Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Misi 2 Miliar (1)


__ADS_3

“Untung aja besok libur, terus nggak punya tanggungan ke kampus. Lagian Papa ada-ada aja kok tiba-tiba kayak gini.” Gerutu Ara sambil memilih beberapa helai pakaian dari dalam lemari.


“Haaah..” Helaan nafas itu terdengar sangat putus asa. Memilih meninggalkan lemarinya yang terbuka, Ara menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Menutup sepasang matanya yang tiba-tiba terasa berat dengan lengan kiri.


Tidak terasa cairan bening hangat merembes dari sela matanya yang tertutup. Mengalir bebas hingga jatuh ke daun telinga, namun tetap Ara biarkan. Entah mengapa ia hanya ingin menangis.


Drrt.. Drrt..


Tring..


Ponsel Ara dari dalam tas berbunyi, cukup mengusik pendengaran, namun tidak membuat Ara bergerak untuk mengeceknya. Ia memilih tetap memejamkan kelopak matanya sembari merilekskan pikiran berkecamuk yang menekan rongga dadanya.


‘Mereka udah berubah..’ Membatin Ara mengucapkan kalimat itu berulang kali. Seiring kalimat itu terulang, kesadaran Ara juga mulai menghilang. Entah mengapa rasa kantuk yang tidak tau waktu dan kondisi menyerang sesukanya.


“Kakak..” Suara Jona yang melengking mengejutkan Ara yang baru saja hampir terlelap. Ia membuka mata dan menyingkirkan lengannya, melirik sinis pada pelaku yang sudah ikut menghempaskan beban tubuh ke sisinya. Kepala Ara sejenak merasakan pusing, bukan pusing karena sakit, namun efek kejut dari terperanjat dalam tidur yang baru saja akan dimulai.


“Kenapa?” Tanya Ara dengan suara parau khas orang mengantuk.


“Kita mau pergi lagi. Tapi ini mendadak banget, ada apa?” Tanya Jona sambil berbaring menyamping, menopang kepalanya dengan lengan kanan.


“Gak tau. Kakak juga baru sampai rumah ini.” Ucap Ara sambil memutar kepalanya menghadap Jona. Terdiam mengamati Adiknya yang masih mengerucutkan bibir, pupil mata Ara seketika melebar.


“Hih!! Udah tau basah keringat gitu malah asal baring aja di kasur orang?!!!!!” Seru Ara dengan kesal. Ara sudah terduduk sembari mendorong tubuh Jona menyingkir dari kasurnya.


Plak.


Tamparan sepenuh hati itu didaratkan tepat pada paha Jona. Sedangkan Jona hanya pasrah dan justru melemaskan tubuhnya untuk didorong paksa sang Kakak. Sungguh Adik nakal yang nyatanya sedang menggoda Ara.


“CEPAT TUURRUUUNNN..!!” Pekik Ara dengan mata yang sudah melotot. Tangan yang terangkat itu siap menampar paha Jona lagi.


“Capek Kak.. Aku baru pulang main futsal.” Rengek Jona dengan enggan beranjak dari kasur Ara. Meski begitu, Ara tetap mengguncang kasar tubuh Jona agar cepat menyingkir.


“Mamas di suruh mandi sama Mama..” Dengan belitan handuk di pinggangnya, Rian masuk ke kamar Ara dan tanpa basa-basi langsung menarik tangan Jona.


“Masih panas Dek..” Ucap Jona lirih.


“Kakak juga di suruh cepat siap-siapnya. Kata Mama sejam lagi kita berangkat.” Ucap Rian pada Ara.


“Udah lah mau pakai baju dulu. Ayooo Maaaasss..!!” Ucap Rian lagi sambil berlalu meninggalkan kamar Ara dengan menarik paksa Jona yang berjalan gontai mengekorinya.


“Sejam lagi mau pergi, memang sekarang jam berapa?” Gumam Ara sambil meraih tas ransel miliknya. Ia butuh ponsel untuk melihat waktu, padahal di dinding kamar juga sudah ada jam yang terus bergerak jarumnya setiap detik.


“Hm??” Dahi Ara mengeryit pada sebuah penggalan pesan yang langsung muncul saat Ara menggeser layar kunci ponselnya.


📩


Mas Rava


Mas baru keluar dari gerbang Kota. Sekitar 2 km lagi mau isi bensin dulu.

__ADS_1


“Hampir 20 menit yang lalu. Pasti sekarang udah jalan lagi.” Ucap Ara sambil memikirkan akan membalas apa pada pesan Rava.


Drrt.. Drrt..


Tring..


📩


Mas Rava


Sayang jangan telat makan. Jangan mandi malam-malam. Sayang kamu ❤😘


Belum juga Ara sempat memberikan balasan, Rava sudah kembali mengiriminya pesan. Tanpa Ara sadari ia sudah tersenyum saat mendapati emoticon pada akhir pesan singkat Rava. Jelas saja perasaannya berbunga-bunga hanya karena hal sepele itu.


^^^✉^^^


^^^Me^^^


^^^Mas, malam ini Ara mau ke Kota K. Semuanya serba mendadak.^^^


📩


Mas Rava


Gak ada masalah kan, yang?


^^^✉^^^


^^^Me^^^


📩


Mas Rava


Jangan lupa makan dulu. Satu hal yang harus kamu ingat, Mas selalu sayang sama kamu. Hati-hati sayang💕


Tanpa membalas, Ara meletakkan ponselnya di atas nakas. Tersenyum dan menghembuskan nafas lega, kalimat terakhir Rava seakan menjadi pengingatnya. Tidak masalah bila orang-orang yang pernah ia harapkan kasih sayangnya masih berlaku buruk, karena kini akan selalu ada Rava yang selalu melimpahkan kasih sayang.


Sedangkan Rava di belahan tempat lainnya sudah was-was, ia benar-benar khawatir. Tidak tau apa yang mungkin sedang terjadi membuat Rava semakin gusar. Sepanjang perjalanan pikirannya sudah terpecah, fokusnya terbagi pada pikiran buruk yang dengan suka cita menghinggapi otaknya, beruntung Rava tidak mengemudi seorang diri.


“Aku manfaatin aja moments pergi ke sana kali ini buat kembalikan uang ini.” Ucap Ara sambil menarik koper hitam yang sudah beberapa purnama bersemayam di kamarnya.


“Kayaknya 4 baju sama 3 celana cukup deh..” Mengetuk dagunya, bibir terkatup Ara sibuk bergoyang ke kanan dan kiri. Bukan olahraga, apalagi dangdutan, Ara bahkan tidak sadar menggerakkan bibirnya seperti itu.


Tidak menunggu lama, kegaduhan sudah mengisi rumah berlantai 2 itu dengan frekuensi yang bermacam-macam. Teriakan Mama Lauritz dan Papa Yudith jelas yang paling mendominasi, di susul suara Ara yang menyuruh kedua Adiknya bergerak cepat.


Di teras rumah dengan berbagai gaya kebosanan dan tidak sabaran kelima orang itu menanti jemputan. Tidak mungkin pula membawa kendaraan sendiri, bisa botak kepala Mama Lauritz memangkas jatah dapur untuk membayar biaya parkir di parkiran Bandara.


“Nah itu dia..” Ucap Papa Yudith lega kala sebuah mobil miliknya sendiri akhirnya datang juga.

__ADS_1


“Lama banget kamu Ndi.” Ucap Papa Yudith lagi pada pemuda yang baru saja turun dari mobil.


“Maaf Om Bos, tadi habis mandi malah mules-mules terus.” Jawabnya sambil menyengir.


"Ya udah, nanti malam tidur di rumah ya!? Tolong jagain rumah sama bengkel selama Om pergi.. Nanti kamu tidur di kamar atas yang pintunya gak di kunci." Ucap Papa Yudith yang sarat akan perintah dan permohonan itu.


“Bantu bawa barang-barang ke mobil ya Ndi.” Ucap Papa Yudith lagi meminta bantuan pada Andi.


“Siap Om Bos!!” Ucap Andi dengan posisi tegap dan bersiap.


Barang-barang yang dibawa sebenarnya tidak banyak. Lagipula tidak ada banyak waktu untuk mempersiapkan barang bawaan selain pakaian.


“Kakak bawa koper?” Tanya Mama Lauritz dengan mata terbelalak.


“Kamu mau minggat pakai koper sebesar itu? Udah kayak mau pergi sebulan aja. Lagian sejak kapan kamu punya koper itu?” Mama Lauritz kembali melontarkan banyak pertanyaan pada Ara. Dirinya tidak habis pikir pada banyaknya barang yang Ara kemas. Sedangkan tanpa sepengetahuan semuanya, koper hitam itu berisi uang tunai bernilai 2 miliar.


“Ini baju Ma..” Jawab Ara singkat tanpa menatap Mama Lauritz. Ia takut ketahuan berbohong, karena Ara sadar pupil matanya sedang bergerak gusar.


“Bongkar ulang, bawa sedikit aja!” Perintah Mama Lauritz.


“Tapi Ma..”


“Tinggal aja kalau kebanyakan. Kita gak punya waktu lagi, Ma. Pesawatnya 40 menit lagi berangkat.” Ujar Papa Yudith menyela pembicaraan Ara dan Mama Lauritz. Hal itu sukses membuat Ara mengulum senyumannya. Ia sudah siap dengan alasan jitu agar koper itu tetap bisa dibawa.


“Gak bisa, Pa. Kakak tadi lempar asal barang-barang Kakak. Gak tau yang penting ada dimana. Lagian Papa gak sebutin berapa lama di sana, jadi Ara bawa bahan buat tugas kuliah juga.” Ucap Ara panjang lebar dalam bantahannya.


“Ya udah bawa aja semua.” Ucap Mama Lauritz akhirnya mengalah. Jurus jitu berupa tugas kuliah tidak akan bisa terkalahkan.


'Misi mengembalikan 2 Miliar yang menyebalkan..' Gumam Ara dalam hati.


...****************...


*


*


*


Masih misteri.. Sekali lagi, ada apa sebenarnya?🤔


*


*


Ada yang ingat nama Andi??😄


Pernah muncul ya meski namanya aja di Bab Permohonan Eric atau nomor urut 60. Bisa di cek kalau lupa siapa itu Andi.😉


*

__ADS_1


Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰


__ADS_2