
“Ayo kita turun,” Laurel yang sedikit melamun sedikit tersentak kaget melihat Dave yang sudah membuka pintu mobil dan mengulurkan tangannya ke arah Laurel. Laurel mendongakkan kepalanya, melihat ke arah Dave yang tersenyum dengan tangan terulur. Dengan perlahan Laurel turun dari mobil setelah tangannya meraih uluran tangan Dave. Begitu mereka mulai memasuki area hotel, Laurel melingkarkan lengan kanannya ke lengan kiri Dave dan berjalan ke arah main hall hotel tempat pesta diadakan.
“Selamat datang,” Dua orang wanita muda berpakaian seragam menyambut kedatangan Dave dan Laurel dengan ramah dan mempersilahkan mereka berdua untuk memasuki main hall hotel berbintang 5 tempat acara perayaan hari ulang tahun pernikahan Tante Lia dan Om Pram diadakan.
“Kak Laurel,” Evelyn dan Freya segera berjalan mendekat ke arah kedua kakaknya dan memeluk lengan mereka. Freya memeluk lengan Laurel, dan Evelyn memeluk lengan Dave.
“Kenapa kakak berdua terlambat cukup lama?” Freya bertanya sambil menatap dalam-dalam ke arah jari manis Laurel dimana melingkar sebuah cincin indah di sana, membuat Freya tersenyum dan mengalihkan matanya ke jari manis Dave yang ternyata juga mengenakan cincin yang sama.
“Tadi ada tamu yang tiba-tiba datang sebelum kami berangkat kesini. Kalian kok bisa datang berdua? Evelyn juga mengenal Om Pram dan Tante Lia?” Laurel segera menjawab pertanyaan Freya sekaligus berusaha mengalihkan pembicaraaan agar pembicaraan tentang Devan tidak berlanjut.
“Aku ini korban Freya Kak, karena Juna tidak bisa mengantarnya ke pesta ini, Freya memaksaku untuk menemaninya, karena dia beralasan tidak ada yang dia kenal di sini selain Mama Denia yang pastinya sibuk menemui teman-teman sebayanya. Kalau mengandalkan Kak Dave dan Kak Laurel yang sudah seperti amplop dan perangko, bisa-bisa dia jadi obat nyamuk, begitu katanya,” Freya langsung melotot mendengar perkataan Evelyn yang membuatnya sukses malu di depan Dave dan Laurel, sedang Evelyn sendiri dengan wajah berpura-pura polos memandang ke arah Laurel dan Dave dengan tatapan pura-pura memelas, membuat Dave dan Laurel hanya bisa tersenyum geli.
“Aishhh…, kamu ini, bukannya tadi kamu yang merengek ingin ikut acara di sini karena sekalian ingin belajar bagaimana ke depannya mengorganisir sebuah pesta besar untuk restoranmu?” Freya langsung membalas perkataan Evelyn.
"Restoran Evelyn?" Dave langsung melirik ke arah Laurel mendengar pertanyaan pelan dari istrinya tentang restoran Evelyn.
"Jadi sampai sekarang kamu belum tahu restoran yang pernah kamu kunjungi dengan salah satu penggemarmu adalah milik Keluarga Shaw yang ditangani oleh Evelyn?" Mendengar pertanyaan Dave, Laurel langsung melirik ke arah Dave, ingatannya langsung tertuju pada restoran dimana Arnold sempat menyatakan perasaan cintanya malam itu, membuat Laurel meringis.
"Oh, restoran itu? Restoran tempat seseorang mengadakan pertemuan bisnis sebagai alibi untuk mengintai orang lain?" Laurel bertanya kepada Dave dengan senyuman manis di bibirnya dan pandangan mata geli, membuat Dave hanya bisa menarik nafas dalam-dalam karena Laurel membalas sindirannya dengan kata-kata yang begitu mengena.
"Frey, kakakmu selalu mempunyai jurus mematikan untuk membuatku kehabisan kata-kata," Freya dan Evelyn tertawa mendengar kata-kata dari Dave.
"Tapi buktinya Kak Dave tetap saja tidak tahan kalau jauh dari Kak Laurel dan menerima nasib mendengar kata-kata pedas Kak Laurel," Laurel hanya bisa tersenyum geli mendengar kata-kata Freya yang membuat Dave mencebikkan bibirnya. Kalau boleh jujur, Laurel mana pernah menang melawan kata-kata Dave, hari ini Laurel hanya beruntung karena Dave sedang tidak ingin berdebat dengannya.
"Ah, kalian kakak beradik sama saja. Inginnya dapat pembelaan dari adik iparku, ternyata gen sama yang kalian miliki tidak bisa saling berkhianat ya," Dave berkata sambil menjitak pelan dahi Freya, membuat Freya sedikit memanyunkan bibirnya ke arah Dave.
“Kalian ini bisa-bisanya bercanda seperti itu di pesta orang. Mama kemana? Kok tidak kelihatan?” Laurel berkata sambil matanya sibuk kesana kemari mencari sosok Mama Denia, tapi bukannya sosok Mama Denia, justru sosok Tante Lia yang terlihat dan berjalan ke arah mereka.
“Selamat malam Laurel, dan ini pasti…, Dave ya?” Tante Lia yang terlihat cantik langsung menyapa Laurel dan Dave yang langsung menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
“Kita sudah pernah bertemu waktu di pesta pindah rumah Laurel, tapi saat itu Tante belum tahu kalau kamu adalah Dave, suami Laurel ya,” Dave kembali mengangguk sambil tersenyum mendengar perkataan dari Tante Lia.
“Selamat malam tante, terimakasih untuk undangannya, ini kado dari kami, semoga Tante menyukainya,” Laurel berkata sambil menyodorkan sebuah kotak yang terbungkus rapi dengan kertas kado bewarna perak, dan diikat dengan pita bewarna merah mengkilap di atasnya.
__ADS_1
“Ah, kenapa repot-repot segala, mamamu sudah banyak membantu Tante, justru seharusnya Tante yang memberikan sesuatu sebagai ucapan terimakasih pada mamamu,” Tante Lia segera memberi tanda pada salah seorang gadis yang bertugas melayani di ruang pesta itu dan menyerahkan kado yang diberikan Laurel kepadanya untuk diletakkan pada sebuah meja yang telihat khusus disediakan untuk meletakkan kado-kado yang dibawa oleh para tamu undangan.
“Ma…,” Sebuah suara yang terdengar berat dari arah belakang Laurel, membuat Laurel sedikit tersentak dan langsung menoleh, mencari sumber suara yang ternyata Dicky yang berjalan ke arah mereka sambil memanggil mamanya.
“Eh, Dicky, ayo ke sini, Laurel sudah datang bersama suaminya,” Begitu melihat kehadiran Dicky, tangan Tante Lia langsung meraih pergelangan tangan Dicky dan menariknya untuk mendekat ke arahnya.
Malam itu Dicky mengenakan setelan jas bewarna biru laut, menunjukkan sisi lembutnya, namun bagi Laurel, walaupun Dicky merupakan sosok laki-laki yang tampan, tapi sejak dia bertemu dengan laki-laki itu dia selalu merasakan hawa dingin dan merasa tidak nyaman. Pandangan mata Dicky yang tajam seringkali membuatnya merinding.
“Apa kabar Laurel?” Dicky langsung mengulurkan tangan kanannya ke arah Laurel, dan begitu Laurel menyambut uluran tangannya, mata Dicky yang bewarna hitam langsung menatap tajam ke arah jari manis Laurel dimana disana terpasang cincin pernikahannya.
“Baik, terimakasih,” Tanpa menunggu lama, Laurel berencana segera menarik tangannya dari tangan Dicky yang menjabat tangan Laurel dengan erat, namun sepertinya Dicky terlihat begitu keberatan melepas tangan Laurel, sampai Tante Lia sengaja menarik tangan Dicky dari tangan Laurel. Dan kejadian itu tentu saja tidak lepas dari pengamatan mata Dave yang harus sedikit menahan nafasnya melihat bagaimana seorang laki-laki asing begitu erat menjabat tangan istri kesayangannya.
Untuk membuat suasana tidak berubah tegang, Tante Lia buru-buru mengarahkan tangan Dicky ke arah Freya, Dave dan Evelyn untuk menjabat tangan mereka satu persatu secara bergantian.
“Laurel, bisakah kita makan bersama?” Freya dan Evelyn langsung saling berpandangan dengan wajah terkejut, bagaimana bisa Dicky meminta Laurel makan bersamanya di depan Dave, suami Laurel.
“Eh, Dicky, jangan begitu, ada suami Laurel, tidak sopan bersikap seperti itu kepada Laurel di depan suaminya,” Mendengar teguran dari mamanya, Dicky langsung menoleh dan menatap tajam ke arah mamanya.
“Bukan begitu Dic…, ayolah, kita temui papamu dulu. Maaf kami pergi dulu ya, silahkan menikmati pesta malam ini,” Dengan gerakan cepat Tante Lia menarik tangan Dicky dan mengajaknya menjauh dari Laurel dan yang lain.
Dave melirik ke arah Laurel yang tanpa sadar memeluk lengan Dave dengan begitu erat, seolah berusaha mendapatkan perlindungan dari Dave.
“Kenapa? Ada yang membuatmu tidak nyaman? Dicky?” Laurel mengangguk pelan mendengar pertanyaan dari Dave, yang hanya bisa menarik nafas panjang, sedikit berpikir kenapa sepanjang malam ini mereka harus bertemu 2 laki-laki yang sama-sama menyukai Laurel dan sama-sama bersikap aneh, baik Devan maupun Dicky, membuat Dave hanya bisa memijat keningnya sekilas sebelum akhirnya tangan kanannya mengelus lembut tangan Laurel yang memeluk lengannya dengan erat.
“Tenanglah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kalaupun dia orang jahat, tidak akan berani bertindak sembarangan di depan orang banyak,” Laurel mendongakkan kepalanya menatap ke arah wajah Dave yang terlihat tenang, membuatnya ikut merasa tenang.
“Kak Dave, tapi aku tidak heran jika Kak Laurel merasa tidak nyaman dengan Kak Dicky. Tampan, tapi tatapan matanya menakutkan, aku saja merasa merinding di dekatnya, tatapan matanya seperti aura seseorang yang ja…,” Evelyn berkata sambil tangan kanannya mengelus-elus lengan kirinya dengan wajah terlihat bergidik ngeri.
“Hust, jangan menilai orang dari luarnya, sebelum ada bukti, kita tidak boleh menuduh orang dengan sembarangan,” Dave langsung memotong perkataan Evelyn tentang Dicky.
“Kalau kalian merasa tidak nyaman dengan kehadiran seseorang, cukup dengan menjauhinya, tapi jangan menyebarkan berita yang belum terbukti kebenarannya, itu sama artinya kalian memfitnah mereka, mematikan karakter mereka,” Evelyn hanya bisa terdiam mendengar teguran halus dari Dave.
Sepanjang acara pesta Laurel sengaja tidak banyak berinteraksi dengan para tamu karena selain tidak ada yang dia kenal, dia juga sedang dalam suasana hati yang tidak terlalu baik hari ini, terutama karena kedatangan Devan tadi di rumahnya. Namun beda dengan Dave yang merupakan sosok yang cukup dikenal walaupun bukan sebagai BOD dari Shaw Corporation, tapi eksistensinya sebagai kepala rumah sakit swasta terbesar di negara ini, apalagi kota ini, tentu saja banyak orang yang mengenalnya dan berusaha mendekatinya, membuat Laurel merasa sedikit tidak nyaman dan tanpa sepengetahuan Dave lebih memilih menjauh dari Dave untuk menikmati makanan kecil sambil mengamat-amati Dave dari jauh.
__ADS_1
“Laurel,” Mama Denia langsung berjalan mendekat ke arah Laurel begitu melihat putrinya sedang sendirian menikmati makanan kecil sambil mengamati sekelilingnya.
“Mana Dave? Kenapa kamu sendirian di sini?’ Laurel langsung tersenyum melihat kehadiran Mama Denia di dekatnya.
“Dia sedang mengobrol dengan beberapa orang yang mengenalnya,” Mata Denia segera mengikuti arah mata Laurel yang menatap sosok Dave yang berada cukup jauh dengannya, sedang berbincang dengan beberapa tamu di tempat itu.
“Laurel, boleh aku menemanimu di sini?” Laurel dan Mama Denia sedikit tersentak kaget melihat kehadiran Dicky yang tiba-tiba sudah berada di dekat mereka berdua.
“Sudah lama kita tidak bertemu, aku ingin sedikit berbincang denganmu,” Mendengar apa yang dikatakan Dicky, tangan Laurel segera meraih tangan mamanya agar tidak menjauh darinya, walaupun sebenarnya Mama Denia juga tidak ada niat untuk meninggalkan Laurel berdua bersama Dicky.
Laurel memaksakan senyum di wajahnya mendengar perkataan Dicky. Entah kenapa setiap melihat Dicky, Laurel merasa tidak nyaman, ada perasaan terintimidasi melihat tatapan mata hitam Dicky yang walaupun indah, namun terlihat begitu tajam dan seolah selalu menatapnya dalam-dalam dan tidak mau melepaskan pandangannya, seperti pandangan seekor harimau yang siap menerkam mangsanya.
“Ah, Laurel hari ini sedikit kurang sehat, mungkin lain waktu kalian bisa mengobrol lagi,” Tanpa disangka-sangka oleh Laurel, Mama Denia langsung menjawab apa yang diinginkan Dicky. Laurel sedikit melirik ke arah mamanya dengan wajah bertanya-tanya, walaupun dia senang mamanya berusaha menjauhkan Dicky darinya, tapi Laurel merasa ada yang sedang disembunyikan oleh mamanya. Tidak biasanya mamanya mencari-cari alasan seperti itu.
Baru saja Mama Denia menyelesaikan kata-katanya, alunan musik lembut mengalun memenuhi ruangan itu. Dari arah depan main hall tempat acara pesta diadakan, terlihat Tante Lia dan Om Pram mulai membuka acara dansa, membuat semua mata para tamu beralih ke arah sana.
“Laurel, bolehkan aku berdansa denganmu?” Dicky berkata sambil berjalan mendekat ke arah Laurel yang langsung terlihat bimbang dengan langsung menundukkan kepalanya tanpa merespon keinginan Dicky.
“Maaf, Laurel hanya akan berdansa denganku,” Dicky langsung menoleh kaget mendengar perkataan seseorang yang tiba-tiba saja sudah berdiri di sampingnya dan mengulurkan tangan kanannya ke arah Laurel, dan dengan cepat Laurel langsung meraih tangan itu, membuat Dicky sedikit terbeliak dengan wajah berubah menjadi tegang, menunjukkan bagaimana tindakan Dave barusan yang mengajak dansa Laurel sudah menggagalkan niatnya untuk berdansa dengan Laurel.
“Tante, sejak kapan Laurel menikah dengan laki-laki itu?” Begitu Dave dan Laurel bergandengan tangan menuju lantai dansa, Dicky langsung bertanya kepada Mama Denia.
“Mereka sudah menikah sejak 7 tahun lalu, hanya saja selama ini karena saling menyelesaikan studi masing-masing, mereka baru bisa bersama akhir-akhir ini,” Mama Denia berkata sambil melirik ke arah Dicky yang matanya tetap fokus mengawasi sosok Laurel dan Dave yang baru saja memulai dansa mereka, membuat Mama Denia merasa kurang nyaman.
“Apa Laurel mencintai laki-laki itu Tante?” Mama Denia sedikit terkejut dengan pertanyaan Dicky, tapi dengan cepat Mama Denia segera menyunggingkan senyum.
“Tentu saja, kalau tidak untuk apa mereka menikah dan sampai sekarang pun mereka tetap bersama, untuk apa kalau mereka tidak saling mencintai? Tante berharap kamu juga akan segera menemukan gadis impianmu Dic, supaya papa dan mamamu juga bisa ikut berbahagia,” Dicky tersenyum mendengar perkataan Mama Denia.
“Saya sudah memiliki gadis impian saya Tante, papa dan mama tidak perlu khawatir tentang itu, permisi Tante,” Tanpa menunggu jawaban dari Mama Denia, Dicky melangkah pergi meninggalkannya, dengan tatapan mata masih terus tertuju pada sosok Laurel, membuat Mama Denia hanya bisa menarik nafas dalam-dalam.
__ADS_1