpuruk. Sedangkan sosok laki-laki yang tidak pernah melihat ketulusan Yuki ditinggalkan dengan kemarahannya.


Brak


"Kurang ajar!!" Rahang mengeras mengiringi suara maskulin penuh kemarahan.


Berjam-jam mendudukkan dirinya di perosotan sebuah sekolah TK, Yuki menangis tanpa suara. Sadar sudah malam hari dan takut disangka sebagai si cantik yang doyan terkikik.


"Udah belum!??" Pertanyaan ketus merusak suasana pilu Yuki.


"Belum!!" Jawaban cepat disertai kilatan kekesalan.


"Cih!! Lama banget sih cuma nangis gitu aja??" Berdecih menyepelekan tangis berjam-jam Yuki yang justru membuatnya kesemutan, Dimas menyilangkan tangan di depan dada. Sudut bibir kiri atas yang tertarik dan gelengan kepala Dimas mengejek Yuki.


"Kurang ajar!! Seenaknya bilang ini cuma nangis!!" Mendelik tajam, kepalan tangan di udara bertindak mengancam.


"Diajak seriusan aja belum, nah gak dianggap kok mewek-mewek gak jelas sendiri." Ucap Dimas sekenanya. Belum tau saja Yuki sudah bersumpah agar Dimas merasakan karmanya.


"Huuuuaaaaa.. Makanya temenin aku nangis biar gak sendirian, Cuit!!" Tangis yang sudah mereda kembali menjadi raungan anak macan. Menepuk bibirnya pelan, Dimas merutuki bibirnya yang tanpa rem.


“Kok gak nangis juga Dim?” Tanya Yuki sambil sesegukan. Suara ingus terhisap terdengar menyesakkan. Merinding Dimas membayangkan ingus yang harus dibuang itu justru Yuki tarik masuk.


Pletaak!!


"Ngelunjak!! Buang itu ingus!! Jijik banget dengernya." Menyodorkan tisu lima ribuan, Dimas berjongkok di depan Yuki.


"Sakit be.."


"Bebek angsa masak di kuali.. Gitu kan??"


"Diem dulu deh Dim..!! Aku jadi gak menghayati lagi ini nangisnya.. Hiks.. Hiks.."


"Berarti udah selesai. Ayo, pulang!!"


"Bentar.." Tangan Yuki tertahan di udara, ada rasa asing yang sulit didefinisikan.


"Hatchuu..!!" Beruntung hanya suara disertai rintik air liur yang meluap. Lebih beruntung lagi Dimas yang sudah menjauh terbebas dari limpasan semburan rintik liur Yuki.


“Nah kan!! Udah kedinginan gitu. Ayo Pulang!!” Menarik lengan kiri Yuki, Dimas paksa Yuki untuk berdiri.


“Bentar lagi..” Rengek Yuki sembari menyentak tangan Dimas, namun gagal.


"Mau ngapain lagi??"


"Maskara nya luntur.. Hiks.." Mencebikkan bibirnya di remang-remang sinar lampu dari bangunan sekolah TK, Yuki masih mampu menatap lelehan menghitam di sekitar matanya. Cermin minimalis yang mampu ditenggelamkan dalam genggaman menampilkan wajah menyeramkan Yuki.


"Hahahaha.. Udah kayak setan Valak aja.." Pegangan tangan Dimas di lengan Yuki terlepas berganti ke arah perut Dimas sendiri. Menghentakkan kaki menahan tawa, telunjuk berputar membulat seolah menandai mata Yuki.


"Dasar barang palsu!! Katanya waterproof, tapi kok luntur!?" Merogoh maskara dari dalam tasnya, Yuki banting kesal tabung hitam kecil itu. Menggelinding bebas di atas tanah setelah dihempaskan, sungguh maskara yang menyedihkan.


"Buang sampah sembarangan.. Ambil Ki! Nanti kasian kalau ada anak-anak yang kepeleset maskara abal-abal."


“Berisik!!” Ucap Yuki ketus, namun jemarinya tetap memungut tabung maskara yang sempat dibuangnya.


“Ayo pulang sekarang.”


"Bentar lagi ya.. Masih betah nangis di sini, belum main perosotannya juga." Mata berbinar penuh permohonan Yuki membuat Dimas jengah.


Menempelkan ponsel di telinga kanan, panggilan Dimas belum juga disambut. Sedangkan yang berada di seberang sana mengernyitkan dahi, layar ponselnya berkelap-kelip tapi bukan disko. Getar ponsel di atas nakas berulang memaksa tangan Ara terulur.


📞Panggilan Masuk Dimas


[Kenapa??]


"Idih ketus banget.. Nonton Oppa lagi lu??"

__ADS_1


[Kenapa??] Masih bertahan dengan suara datar. Tubuh yang direbahkan seolah tidak bertulang itu meletakkan ponsel di atas pipinya. Tangan yang direntangkan sesekali memukul kasurnya.


"Yuki kumat.. Mewek-mewek gak jelas ini. Ngomong dulu sama dia suruh pulang. Aku udah ngantuk nemenin. Lagian udah malam gini nanti dikira mau nyolong ayunan kan bisa berabe.” Jawab Dimas cepat dengan suara dengusan yang dapat terdengar jelas oleh Ara.


“Nih ngomong dulu sama Ara..!!” Menyodorkan ponsel pada Yuki.


“Arraaa..” Lengkingan rengekan Yuki menyakiti gendang telinga Ara.


[Pelan Yuki!! Telinga ku belum standby.. Nah sekarang teriak lagi deh.] Menjauhkan ponselnya, Ara mengintruksikan Yuki untuk reka ulang adegan. Namun Ara tampaknya tidak sadar sedang melakukan kesalahan.


“ARAAA.. Mmpht..” Telapak tangan Dimas membekap kuat bibir Yuki.


Plak


Plak


Suara tamparan pada tangan Dimas terus Yuki layangkan. Hidung yang tidak sengaja ikut tertutup menyulitkan Yuki untuk menarik nafas.


“Hah!! Hah!! Hah..!! Hah..!!” Tersengal-sengal layaknya lari dikejar anjing penjaga mangga yang seperempat dahannya doyan menggoda dari balik pagar tinggi.


[Halo??] Ara mencari sumber kehidupan yang seketika menghilang.


[Heh!! Kalian dimana?? Aku ini ditelepon, tapi kenapa dibiarin?? Sok banyak kuota paket telepon aja sih si Dimas.] Gerutu Ara.


“Halo Ra?” Bukan suara Yuki, Dimas merampas paksa ponsel miliknya dari genggaman Yuki.


[Akhirnya.. Kenapa lagi?]


“Si Yuki mau teriak-teriak aja. Kita ini lagi di samping sekolah TK malam-malam gini. Bisa disangka mau maling kalau dia teriak gak jelas gitu!!” Ucap Dimas ketus.


[Ya udah sekarang masalahnya apa?]


“Patah hati dia sama Pak Bos Resto mahal itu Ra..”


[Ya ampun. Kirain apa. Jadi gimana?] Menghembuskan nafas lega, Ara sudah yakin Yuki akan patah hati. Laki-laki yang tampak memperlakukan Ara sebaik mungkin saja pada akhirnya mengecewakan. Tidak aneh bila Yuki justru dicampakkan oleh laki-laki yang melihat kehadirannya sebagai gangguan.


“Dia nangis-nangis dari tadi sampai maskara nya luntur, tapi gak mau pulang juga. Kalau gak nyusahin temen udah masa bodoh lah mau nangis sambil salto juga. Ini kaki ku udah kayak diserbu semut amazon dari tadi.” Ucap Dimas sewot, namun percayalah di lubuk hatinya sedang sangat mengkhawatirkan Yuki. Bagaimana mungkin tidak khawatir pada keterpurukan Yuki yang biasanya rajin cekcok dengannya.


Meski tangis Yuki masih mampu diselingi banyak candaan, Dimas tau Yuki sedang meredam kehancurannya. Memilih bersikap acuh, nyatanya Dimas masih setia menjemput dan menemani Yuki menangis dengan di saksikan kucing liar yang baru saja lewat.


[Kasih ke dia lagi teleponnya!] Perintah Ara.


“Udah noh.. Ngomong sana!” Mendorong pelan ponselnya ke telinga Yuki, Dimas tidak melepaskan ponselnya pada Yuki.


[Pulang dulu Yuki.. Nangis butuh energi.. Mending sekarang pulang, mandi terus makan yang banyak baru lanjut nangis lagi.]


“Ha??” Melotot kaget Yuki pada sesuatu yang telinganya tangkap. Yuki masih mematung seolah tidak yakin dengan apa yang Ara ucapkan.


“Ini temen macam apa sih kok gak ada bujuk-bujuknya biar gak nangis?? Kenapa malah disuruh lanjut nangis lagi?? Huuaa..” Bukan menangis sungguhan, Yuki hanya bertingkah layaknya bocah.


[Memang kalau dibujuk jadi gak nangis? Nggak kan? Jadi ya udah nangis aja, tapi jangan pas perut kosong.]


“Kenapa?”


[Kasihan Dimas.. Pasti dia yang bakalan pontang-panting ngurus orang sakit.] Terkekeh Ara menjawab pertanyaan Yuki.


“Bener banget Ra.. Tercinta banget sama Ara ku ini..” Beruntung pengakuan ini hanya didengarkan tiga pasang telinga manusia tanpa sepasang telinga Rava. Bisa dibayangkan bagaimana ekstrimnya kepulan uap mendidih menyelimuti Rava. Huh!! Merinding.


“Kalau aku lagi sedih aja kalian kompak banget.” Bibir manyun dan mata menyipit, Yuki tatap tajam wajah Dimas. Tiba-tiba rasa tidak adil muncul mengusik Yuki karena wajah baby face milik Dimas. Padahal Dimas setahun lebih tua dibandingkan Ara dan Yuki.



[ya udah pulang sana!! Dah ngantuk aku.. Bentar lagi mau hujan juga..] Celetuk Ara asal. Niatnya hanya untuk menakut-nakuti Yuki. Ara ingat paket beberapa hari lalu yang membuatnya harus setia mendengarkan ocehan Yuki yang serupa.


“Serius?” Nada bicara Yuki tiba-tiba normal, kebetulan dari segala ucapan Ara yang terbukti nyata membuatnya was-was. Bisa rusak tas yang baru ia beli jika terkena hujan. Maklum saja barang murah yang terlihat limited edition itu tidak bisa digunakan sembarangan jika ingin awet. Harganya bahkan setara dengan semangkok mie ayam dengan ekstra bakso ikan dan es jeruk peras.


[Dah ya ku tutup.] Panggilan itu diputuskan sepihak oleh Ara. Tersenyum menyeringai membayangkan Yuki sedang kelimpungan buru-buru pulang.


“Dim ayo buruan pulang!!” Benar saja, punggung Dimas sudah di dorong-dorong untuk segera bergerak ke motornya.


“Tadi aja..” Belum sempat Dimas menyelesaikan ucapannya sudah dipotong oleh Yuki.


“Udah ayo buruan. Bayi ku yang baru dibeli ini bisa tamat riwayatnya.”


Tes


Tes


Tes


Baru juga lima menit motor Dimas melaju, rasa dingin tiba-tiba mengejutkannya. Menggeleng tidak habis pikir, Dimas menerka tangis Yuki kembali mengucur.


“Gak usah nangis lagi deh Yuki!! Air mata mu netes ke tangan aku ini..” Menaikan kaca helmnya, Dimas berucap kuat.


“Apaan sih Dim?” Mengernyit heran Yuki pada Dimas.


Tes

__ADS_1


Tes


“Nah kan kena lagi.” Gerutu Dimas yang tidak kalah kuatnya.


Bugh


Pukulan ringan di bahu kiri Dimas berhasil mendarat dengan mulus. Perasaan kesal Yuki kembali hadir meski dalam porsi yang berbeda.


“Kalau aku nangis ya airnya ke belakang. Gimana ceritanya malah meluncur ke depan?? Jelas-jelas nabrak angin kayak gini..”


“jadi ini apa yang netes??”


“Hujan kali..” Setengah sadar, Yuki berkata dengan santainya.


“Alamak!! Hujan Dim!! Kebut!!” Menepuk-nepuk bahu kiri Dimas, Yuki yang sadar sudah mengeratkan pelukannya. Pelukan pada tas mungilnya, bukan pada Dimas. Setelah melewati penantian tidur tidak tenang tiga hari dua malam demi tas selempang krem, dengan segenap jiwa raga Yuki akan melindunginya.


“Masuk dulu Dim..” Ucap Yuki saat keduanya sudah sampai di teras rumah. Mengusap perlahan sisi tas yang terkena limpahan air hujan, Yuki belum juga berniat membuka kunci pintu rumahnya.


“Gak deh, mau langsung pulang. Udah malam juga gak baik Yuki masukin laki-laki ke rumah gak ada orang tuanya.”


“Sejak kapan dirimu jadi laki-laki?” Memutar bola matanya malas, Dimas pasrah dari pada panjang masalah.


“Lagian masih hujan deras tau..” Lanjut Yuki.


“Aku juga udah basah kuyup meresap sampai ke dalam, kalau berhenti malah dingin.” Dimas menarik kaos oblong yang rupanya menyalurkan tetesan air hujan hingga membasahi celananya.


Iya, Yuki dan Dimas mau tidak mau menerobos di bawah guyuran air hujan. Sebuah mantel baju yang Dimas paksakan Yuki pakai ditolak. Sepasang mantel baju dan celana itu Dimas kenakan dengan posisi baju terbalik, tentu saja agar Yuki bisa menelusup masuk. Lebih tepatnya lagi tas Yuki yang menelusup terlindung di depan perut Dimas.


“Mandi di sini terus ganti pakai baju Papa ku yang ada.” Seketika Dimas membayangkan postur tubuh Papa Yuki yang nyaris tiga kali ukuran tubuhnya. Tidak terbayang harus dikencangkan seberapa kuat dengan ikat pinggang guna menahan celana yang pasti melorot kedodoran.


“Gak deh. Udah ya aku pulang..” Berlari ke motornya, Dimas melambaikan tangan di bawah guyuran air hujan. Memacu motor pulang ke rumahnya, lama-kelamaan Dimas merasa hujan itu berubah menjadi gerimis dan hilang.


Sedangkan Ara setelah puas membaringkan tubuhnya dan menyapa buku diary memilih berjalan ke arah balkon. Panggilan sesaat dengan Dimas dan Yuki membuatnya semakin takut mencintai seorang laki-laki.


Memeluk lutut dan menyadarkan kepalanya pada dinding, Ara memandang keheningan malam dalam kehampaan. Semilir angin malam menyapu bagian tubuh yang tidak terlapisi kain. Rambut-rambut halus yang merinding kedinginan seolah lupa mengirim sinyal pada otak Ara.


“Hah!!” Hembusan kasar keluar dari lubang hidung yang mulai membeku. Ada sesuatu mengganjal di relung hati Ara, tapi entah apa. Keinginan untuk menarik dan mencabut hanya menyakiti kulit di sekitar tulang belikat Ara.


Membuka layar gelap ponselnya, Ara ingin mendengarkan musik demi ketenangan. Namun tampaknya ia salah memilih daftar lagu. Lagu jadul yang biasa Ara gunakan demi meloloskan tangis justru terputar bebas. Beruntung bukan sebuah lagu keramat yang bisa membuat Ara mengenang kisah lama seolah kembali ke masa lampau.


Semakin kukejar, semakin kau jauh


Tak pernah letih 'tuk dapatkan mu


Terus berlari, namun ku takut terjatuh lagi


Tak ingin lagi


Membuatku perih


Sadarkan aku


Dari mimpiku


Oh, mungkinkah dirinya ada di depan mataku


Bila mungkin terjadi, pasti itu hanya mimpi


Mungkinkah jadi milikku? hooo


...


(Five Minutes - Semakin Ku Kejar Semakin Kau Jauh)


...****************...



👆Link : https://www.alodokter.com/patah-tulang-selangka


*


*


*


Kira-kira lagu 'keramat' yang dimaksud masih lagu jadul Indonesia atau K-pop nih? 🤔


*


*


Ada kisah Yuki nih😄


Siapa yang masih ingat momen Ara sekilas lihat Yuki di Restoran mewah bahkan Ara hampir keserempet??😊


Ada yang udah bisa nebak kondisi yang Ara alami??😊

__ADS_1


*


Terima kasih udah baca kisah Ara dan kasih dukungannya buat Hana🥰


__ADS_2