Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Harta Rampasan


__ADS_3

Berlari sambil menarik tangan Rian, dalam sekejap dapat Ara lihat Jona sudah menghempaskan tubuh di kasur empuk berselimut biru yang sudah acak-acakan. Tampaknya Jona dan Rian akan mengorbankan Ara untuk tidur mepet di ujung ranjang. Rasanya tidak berguna memiliki 1 kamar kosong yang sudah dibersihkan dan diberi 2 kasur single yang mudah dilipat bila berakhir kamar Ara yang kembali di monopoli.


[Sayang?] Tersentak kaget Ara pada suara yang tiba-tiba menginterupsi fokus Ara pada tingkah Jona dan Rian.


“I-Iya.. Mas?” Jawab Ara gugup.


“Maaf, tadi aku terlalu fokus perhatikan Jona sama Rian.”


[Kamu sekarang dimana?]


“Di rumah.”


[Maksud Mas itu kamu sekarang lagi di ruang apa?] Tanya Rava lagi.


“Ara di balkon kamar. Kalau Jona sama Rian lagi di dalam kamar ku. Kayaknya malam ini mereka ikut tidur di kamar aku, Mas.


[APA!!??]


Brak.


Terperanjat kaget, kursi yang Rava duduki terdorong kasar ke belakang dan jatuh. Bola matanya seakan terlepas akibat melotot terlalu lebar. Sedangkan Ara seakan dejavu pada teriakan maut Yuki.


Belum habis cemburunya pada Dion, kini Rava seakan kalah telak pada kedua bocah yang sedang perlahan ia curi dukungannya. Posesif, tampaknya itu adalah kata paling tepat untuk menggambarkan Rava. Sekuat hati Rava menahan gejolak penolakan yang ia sadari belum menjadi hak nya.


[Hah..!!] Hembusan kasar nafas Rava terdengar sampai seberang sambungan telepon. Menyugar disertai remasan kuat, Rava kelimpungan tidak tenang. Seandainya Rava tau Ara sering mengecup pipi mulus Jona dan Rian, mungkin ia bisa mati berdiri saat ini juga.


Tidak sampai di situ saja, sambungan panggilannya dengan pujaan hati seketika terputus. Bukan sengaja Ara matikan, namun ponselnya mati kehabisan baterai. Sedangkan Rava tentu sudah terduduk di lantai mengusap kasar wajahnya. Bersabar, hanya itu satu-satunya hal yang harus Rava lakukan.


...----------------...


Duk..!!


Menendang kecil koper hitam yang sudah ia tarik keluar, Ara menggigit bibir bawahnya. Memikirkan skenario terburuk yang sudah ia timbang-timbang sejak lama. Ketidak hadiran Jona dan Rian di kamarnya membuat Ara dengan santai mengeluarkan koper itu dari tempat persembunyian tanpa sibuk memikirkan alasan yang harus diberikan.


“Aku harus secepatnya membereskan masalah ini. Siapa sangka kalau ternyata dulu aku salah langkah.. Hah..!!” Bergumam kecil, Ara juga mengeluarkan hembusan kencang guna membuang sesak di dadanya.


Meninggalkan koper yang teronggok begitu saja, Ara mengunci pintu kamarnya dan berlalu menuruni anak tangga. Tujuannya kini hanya dapur. Sudah tercium sampai kamarnya aroma sambal goreng kentang yang menggoda.


“Kakak harus bantu apa, Ma?” Tanya Ara sambil memindahkan perkakas yang kotor ke wastafel.


“Kakak kuliah pagi?”


“Iya..”

__ADS_1


“Biasa hari ini jam 9 baru gerak.”


“Mau belajar kelompok buat presentasi nanti, makanya mau gerak cepat.” Kilah Ara. Sejujurnya ia hanya ingin secepatnya melarikan diri dari rumahnya.


“Ya udah minggir aja sana.. Bau cabe nanti badan mu.” Usir Mama Lauritz pada Ara yang sudah rapi dengan setelan serba hitam. Celana hitam yang dipadukan dengan kaos itu akan ditambah jas. Tidak hanya agar terlihat keren, namun bisa diusir dari kelas bila Ara hanya memakai kaos tanpa kerah yang sedang ia pakai saat ini.


“Mama masak banyak?” Tanya Ara sambil memindai beberapa makanan yang siap menggoyang lidah Ara.


“Ya pasukan nambah, Kak..”


“Oohh..” Membulatkan bibirnya, Ara mengangguk sesaat.


“Ma.. Mas Ega dimana?” Tanya Ara sambil jarinya mengetuk sandaran kursi yang ia sentuh.


“Kamar Adik mu, Kak..” Jawab Mama Lauritz tanpa menoleh pada Ara. Mata dan tangannya sibuk mencuci sayur bayam.


“Kakak ke sana dulu ya..” Ujar Ara cepat dengan langkah kaki yang sudah membawa tubuh miliknya berlari ke kamar Jona dan Rian.


“Mas? Ikut aku dulu ke atas!” Celetuk Ara tiba-tiba di hadapan Ega yang asik bermain ponsel.


“Hmm.” Hanya berdehem tanpa banyak bertanya Ega sudah mengikuti di balik punggung Ara.


“Ada apa?” Tanya Ega tanpa basa-basi. Matanya terfokus memandang sekeliling kamar Ara yang tidak ada manis-manisnya. Bahkan cukup membuat Ega terkejut kala menangkap poster berbagai wajah tampan bertebaran di dinding kamar Ara.


“Ibu mu tinggal dimana?”


“Aku mau balikin uang dia.” Ucap Ara sambil membuang pandangannya. Tentu saja ada rasa bersalah dan malu yang menyelinap dalam lubuk hatinya.


“Uang apa?”


“Gak usah pura-pura gak tau! Ibu mu pasti tau aku sama Bang Gilang.. Ehh, bukan, tapi maksud ku Bang Eric sama aku yang tipu dia dari kamu kan!?” Menatap sinis pada Ega, bibir Ara tercebik dan cemberut.


“Biarin aja lah.. Kamu pakai aja uang itu. Anggap aja itu bayaran karena dia selama ini cuma mikirin harta dan harta terus.” Ujaran santai Ega sukses membuat Ara kesal. Bisa-bisanya Ega justru berkata agar Ara menikmati harta hasil rampasan.


“Aku memang berencana kembalikan, karena dari awal aku gak berminat dengan uang itu. Meski alurnya sedikit berubah.” Ucap Ara sewot.


“Maksud kamu?”


“Aku tadinya mau kasih uang itu ke kamu. Tapi karena dia udah tau semua itu ulah aku, ya aku sadar harus kembalikan uang itu ke Ibu mu.”


“Kamu yakin?”


“Sangat yakin.”

__ADS_1


“Ibu sekarang tinggal di rumah Kakek. Mas gak bisa bawa Ibu tinggal sama Mas. Kamu tau kan keluarga Ayah benci sama Ibu ku?”


“Tau..”


“Wajar sih mereka benci. Seandainya bisa mengesampingkan hati nurani, Mas juga ingin benci sama Ibu. Gara-gara Ibu yang dengan tega ninggalin Ayah saat hampir jatuh, Ayah jadi terpuruk dan sakit-sakitan. Tapi sayangnya sejahat apapun Ibu selama ini, Mas tetap sayang sama dia.”


“Kondisi Om Arya masih belum ada kemajuan?” Tanya Ara prihatin. Dadanya ikut terasa ngilu kala menangkap tatapan sendu Ega.


“Udah, meski gak banyak. Tapi cukup bagus karena sekarang Ayah udah bisa mengingat Mas sebagai anaknya.” Senyum yang tersungging di bibir Ega sangat tidak cocok dengan matanya yang berkaca-kaca.


“Kamu bisa.. Kamu kuat. Mas ku paling hebat.” Ucap Ara menguatkan seakan paham rasa kesepian yang diam-diam Ega rasakan. Kedua tangan Ara secara spontan sudah menarik tubuh Ega dalam rengkuhannya.


“Kamu juga.. Adik tersayang ku udah besar. Udah gak main layang-layang apalagi sepakbola. Akhirnya bukan perempuan jadi-jadian lagi..”


Bugh.


Bugh.


Bugh.


“Kurang ajar..!!” Ucap Ara sambil melayangkan pukulan gemas ke punggung Ega yang masih ia peluk.


“Aduh ampun..” Melepaskan pelukannya, Ega berlari keluar kamar Ara. Sedangkan Ara kini sudah tertawa lepas. Tawa yang sama juga karena orang yang sama, persis seperti yang terjadi beberapa tahun lalu silam.


“Seandainya cerita keluarga kita gak rumit, apa mungkin aku bisa tertawa seperti ini selamanya?” Gumam Ara miris. Suasana hatinya berubah secepat udara yang berhembus di pagi hari nan cerah itu.


...****************...


*


*


*


Berjalan lancar atau kacau pertemuan Ara dan Tante Laura nanti?🤔


*


*


Ada yang mau mengabsen hal apa aja yang belum terselesaikan di sini?🤭


By the way, akan ada flashback tentang.. (Hayoo tebak tentang apa??😁)

__ADS_1


*


Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰


__ADS_2