
“Aku memiliki sedikit petunjuk untuk anda bisa mulai menyelidiki kasus penusukan istriku Pak Eka. Ada kemungkinan orang yang akan saya sebutkan adalah orang yang melakukan penusukan itu,” Detektif Eka mendengarkan apa yang barusan dikatakan Dave dengan wajah serius.
“Hmm…, saya siap mendengarkan Tuan Shaw,” Suara di seberang sana langsung mengiyakan perkataan Dave, menyiapkan buku catatan dan mulai merekam pembicaraan mereka.
“Beberapa bukti fisik yang sedang saya kumpulkan akan saya kirimkan langsung ke kantor anda, sedangkan untuk foto dan file-file lain, akan saya kirimkan melalui email. Intinya, aturkan orang untuk menyelidiki dan mengawasi gerak-gerik seseorang yang bernama Dicky, putra tunggal dari salah seorang pejabat tinggi di kota ini yang bernama Pramono Agung. Tanpa menyebutkan jabatan orang tersebut, harusnya Anda mengetahu siapa Pramono Agung,” Orang yang sedang melakukan panggilan dengan Dave di seberang sana sedikit terkejut begitu Dave menyebutkan tentang nama Pramono Agung, yang pasti dikenal oleh seluruh penduduk kota ini sebagai pegawai pemerintahan yang memiliki jabatan cukup tinggi dan salah satu orang yang cukup berpengaruh di kota ini.
“Ya, saya tahu pasti siapa beliau, walaupun kedudukan beliau cukup tinggi di pemerintahan, saya menjamin, bila memang anaknya yang bernama Dicky memang bersalah, saya akan pastikan untuk dia menerima hukuman yang selayaknya Tuan Shaw,”
“Terimakasih untuk bantuan Anda, saya tunggu kabar baik perkembangan kasus ini. Selamat malam,” Begitu Dave menutup panggilan teleponnya, dia segera meminta Ujang untuk memanggil Bi Umi dan Rita, dua asisten rumah tangga yang sejak awal kepindahan Laurel di rumah ini sudah mendapatkan tugas darinya untuk menemani dan melayani Laurel.
“Selamat malam Tuan,” Begitu Ujang, Rita dan Bi Umi sudah berkumpul di ruang keluarga, Dave yang awalnya berdiri sambil sesekali melihat layar handphonenya langsung mengambil posisi duduk.
“Duduklah, ada beberapa hal yang mau aku bicarakan dengan kalian,” Dengan wajah bertanya-tanya dan saling melirik satu sama lain, apalagi melihat wajah tegang tuannya, mereka bertiga mengambil posisi duduk di hadapan Dave.
“Ada apa Tuan? Tumben sekali Tuan memanggil kami bersamaan malam-malam begini?” Bi Umi yang merasa sebagai senior di rumah ini langsung memberanikan diri untuk bertanya kepada Dave.
“Setelah Nona pindah rumah di sini, apa benar setiap hari ada kiriman bunga tulip merah dan sebuah kartu ucapan?”
“Ya Tuan, benar,” Mereka bertiga langsung menjawab pertanyaan Dave dengan serentak.
“Apa yang dilakukan Nona Laurel dengan bunga dan kartu ucapan tersebut?” Dave bertanya sambil menggerakkan tangannya, saling menggenggam di depan perutnya dengan siku kanan menopang pada sandaran kursi tempatnya duduk.
“Biasanya Nona minta kami untuk langsung membuangnya ke tempat sampah, sesekali Nona membaca pesan di kartu tersebut, tapi seringnya langsung dibuang oleh Nona ke tempat sampah,” Rita yang paling sering menjadi orang yang menerima kiriman bunga tersebut langsung menjawab pertanyaan Dave mewakili yang lain.
“Apa Nona pernah bercerita tentang tulisan di kartu tersebut, atau ada diantara kalian yang pernah membacanya langsung?”
“Mmmm, maaf Tuan, bukannya saya lancang, saya tidak sengaja pernah lupa membuang salah satu kartu itu, saya letakkan di dekat lemari yang ada di dekat dapur,” Dave langsung mengernyitkan dahinya mendengar perkataan Rita.
“Apa sekarang kartu itu masih ada?” Dave memandang ke arah Rita, berharap dengan menemukan paling tidak salah satu dari kartu itu bisa menjadi petunjuk penting untuk mengetahui siapa dalang dibalik peristiwa penusukan Laurel.
“Baru saja sore tadi saya buang Tuan ke tempat sampah di kebun Tuan, bersama dengan sampah daun-daun kering dari kebun di belakang rumah,” Dave menahan nafasnya sebentar sebelum meneruskan bicaranya.
__ADS_1
“Maaf, tapi kali ini aku benar-benar minta tolong kepada kalian bertiga untuk bisa mencari kembali kartu itu secepatnya, karena itu barang bukti yang sangat penting untuk polisi dapat menemukan siapa yang sudah berani menyerang Nona beberapa waktu lalu. Kalau sudah ketemu, tolong letakkan di ruang kerjaku,” Dave berkata dengan sedikit ragu-ragu, karena bagaimanapun rasanya tidak enak menyuruh mereka mengorek-orek tempat sampah walaupun kebetulan itu adalah sampah dedaunan kering dari kebun belakang rumah.
“Baik Tuan, kami akan berusaha menemukannya malam ini juga,” Ujang langsung menjawab permintaan Dave tanpa ragu, membuat Dave tersenyum sedikit lega mendengarnya.
“Dan satu hal lagi, jangan membuat Nona Laurel khawatir, jadi jangan sampai ada yang menceritakan apa yang baru saja kita bicarakan malam ini kepada Nona,”
“Baik Tuan,” Setelah mendengar jawaban dari mereka bertiga, Dave bangkit dari duduknya.
“Baik, jika sudah menemukan kartu itu dan meletakkannya di meja kantorku, kalian bisa kembali beristirahat. Terimakasih, selamat malam,” Dave mengucapkan salam sambil menggerakkan tubuhnya ke samping, berencana untuk segera kembali ke kamarnya, sebelum Laurel menyadari dia tidak ada di kamar.
“Selamat malam Tuan,” Mereka bertiga menjawab salam Dave bersamaan.
# # # # # # #
“Morning,” Baru saja Dave membuka matanya, sebuah kecupan mesra dari Laurel langsung mendarat di bibirnya, membuat Dave langsung tersenyum.
“Bukannya seharusnya ini jadwalku untuk bangun terlebih dahulu?” Dave berkata sambil menggerakkan kedua tangannya ke atas dan merenggangkan otot-otot tubuhnya.
“Hmmm…,” Laurel hanya bisa tersenyum mendengar protes dari Dave.
“Apa yang mengganggu pikiranmu? Bukannya kamu semalam baru tidur jam 12 malam, sepulang dari jadwal jaga malam? Kenapa kamu tidak membangunkan aku? Aku bisa menemanimu bergadang,” Laurel tertawa kecil mendengar pertanyaan dari Dave. Laurel yang awalnya dalam posisi duduk bersandar di atas tempat tidur melorotkan tubuhnya, membuat tubuhnya berbaring miring dengan posisi saling berhadap-hadapan dengan Dave, salah satu tangannya langsung bergerak ke arah pinggang Dave dan memeluk tubuh suaminya tersebut.
“Melihat tidurmu yang begitu nyenyak, aku tidak tega untuk membangunkanmu. Lagipula, takutnya dengan membangunkanmu pukul 4 dini hari tadi bukan hanya kamu yang akan terbangun. Dan kalau yang lainnya ikut terbangun, takutnya akan membuatku sulit bangun dari tempat tidur pagi ini,” Dave tertawa terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh Laurel.
Tanpa menanggapi apa yang dikatakan Laurel, Dave meraih tangan Laurel, mengarahkannya ke bagian lain tubuhnya yang sudah mengeras, membuat wajah Laurel langsung memerah dan dengan cepat menarik tangannya kembali agar menjauh dari sesuatu yang baru di sentuhnya di tubuh Dave.
“Tanpa diperintahpun, keberadaanmu di dekatku secara otomatis akan membuatnya terbangun,” Dengan gerakan cepat Dave langsung menggerakkan tubuhnya ke atas tubuh Laurel, membuat tubuh Laurel berada dalam kungkungan tangan dan kakinya.
“Dave…, sudah pagi, sudah pukul 6 pagi sekarang. Semua pelayan pasti sudah bangun, dan siap-siap untuk membersihkan rumah, termasuk kamar kita,” Dave tersenyum mendengar kata-kata Laurel yang berusaha menghentikan apa yang akan dilakukannya.
“Ini akhir pekan, hari libur kita. Lagipula siapa yang berani mengganggu kita? Atau kamu takut mereka mendengar suara eranganmu? Tenang saja, kamar ini cukup lebar dan kamu tahu aku sudah memasang peredam suara di kamar ini supaya kita bisa bebas, berteriaklah sesukamu. Hanya aku yang bisa menikmatinya,” Laurel melotot mendengar perkataan Dave yang sukses membuatnya salah tingkah.
__ADS_1
“Kita harus bersiap-siap ke rumah besar,” Lagi-lagi Dave tertawa melihat bagaimana Laurel berusaha melarikan diri darinya.
“Acaranya di rumah besar baru akan diadakan sore nanti. Lagipula di sana cukup banyak orang yang membantu, kamu hanya perlu hadir nanti sore dengan pakaian rapi dan cantik. Untuk saat ini lebih baik kita menikmati waktu berdua kita,” Wajah Dave bergerak mendekati wajah Laurel yang terlihat mulai memerah, yang bagi Dave membuat wajah istrinya semakin cantik dan begitu menggoda, membuat gairah di dalam tubuh Dave semakin bergejolak.
“Da…ve…,” Tanpa menunggu kelanjutan dari kata-kata Laurel dengan cepat Dave membungkan bibir Laurel dengan bibirnya, bahkan tidak memberinya kesempatan untuk menyebutkan namanya dengan jelas, dengan kedua tangannya bergerak dengan lembut meraih kedua telapak tangan Laurel, menekannya di atas tempat tidur dan menggenggamnya dengan erat, membuat Laurel tidak bisa lagi menghindar.
Beberapa saat setelah menikmati seluruh bagian dari bibir istrinya, Dave menjauhkan sedikit wajahnya dari wajah Laurel, ditatapnya wajah Laurel dengan tatapan penuh cinta dan mesra, sekaligus tatapan penuh hasrat, membuat Laurel hanya bisa membalas tatapan Dave dengan wajah pasrah, namun juga menunjukkan wajah bahagia yang tidak bisa dia sembunyikan dari Dave.
“Aku begitu mencintaimu mo cuisle. Begitu memujamu dan menginginkanmu di setiap kesempatan yang ada. Kamu seperti candu bagiku, yang selalu membuatku mabuk dan lupa akan segalanya saat aku ada di dekatmu,” Setelah selesai mengucapkan kata-katanya, Dave menggerakkan bibirnya ke arah wajah Laurel.
“I love your brow (kening),” Dave mencium kening Laurel lembut dengan bibirnya.
“I love your eyebrow (alis),” Dengan gerakan pelan Dave mencium alis Laurel yang melengkung sempurna di atas kedua matanya yang bulat.
“I love your eyes (mata),” Bibir Dave bergerak turun ke mata Laurel yang terpejam dan menciumnya dengan mesra.
“I love your nose (hidung),” Lalu bibir Dave bergerak ke arah hidung Laurel, sedikit menggigit hidung Laurel dengan bibirnya.
“I love your cheek (pipi),” Dave mencium pipi Laurel dengan hidung mancungnya, menarik nafas dalam-dalam melalui hidungnya dengan posisi hidungnya menempel pada pipi Laurel.
“I love your ear (telinga),” Dengan lembut Dave mencium bahkan sedikit menggigit telinga Laurel dengan giginya namun tanpa menyakitinya, membuat Laurel sedikit tersentak karena selain geli, tindakan Dave barusan membuat gairahnya ikut terpacu.
“I love your lip (bibir). Your lip is like honey in my lip, (bibirmu seperti madu di bibirku),”
“I love everything in you. I love you than my self,” (Aku mencintai semua yang ada padamu. Aku mencintaimu lebih dari diriku sendiri)
Sebuah suara nyaring dari handphone Dave membuat baik Dave dan Laurel tersentak kaget. Awalnya Dave berencana untuk tidak menghiraukan panggilan telepon itu, namun melihat nama yang tertulis di layar handphonenya, membuat wajah Dave berubah tegang dan dengan cepat menjauhkan tubuhnya dari Laurel yang hanya bisa memandanginya dengan wajah bertanya-tanya.
“Pagi ma, apa ada sesuatu yang terjadi di sana? Tumben pagi-pagi sekali mama menelpon? Apa ada yang sakit?”
“Dave! Jam berapa kalian datang? Pagi ini kalian tidak ada acara kan? Kalau memungkinkan, pagi ini juga kalian harus datang ke sini. Tidak perlu menunggu sarapan, mama sudah siapkan makan pagi untuk kalian berdua. Mama sudah rindu sekali dengan Laurel, tidak sabar menunggu kedatangan kalian,” Dave hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal mendengar suara mamanya menyebut namanya dengan keras dan mengatakan alasan kenapa tumben sekali menelpon sepagi ini, yang awalnya sempat membuatnya khawatir telah terjadi sesuatu di rumah besar, karena seingatnya mamanya tidak pernah sekalipun menelponnya sepagi ini jika tidak karena ada kejadian penting di rumah besar.
__ADS_1