CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
JEBAKAN LUSIANA. BERHASILKAH?


__ADS_3

Begitu mereka berdua memasuki kamar hotel Dave, Dave baru melepaskan pegangan tangannya pada tangan Laurel, seolah-olah takut Laurel akan melarikan diri, Dave segera menutup pintu kamarnya dan berjalan melewati ruang tamu kamar hotelnya ke arah ruang kamarnya, sedang Laurel hanya bisa terdiam di tempatnya karena tidak tahu lagi apa yang bisa dilakukannya, sedikit bingung bagaimana dia harus melewati malam ini, dengan pakaian yang harusnya dia pakai untuk tidur dan semua keperluannya ada di kamar Lusiana, termasuk pembalut yang saat ini sangat dibutuhkannya.


Cukup lama Laurel berdiam di ruang tamu kamar hotel itu, sayup-sayup di dengarnya suara pintu terbuka dan tertutup cukup lama baru terdengar lagi suara pintu yang sama dibuka dan ditutup kembali.


“Apa yang sedang kamu lamunkan?” Laurel yang masih berdiri di tempatnya sejak Dave pergi ke kamarnya sedikit mendongakkan kepalanya, memandang ke arah Dave yang sudah berganti pakaian, mengenakan piyama dengan dilapisi jubah tidurnya.


Laurel baru saja hendak menjawab pertanyaan Dave ketika dari arah pintu terdengar suara ketukan.


“Room service,” Dengan langkah santai Dave berjalan ke arah pintu kamarnya dan membukanya, seorang laki-laki dengan seragam room service hotel menyerahkan sebuah tas plastik ke arah Dave yang langsung menerimanya, membayar tagihan yang tercantum di nota dan memberi tip kepada laki-laki itu.


(Tip merupakan bentuk ucapan terima kasih atas pelayanan yang diberikan. Karena itu, etikanya tip diberikan setelah servis selesai, bukan saat di awal servis, biasanya diberikan berupa uang tunai).


“Terimakasih Tuan,” Setelah melihat Dave menganggukkan kepalanya, room service itu segera pergi meninggalkan kamar Dave, dan Dave segera menutup kembali pintu kamar itu, lalu berjalan mendekat ke arah Laurel, dan menyodorkan tas plastik yang tadi dibawa oleh petugas customer service hotel tempat mereka menginap.


“Pergilah ke kamar mandi, ganti pakaianmu. Ada beberapa keperluan yang mungkin kamu butuhkan ada di dalam situ,” Dengan sedikit ragu Laurel menerima tas plastik dari tangan Dave dan membawanya ke kamar mandi.


Begitu Laurel sampai di dalam kamar mandi dan membuka tas plastik yang diberikan oleh Dave, Laurel membeliakkan matanya karena kaget. Di dalam tas plastik itu terdapat semua keperluannya, mulai dari baju tidur, handuk, perlengkapan untuk mencuci muka dan membersihkan make up di wajahnya, juga pakaian dalam dan…, pembalut yang saat ini benar-benar dibutuhkannya, dan semua merk barang yang ada di dalam tas plastik itu merupakan merk yang biasa dia gunakan.


Laurel menatap ke arah kaca yang ada di depannya, benar-benar tidak tahu harus berkata apa melihat apa yang baru saja diberikan Dave padanya. Bagaimana bisa Dave memikirkan apa yang dia perlukan saat ini sampai se detail itu.


Laurel menarik nafas dalam-dalam sambil menyunggingkan senyum di wajahnya, lalu dia mulai melakukan aktifitasnya membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.


Begitu selesai membersihkan diri dan berganti pakaian, dengan sedikit ragu Laurel keluar dari kamar mandi, matanya langsung berkeliling mencari sosok Dave yang ternyata sedang berdiri dengan posisi membelakanginya, di depan jendela kamarnya, sedang melakukan panggilan telepon. Dengan berusaha tidak menimbulkan suara berisik, Laurel berjalan ke arah ruang tamu kamar hotel tersebut dan merebahkan tubuhnya yang terasa lelah ke atas sofa panjang yang ada di sana.


“Lalu? Kapan rencanamu datang ke Indonesia untuk membereskan masalah itu?” Suara Dave terdengar berbicara dengan seseorang melalui telepon.


“Aku akan menyelidiki dulu kebenaran kasus ini Kak, aku tidak mau terlalu terburu-buru sehingga justru merusak semuanya, kalau mau memancing tikus yang merusak tanaman kita keluar dari lubang persembunyiannya, tidak perlu kita bersusah payah masuk ke dalam lubangnya, berikan saja asap di lubangnya, maka dia akan keluar dengan sendirinya, atau pilihan kedua, kita bisa melepaskan ular untuk mengejarnya,” Suara Bryan dari seberang sana terdengar menjawab pertanyaan Dave.


“Aku harap kali ini paman tidak benar-benar kembali melakukan kesalahan bodoh seperti waktu itu. Kali ini aku tidak akan tinggal diam seperti waktu itu,” Dave berkata sambil menarik nafas panjang.

__ADS_1


“Tenang saja kak, kita bukan lagi anak kemarin sore yang tidak tahu apa-apa, kita tidak akan terjebak untuk kedua kalinya oleh orang yang sama, aku akan menyelidiki kasus ini dengan detail,” Bryan berusaha menenangkan hati Dave yang dia tahu pasti benar-benar tidak tenang mendengar tentang kabar pamannya yang dulu pernah menjebak papa Laurel dan mengakibatkan kebangkrutan usaha keluarga Laurel berusaha kembali ke Shaw Corporation setelah keluar dari penjara beberapa waktu yang lalu.


“Ok, lakukan dengan baik dan benar,”


“Tenang kak, aku akan mengurus semuanya, yang terpenting sekarang, secepatnya kakak bisa mendapatkan kakak ipar, membawanya ke rumah besar sebagai Nyonya Shaw, agar tidak ada lagi orang yang bisa menyakitinya,” Dave menghela nafasnya mendengar perkataan Bryan.


“Ayolah kak, bersikaplah sebagai seorang pria sejati, seperti yang pernah kukatakan dulu, sedikit bertindak agresif tidak ada salahnya, toh kalian sudah menikah, apalagi kakak ipar benar-benar gadis yang menarik. Jujur saja kak, begitu sulit kan selama ini kakak menahannya?” Bryan berkata sambil tertawa terkekeh karena bisa membayangkan pelototan mata Dave karena kata-katanya barusan.


“Kamu tidak perlu mengajariku tentang itu. Sudah, aku tutup teleponnya,” Dave langsung mematikan sambungan teleponnya tanpa menunggu Bryan mengatakan iya, membuat di kantornya tawa Bryan semakin keras.


Setelah menutup panggilan teleponnya, Dave melirik ke arah ruang tamu kamar hotelnya, karena tadi tanpa sepengetahuan Laurel dari sudut matanya, Dave sempat melihat ketika Laurel keluar dari kamar mandi dan berjalan ke arah ruang tamu kamar hotelnya.


“Laurel, apa yang kamu lakukan di sini?” Dave bertanya sambil mengernyitkan dahinya melihat Laurel yang membaringkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu kamar hotel.


Mendengar pertanyaan Dave, Laurel hanya tersenyum sambil meletakkan handphone yang awalnya dia pegang karena sedang menuliskan pesan kepada Freya dan Mama Denia.


Mendengar apa yang baru dikatakan oleh Laurel, tanpa memberikan tanggapan Dave langsung mendekat ke arah tempat Laurel berbaring, membungkukkan tubuhnya dan dengan kedua lengannya langsung mengangkat tubuh Laurel, membuat Laurel tersentak kaget.


“Dave, apa yang kamu lakukan? Turunkan aku!” Tanpa perduli dengan teriakan protes Laurel dan gerakan tubuh Laurel yang meronta-ronta, Dave berjalan ke arah tempat tidur sambil menggendong tubuh Laurel dan begitu sampai di tempat tidur, Dave meletakkan tubuh Laurel di atas tempat tidurnya.


“Tempatmu untuk tidur di sini, bukan di sofa,” Dave berkata sambil bergerak ke sisi lain tempat tidur dan langsung merebahkan tubuhnya di sana, di samping tubuh Laurel. Melihat apa yang dilakukan Dave, Laurel menggerakkan tubuhnya ke samping, berencana turun dari tempat tidur, tapi dengan cepat tangan kanan Dave yang tidur di sebelah kiri Laurel segera meraih tangan kiri Laurel dan menariknya kembali untuk tidur di sampingnya.


“Dave…, apa…, yang kamu lakukan?”


“Tidur di samping istriku,” Dave menjawab dengan posisi tubuh terbaring terlentang sambil memejamkan matanya, dengan tangan kanannya tetap memegang pergelangan tangan kiri Laurel, dengan tangan kirinya terlipat di atas wajahnya, menutupi kedua matanya yang terpejam, membuat Laurel menarik nafas panjang, saat ini dadanya kembali berdetak dengan keras, tidak menyangka malam ini nasibnya akan terdampar di kamar Dave, bahkan tidur di atas kasur yang sama dengan laki-laki itu, membuat beberapa kali Laurel harus menelan ludahnya sendiri untuk mengendalikan kegugupannya.


Sekilas Dave membuka matanya dan melirik ke arah Laurel, dilihatnya wajah Laurel yang terlihat begitu gugup, membuat ujung bibirnya kirinya menyunggingkan sebuah senyum geli dan kembali memejamkan kedua matanya.


“Mau sampai kapan kamu terjaga? Apa kamu tidak mengantuk? Apa kamu takut kalau aku akan menyerangmu saat kamu tertidur? Suamimu bukan laki-laki rendahan seperti itu Nyonya Shaw,” Mendengar perkataan Dave yang masih tetap dalam posisinya tadi, membuat Laurel sedikit menolehkan kepalanya, melirik ke arah laki-laki yang sudah kembali memejamkan matanya itu.

__ADS_1


Ketika dilihatnya mata Dave yang sudah kembali terpejam, Laurel menahan nafasnya sebentar, mau tidak mau keberadaan Dave yang sedang terbaring di sebelahnya dengan jarak begitu dekat membuatnya ingin mengamati wajah laki-laki itu.


Warna rambutnya yang coklat dan hidung mancungnya, dari situ terlihat jelas bahwa dia bukan keturunan asli Indonesia, ditambah lagi dengan mata biru yang dimilikinya, yang saat ini sedang terpejam. Mata yang selalu membuat hatinya bergetar saat Dave menatapnya dengan mata biru yang baginya benar-benar indah.


Beberapa saat berlalu dan Laurel kembali mengamati dalam-dalam wajah laki-laki yang sekarang sedang terbaring di sampingnya saat ini, dan Laurel harus mengakui betapa tampannya pria itu, dengan bulu mata lentik yang dimilikinya, alis yang melengkung sempurna di atas mata birunya, bibir tipis dan rahangnya yang terlihat kokoh, membuatnya terlihat benar-benar tampan, dan selain ketampanannya, dia memiliki kemampuan dan kecerdasan di atas rata-rata, tidak heran begitu banyak wanita yang terkagum-kagum padanya, bahkan dia termasuk salah seorang gadis yang begitu mengagumi Dave sejak pertama kali mereka bertemu di rumah sakit hari itu, satu-satunya laki-laki yang keberadaannya selalu membuat jantungnya berdetak lebih keras dari biasanya, bahkan saat Laurel mengingat tentang Devan, efek yang ditimbulkan karena keberadaan Devan kepada dirinya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Dave. Entah karena saat itu mereka masih terlalu muda dan belum mengenal apa itu cinta yang sebenarnya, atau memang sebenarnya Dave lah yang telah membuatnya benar-benar jatuh cinta, bukan Devan.


“Ekhhh…,” Laurel meringis pelan, merasakan sakit di perutnya yang tiba-tiba kembali menyerangnya, membuat dengan spontan Dave yang sebenarnya belum tertidur membuka matanya dan menggerakkan tubuhnya ke samping, melepaskan tangan kanannya dari pergelangan tangan kiri Laurel, mengangkat sedikit tubuhnya, dan menopangnya tubuhnya dengan lengan bawah tangan kanannya sampai ke siku, menumpu di atas tempat tidur.


“Apa yang terjadi denganmu? Apa ada yang sakit?” Mendengar pertanyaan Dave, Laurel langsung menggeleng-gelengkan kepalanya, dengan kedua tangannya memegang perutnya dan mengelusnya untuk mengurangi rasa sakit yang dirasakannya.


“Tidak perlu khawatir, setiap bulan pasti terjadi seperti ini,” Tangan kiri Dave menyentuh perut Laurel, menyingkirkan kedua tangan Laurel dari sana dan dia sendiri mulai mengelus perut Laurel dengan lembut.


Dave kembali membaringkan tubuhnya, kali ini dengan posisi miring menghadap ke arah Laurel yang tidur dalam posisi terlentang, dengan tangan kirinya masih mengelus lembut perut Laurel, membuat Laurel menjadi salah tingkah, dan berusaha mengalihkan tangan Dave dari perutnya dan dia sendiri langsung memiringkan tubuhnya ke arah kanan, berbaring dengan posisi tubuhnya membelakangi Dave, namun Dave justru menarik tubuh Laurel untuk mendekat ke arahnya dan memeluk tubuh Laurel dari belakang dengan posisi berbaring dengan tangan kirinya tetap mengelus lembut perut Laurel.


“Tenanglah, aku hanya ingin membantumu mengurangi rasa sakit di perutmu,” Dave berbisik lembut di telinga Laurel yang hanya bisa terdiam, berusaha mengendalikan debaran di dadanya yang semakin keras.


Untuk beberapa saat kemudian Dave tetap mengelus lembut perut Laurel dengan telapak tangan kirinya, sampai dilihatnya wajah Laurel terlihat mulai tenang, tidak lagi terlihat sedang menahan sakit.


“Apa sudah enakan?” Laurel hanya bisa mengangguk untuk menjawab pertanyaan Dave, karena dia takut jika dia mengeluarkan suara, Dave akan tahu kalau saat ini dia benar-benar gugup, dengan dada yang begitu berdebar-debar, sehingga dia takut jika dia berani mengeluarkan suara maka suaranya akan terdengar terbata-bata atau serak.


“Bahkan benih di rahimmu tahu pasti siapa yang sedang mengelusnya,” Laurel sedikit terbeliak mendengar kata-kata Dave, yang walaupun ingin disangkalnya, tapi elusan dari tangan Dave di perutnya memang membuat sakit yang dia alami benar-benar menghilang, seolah-olah dia telah meminum obat penenang dan anti nyeri.


“Memang apa yang dia tahu?” Laurel berkata dengan nada tidak perduli.


“Dia tahu kalau yang menyentuhnya adalah calon papanya,” Kali ini Laurel benar-benar terbeliak mendengar kata-kata Dave, wajahnya memerah dengan sukses, dan dengan keras dia berusaha melepaskan diri dari pelukan Dave, tapi justru Dave menariknya untuk kembali lebih mendekat ke arahnya dan mempererat pelukannya.


“Biarkan malam ini aku tidur dengan memelukmu, aku berjanji tidak akan melakukan lebih dari itu,” Dengan lembut Dave berkata sambil mencium lembut tengkuk Laurel dengan hidungnya yang mancung beberapa kali dengan sesekali diiringi tarikan nafas Dave, membuat hangatnya nafas Dave begitu terasa di tengkuk Laurel, sehingga debaran di dada Laurel bukannya membaik justru bertambah kencang.


Laurel hanya bisa terdiam sambil kembali menahan nafasnya, dan akhirnya dia hanya bisa pasrah membiarkan Dave tetap memeluknya sepanjang malam itu. Laurel berusaha keras untuk menenangkan dirinya sediri sampai akhirnya dia bisa tertidur lelap di dalam pelukan Dave.

__ADS_1


__ADS_2