CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
WAJAH ASLI MERIA (2)


__ADS_3

"Meria!" Sebuah teriakan keras terdengar menyebutkan Meria, sebuah suara yang dikenal oleh Meria. Suara yang membentaknya dengan menyebutkan namanya membuat dada Meria berdegup dengan kencang karena kaget, sehingga membuat Meria menghentikan gerakan tangannya di udara dengan reflek.


Sebuah tangan yang kokoh langung memegang tangan Meria yang sedang memegang vas bunga dan berniat memukul Laurel dengan vas itu. Mata Meria memandang nanar ke arah Laurel yang berdiri di depannya dengan posisi tubuh Dave sudah memeluk tubuh Laurel dari depan untuk melindungi Laurel, sehingga jika Meria benar-benar menghantamkan vas bunga itu ke arah Laurel pasti vas itu akan mengenai punggung Dave, sedang tangan kanan Leo memegang erat tangan Meria yang sedang memegang vas bunga untuk mencegahnya melukai Laurel.


Meria benar-benar tidak menyangka ternyata Dave ada di dekat kamarnya dan dia tidak tahu sebanyak apa Dave telah mendengar tentang pembicaraannya barusan dengan Laurel. Membayangkan itu membuat hati Meria bergetar, ketakutan tiba-tiba menyergap hati Meria.


"Hentikan Meria!" Leo kembali berteriak, dengan nada terdengar seperti sebuah bentakan. Mendengar apa yang dikatakan oleh Leo, Meria melepaskan vas yang ada di tangannya sehingga pecah berkeping-keping begitu menyentuh lantai, dan mata Meria yang tiba-tiba memerah, tidak menunggu lama kemudian air matanya menetes dengan deras membasahi pipinya.


Kak Dave..., bagaimana bisa aku menjadi seorang monster di depanmu. Aku yang seharusnya selalu bersikap manis dan lembut di hadapanmu. Semua karena wanita itu! Dan kenapa..., kamu begitu perduli dengan Laurel! Apa kelebihan dia dari aku Kak Dave! Aku mencintaimu lebih dari dia! Aku tidak pernah meninggalkanmu seperti yang pernah dia lakukan padamu! Bahkan memikirkannya pun aku tidak pernah! Meria berteriak dalam hati dengan tangisnya yang semakin menjadi.


Leo hanya bisa menarik nafas panjang melihat Meria, diliriknya Laurel yang terlihat masih kaget dengan posisi aman terlindung di dalam pelukan Dave, sedang Dave menarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan matanya dengan tubuh masih memeluk tubuh Laurel dengan erat. Tangan kiri Dave memeluk pinggang Laurel dengan erat, sedang tangan kanannya memegang kepala bagian belakang Laurel dan menariknya agar kepala Laurel menunduk dan menempelkan kepala Laurel dengan erat di dadanya, memberikan perlindungan agar tubuh Laurel dari atas sampai bawah benar-benar terlindung oleh tubuhnya yang seolah-olah menjadi perisai bagi Laurel. Dave merasa benar-benar bersyukur dia tidak terlambat untuk bertindak dan melihat Laurel dalam kondisi baik-baik saja.


Bibir Dave menghembuskan nafasnya dengan keras, dengan bibir sedikit bergetar karena menahan emosi dalam dadanya melihat bagaimana Meria hampir saja melukai Laurel. Berkali-kali Dave mencium puncak kepala Laurel, menunjukkan dia begitu bersyukur dia bisa bergerak tepat waktu dan tidak terjadi sesuatu yang buruk kepada Laurel. Dave tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi, dan sebesar apa penyesalan yang akan dia rasakan jika terjadi sesuatu terhadap Laurel, bahkan hanya dengan membayangkan Laurel terluka saja sudah membuat bulu kuduk Dave berdiri, dan membuat dadanya terasa sesak.


Setelah Leo melirik ke arah Laurel yang dalam kondisi baik-baik saja, Leo melepaskan tangan Meria yang tidak lagi memegang vas bunga. Begitu Leo melepaskan tangannya Meria jatuh terduduk di lantai, menangis dengan tersedu-sedu.


"Kak Dave..., teganya kamu...," Dave yang mendengar kata-kata Meria menarik nafasnya dalam-dalam, lalu melepaskan pelukannya kepada Laurel, untuk kemudian membalikkan tubuhnya, berjalan ke arah Meria dan berjongkok dengan satu kakinya dan satu kakinya yang lain berlutut di depan Meria yang terduduk di lantai dengan wajah tertunduk dan wajahnya dipenuhi oleh air mata.

__ADS_1


Dada Meria merasa begitu nyeri menyadari bagaimana sebentar lagi Dave pasti tahu akan kebohongannya selama ini tentang penyakitnya dan bagaimana barusan dia hampir memukulkan vas ke arah Laurel, bagaimana dia tidak lagi bisa mengontrol emosinya kepada Laurel dan Dave melihatnya dengan jelas apa yang baru saja hampir dia lakukan kepada Laurel, membuat kesannya sebagai gadis manis, lembut dan baik hati menguap begitu saja.


"Aku minta maaf jika aku tidak bisa membalas cintamu sesuai dengan keinginanmu. Tapi aku benar-benar tidak bisa memaafkan apa yang kamu lakukan sekarang Meria. Bagaimana kamu bisa begitu picik memikirkan cara untuk memisahkanku dengan Laurel yang jelas-jelas sudah terikat dalam suatu ikatan suci pernikahan, bahkan dengan melakukan kebohongan sebesar ini dan berniat menyakiti Laurel? Apa kamu tahu? Tindakanmu ini menyakiti banyak orang. Berapa banyak orang yang menyayangimu begitu khawatir mendengar tentang sakitmu yang ternyata hanya sebuah kebohongan?" Meria sedikit mendongakkan kepalanya, dilihatnya wajah Dave yang mengatakan setiap kata-katanya dengan nada normal, namun Meria bisa melihat dengan jelas dari tatapan matanya, Dave terlihat begitu marah dan kecewa kepadanya, membuat dada Meria semakin terasa nyeri.


Meria yang sejak kecil sudah begitu mengenal Dave tahu dengan pasti bagaimana sifat Dave. Dalam amarahnya pun Dave selalu dapat mengendalikan diri. Sosok seorang laki-laki yang selama ini dikenalnya hampir-hampir tidak pernah marah kepada siapapun sekarang sedang memandangnya dengan tatapan tajam dan terlihat jelas api kemarahan di mata Dave, yang justru bagi Meria menunjukkan betapa Dave sangat mencintai Laurel, menunjukkan bagaimana seorang Laurel mampu membuat emosi dari seorang Dave bangkit dan teraduk-aduk, sedangkan selama ini tidak pernah sekalipun Meria melihat Dave terlihat begitu marah terhadap seseorang atau karena suatu kejadian yang tidak menyenangkannya. Bagi orang-orang di sekitarnya, Dave dikenal selalu berhasil mengendalikan emosinya dengan baik, tapi ternyata tidak jika itu menyangkut tentang Laurel.


Dave menatap wajah Meria dalam-dalam, mencoba mencari sosok Meria yang selama ini dikenalnya merupakan seorang gadis yang sopan, lembut dan baik hati. Dave hanya bisa menarik nafas dalam-dalam mengingat kejadian beberapa waktu sebelum dia dengan mata kepalanya sendiri melihat Meria benar-benar hendak melakukan sesuatu yang buruk terhadap Laurel.


Beberapa waktu sebelum Laurel masuk seorang diri ke dalam kamar tempat Meria dirawat, ketika Dave dan Laurel baru saja sampai di rumah sakit tempat Meria dirawat, tanpa sengaja Dave melihat sosok Leo yang berjalan dengan tergesa-gesa keluar dari sebuah ruangan yang tampaknya merupakan kantor dari kepala rumah sakit yang sedang mereka kunjungi.


"Leo!" Mendengar ada suara seseorang yang dikenalnya memanggilnya, awalnya Leo yang berniat segera pulang dan menemui Dave segera menoleh ke arah sumber suara yang memanggil namanya.


"Hai Dave, Laurel. Apa kalian mau mengunjungi Meria?" Dave dan Laurel mengangguk bersamaan mendengar pertanyaan Leo.


"Kemarilah, ikut aku sebentar. ada yang mau kusampaikan kepada kalian berdua sebelum kalian mengunjungi Meria," Leo berjalan ke arah kantin rumah sakit, Dave dan Laurel yang awalnya saling berpandangan akhirnya memutuskan untuk berjalan mengikuti langkah-langkah Leo.


Sekilas Laurel melirik tangan Leo yang memegang sebuah amplop coklat besar yang memiliki kop amplop rumah sakit tempat Meria dirawat.

__ADS_1


(Kop surat/amplop adalah identitas suatu perusahaan/instansi agar penerima surat mengetahui asal surat tersebut serta perusahaan atau lembaga apa yang mengirim surat kepada mereka. Kop surat biasanya terletak di bagian paling atas dalam surat atau istilah umumnya yaitu kepala surat, atau jika kop itu tertera di amplop, maka akan terletak di bagian kanan atas atau kiri atas dari amplop tersebut).


Laurel sedikit menyentuh tangan Dave yang langsung meliriknya untuk kemudian mengikuti arah pandangan mata Laurel yang menatap ke arah amplop yang ada di tangan Leo. Dari tatapan Laurel, Dave bisa melihat bahwa Laurel ingin menanyakan kepada Dave tentang amplop surat yang dibawa oleh Leo, namun Dave hanya bisa mengangkat bahunya tanda dia juga tidak tahu tentang amplop itu.


Begitu mereka bertiga sudah duduk di salah satu meja yang ada di kantin rumah sakit yang letaknya sedikit terpencil dan jauh dari pengunjung yang lain, Leo langsung menyodorkan amplop coklat ke arah Dave yang langsung mengernyitkan dahinya.


"Apa amplop ini berisi hasil pemeriksaan kesehatan seseorang?" Dave bertanya kepada Leo yang langsung menganggukkan kepalanya.


"Buka saja, dan baca apa yang tertulis di dalamnya," Dengan sedikit ragu Dave membuka amplop itu dan menarik keluar lembaran kertas yang ada di dalamnya.


Begitu membaca hasil pemeriksaan yang tertulis atas nama Meria, Dave langsung mengernyitkan dahinya dengan mata sedikit terbeliak, membuat Laurel menggerakkan tubuhnya mendekat ke arah Dave untuk ikut membaca kertas hasil pemeriksaan kesehatan yang ada di tangan Dave. Leo memilih untuk diam sambil menyeruput teh hangat di depannya, membiarkan Laurel dan Dave yang sedang membaca dan mengamati laporan hasil pemeriksaan kesehatan Meria dengan mata sedikit terbeliak dengan wajah terlihat sedikit bingung.


"Leo...,"


"Ya, itu laporan pemeriksaan Meria yang sebenarnya. Laporan hasil pemeriksaan yang asli, bukan seperti yang kamu baca terakhir kali kamu ke sini saat mengunjunginya," Leo memotong perkataan Dave dan langsung memberikan penjelasan kepada Dave.


"Tapi, bagaimana mungkin...," Dave menghentikan bicaranya sambil menghembuskan nafasnya dengan keras, merasa tidak habis pikir dengan apa yang sedang direncanakan oleh Meria.

__ADS_1


"Sudah aku katakan, dia serigala berbulu domba, penampilannya yang cantik, lemah lembut dan baik hatinya hanya terlihat dari luar saja. Data hasil pemeriksaan kesehatan itu aku dapatkan dari pimpinan rumah sakit ini. Kamu tahu pimpinan rumah sakit ini adalah senior kita di SMA, tapi dia juga adalah sahabat dekat dari suami Kak Sheryl (kakak kandung Leo)," Dave termenung mendengar penjelasan dari Leo.


"Sejak awal aku tidak percaya dengan hasil laporan pemeriksaan kesehatan milik Meria, karena itu aku berusaha menyelidiki kebenarannya dengan meminta bantuan dari suami Kak Sheryl. Ternyata Meria memang benar bekerjasama dengan salah seorang dokter yang merupakan anak dari sahabat papanya. Awalnya Meria ingin mempertahankan kebohongannya sampai dia mendapatkan kesempatan untuk menjebakmu, setelah itu dia sudah mengatur dengan dokter itu untuk berpura-pura melakukan pemeriksaan ulang agar hasil pemeriksaan kesehatannya yang sebelumnya menyatakan dia menderita kanker otak seolah-olah salah. Saat pagi ini pimpinan rumah sakit ini mengetahui tindakan ilegal itu, siang tadi dokter yang bersangkutan sudah diberhentikan dengan tidak hormat oleh pihak rumah sakit ini. Dan sepertinya Meria belum mengetahui tentang berita diberhentikannya dokter tersebut," Dave membeliakkan matanya mendengar penjelasan Leo.


__ADS_2