
“Hallo Frey, ada apa?” Laurel menjawab panggilan telepon dari Freya dengan sedikit malas, karena suasana hatinya sore ini benar-benar buruk, setelah apa yang dia alami mulai dari kemarin sampai tadi siang.
“Kak, sore ini kebetulan aku mampir ke rumahmu, mengambil obat untuk mama yang kakak janjikan kemarin. Orang yang selalu mengirimmu bunga, sepertinya sampai sekarang masih tetap mengirimmu bunga,” Freya berkata dengan nada khawatir, membuat Laurel bertanya-tanya dalam hati apa yang sedang terjadi.
“Memang kenapa Frey? Aku sudah bilang kepada orang yang ada di rumah, setiap pagi setelah menerima bunga itu, aku minta untuk langsung dibuang saja ke tempat sampah, karena semakin hari kata-kata yang tertulis di kartu ucapannya juga semakin menggila,” Laurel berkata sambil tangan kirinya yang bebas merapikan file-file di depannya, lalu menumpuknya dengan rapi di bagian ujung meja kerja di polikliniknya.
“Aku tidak sengaja membaca kartu ucapan pengirim bunga hari ini, kebetulan orang rumah belum sempat membuangnya, masih tergeletak di atas meja ruang tamu, sepertinya berisi ancaman Kak,” Laurel sedikit mengernyitkan dahinya.
“Memang apa yang dituliskan orang aneh itu hari ini?”
“Untuk kekasihku Dewi Parwati, sejak engkau dilahirkan, engkau adalah milikku, gadis yang sudah ditakdirkan untuk menjadi istriku. Sudah terlalu lama engkau tidak kembali padaku untuk menjalani takdirmu bersamaku, dan aku tidak bisa memaafkan pengkhianatan yang sudah kau lakukan bersama pria lain. Tunggulah aku yang akan dengan segera meminta pertanggungjawabanmu, lebih baik engkau mati dan kembali bereinkarnasi daripada engkau menyerahkan dirimu kepada pria lain. Dari Dewa Siwa, kekasih hatimu yang begitu mencintaimu,” Freya membacakan isi dari kartu yang datang hari ini bersama dengan setangkai bunga tulip seperti biasanya.
“Apa maksud dari orang itu? Kenapa dia semakin menggila?” Laurel Mengelus-elus lengan tangan kanannya dengan tangan kirinya, sedikit bergidik mendengar Freya membacakan kata-kata yang tertulis di kartu itu, apalagi mendengar ancaman itu langung mengingatkan kembali Laurel pada kejadian penusukan 7 tahun lalu.
“Kak, apa tidak lebih baik Kakak menceritakan kepada Kak Dave tentang kiriman bunga dan kartu ini? Paling tidak Kak Dave bisa memikirkan cara untuk melindungi Kakak, aku khawatir dengan keselamatan kakak, aku tidak ingin terjadi apa-apa pada Kakak,” Laurel menarik nafas dalam-dalam mendengar perkataan Freya, karena saat ini dia benar-benar sedang tidak ingin berurusan dengan Dave.
“Tidak perlu, mungkin itu hanya perbuatan orang iseng yang sedang tidak ada kesibukan. Kakak iparmu sudah terlalu sibuk, jangan mengganggunya dengan hal-hal kecil seperti ini," Laurel berkata sambil memainkan bolpoinnya dengan mencoret-coretkannya ke selembar kertas kecil di depannya.
Bagi Laurel dia sengaja tidak akan menceritakan apapun kepada Dave tentang kiriman bunga tulip itu, karena dia tidak ingin terlibat lebih jauh lagi dengan Dave. Dalam hatinya, Laurel ingin sekali menceritakan kepada Freya dan Mama Denia tentang apa yang sudah dilakukan keluarga Shaw kepada mereka, tapi sampai detik ini rasanya begitu sulit bagi Laurel untuk membuka mulutnya, memberitahukan tentang kebenaran itu. Apakah karena dia takut kebenaran itu akan begitu melukai hati Freya dan Mama Denia yang selalu memuja Dave, atau karena Laurel tidak tega jika tindakan Freya dan Mama Denia setelah mengetahui kebenaran itu akan melukai hati Dave, Laurel benar-benar tidak berani menjawabnya.
# # # # # # #
"Raga?" Dave mengernyitkan alisnya, sedikit kaget dengan apa yang baru saja dia dengar dari Leo.
"Apa motif Raga sampai membuat berita bohong seperti itu tentang Laurel? Setahuku Laurel tidak pernah dekat dengan Raga, jadi tidak mungkin dia menyinggung Raga," Leo yang sedang duduk santai di ruang tamu rumah kaca Dave menghela nafasnya.
__ADS_1
"Karena Hana," Leo menjawab singkat.
"Hana?"
"Ternyata selama ini Raga begitu menyukai Hana, tapi dia tidak percaya diri karena di sini dia hanya sebagai perawat biasa, tidak berani mendekati Hana apalagi menyatakan perasaannya kepada Hana. Raga juga tahu Hana begitu menyukaimu, jadi diam-diam dia merasa kesal dengan keberadaan Laurel yang sejak kedatangannya membuatmu sering mengabaikan Hana. Harapan Raga, dia hanya ingin membantu Hana untuk mendapatkanmu sebagai ganti dia tidak bisa membahagiakan Hana,"
"Hah?" Dave hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menarik nafas panjang mendengar penjelasan dari Leo tentang apa yang dilakukan Raga.
"Apa kamu yakin Hana tidak terlibat dalam kasus ini?"
"Tidak, aku bisa pastikan itu. Itu murni perbuatan Raga, walaupun Hana jadi ikut menekan Laurel karena dia mendapatkan info tentang Laurel dari Raga," Leo langsung menjawab cepat pertanyaan Dave.
"Tapi Dave, aku merasa ada orang lain yang membuat Raga memiliki keberanian melakukan itu, info yang dia dapat tentang pernikahanmu dengan Laurel, foto-fotomu bersama Laurel, seorang Raga tidak mungkin mengambil foto-foto itu sendiri,” Dave menggigit bibir bawahnya dengan wajah serius mendengar pendapat Leo yang terlihat masuk akal.
# # # # # # #
"Hari ini aku akan pulang terlambat, Feri ada tugas jaga malam, jadi kami akan bertemu sebentar sebelum jam kerjanya," Laurel menganggukkan kepalanya mendengar perkataan Lusiana.
"Hari ini aku ingin cepat-cepat pulang, rasanya badanku lelah sekali," Lusiana yang berdiri bersandar pada meja kerjanya menepuk lembut bahu Laurel yang berdiri tepat di depannya.
"Aku tahu, hari ini pasti berat untukmu. Tapi paling tidak semua orang langsung menghentikan kritikan padamu setelah Bos mengumumkan statusmu sebagai istri sahnya," Laurel menarik nafas panjang, tidak tahu bagaimana ke depannya dia akan memutuskan tentang hubungannya dengan Dave dan bagaimana dia harus bertindak saat bertemu Dave, karena di waktu-waktu yang akan datang bisa dipastikan Dave akan membuat mereka berdua untuk semakin sering untuk bertemu.
Apalagi, dengan Dave sudah mengumumkan tentang status Laurel sebagai istrinya, pasti sudah tidak ada lagi yang membuat Dave harus menahan sikap dirinya kepada Laurel di depan para pegawainya. Untuk hari ini rasanya otak Laurel benar-benar buntu, tidak bisa menebak bagimana nasibnya di masa depan di rumah sakit ini.
"Aku akan pulang duluan, aku butuh istirahat, sampai besok ya," Laurel berjalan menjauhi Lusiana, berjalan keluar dari kantor Lusiana ke arah tempat mobil milik Freya yang dia pinjam di parkirkan.
__ADS_1
"Hai Laurel, sudah mau pulang?" Laurel langsung menoleh begitu mendengar suara Arnold yang menyapanya dan berjalan ke arahnya di dekat mobil Freya yang ada di parkiran.
"Iya...," Laurel menjawab dengan suara ragu-ragu karena kembali teringat akan kejadian tadi siang, yang pastinya saat ini Arnold juga sudah mengetahui tentang statusnya sebagai istri Dave.
"Jangan melamun, jangan terlalu dipikirkan, semuanya akan baik-baik saja. Aku tidak tahu kenapa kamu dan Bos menyembunyikan status pernikahan kalian selama ini, tapi apapun alasannya, semoga kamu dan Bos selalu bahagia. Kita akan tetap jadi teman baik kan?" Arnold tersenyum, terlihat dia begitu berusaha mengucapkan kata-katanya barusan dengan wajah setulus mungkin, membuat Laurel tersenyum dengan wajah haru. Sikap Arnold menunjukkan dia begitu berbesar hati, membuat Laurel dalam hati mengacungkan jempolnya buat apa yang baru saja dikatakan Arnold barusan.
"Terima kasih untuk persahabatan kita," Arnold tersenyum mendengar tanggapan Laurel, sambil mengarahkan tangannya ke arah mobil yang akan dinaiki oleh Laurel, membuat Laurel sedikit tersenyum geli karena tindakan Arnold. Setelah Laurel mendekat ke arah mobilnya, Arnold membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauh.
"Untuk pengkhianatanmu Dewi Parwati," Baru saja Laurel hendak membuka pintu mobilnya, ketika terdengar suara seorang laki-laki di dekat telinganya, membuat Laurel bergerak dengan cepat ke samping sambil menoleh, tetapi dengan cepat laki-laki yang memakai pakaian serba hitam dan masker yang menutupi wajahnya mengarahkan sebuah pisau ke punggung Laurel.
"Ahhhh!" Laurel berteriak keras ketika dirasakannya sebuah benda tajam mengenai punggungnya dan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa, membuat Arnold menoleh kaget dan berlari ke arah Laurel, termasuk Nia yang baru saja menuju ke parkiran begitu kaget melihat apa yang baru saja terjadi, melihat seseorang mencoba menyerang Laurel dengan pisau.
"Laurel!" Nia berteriak histeris, Arnold langsung menopang tubuh Laurel sebelum terjatuh ke lantai parkiran, sedang laki-laki yang berusaha menusuk Laurel segera berlari menghilang melihat kedatangan Nia dan Arnold.
"Laurel," Nia menepuk-nepuk wajah Laurel yang pingsan dengan posisi lengan Arnold menopang punggung Laurel.
Dave yang tadinya baru saja berjalan memasuki tempat parkir untuk kembali ke rumah besar langsung berlari ke arah Arnold, Nia dan Laurel yang pingsan. Awalnya Dave masih berada jauh dari Laurel ketika dilihatnya seseorang menyerang Laurel yang akhirnya membuat Arnold yang posisinya lebih dekat dengan Laurel langsung menangkap tubuh Laurel yang terjatuh dilantai.
Tanpa mengatakan sepatah katapun, kedua lengan Dave langsung bergerak ke arah tubuh Laurel, dan tanpa sadar menyingkirkan lengan Arnold dengan gerakan sedikit kasar dari tubuh Laurel, terlihat bahwa Dave tidak ingin orang lain menyentuh tubuh Laurel yang terkulai lemah di pelukannya. Dengan cepat dan wajah cemas Dave langsung berdiri dengan menggendong tubuh Laurel sambil memeluknya dengan erat, membiarkan darah yang merembes dari tubuh Laurel membasahi lengan dan pakaian yang dikenakannya.
"Arnold, hubungi security (bagian keamanan), suruh mereka mencari laki-laki yang menyerang Laurel dan menangkapnya! Nia, kamu panggil Lusiana untuk membantuku menangani luka Laurel sekarang!"
"Baik bos!" Baik Arnold dan Nia langsung berlari untuk melaksanakan perintah Dave yang terlihat begitu tegang karena cemas.
Bertahanlah Laurel. Kumohon, jangan sampai terjadi apa-apa denganmu, Dave berkata dalam hati sambil dengan sedikit berlari menggendong tubuh Laurel ke ruang IGD.
__ADS_1