
Setelah selesai menikmati makan malamnya, Laurel memilih untuk mengajak Dave ke bagian Utara restauran dimana terdapat sebuah taman dengan lampu-lampu hias yang terlihat indah dan terdapat beberapa meja dan kursi untuk duduk dan disediakan di sana sambil menikmati pemandangan taman yang terlihat romantis, apalagi jika dinikmati di malam hari seperti sekarang ini.
“Makanan di restauran ini benar-benar lezat, aku benar-benar menikmatinya,” Mendengar perkataan Laurel, Dave mengernyitkan dahinya karena teringat akan suatu kejadian di masa lalu, saat Laurel diundang makan malam oleh Arnold di restauran ini.
“Bukannya dulu kamu sudah pernah ke sini bersama Arnold? Apa waktu ke sini waktu itu Arnold tidak menyuguhkanmu makanan enak dari restauran ini? Lalu buat apa dia mengajakmu makan malam di restauran kalau begitu selain untuk menyatakan cintanya padamu? Benar-benar aneh, mengajak seorang gadis cantik yang disukainya di sebuah restauran sebagus ini tapi tidak memesan makanan enak untuk dinikmati,” Laurel tertawa geli mendengar pertanyaan Dave yang mengingatkan bagaimana saat itu Arnold yang sibuk merangkai kata untuk menyatakan cinta padanya, sedang dia sendiri sibuk menghadapi rasa kikuk karena kedatangan Dave dan temannya yang menatapnya dengan tatapam mata begitu tajam, seolah mengamati apa yang sedang dilakukannya bersama Arnold.
“Mana bisa aku menikmati rasa lezat masakan di sini yang bahkan untuk menelannya saja saat itu aku merasa begitu sulit, karena ada seorang pria yang sedang menatapku dengan mata elangnya yang ternyata karena cemburu. Padahal waktu itu aku sempat berpikir dia menatapku setajam itu karena dia begitu membenciku, akibat kesalahan yang aku tidak tahu karena sebelumnya aku merasa belum pernah mengenalnya, ” Dave langsung tersenyum mendengar apa yang barusan dikatakan Laurel, kembali teringat dengan sikap konyolnya di masa lalu yang berusaha begitu keras untuk mengikuti kemanapun Laurel pergi, apalagi saat dia tahu Laurel sedang bersama pria lain.
“Membencimu? Sebenarnya kamu memang gadis yang tidak peka sama sekali. Bagaimana pandangan takut kehilanganmu, kamu bilang pandangan tajam, pandangan penuh cinta, kamu bilang pandangan benci,” Laurel menahan tawanya mendengar penjelasan dari Dave. Dengan lembut Dave langsung melingkarkan lengannya di pinggang Laurel dari samping, ditariknya pelan tubuh Laurel agar mendekat ke arahnya, sehingga dia bisa memeluk tubuh Laurel dengan cukup erat.
“Dave…,” Laurel memanggil nama Dave dengan lembut, membuat Dave yang awalnya memandang ke depan menikmati lampu-lampu yang ada di taman menoleh ke arah Laurel yang terlihat sedikit gugup, karena malam saat ini dia ingin memberitahukan kepada Dave tentang kehamilannya. Ingin melihat bagaimana wajah bahagia Dave mendengar apa yang akan dikatakannya.
“Ada yang mau kusampaikan padamu…,” Belum sempat Laurel melanjutkan kata-katanya, suara nada panggilan di telepon Dave berbunyi nyaring, membuat Dave merogoh kantong celananya dan mengambil handphonenya.
“Angkatlah, mungkin itu panggilan penting untukmu,” Laurel langsung meminta Dave untuk mengangkat panggilan di teleponnya setelah melihat Dave ragu-ragu untuk mengangkatnya karena panggilan tersebut berasal dari nomer tidak dikenal.
“Hallo, selamat malam,” Dengan enggan Dave mengangkat panggilan telepon di handphonenya.
“Hallo, Benar ini dengan Dave Alexander Shaw?” Suara di seberang sana terdengar menanyakan identitas Dave.
“Benar, dengan siapa saya berbicara?”
“Selamat malam Pak, kami dari rumah sakit tempat Nona Meria dirawat. Kami menghubungi Anda karena ketika Nona Meria mendaftarkan diri di rumah sakit ini menuliskan di form info pasien orang yang bisa kami hubungi saat terjadi sesuatu pada Nona Meria adalah Anda,” Dave mengernyitkan dahinya mendengar apa yang baru saja didengarnya.
__ADS_1
“Apa yang sedang terjadi dengan Meria?”
“Nona Meria baru saja pingsan. Bisakah Anda segera datang ke sini?” Mendengar pertanyaan dari petugas rumah sakit yang menelponnya, Dave sedikit menahan nafasnya.
“Baik, saya akan segera aturkan waktu untuk melihat kondisinya. Terimakasih untuk infonya,”
“Baik, kami tunggu kedatangan Anda secepatnya,”
Setelah sambungan telepon terputus, Dave memandang ke arah Laurel yang memandangnya dengan tatapan bertanya-tanya.
“Meria pingsan, pihak rumah sakit tempat dia dirawat meminta aku datang ke sana karena ternyata Meria menuliskan nomer handphoneku sebagai salah seorang sanak keluarga atau kenalan yang bisa dihubungi bila terjadi sesuatu padanya,” Laurel menahan nafasnya sejenak, lalu tersenyum sambil memegang salah satu tangan Dave yang masih memeluk pinggangnya dari samping, menyentuh punggung telapak tangan Dave dengan telapak tangannya.
“Kamu mau ke sana melihat kondisinya? Pergilah ke sana, aku tidak keberatan,” Dave memandang ke arah Laurel dalam-dalam karena dilihatnya Laurel tidak ada niat untuk bergerak dari tempatnya.
“Apa kamu marah padaku mo cuisle? Kalau tidak, ayo kita ke sana bersama-sama. Aku sudah bilang bahwa saat aku menjenguknya, aku hanya akan pergi menjenguknya jika bersamamu,” Laurel tersenyum ke arah Dave.
“Dave…, tidak apa-apa. Pergilah ke sana. Kabari aku bagaimana kondisi Meria sesampainya di sana. Aku akan baik-baik saja,” Laurel berkata sambil tersenyum ke arah Dave dengan pandangan matanya meyakinkan Dave bahwa dia akan baik-baik saja seperti apa yang barusan dia katakan.
“Baiklah, aku akan ke sana sebentar untuk mengecek kondisinya. Setelah itu aku akan segera kembali,” Laurel menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan apa yang baru saja diucapkan Dave.
# # # # # # #
“Kenapa kamu melamun di sini sendirian?” Laurel langsung menoleh ke arah sumber suara dan tersenyum melihat Leo yang berjalan mendekat ke arahnya.
__ADS_1
“Tidak kok, Aku tidak melamun. Justru aku sedang menikmati indahnya suasana malam di restauran ini. Tempat ini merupakan pilihan terbaik untuk perayaan ulang tahun seperti hari ini. Selain memiliki suasana yang mengagumkan, masakan di restauran ini sangat lezat,” Leo tersenyum mendengar pujian Laurel.
“Aku harap kamu memuji tempat ini bukan karena ini dikelola oleh adik iparmu,” Laurel tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Leo.
“Tentu saja tidak, aku bicara yang sebenarnya. Lagipula baik Dave maupun Evelyn tidak ada di sini, buat apa aku berbohong hanya untuk menyenangkan mereka yang sedang tidak ada di sini?” Leo mengangguk-anggukan kepalanya sambil mengacungkan jempol ke arah Laurel.
“Eh, dimana Dave? Aku baru sadar dia tidak ada di sini. Apa dia sedang ke toilet?”
“Tidak, Dave sedang ke rumah sakit tempat Meria dirawat. Dia baru saja menerima kabar dari petugas rumah sakit di sana bahwa Meria jatuh pingsan,” Leo langsung mengernyitkan dahinya mendengar apa yang dikatakan oleh Laurel, dari wajahnya terlihat jelas aura tidak percaya tentang kabar Meria jatuh pingsan.
“Laurel, tunggu dulu di sini sebentar, aku akan telepon Dave. Ada sesuatu yang harus aku katakan pada Dave sekarang,” Leo membalikkan tubuhnya, berencana mengambil handphone yang dia tinggalkan di salah satu meja tempat tadi dia menikmati makan malam bersama orangtua dan keluarga kakak perempuannya.
“Dokter Leo…,” Mendengar Laurel memanggil namanya, Leo menghentikan gerakannya, dan langsung menoleh ke arah Laurel.
“Maaf, aku ingin mengikuti acara ini sampai selesai, tapi sepertinya aku merasa lelah. Aku akan pamit pulang lebih dahulu. Kalau dokter Leo menelpon Dave, tolong sampaikan pesanku, malam ini aku ingin pulang ke rumah Mama Denia, setelah dia selesai dengan kunjungannya ke rumah sakit tempat Meria dirawat, dia bisa menjemputku di rumah mama. Maaf merepotkan dokter Leo, karena handphoneku sedang mati akibat habis baterainya,” Hampir saja Leo tidak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak menarik tangan Laurel, apalagi saat ini dengan wajah manisnya Laurel menunjukkan bahwa dia percaya bahwa Meria benar-benar pingsan, namun Leo berusaha untuk benar-benar bisa menahan dirinya.
“Apa kamu baik-baik saja Laurel. Kamu terlihat sedikit pucat,” Laurel langsung menggeleng mendengar pertanyaan Leo yang terlihat khawatir.
“Tidak, aku baik-baik saja. Hanya butuh sedikit istirahat karena tadi siang kelihatannya aku terlalu banyak terkena dinginnya AC waktu melakukan fitting gaun pengantinku,” Leo kembali memandang wajah Laurel yang terlihat sedikit pucat.
“Sebentar, aku akan minta sopir keluargaku untuk mengantarmu pulang,”
“Tidak perlu dokter Leo, biar aku naik taksi,” Laurel berusaha menolak penawaran Leo, namun Leo sudah pergi meninggalkannya dengan sedikit berlari, sehingga tidak mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Laurel kepadanya.
__ADS_1
“Evelyn…,” Laurel langsung memanggil sosok Evelyn yang lewat di depannya.
“Aku mau pulang sekarang. Aku sudah menelpon taksi. Tolong sampaikan pada dokter Leo untuk tidak perlu repot-repot mengaturkan sopir untukku,” Belum sempat Evelyn menjawab perkataan Laurel, Laurel buru-buru pergi meninggalkan Evelyn karena merasa kepalanya sedikit sakit dan tubuhnya terasa sedikit menggigil.