Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Hidup Saya Punya Kamu


__ADS_3

PERINGATAN!!


BEBERAPA ADEGAN TIDAK PANTAS UNTUK DITIRU!!


...****************...


"Papa?"


"Dimana suami sama anak mu?"


"Mas Yudith masih di bengkel Pa, kalau adik-adiknya Ara lagi main di kamar." Ucap Mama Lauritz sambil sesekali melirik kedua sosok asing yang berdiri di belakang Kakek Baren. Sejurus kemudian pandangan Mama Lauritz dapat melihat sang adik satu-satunya, Tante Laura yang berjalan angkuh mendekat dengan tas jinjing mewah dari brand kenamaan.


"Kemana Ara?"


"Pergi keluar Pa."


"Kenalin, mereka Adam dan Vivian." Ucap Kakek Baren, tersenyum pada pasangan yang dipanggil Adam dan Vivian itu.


"Salam kenal Mbak, saya Vivian istrinya Mas Adam"


"Saya Lauritz, Mbak Vivian."


"Panggil Vivi saja Mbak."


"Iya, Mbak Vivi."


"Mari masuk dulu, Mbak, Mas.. Ayo masuk dulu Pa."


"Mbak gak nyuruh aku masuk juga?" Tanya Tante Laura sinis, sorot mata menghina sangat ketara. Menghela nafas pasrah Mama Lauritz masuk ke dalam rumah dengan mengabaikan tingkah adiknya yang selalu kurang ajar itu.


"Diminum dulu Pa.. Silakan Mas, Mbak." Menyuguhkan teh manis hangat dan beberapa camilan kering, Mama Lauritz sudah ikut duduk di salah satu sofa ruang tamu.


"Mereka orang tua Eric." Ucap Kakek Baren tiba-tiba.


Deg.


Berdegup kencang jantung Mama Lauritz, terperanjat hanya dengan kalimat singkat. Seakan tau kelanjutan cerita dari kedatangan orang-orang dihadapannya, Mama Lauritz mengepalkan tangannya. Bukannya sudah ditolak mentah-mentah, kenapa harus tetap keras kepala melanjutkan hal yang sia-sia, begitu pikir Mama Lauritz.


'Semoga Ara dan Bima gak pulang cepat.' Berkata dalam hati, Mama Lauritz tidak tau saja jika sudah terjadi hal mengerikan pada kedua anak muda itu.


"Ada maksud apa?" Suara ramah Mama Lauritz berganti ketus dan sinis, mata berkilat menatap kedua sosok yang baru ditemuinya. Kesal dan marah yang


"Jangan pura-pura lupa Lauritz. Kita di sini bicarakan sesama orang tua tentang Ara dan Eric."


"Papa kenapa sih egois banget?? Ada alasan apa sebenarnya sampai Papa ngotot banget buat nikahkan Ara dengan Eric?"


"Eric itu layak." Bukan Kakek Baren, namun Tante Laura yang menjawab sembari menyilang kan kakinya.


"Waktu sebulan udah habis. Ara harus menikah dengan Eric." Ucap ketus Kakek Baren.


"Om, biarkan saya saja yang meneruskan." Pinta sosok bernama Adam. Iya, Papi Eric yang bernama Adam itu sudah cukup malu dengan Mama Lauritz yang terlihat sangat menolak. Papi Adam dan Mami Vivi awalnya mengira hanya Eric yang menentang perjodohan, rupanya dari orang tua Ara juga terdapat penolakan kuat.


"Maafkan kami Mbak, sebelumnya saya sebagai orang tua Eric ingin meminta putri Mbak untuk menjadi istri Eric. Tapi kami berdua mohon maaf kalau ternyata Mbak sebagai orang tua menolak. Kami juga sadar kalau kita sebagai orang tua belum pernah bertemu dan membahas hal ini bersama." Ucap Papi Adam dengan cukup menyesal. Apalagi kala mengingat bagaimana kelakuan keduanya sebagai orang tua Eric yang tetap kukuh memaksa Eric berlapang dada menerima perjodohan.


"Maaf, anak saya masih kecil. Lagipula Ara sudah pernah menolak permintaan Kakeknya. Silakan cari perempuan lain untuk dijadikan menantu Mas Adam dan Mbak Vivi." Ucap Mama Lauritz menggebu-gebu. Rahang Mama Lauritz mengeras memandang marah pada Kakek Baren.


"Jangan kebanyakan gengsi Mbak. Bersyukur ada keluarga kaya yang mau sama Ara yang hidupnya selalu miskin gini." Memutar bola matanya malas, Tante Laura melontarkan kalimat yang justru mengejutkan Papi Adam dan Mami Vivi. Tidak pernah terpikirkan bahwa hubungan keluarga Kakek Baren akan seburuk itu. Kelakuan baik keluarga Ara dari laporan mata-mata Papi Adam harusnya juga mencakup hubungan seluruh keluarga besarnya.


"Mau keluarga kerajaan sampai konglomerat sekalipun kalau Ara gak mau juga gak akan terjadi apa-apa. Mau miskin dan melarat kayak apapun aku sama Mas Yudith, kami masih sadar kalau anak itu darah daging kami sendiri dan bagian diri kami yang gak akan pernah dijual apalagi dibuang." Ucap Mama Lauritz yang sejujurnya juga menyindir Tante Laura yang dahulu sempat ingin membuang Ega ke panti asuhan.


Sedangkan diluar pada waktu bersamaan, Ara dan Papa Yudith sudah sampai di pekarangan rumah. Sosok yang ditahan oleh 2 penjaga di dalam mobil berusaha berontak untuk menemui Ara terlebih dahulu, namun gagal. Tenaga orang suruhan Papi Adam benar-benar tidak bisa diragukan.


Eric menghembuskan nafas kasar. Kondisinya benar-benar terjepit. Misi kaburnya gagal dengan tertangkapnya di terminal bus antar kota. Dipikirnya sudah benar-benar aman hingga beberapa orang mengepung dan membawanya pulang secara paksa. Maka seperti inilah kondisi Eric kini yang harus pasrah jika nanti akan mendapat tatapan kecewa dari Ara dan tentunya dari Papa Yudith dan Mama Lauritz juga.


"Ada apa ini??" Tanya Papa Yudith tiba-tiba kala matanya menangkap kehadiran Kakek Baren, Tante Laura dan juga dua sosok asing baginya.


"Bagus kamu ada. Ara duduk." Ucap Kakek Baren seenaknya.


"Eric adakan?" Tanya Kakek Baren pada Papi Adam.


"Masih di mobil Om." Jawab Papi Adam.


"Suruh dia masuk!" Perintah Kakek Baren yang membuat Papi Adam bimbang. Lebih baik Eric didiamkan dalam mobil jika perjodohan benar-benar ditolak.


"Ayo! Kamu tunggu apalagi!? Itu calon menantu kamu udah pulang." Ucap Kakek Baren lagi pada Papi Adam.


"Jelaskan!! Ada apa ini!!?" Suara Papa Yudith meninggi sambil menyembunyikan Ara dibalik punggungnya.


"Kamu gak akan menolak setelah melihat siapa itu Eric." Kakek Baren justru menyeringai. Ara yang stress karena mendapati kematian Bima yang belum jelas sudah tidak ingin ambil pusing lagi. Membiarkan sang tamu tidak diundang itu berlaku seenaknya.


"Nah itu dia Eric." Senyum merekah di wajah Kakek Baren seiring derap langkah kaki yang semakin mendekat.


Memutar kepalanya, Ara ingin melihat bagaimana wujud Eric yang selalu diagung-agungkan itu. Bukan tidak mungkin Ara tidak penasaran, malah sangat penasaran hingga ia kesal karena selalu gagal menyusun rencana menemukan Eric.

__ADS_1



"Gilang?"


"Bang Gilang?"


Ucapan serentak Papa Yudith, Mama Lauritz dan juga Ara kala sosok Eric sudah masuk ke dalam rumah. Tentunya dengan kedua tangan Eric yang di cengkeram kuat oleh kedua sosok tegap di sisi kanan kirinya.


Sedangkan Eric yang rupanya Gilang itu hanya mampu menunduk. Malu pada keputusan orang tuanya. Apalagi Gilang yang tau betul bagaimana sikap dan sifat Ara, keduanya sudah bagaikan anak kembar, sahabat dan bersaudara.


"Kalian udah kenalkan dengan Eric?? Iya, ini Eric." Ucap Kakek Baren yang tampak bangga, tidak jelas pula alasan apa yang mendasari rasa bangga itu.


"Alleric Viano Gemilang, bukan Alvian Gemilang." Dahi berkerut Ara mulai memproses ingatan lama saat dirinya tidak sengaja melihat kartu identitas Gilang dari dompet yang tergeletak di kamar kos. Saat itu Ara yang memang terbiasa menumpang tidur di kamar kos Gilang tidak sengaja menemukan dompet hitam lusuh di lantai, mengambil dompet itu, tanpa sengaja terbuka dan menampakkan kartu identitas yang tidak pernah Ara tanyakan.


"Bang Gilang?" Panggil Ara dengan suara lirih.


"Ra.." Menatap Ara seakan memohon ampun, Gilang menggeleng perlahan.


"Gilang gak mau dijodohkan!! Ara juga pasti gak mau. Jangan egois Pi, Mi!!!" Sarkas Gilang pada kedua orang tuanya dihadapan banyak pasang mata.


"Kenapa?? Kamu jijik ya sama anak miskin?? Tuh, lihat Mbak!! Makanya jangan jadi orang miskin!!" Hina Tante Laura lagi.


"Tante gak usah ikut campur ya!! Lebih baik Tante pergi!! Ganggu banget!!" Ujar Gilang geram. Papa Yudith dan Mama Lauritz sudah Gilang anggap sebagai orang tua sepanjang masa pelariannya.


Menciut Tante Laura kala Gilang membentaknya. Keluarga kaya benar-benar kelemahan Tante Laura.


"Oke. Kalian gak perlu menikah sekarang. Bisa nanti saat Ara lulus kuliah. Iya kan?" Kakek Baren menatap Papi Adam yang malah memalingkan wajahnya.


"Kalian sudah biasa bersama, bahkan sampai melakukan tindak kriminal juga bersama. Sudah cukup serasi mereka berdua ini." Ucap Kakek Baren diakhir dengan gelak tawa.


"Maksud Papa apa!!??" Lagi-lagi Mama Lauritz mengepalkan tangannya.


"Asal kalian tau, kedua anak itu menipu Laura sampai Laura sekarang bangkrut. Anggap aja penebusan dosa dengan mereka menikah. Bukannya Papa udah berbaik hati sekarang biarin mereka kembali saling mengenal dulu??"


"Eric!! Jelaskan sama Mami ada apa sebenarnya!!??" Marah, Mami Vivi berjalan mendekat ke arah Gilang. Membungkam bibirnya, Gilang sedang memikirkan cara agar Ara tidak disalahkan. Namun belum juga pemecahan masalah muncul di otaknya, Gilang justru membelalakkan matanya karena ucapan Ara.


"Yang Kakek Baren bilang itu benar. Tapi bukannya wajar ya pelakor hidup menderita?? Pengeruk harta orang lain harusnya lebih sengsara. Kalau dilihat-lihat Tante ku yang gila harta ini hidupnya masih bahagia." Ucap Ara sinis yang tidak lagi memperdulikan kesopanannya.


"Kalau kalian gak menikah, jangan heran kalau kalian bakal membusuk di penjara." Ucap Tante Laura. Bukan tanpa alasan ia mendukung keputusan perjodohan kedua anak-anak yang rupanya berhasil menipunya. Setelah berkas yang Ega sembunyikan berisi dalang penipuannya terungkap, Tante Laura berpikir akan lebih mudah memanfaatkan Ara dan Gilang sebagai bentuk tanggungjawab jika keduanya menjadi pasangan.


Ara yang sudah jengah itu melangkah cepat, meraih vas bunga yang berada di sudut ruang tamu. Cukup jauh dari jangkauan semua orang.


Prang!


"PERGI KALIAN DARI SINI!!" Pekik Ara kuat, sorot mata tajam berkilat seolah ingin membunuh. Pecahan vas bunga yang cukup besar Ara arahkan ke sembarang arah. Urat tangan yang mencengkram kuat tampak mengeras.


"GAK PUAS KALIAN SIKSA AKU!!?? AKU UDAH GILA!!!" Menjambak rambutnya, Ara berteriak histeris.


"PERGI!!! AKU CUMA MAU BAHAGIA!!"


Srett


Baru juga langkah kaki Papa Yudith dan Gilang yang sudah terbebas mendekat, sebuah goresan sepanjang 10 sentimeter mengeluarkan rembesan kental merah pekat.


"Ara!!" Pekik keempat laki-laki berbeda usia, Papa Yudith, Gilang, Papi Adam dan tentunya bukan Kakek Baren yang justru terdiam mematung, melainkan Rava yang berada di ambang pintu.


Srett


Kembali Ara gores lagi lengan kirinya.


Tes.


Tes.


Tes.


"Aku lebih baik mati daripada ngikutin apa mau mu Kakek yang gak tau diri." Menatap tajam Kakek Baren, Ara tersenyum puas.


"Aku cuma pengen disayang, tapi itu dulu." Penglihatan Ara memudar, tungkai yang terasa lemas dipaksakan menahan bobot tubuhnya.


"Hahahahahaha..!!" Hilang akal, itulah yang terlihat dari sosok Ara saat ini. Sebuah pelukan erat mengangkat tubuh Ara hingga melayang. Rava meneteskan air matanya. Berlari menggendong tubuh rapuh dengan jiwa yang hancur itu ke dalam mobilnya diikuti Papa Yudith dan Gilang.


"Yon!!?? Siapkan brankar untuk Ara. Ara.." Nafas Rava tercekat tidak mampu mengucapkan dua kata yang menyayat hatinya, 'bunuh diri'. Di depan matanya sendiri Rava menyaksikan bagaimana setiap detik goresan itu mengukir di lengan kiri Ara. Sesal bersarang di relung hati Rava, seandainya dan seandainya adalah kata yang terus bergema dipikirannya.


Seandainya ia pulang lebih awal. Seandainya ia bisa menyelesaikan masalah kecurangan manajer keuangan lebih cepat. Seandainya ia tidak terjebak macet. Seandainya ia mengendarai motor. Seandainya ia meninggalkan mobilnya dan beralih ke ojek motor. Seandainya, seandainya dan seandainya terus Rava ucapkan di dalam hatinya.


[Bang Rava tenang dulu.. Sekarang Dion di klinik. Ada apa??] Ucap Dion dari seberang sambungan telepon.


"Ara.. Ara lukai dirinya.. Sekarang Abang perjalanan ke klinik mu. Luka sayatan di lengan."


[Abang jangan kalut yang justru bikin Ara dalam bahaya. Semua bakal Dion siapkan. Abang cepat bawa ke sini.] Ucap Dion yang sebenarnya juga sangat khawatir, namun ia sadar harus meredam kepanikan Rava terlebih dahulu.


Dibantu seorang perawat Dion mulai mensterilkan satu set peralatan bedah. Meski belum terbayang tingkat keparahan luka Ara, namun sebagai seorang dokter tentu Dion sudah paham betul dengan apa yang harus dilakukan. Beruntung sore itu Dion baru membuka jam praktiknya, belum ada pasien lain yang harus diabaikan demi Ara.

__ADS_1


"Dion!!!" Ucap Rava kuat. Keributan yang Rava timbulkan menarik perhatian seseorang, tatapan Nindy yang masih setia duduk di balik mejanya mengekor di setiap langkah kaki Rava. Iya, tidak ada yang mengetahui Identitas kedua laki-laki itu sebenarnya bersaudara. Bahkan meski Rava sering mengunjungi klinik Dion untuk memantau Ara sekalipun ia memilih diam-diam dan menyembunyikan dirinya, khususnya wajahnya.


"Sebenarnya ada apa Bang?" Tanya Dion setelah ia selesai menjahit luka di lengan dan nyaris mengiris pergelangan tangan Ara.


"Ara akan baik-baik aja kan?" Tanya Rava, suara bergetar dan mata memerah menahan tangis. Benar-benar pukulan berat untuk Rava. Tangis Ara yang pilu, teriakan Ara yang menyayat, ditambah lagi tindakan nekat Ara yang ikut serta membunuh Rava.


Dipeluk Rava kuat oleh Dion, sebagai seorang ahli ia bisa melihat Rava sedang tidak baik-baik saja.


"Abang temani Ara sekarang di ruang itu ya.. Biar Dion ngobrol sama orang tua Ara dulu." Memilih menyuruh Rava menemani Ara, Dion berharap kekalutan Rava menyusut. Sedangkan Dion harus bertanya lebih rinci mengenai kronologi kejadian. Sebagai dokter yang menangani Ara, Dion berhak mengetahui segala hal yang membahayakan hidup Ara.



"Ara, sayang.. Kamu kenapa harus kayak gini?" Ucap Rava lirih, mata yang berkaca-kaca itu menahan tangis.


"Saya merasa gagal menjaga kamu. Tolong jangan tinggalin saya."


"Pukul saya, marah sama saya aja. Jangan pernah kamu lukai diri kamu sendiri. Hati saya hancur Ra lihat kamu kayak gini." Nafas Rava tercekat.


"Ajak saya kalau kamu mau pergi, saya akan mati juga kalau kamu gak ada." Sesegukan Rava, tangan yang menggenggam erat telapak tangan kanan Ara itu seolah kehilangan tenaganya. Belum lagi saat mata Rava menatap lengan kiri Ara yang diperban, jantungnya seperti ditikam.


"Eugh.. Ma.. Ma-ma.." Ucap Ara terbata-bata. Pemilik mata yang belum terbuka atau mengerjap itu sedang bergumam lirih.


"Sayang?" Panggil Rava seraya senyum terkembang di wajahnya.


"Sayang.. Kamu bangun?"


"Ara?? Sayangnya Mas Rava udah bangun??" Lagi-lagi Rava terus berujar, berharap segala ucapannya mendapat jawaban Ara.


Ceklek.


"Mama.. Tadi Ara cariin Mama.." Ucap Rava dengan senyum yang dibuat seceria mungkin, namun pupil mata bergetar itu penuh kesedihan.


"Kamu istirahat saja Rav.. Tadi Mama baru tau kalau kamu habis perjalanan jauh dari luar Kota." Menggeleng perlahan, Rava jelas menolak meninggalkan Ara.


"Ma.."


"Iya anaknya Mama.. Kamu pusing?? Ada yang sakit? Dimana??" Tanya Mama Lauritz sambil menahan tangisnya. Mencoba tegar agar Ara tidak merasa bersalah, Mama Lauritz tau Ara akan bertambah sedih bila melihatnya menangis.


"Ara.." Membuka kelopak matanya, Ara menatap Mama Lauritz sekilas. Entah kenapa kala menatap wajah Mama Lauritz justru bayangan tindakan nekat nya terputar jelas di pelupuk mata.


"Ara mau sama Mas Rava aja." Ucap Ara lirih sembari memejamkan matanya lagi. Tangan Rava yang masih menggenggam itu di sambut dengan genggaman erat dari Ara.


"Ya sudah.. Rav, Mama titip Ara ya?" Mengalah, Mama Lauritz melangkah keluar. Mendorong tubuh Papa Yudith yang hendak masuk, Mama Lauritz meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya sambil meneteskan air mata.


"Kenapa semua gak ada yang tulus sayang sama aku?? Hiks.." Gumam Ara perlahan yang tiba-tiba.


"Kenapa yang sayang sama aku justru pergi ninggalin aku?? Kenapa Mas??" Menatap sendu wajah Rava, Ara ingin meluapkan segala rasa sedihnya.


"Dulu waktu aku butuh disayang, Eyang bilang sayang sama aku.. Tapi kenapa harus pergi?? Bang Bima.. Bang Bima juga pergi.. Aarrgghhh!!" Menggelengkan kepala secara brutal sembari menjambak dan memukul keras kepalanya, Ara juga menghentakkan kakinya. Meraup tubuh Ara dalam dekapannya, Rava seolah dihunus pedang tidak kasat mata.


"Jangan tinggalin Ara! Jangan pernah tinggalin Ara! Ara mohon.. Jangan pergi." Suara lirih dari tubuh bergetar yang memeluk pinggang Rava kuat seakan jika terlepas Rava akan terbang menjauh meninggalkannya.


"Bunuh saya kalau saya berencana ninggalin kamu." Ucap Rava mantap. Tidak akan pernah ia meninggalkan Ara. Bukan karena ungkapan sayang atau cintanya, tapi Ara adalah hidupnya. Separuh jiwa yang akan membuat Rava menjadi mayat hidup bila bayangannya saja menghilang.


"Jangan pernah tinggalin Ara. Mas Rava.. Jangan tinggalin Ara. Ara takut Mas. Sesak. Semuanya pergi. Ara sendiri Mas." Gumam Ara tidak karuan dengan suara lirih.


"Gak akan. Saya selalu ada buat kamu, hidup saya punya kamu." Mengecup puncak kepala Ara, Rava mengeratkan dekapannya.


...****************...


*


*


*


Apakah ini jalan terbaik untuk Ara dan Rava bersatu?


Apa setelah ini justru Ara kembali menutup hatinya dan hanya bergantung tanpa status terhadap Rava?


*


*


Gilang alias Alvian Gemilang alias Alleric Viano Gemilang 😎


Siapa yang udah merasa sebelumnya kalau Eric itu Gilang?😆 Ayooo.. komen di bawah ya👇👇


Udah aksi gak karuan sampai muncul rambut Rapunzel.. Ehh😒 Kaburnya si Eric alias Gilang rupanya gagal.😌


Gilang punya Hana. (Titik pokoknya)😬


*

__ADS_1


Terima kasih udah baca kisah Ara dan kasih dukungannya buat Hana🥰


__ADS_2