Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Di Hadapan Paha dan Dada Ayam


__ADS_3

5 Hari kemudian.


"Ma.. Kakak pergi dulu ya.."


"Bilang Rava suruh hati-hati bawa motornya!!" Teriak Mama Lauritz sambil memerhatikan Ara yang sibuk memasang sepatunya di sepanjang langkah. Salah, lebih tepatnya di sepanjang loncatan. Bukannya duduk manis memakai sepatunya, Ara justru memaksa sepatu di kaki kanan masuk sambil melompat dengan kaki kiri seperti sedang bermain enggrang.


"Siap Kanjeng Mami..!!" Balas Ara dengan tidak kalah berteriak. Ara tidak sadar mama Lauritz berada pada jarak 3 meter di belakangnya sambil memegang pisau daging.


"Mas.." Tersentak kaget Ara kala membuka pintu yang sudah dihiasi tubuh menjulang Rava.


"Mata kamu kenapa?? Banyak tugas ya jadi bergadang?? Ya ampun sayang.. Bengkak banget mata kamu.." Tatapan khawatir disertai kedua telapak tangan yang menangkup wajah Ara, ibu jari Rava sibuk menjelajahi area bawah mata Ara. Rava menelisik kantung mata Ara yang bertambah tebal menggantung layaknya balon diisi air. Tingkah reflek Rava cukup berlebihan di mata Ara.


"Ehh.. I-Ini.. Iya, banyak tugas." Jawab Ara gugup. Menurunkan perlahan telapak tangan Rava dari pipinya, takut jika sang Mama memergokinya.


Terlambat.


Mata laser sudah terasa menikam punggung Ara. Jangan lupakan pisau daging digenggaman yang siap mencincang Rava dan Ara bersamaan.


"Hayoo.. Mau ngapain itu!!??" Seruan Mama Lauritz berhasil menyentak kedua sejoli salah tingkah. Suara yang sok menyeramkan itu sebenarnya hanya ingin menggoda, namun sangat berhasil menyentil jantung Ara dan Rava.


"Ma.. Mama.." Ucap Ara terbata-bata, gugup sudah pasti dirasakan, apalagi salah tingkah jelas terlihat dari langkah menghindar Ara yang kacau.


"Mau ciuman ya Kalian!!??" Hardik Mama Lauritz pada keduanya sambil menodongkan pisau.


"Nggak Ma..!!"


"Tidak Ma..!!"


Menyangkal serentak, keduanya juga melebarkan kelopak mata seolah menegaskan bahwa mereka tidak macam-macam. Iya, tidak macam-macam hanya satu macam saja bahwa Rava juga ingin mencium sepasang mata Ara yang dihiasi kantong tebal dengan warna gelap yang samar. Beruntung Mama Lauritz datang sebelum Rava beraksi, bisa dibayangkan akan berbeda cerita bila Mama Lauritz menampakkan wujudnya kala Rava sedang melancarkan aksinya.


"Ini kakak cuman kemasukan debu matanya, jadi sama Mas Rava mau ditiup. Ya kan, Mas!!??" Ucap Ara bohong. Berkilah yang tidak ada gunanya, toh mama Lauritz sudah memerhatikan Ara sedari tadi.


"Iya, Ma." Jawab Rava singkat, ingin jujur juga Rava tidak berani. Bukan pada acungan pisau Mama Lauritz, tapi mata Ara yang sempat melotot tajam padanya.


"Awas kalian macam-macam.. Kamu Rava, Mama titip anak gadis Mama. Sampai kamu apa-apakan atau lecet sedikit aja, ini pisau siap melayang!!" Ancam Mama Lauritz, tidak lupa pula memamerkan pisau daging mengkilap yang baru diasahnya.


"Rava janji, Ma.. Bahkan tanpa Mama minta juga Rava siap menjaga Ara seumur hidup." Ucap Rava mantap sambil memamerkan barisan para gigi.


'Mas Rava kira-kira masih marah atau kecewa gak ya??' Mencuri pandang dari ujung ekor matanya, Ara benar-benar merasa bersalah.

__ADS_1


Flashback On


"Aku gak bisa." Penolakan Ara berefek pada tertolaknya sepotong paha pada gigitan pertama Rava. Senyum yang sempat mengembang langsung kempes dan kisut. Raut kecewa terpancar jelas di wajah Rava, meski ia sudah secepatnya tersenyum kembali.


"Aku mau menjadi orang yang sukses dulu Mas.. Papaku diremehkan karena miskin. Mamaku diremehkan karena tersisih dari keluarga kayanya. Aku.. Aku nggak mau mengalami nasib yang sama." Meremas ujung bajunya, suara Ara bergetar. Ada rasa nyeri yang tiba-tiba menghantamnya. Tidak jelas karena apa, namun yang Ara yakini adalah kenangan menyedihkan masa kecilnya kembali terputar.


"Tidak ada yang akan meremehkan kamu di keluarga Mas.. Cuma Dion satu-satunya keluarga Mas.. Kamu tau kan kalau Dion gak mungkin merendahkan kamu?" Memaksa senyumannya, perasaan kecewa itu masih ada, meski sudah tertutupi rasa sayangnya pada Ara.


"Keluarga mu mungkin gak akan ada yang meremehkan aku, tapi gimana kalau kamu yang.." Suara Ara tercekat. Kesadarannya seketika terangkat. Menatap bola mata membesar Rava, Ara sungguh menyesal telah berburuk sangka pada Rava.


"Segitunya kamu mikir tentang saya??" Tanya Rava dengan tidak percayanya. Bongkahan gletser dari Antartika seolah jatuh menusuk dada Rava, menggores tepat pada pusat jantungnya.


Haruskah Rava meminjam mesin waktu Doraemon untuk membuktikan di masa depan ia hanya akan menjadi si bucin akutnya Ara?


"Bukan gitu maksud aku, Mas.." Bingung. Ara tidak tau lagi harus menolak ajakan menikah Rava.


Lamaran tanpa cincin atau sekuntum bunga, bahkan tidak ada kalimat romantis. Ucapan serius Rava hanya disaksikan sepotong paha dan dada ayam bakar di hadapan keduanya. Oya, jangan lupakan nasi, lalapan dan sambal pedas merah menyala dengan minuman jeruk peras hangat. Bila ajakan itu diterima, tentu suatu saat akan menjadi kenangan menggelikan bagi keduanya.


"Kalau bukan gitu, jadi apa maksud kamu!? Kamu masih gak percaya sama perasaan saya??" Tanya Rava pilu. Selera makannya merosot jatuh. Perut keroncongan seketika terdiam seakan ikut merasakan kesedihan hati Rava.


Rava pikir semua akan lebih mudah setelah Ara menerima perasaannya. Nyatanya perjalanan Rava masih sangat jauh. Bahkan terasa lebih berat dengan status menggantung.


"Kamu tetap bisa lanjut meski kita menikah."


"Kita jalani aja seperti ini dulu.."


"Kamu ingat apa yang saya lakukan tadi??" Ujar Rava agak ketus, meski sudah dibuat selembut mungkin.


"Tadi? Mas Rava kenapa??" Memiringkan kepalanya, Ara mengernyit bingung. Mengingat apa yang sebelumnya Rava lakukan, namun hanya kecupan mendadak yang Ara ingat. Wajah bersemu merah itu tidak dapat berbohong.


"Kamu ingat??" Tanya Rava lagi.


"Hmm.." Berdehem, Ara membuang pandangannya. Bisa-bisanya Rava mengungkit kejadian yang membuat Ara ingin menyentil ginjal Rava.


"Kamu lihat kan, saya bisa kelepasan kayak gitu sama kamu. Jujur saya gak mau kurang ajar kayak gitu ke kamu, tapi sulit saya lakukan."


"Gak menutup kemungkinan nanti saya gak cuma kecup, tapi juga cium bibir kamu." Ujaran seenaknya itu keluar dari mulut pemilik wajah yang merona. Bisa malu juga Rava setelah mengucapkan kalimat berani itu di hadapan anak perawan.


Sedangkan Ara sudah terbelalak menyorot tajam Rava, rahang bawah Ara rasanya akan jatuh saking terkejutnya. Namun tidak sejalan dengan otak nakalnya yang justru tiba-tiba membayangkan ciuman Rava.

__ADS_1


'Arg..!! Aku udah gak polos lagi..!!' Jiwanya memekik di dalam hati. Yakinlah, Rava tau apa yang sedang Ara bayangkan. Ingin mengelak pun percuma, wajah memanas Ara sudah cukup menjelaskan segalanya.


Senyum kecil terbit di bibir Rava. Tangannya sudah gatal ingin mengacak rambut Ara, beruntung masih sadar akan bekas bumbu kecap yang menempel. Rava jadi ikut membayangkan apa yang barusan ia ucapkan.


Stop!!


Rava menggeleng, membuyarkan bayangan berlabel 21+ dari pelupuk matanya. Jujur saja bukan pertama kali jika hanya membayangkan mencium Ara. Tidak perlu menjadi munafik, namun Rava akan menyimpan fakta ini untuk dirinya sendiri.


"Jadi mau ya?" Tanya Rava tiba-tiba.


"Apa?"


"Nikah sama Mas libur semester ini, mau ya?"


"Mas gila ya?? Itu.. Sebentar lagi.." Ucap Ara dengan suara tertahan. Meski perkuliahan baru dimulai, namun menuju akhir semester bukan waktu yang lama.


"Bahkan kalau kamu mau nikah seminggu lagi juga Mas akan usaha agar terwujud. Kecuali kamu mau besok.. Mas bukannya gak bisa, tapi gak mau."


'Ehh!!?? Kok..??'


...****************...


*


*


*


Kenapa Rava gak mau menikahi Ara besok?🤔


*


*


Boleh Hana buat Rava cium Ara duluan gak?🤭


*


Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰

__ADS_1


__ADS_2