
Padahal Ara merasa baru kemarin menyelesaikan ujian setengah semester, tapi kini dirinya sedang duduk menahan mual akibat goncangan dahsyat dari kapal ferry berjenis speedboat yang menerjang ombak dan gelombang di lautan.
Hanya menanti setengah jam perjalanan lagi dirinya akan sampai ke Pulau seberang yang cukup terpencil. Ara beserta kelompoknya sudah menghabiskan waktu 2 jam perjalanan darat menggunakan bus kampus, kemudian harus berlanjut 2 jam lagi mengarungi lautan dengan speedboat.
Jika tau akan setidak menyenangkan itu, Ara lebih memilih menaiki kapal ferry jenis ro-ro meski harus bertahan 6 jam terombang-ambing di lautan. Kapasitas yang lebih besar dengan kecepatan tempuh yang tergolong lambat membuat goncangan kapal ro-ro berada dalam level minimum.
“Toilet.. Toilet di mana!?” Seruan itu terucap gusar dari bibir yang cepat-cepat ditutup rapat. Menahan sesuatu yang mendobrak kerongkongan dan mengaduk perut.
“Hok..!!” Mulut yang terbuka membulat dengan lidah terjulur keluar sudah tidak bisa menahan lagi, ia menyerah dengan kepala tertunduk lemah. Sepersekian detik kemudian sebuah tangan memijat lembut tengkuknya.
“Oper ini ke Lea, Zen.” Ucap Ara sambil menyodorkan sebuah kantong kresek dan minyak kayu putih kepada Zen, laki-laki sebaya Ara yang menempati kursi di sisi kanan Ara, mengapit Ara yang duduk paling pinggir dari 3 kursi berderet.
“Lea, nih!” Tangan Zen terjulur ke kursi seberang, mengoper kantong kresek yang diraih Lea dengan buru-buru. “Suruh muntahin ke situ aja.”
“Keluarkan aja Feb. Jangan ditahan kayak gitu kalau memang mau muntah.” Ucap Lea sembari menggerakkan jemarinya kaku, memijat tengkuk Feby yang terus berusaha memuntahkan isi perutnya ke dalam kantong kresek hitam.
Tentu saja Lea jijik, namun ia harus menerima nasib mendapat kursi dalam baris dan deret yang sama dengan Feby. Berbeda dengan Lea yang sibuk membantu Feby, seseorang yang duduk di dekat jendela kapal tampak tertidur pulas. Entah tidur atau pingsan, yang jelas dia tidak terusik sedikitpun.
“Kamu gak mual, Ra?” Tanya Zen pada Ara yang mendongak dengan mata terpejam. Bukan hanya tidak mual, justru Ara sedang mensugesti dirinya sendiri agar tidak merasakan pemberontakan dahsyat di perutnya.
“Hm.” Dehem Ara singkat, menutup wajahnya dengan tudung hoodie kebesaran.
“Sandar aja ke bahu ku.” Tutur Zen setengah berbisik pada Ara yang tidak digubris. Ara bergeming menikmati sensasi memuakkan yang hilang dan muncul bergantung pada hantaman badan kapal dan ombak yang menggila.
“Ra?” Suara serta sentakan lembut membangunkan Ara dari tidur singkatnya. Mengerjap perlahan dalam kegelapan di balik tudung hoodie, mulut Ara terbuka lebar meloloskan rasa kantuk lewat bibir yang seolah mengaum.
“Udah sampai?” Tanya Ara dengan suara serak khas orang bangun tidur yang masih mengantuk.
Sejenak Ara mulai sadar bahwa tidak ada goncangan dahsyat lagi. Kapal ferry yang dinaikinya terombang-ambing pelan, tampak belum bersandar.
“Dermaganya bagus. Kamu tadi gak lihat.”
“Udah dokumentasi dari jauh kan?” Tanya Ara serius, rasa mual mengalahkan kinerja otaknya yang harus menjalankan tugas.
“Udah dong.. Nanti kita lihat di bus aja. Katanya di sana kita harus naik bus lagi.” Ucap Zen semangat, menggoyangkan tangan dengan ponsel di genggamannya.
‘Ah, di bus, berarti harus duduk sama dia lagi.’ Keluh Ara dalam hati, ia cukup risih berdekatan dengan lawan jenisnya. Apalagi baru genap 9 hari mereka bertegur sapa di grup chat dan baru 3 kali bertatap muka, terhitung hari ini.
__ADS_1
Bahkan untuk Dion yang berstatus sebagai Dokter yang menangani masalah kejiwaannya, Ara masih sering canggung dan membangun dinding pembatas yang kokoh. Sedangkan untuk Bima, Dimas dan Gilang, mereka juga punya cerita masing-masing.
“Barang-barang kita gimana?” Tanya Feby lemah dengan tatapan lesu, berusaha melangkah dengan bantuan Ara.
“Udah dibantu Zen. Kamu istirahat aja dulu.” Ucap Ara sambil menuntun Feby agar duduk menyandar pada kursi semen permanen yang memanjang. “Nih, minum dulu.”
“Sumpah aku nyerah kalau nanti kita pulang naik speedboat itu lagi. Rela deh aku bayar tiket kapal besar sendiri. Kapok aku.” Keluh Feby masih dengan suaranya yang melemah.
“Katanya gelombang lagi tinggi, jadi benturan di badan kapal kuat banget.” Ucap Ara sembari mengingat pembicaraan Dosen pembimbing kelompoknya dengan nahkoda speedboat yang tidak sengaja ia dengar.
“Ayo..”
Ara terperanjat dan hampir menghempas kasar tangan Lea yang bergelayut di lengan. “Astaga, Lea.. Bikin kaget aja.”
“Kamu duduk sama aku ya?” Bisik Lea tepat di telinga Ara.
“Kenapa?” Tanya Ara tanpa menurunkan intonasi suaranya.
“Gak mau kalau nanti kena maboknya Feby lagi.” Ucap Lea lirih sambil bergidik, dapat Ara rasakan tubuh Lea bergetar merinding.
“Ya udah, aku aja yang sama Feby. Kamu duduk sama Zen sekalian bantu aku dokumentasi perjalanan, gimana?”
“Apaan yang boleh?” Celetuk Feby dengan dahi mengerut sambil melakukan peregangan punggung.
“Lea bantu aku ambil dokumentasi.” Jawab Ara cepat sambil menerima uluran mini koper miliknya dari Zen yang memiringkan kepala, menatap Ara bingung.
Bukankah ia sudah mengatakan pada Ara akan memperlihatkan hasil dokumentasi di kapal sekaligus membahas gambaran dasar video yang akan diserahkan sebagai laporan kegiatan KKN, begitu pikir Zen dalam hati. Namun secepatnya Zen tepis, mungkin Ara terlupa. Lagi pula akan lebih nyaman duduk bersama sesama laki-laki jika ada tikungan tajam, jadi jelas ia akan meminta Lea mencari teman duduk sesama perempuan, bukan dengannya.
Terbukti kini kedua anak manusia yang ditugaskan menjadi sesi dokumentasi tidak bisa fokus mengambil gambar atau sekedar video asal. Jalanan berliku yang pas-pasan jika dilalui 2 mobil saling berlawanan arah tidak menyurutkan pengemudi bus untuk tancap gas pol.
Kini semua orang sedang berdoa penuh harap agar nyawa mereka tidak melayang. Apalagi bagi mereka yang duduk di pinggir sisi kiri, menghadap langsung pada tebing berbatu dengan hempasan ombak yang menyapa.
“Ini pemberhentian kelompok 7 di Desa L.” Teriak seseorang yang tidak Ara ketahui, namun cukup menjelaskan bahwa di sinilah Ara akan memulai hari-hari hingga 1 bulan kedepannya bersama ke 8 teman baru, terkecuali Feby yang sudah cukup Ara kenal.
Menapak untuk pertama kalinya, Ara dapat merasakan lingkungan baru dengan udara yang terasa sangat menyegarkan. Padahal hari sudah cukup sore, mentari hampir tenggelam di ufuk barat, menyembul malu-malu untuk mengucapkan salam perpisahan dan selamat jumpa lagi di esok hari.
“Selamat sore..” Suara bariton membuyarkan lamunan kosong Ara.
__ADS_1
“Mungkin untuk sekarang kalian bisa langsung beristirahat dan mempersiapkan diri untuk kegiatan pembukaan besok yang diselenggarakan pihak Kecamatan. Nanti malam kita berkumpul sejenak di basecamp yang sudah disediakan oleh pihak Desa.” Ucapnya panjang lebar, kemudian menoleh pada seorang warga lokal. “Betul begitu, Pak?”
“Iya, Pak. Kebetulan basecamp itu juga sebagi tempat para adik-adik ini tinggal selama kurang lebih 40 hari nanti. Sudah terpisah antara laki-laki dan perempuan meski dalam satu bangunan yang sama.” Jawab laki-laki paruh baya yang rupanya menjabat sebagai Kepala Desa L.
“Kebetulan Desa ini sudah hampir 4 bulan ini mendapat dana bantuan termasuk infrastruktur bangunan yang akan digunakan para adik-adik sekalian. Hanya saja nanti untuk kendaraan dari Desa hanya bisa meminjamkan motor kaisar untuk transportasi.” Ucapnya sambil menjeda dengan hembusan nafas pendek.
“Tapi tidak usah khawatir jika ingin menggunakan motor roda 2 bisa langsung pinjam ke saya atau warga sekitar saja. Masyarakat di sini cukup ramah, jadi tidak usah takut-takut.” Imbuhnya lagi.
Perbincangan itu seakan masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri, lolos bebas begitu saja tanpa benar-benar ingin disaring. Lelah sudah mendera badan para anak muda yang ingin cepat-cepat merebahkan badannya meski hanya di lantai, rumput atau bahkan pasir sekalipun.
...****************...
*
*
*
Akankah ada kisah seru atau pilu selama Ara menjalani masa KKN?🤔
*
*
Masih ingat kasus Nindy yang menyebarkan gosip?😀
Masih belum tau kan siapa antek-anteknya?🧐
Ini udah Hana spoiler, jadi sudah bisa terbayangkan atau tidak akan ada apa nantinya?🤔
By the way, dari kemarin susah mau masuk bagian nulis. Bahkan sempat muncul notif novel dihapus yang bikin syok.🤧 Syukurlah waktu Hana buka di website masih ada dan malam ini lihat di apk ada juga.🙂
Kalau ada typo harap diresapi artinya sendiri, nanti Hana cek lagi. Tapi pastinya gak langsung setelah bab ini UP.
Untuk teman-teman yang komen maaf belum bisa balas semuanya satu-satu.🙏
*
__ADS_1
Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰