
“Ok, aku pergi duluan ya, selamat menikmati makan siang kalian,” Laurel berkata sambil meraih tissue di atas meja untuk membersihkan bibirnya.
Tangan Lusiana bergerak dengan cepat untuk mengambil sebuah jeruk dari atas mejanya dan langsung menyodorkannya ke arah Laurel yang langsung meraihnya sambil tersenyum karena melihat bagaimana Lusiana bersikap begitu perhatian padanya. Seperti biasanya, Lusiana selalu perduli dengan apa yang terjadi pada Laurel.
“Terimakasih buat jeruknya Lus, aku pergi sekarang,” Laurel mengucapkan terima kasih sambil mengangkat jeruk yang baru saja diserahkan Lusiana kepadanya dan segera berjalan menjauh dari antara teman-temannya yang masih mau melanjutkan makan siang mereka.
# # # # # # #
“Freya…,” Laurel langsung menyapa Freya begitu Laurel masuk ke dalam mobilnya, disambut dengan senyuman manis dari adik semata wayangnya.
“Memang apa yang diperintahkan Kak Dave kepadamu siang ini? Sampai-sampai membuatmu rela meninggalkan cafemu? ” Freya tersenyum dengan wajah terlihat dengan penuh misteri, terlihat jelas dengan sengaja sedang menyembunyikan sesuatu, membuat Laurel memayunkan bibirnya ke depan.
“Sebenarnya apa yang sedang kalian rahasiakan dariku? Kalian ini saudara ipar yang kompak sekali. Ada apa sih sebenarnya?" Laurel kembali bertanya, berusaha mengorek keterangan dari Freya yang ternyata memilih untuk tetap bungkam, membuat Laurel hanya bisa menghela nafasnya melihat sikap Freya yang tampaknya benar-benar mendukung apapun tindakan Dave.
Aku jadi curiga, sebenarnya kamu ini adikku atau adiknya Dave? Laurel berkata dalam hati sambil tersenyum geli karena pertanyaan konyol yang baru saja dia ucapkan dalam hati.
“Sabar Kak, tempatnya tidak akan jauh kok, sebentar lagi kita sampai di sana," Freya berkata sambil matanya melihat ke arah depan, seolah-olah sedang mencari-cari sesuatu, memastikan saat ini mereka tidak sedang salah jalan.
Begitu mereka sampai di salah satu gedung bertingkat yang terlihat modern dan mewah, Freya langsung memegang tangan Laurel dengan erat. Laurel yang melihat gedung apa yang sedang mereka tuju hanya bisa mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
“Kak Dave sudah menyiapkan banyak hal untuk Kakak, semoga Kakak puas dan senang,” Laurel hanya bisa terdiam mendengar perkataan Freya, mencoba menebak apa yang sedang disiapkan Dave untuknya.
"Ayo kita turun Kak," Freya yang masih memegang tangan Laurel dengan erat, sedikit menariknya untuk mengajaknya turun dari mobil.
Begitu memasuki gedung mewah yang merupakan salah satu butik yang menyediakan pakaian, perhiasan, arloji, parfum dan aksesoris fashion mewah di kota itu, Laurel hanya bisa memandang Freya dengan tatapan bertanya-tanya. Saat pertama masuk ke bangunan itu jelas terpampang tulisan berukuran besar bertuliskan "DIOR" membuat Laurel sedikit mengernyitkan dahinya, kembali mencoba memikirkan apa yang sedang direncanakan Dave bersama Freya untuknya.
(Christian Dior SE, umumnya dikenal sebagai Dior, adalah perusahaan barang mewah Prancis yang dikontrol dan diketuai oleh pengusaha Prancis Bernard Arnault, yang juga mengepalai LVMH (LVMH Moët Hennessy • Louis Vuitton S.A., atau nama kecilnya LVMH merupakan sebuah perusahaan multinasional yang bermarkas di Paris), grup mewah terbesar di dunia. Perusahaan ini di dirikan pada tangggal 16 Desember 1946, 73 tahun yang lalu oleh desainer Christian Dior, memiliki lebih dari delapan puluh ribu pegawai yang tersebar di seluruh cabang-cabangnya. Saat ini dia merancang dan menjual barang-barang kulit, aksesoris fashion, gaun, gaun pengantin, sepatu, perhiasan, arloji, pewangi, tata rias, dan produk perawatan kulit, sembari mempertahankan tradisi sebagai pencipta haute-couture di bawah divisi Christian Dior Couture . Label Christian Dior sebagian besar tetap untuk para wanita, meskipun perusahaan juga mengoperasikan divisi Dior Homme untuk pria dan label bayi Dior untuk pakaian anak-anak. Produk dijual di seluruh portofolio toko ritelnya di seluruh dunia, juga melalui toko online-nya).
Apa Dave sengaja menyuruh Freya mengajakku ke sini untuk mempersiapkan pesta perayaan pernikahan kami? Padahal aku sudah mengatakan pada Dave agar aku bisa mnengenakan gaun lamaku, buat apa membuang-buang uang jika gaun pengantinku yang dulu masih terlihat sangat bagus dan indah, Laurel berbisik dalam hati sambil mengamati Freya yang berjalan menjauh darinya, menemui seorang wanita yang terlihat ramah menyambut kedatangannya dan berbicara tentang sesuatu yang Laurel tidak bisa mendengarnya sama sekali karena posisi Freya yang cukup jauh dengannya.
Untuk beberapa lama Laurel membiarkan Freya berbicara dengan wanita yang sepertinya merupakan pemilik dari butik mewah yang sedang dikunjunginya bersama dengan Freya. Mau tidak mau untuk menghabiskan waktunya menunggu Freya, Laurel berjalan berkeliling mengamati sekelilingnya.
Laurel hanya bisa menarik nafas dalam-dalam melihat begitu banyaknya barang mewah yang dipajang di sana dengan harganya yang begitu fantastik baginya. Ketika Laurel sedang asyik mengamati etalase (Etalase adalah sebutan untuk lemari, kotak, atau rak berkaca yang dipakai untuk tempat memamerkan berbagai barang, seperti benda seni di galeri, benda antik di museum atau barang dagangan di toko) yang di dalamnya berjajar rapi perhiasan dengan designnya yang terlihat mewah, tiga orang pegawai mendekat ke arahnya.
"Selamat siang...," Laurel menjawab sapaan pegawai itu sambil tersenyum.
"Apa ada barang kami yang menarik minat Nona? Tuan Shaw sudah berpesan jika ada barang yang disukai Nona di butik ini, kami diminta untuk segera mengepaknya untuk Nona. Kami akan segera mengaturnya agar bisa dikirim ke alamat yang sudah diinfokan oleh Tuan Shaw," Laurel tersentak kaget mendengar perkataan salah satu pegawai itu, tidak menyangka bahwa Dave sudah mengatur kedatangannya di butik ini, menginfokan kepada para pegawai butik, bahkan membuat para pegawai di tempat ini terlihat begitu menghormatinya, seolah-olah dia adalah seorang pengunjung penting yang diharapkan mereka untuk bisa dengan mudahnya merogoh kantong untuk membeli barang-barang di butik mereka yang terbilang mewah dan mahal.
Laurel hanya bisa tersenyum mendengar penawaran dari para pegawai butik itu. Bagaimana dia tertarik untuk membeli barang-barang di tempat ini, sedangkan semua gaun, pakaian, aksesories, perhiasan yang Dave siapkan di lemari rumah kaca sebagian besar masih belum pernah disentuhnya, apalagi dipakainya. Bahkan sebagian besar dari barang-barang itu masih memiliki label harga yang menempel.
__ADS_1
"Ah..., tidak, aku hanya ingin melihat-lihat saja, belum ada keinginan untuk membelinya. Nanti kalau aku ada yang tertarik, aku akan hubungi kalian. Terimakasih," Laurel menganggukkan sedikit kepalanya sebelum akhirnya berjalan menjauhi ketiga pegawai tersebut.
Lebih baik aku tidak melihat-lihat lagi daripada mereka salah mengira aku ingin membeli barang mereka, Laurel berkata dalam hati sambil berjalan kembali mendekat ke arah Freya yang masih serius berbicara dengan wanita tadi.
"Kak," Begitu melihat Laurel berjalan mendekat ke arahnya, Freya segera memanggilnya dan melambaikan tangannya, memberi tanda agar Laurel mendekat ke arah mereka berdua.
"Selamat siang Nona Laurel," Begitu Laurel mendekat, wanita yang sedang berbincang dengan Freya langsung menyapa Laurel dengan sikap hormat.
"Kak Laurel, ini Nyonya Smith, pemilik butik ini," Laurel langsung mengulurkan tangan ke arah Nyonya Smith yang langsung menjabat tangannya dengan erat.
"Senang bertemu dengan Anda Nyonya Smith," Laurel berkata sambil menyungingkan senyum di wajahnya.
"Saya justru yang merasa tersanjung bisa melayani Anda Nona Laurel. Mari, saya akan tunjukkan tempat untuk melakukan fitting gaun pengantin Anda," Nyonya Smith mengarahkan tangannya ke samping dan langsung berjalan ke arah sana, membiarkan Laurel yang tampak kaget karena Nyonya Smith mengatakan tentang fitting gaun pengantin yang dari awal dia sudah meminta Dave untuk dia bisa tetap mengenakan gaun pengantinnya yang lama. Namun, tarikan tangan dari Freya akhirnya membuat Laurel mengikuti kemana Nyonya Smith berjalan dengan langkah sedikit terseret.
Saat Nyonya Smith membuka pintu sebuah ruangan dan mempersilahkan Laurel masuk, mata Laurel langsung terbeliak. Di tengah-tengah ruangan tampak gaun pengantin yang sama yang pernah dikenakannya tujuh tahun lalu dengan tampilan yang sedikit berubah dari awalnya. Melihat bagaimana gaun pengantin itu berubah semakin terlihat gemerlap dan mewah, Laurel tahu pasti gaun itu sudah diperbaiki dengan sangat baik, mengalami beberapa modifikasi sehingga terlihat kembali seperti baru, indah sekaligus mewah terpadu menjadi suatu kesatuan.
"Bagaimana penampilan wajah baru gaun Anda Nona? Apa Anda merasa ada yang masih kurang? Jika Anda kurang puas, selagi masih ada waktu, kami akan segera memperbaikinya," Laurel berjalan mendekat ke arah gaun pengantin miliknya yang terlihat semakin indah setelah mengalami permak. Dengan lembut Laurel mengelus gaun yang sedang terpasang pada sebuah manekin (boneka manusia seluruh tubuh atau setengah badan yang dipakai sebagai model untuk memperagakan busana di toko. Boneka ini sering dipamerkan di etalase toko atau butik sehingga juga disebut boneka etalase).
"Tuan Shaw meminta kami untuk melakukan beberapa penambahan berlian pada gaun Anda, terutama di bagian dada sampai ke perut dan bagian punggung karena Anda ingin tetap memakai gaun produksi dari butik Dior yang dibuat 7 tahun lalu. Jadi kamu harus melakukan sedikit perbaikan agar gaun ini tetap terlihat update," Laurel menghela nafasnya. Dengan kemewahan dan keindahan gaun ini, sebenarnya tanpa melakukan perbaikan gaun itu akan tetap terlihat mewah dan indah, tidak ada sedikitpun kesan kuno atau ketinggalan jaman. Tapi sepertinya Dave tetap ingin memberikan yang terbaik yang bisa dia berikan untuknya, membuat Laurel hanya bisa diam seribu bahasa karena tidak mampu berkata-kata.
__ADS_1
(DIOR sebagai salah satu rumah mode yang identik dengan kreasi ekslusif haute couture (penciptaan pakaian ekslusif yang dirancang khusus untuk seseorang, disesuaikan khusus klien tersebut dan bersifat pribadi, berdasarkan ukuran dan bentuk tubuh pemesannya, dikerjakan secara mendetail dan oleh tenaga berpengalaman), menjadikan Dior menjadi salah satu favorit bila membicarakan gaun pengantin mewah. Mampu untuk membeli gaun pengantin Dior juga mencerminkan bahwa seseorang memiliki pengaruh. Beberapa dari mereka yang memilih Dior untuk merancang gaun pengantinnya adalah Miranda Kers, Karlie Kloss, Song Hye Kyo, dan Chiara Ferragni).
Wajah kaget Laurel yang melihat begitu indahnya gaun pengantinnya hampir saja berubah menjadi wajah memerah karena menahan tangis haru, namun Laurel dengan segera mengendalikan emosi dalam dirinya, apalagi melihat tiba-tiba saja 3 orang pegawai mendekat ke arahnya yang masih menikmati kegiatan mengelus gaun indah tersebut.