
"Kak Leo.... Ada apa dengan Kak Leo hari ini? Kenapa sejak kita pulang dari rumah Kak Dave sepertinya wajah Kak Leo terlihat tidak senang?" Leo yang sedang menyetir menoleh sekilas ke arah Evelyn yang sedang duduk di sampingnya dan menatap ke arahnya.
"Tidak ada apa-apa," Leo berkata sambil menarik nafas dalam-dalam, justru membuat Evelyn semakin curiga memang benar ada sesuatu yang sudah terjadi yang membuat Leo tidak enak hati.
"Evelyn..., apa selama ini benar belum pernah ada laki-laki yang kamu sukai?" Evelyn langsung mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan dari Leo yang selama ini seingatnya tidak pernah ikut campur tentang kehidupan asmaranya.
"Kenapa tiba-tiba kak Leo bertanya seperti itu?" Evelyn bertanya sambil memainkan handphone yang ada di tangannya untuk menutupi rasa gugupnya atas pertanyaan Leo barusan, yang tentu saja akan sulit sekali bagi Evelyn menjawab pertanyaan itu.
Ah, tentu saja menjadi aneh sekali. Selama ini Evelyn tidak pernah menyebutkan nama seorang laki-laki di depanku, apalagi dengan wajah yang menunjukkan tanda-tanda kagum atau cinta kepada seorang laki-laki. Bagaimana bisa sekarang aku merasa begitu penasaran dan ingin tahu apakah ada laki-laki yang sudah membuat Evelyn jatuh hati? Leo berkata dalam hati sambil memandang ke arah Evelyn sekilas dengan tatapan yang dia sendiri tidak tahu apa itu, yang pasti sepertinya hari ini sulit sekali bagi Leo untuk menjauhkan matanya dari menatap wajah cantik Evelyn.
Selama ini Leo tahu pasti bahwa Evelyn adalah gadis yang cantik apalagi dengan darah Amerika Irlandia yang mengalir dalam tubuhnya. Bahkan semenjak remaja banyak laki-laki yang begitu menyukai Evelyn, namun Leo tidak pernah merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya sendiri karena Evelyn tidak pernah sekalipun menanggapi para laki-laki itu. Tapi hari ini melihat bagaimana manisnya senyum Evelyn kepada James, cukup membuat Leo merasa tidak senang, bahkan dadanya merasa begitu tidak nyaman.
"Tidak ada..., hanya saja aku berpikir di usiamu sekarang, ada baiknya kamu mulai memikirkan laki-laki seperti apa yang bisa menjadi pendampingmu kelak. Kalau kamu merasa tidak nyaman menceritakan tentang siapa laki-laki yang kamu sukai kepada kakakmu atau orangtuamu, kamu bisa ceritakan padaku, dan biarkan aku membantumu untuk menilai apakah laki-laki itu memang pantas untukmu," Leo berkata sambil sedikit menahan nafasnya, entah kenapa tiba-tiba saja dia merasa menjadi seorang yang munafik, apa yang sedang dia pikirkan dan apa yang dia ucapkan saat ini terasa tidak sejalan sama sekali, tidak sinkron.
Bagaimana mungkin aku bicara terus terang kepada Kak Leo bahwa sejak dulu satu-satunya laki-laki yang aku kagumi dan sukai, laki-laki yang begitu aku cintai adalah Kak Leo sendiri. Ah, semuanya pasti gara-gara Kak Dave yang sudah mencari gara-gara dengan Kak Leo, sehingga aku harus menghadapi situasi tidak mengenakkan seperti ini, Evelyn berkata dalam hati sambil menarik nafas dalam-dalam, membuat Leo semakin merasa penasaran.
"Kak Leo..., menurut Kak Leo laki-laki yang seperti apa yang pantas menjadi pasanganku?" Leo sedikit tersentak mendengar pertanyaan dari Evelyn yang begitu tidak disangkanya, sedangkan niatnya barusan justru ingin tahu laki-laki seperti apa yang kira-kira disukai oleh Evelyn.
"Kak Leo?" Evelyn kembali memanggil nama Leo ketika dilihatnya Leo langsung terdiam tanpa suara untuk beberapa saat setelah mendengar pertanyaannya barusan.
__ADS_1
"Eh, iya," Leo langsung menoleh sekilas dan kembali menatap lurus ke depan, ke arah jalanan untuk menutupi rasa kagetnya karena pertanyaan Evelyn barusan.
"Bagi Kakak..., laki-laki itu harus benar-benar mencintai dan menyayangimu. Dia harus laki-laki yang bisa memperlakukanmu dengan lembut. Menjadikanmu seorang perempuan yang paling berbahagia dengan semua cinta dan kasih sayang yang dia berikan padamu. Dia harus menjadikanmu satu-satunya wanita dalam hidupnya dan berusaha untuk tidak pernah membuatmu tersakiti. Aku tahu kamu memiliki sifat manja, karena itu laki-laki itu harus bisa memanjakanmu dan tidak pernah bersikap kasar padamu. Dia harus bisa mengerti dirimu dengan baik. Intinya dia harus laki-laki yang benar-benar menjadikanmu ratu di hatinya," Mendengar kata-kata Leo tanpa sadar Evelyn terkikik geli.
"Sosok laki-laki yang kelihatannya sempurna sekali untukku Kak. Kalau boleh tahu di pikiran Kakak siapa laki-laki yang paling cocok untukku seperti yang digambarkan Kak Leo barusan?" Lagi-lagi pertanyaan Evelyn membuat hati Leo terasa berdesir dan tidak tenang, mengobrak-abrik sikap dan pemikiran tenang yang selama ini selalu berhasil dikendalikannya dengan baik.
Sial! Kenapa tiba-tiba aku berpikir bahwa laki-laki itu seharusnya adalah aku? Sadarlah Leo, jangan berpikir yang tidak-tidak. Evelyn bagimu sudah seperti adikmu sendiri. Bagaimana kamu bisa berpikiran mesum seperti itu? Kalau Evelyn mendengarnya? Bagaimana kalau sampai Evelyn tahu isi pikiranmu? Apa yang akan terjadi? Jangan mempermalukan dirimu sendiri Leo. Jika selama ini kamu sudah menjadi Kakak yang baik untuk Evelyn, tetaplah seperti itu. Kamu harus bisa menjaga hubungan itu dengan baik. Jangan sampai karena nafsumu kamu merusak hubungan baikmu dengan Keluarga Shaw apalagi dengan Evelyn, Leo berteriak dalam hati kepada dirinya sendiri, memaki dirinya sendiri sambil mempererat pengangan tangannya pada setir mobil, untuk bisa mengendalikan pikirannya yang tiba-tiba terasa kacau akibat pertanyaan Evelyn barusan.
"Jangan khawatir Evelyn, gadis secantik dan sebaik kamu, pasti dengan cepat kamu akan segera bertemu dengan pangeranmu. Aku berdoa untuk itu. Bukan cuma orangtua dan kedua kakakmu, aku juga ingin melihatmu bahagia dengan laki-laki pilihan hatimu," Leo berkata dengan suara lirih, seolah-olah hatinya begitu tidak rela saat mengatakan "laki-laki pilihan hatimu."
"Aku berharap juga mendapatkan laki-laki seperti yang Kak Leo gambarkan tadi," Evelyn yang tadinya memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Leo menggerakkan kembali tubuhnya untuk bersandar di sandaran kursi, ada sedikit perasaan kecewa dalam diri Evelyn karena dalam hatinya Evelyn benar-benar berharap bahwa Leo mengatakan laki-laki yang digambarkannya itu adalah Leo sendiri.
"Hallo Kak Laurel," Leo melirik sekilas ke arah Evelyn yang baru saja menerima panggilan teleponnya dengan suara terdengar ceria.
“Iya, benar Kak. Aku masih di jalan bersama Kak Leo. Begitu keluar dari lingkungan rumah Kakak tadi jalanan sedikit macet, membuat perjalanan kami sedikit tersendat,” Evelyn berkata sambil menyungingkan senyum di bibirnya yang tanpa sadar membuat Leo yang baru saja meliriknya tiba-tiba sedikit menelan ludahnya.
Sejak kapan bibirmu terlihat begitu menggoda dan membuatku gila karena tiba-tiba merasa begitu menginginkan bibir itu untuk diriku sendiri? Leo merutuki dirinya sendiri yang menyadari bahwa tiba-tiba kehadiran Evelyn di dekatnya membuat dadanya berdetak keras dan aliran darah di tubuhnya berdesir dengan hebatnya.
"O, iya? Nanti malam aku akan aturkan semuanya. Kak James bisa mengambilnya besok di restauranku besok siang. Aku akan siapkan semuanya malam ini," Begitu mendengar bibir Evelyn menyebutkan nama James, mata Leo yang awalnya sudah kembali fokus pada jalanan kembali melirik ke arah Evelyn dengan menahan nafasnya, entah kenapa tiba-tiba dirasakannya dadanya berdebar lebih kencang mendengar Evelyn yang baru saja menyebutkan nama James di bibirnya.
__ADS_1
Dan bukan itu saja. Entah mengapa tiba-tiba ada rasa tidak suka atau lebih tepatnya ada rasa cemburu di hati Leo melihat bagaimana lembutnya Evelyn saąt menyebutan nama James.
Kenapa wajahmu ceria sekali saat menyebutkan nama James Xanderson yang baru kamu kenal hari ini? Tanpa sadar Leo berkata dalam hati sambil sedikit mendengus kesal.
"Ok Kak, berikan saja nomer handphoneku ke Kak James, supaya Kak James bisa menghubungiku besok," Evelyn berkata dengan senyum di wajahnya, membuat Leo begitu penasaran sebenarnya apa yang sedang dibicarakan Evelyn dengan Laurel kenapa harus menyebutkan nama James bahkan lebih dari sekali, sepupu Ornado yang beberapa waktu sudah sempat dikenalnya ketika Ornado melakukan penyergapan di rumah Devan saat terjadinya penculikan Laurel.
Laki-laki bernama James yang merupakan sepupu dekat Ornado, pria tampan dengan wajah yang terlihat ramah dan seringkali menyunggingkan senyum di wajahnya, bermata coklat dengan wajah 100 persen bule karena kedua orangtuanya berasal dari Eropa, berbeda dengan Dave dan Ornado yang memiliki darah campuran dengan Asia. Entah kenapa tiba-tiba saja Leo begitu tidak ingin Evelyn bertemu lagi dengan James dengan alasan apapun. Ada sesuatu yang tiba-tiba membuat dadanya terasa sesak membayangkan bagaimana jika ke depannya Evelyn benar-benar memiliki seorang kekasih dan tidak lagi bergantung kepadanya, seperti yang sudah biasa dia rasakan selama ini. Kebiasaan yang membuatnya tidak sadar tentang perasaannya sendiri terhadap Evelyn.
"Eh, Kak Leo, kita sudah sampai ya," Evelyn yang baru saja menutup panggilannya dengan Laurel tersenyum melihat mobil Leo sudah berhenti di halaman parkir restauran miliknya tanpa dia sadari karena terlalu asyik mengobrol dengan Laurel barusan.
"Terimakasih untuk tumpangannya Kak Leo, jangan jera ya," Evelyn berkata dengan senyum ceria menghias wajahnya, Leo yang kedua tangannya masih berada di atas setir memandang wajah Evelyn dengan wajah serius.
"Kak, sepertinya wajah Kak Leo hari ini tidak seperti biasanya, sebaiknya Kak Leo segera pulang dan beristirahat, mungkin Kak Leo terlalu lelah karena banyak pekerjaan di rumah sakit yang harus Kak Leo selesaikan, apalagi Kak Dave beberapa waktu ini seringkali tidak masuk kerja ke rumah sakit karena beberapa kejadian yang mempengaruhi kondisi kesehatan Kak Laurel," Evelyn berkata sambil menepuk lembut lengan kiri Leo.
"Aku turun dulu ya Kak, terimakasih Kak. Selamat beristirahat," Evelyn berpamitan sambil tubuhnya bergerak ke samping, membuka pintu mobil di sebelahnya dan berniat untuk beranjak pergi.
Tubuh Evelyn masih setengahnya menjulur keluar dari mobil Leo ketika dirasakan secara tiba-tiba Leo menarik pergelangan tangan kanannya dengn erat. Melihat itu Evelyn kembali menoleh ke arah Leo yang wajahnya terlihat tegang.
"Kenapa Kak? Apa ada yang tertinggal? Atau ada sesuatu yang mau Kakak katakan?" Tanpa menjawab pertanyaan Evelyn, Leo memandnag ke arah Evelyn dalam-dalam.
__ADS_1
"Besok.... Untuk besok…, bisakah besok kamu jangan pergi?" Leo berkata dengan suara pelan, membuat Evelyn mengernyitkan dahinya dengan wajah heran, membuat Leo dengan cepat tersadar dan dengan buru-buru melepaskan tangan Evelyn yang tadinya dipegangnya dengan begitu erat.