
"Cladia? Benar kamu Cladia kan? Cladia Sanjaya adik Jeremy Sanjaya?" Melihat Cladia mengangguk mengiyakan, tanpa menunggu lebih lama lagi Laurel berjalan cepat ke arah Cladia dan langsung memeluknya, menciumi pipi Cladia, tidak perduli pada Ornado dan Dave yang memandang tindakan mereka sambil tersenyum dengan pandangan sedikit geli.
Dave memandangi sosok Cladia yang terlihat anggun dan cantik, sedang Ornado yang berdiri di sampingnya merupakan laki-laki tampan yang terlihat memiliki sikap tenang, tegas dan berwibawa. Kondisi Ornado yang menemui mereka dengan masih mengenakan dobok taekwondonya (seragam khas yang dikenakan saat berlatih taekwondo) dengan sabuk hitam melilit di pinggangnya membuat Dave tersenyum. Entah kenapa tiba-tiba Dave merasa ke depannya dia akan bisa cepat akrab dengan sosok Ornado, entah karena saat ini dilihatnya Ornado memiliki hobi yang sama dengannya tentang taekwondo atau karena dia bisa melihat dengan jelas dari mata biru dan wajah bule yang dimiliki oleh Ornado, Dave merasa mereka memiliki histori keluarga yang hampir mirip.
"Laurel, aku benar-benar merindukanmu, kemana saja kamu selama ini? Kenapa tidak pernah mengirim kabar?" Cladia membalas pelukan Laurel dengan erat, seperti seorang adik memeluk kakak kandungnya yang sudah begitu lama tidak bertemu.
"Kamu semakin cantik saja. Sudah berapa lama kita berpisah? Mungkin sudah 7-8 tahun ya. Aku senang sekali bisa bertemu lagi denganmu. Baru 6 bulan ini aku kembali ke Indonesia, maaf belum sempat mencarimu, karena ada banyak hal yang sudah terjadi," Laurel berkata sambil melepaskan pelukannya, dipegangnya kedua lengan Cladia, lalu diamatinya sosok Cladia dalam-dalam. Sosok cantik Cladia membuat Laurel tersenyum lega. Dengan rambut panjangnya yang terlihat tebal dan terurai, membuat Cladia yang sedari kecil merupakan gadis manis dan cantik terlihat semakin cantik.
"Sebenarnya setelah kembali ke Indonesia aku kembali ke rumah lamaku, tapi saat mengunjungi rumah kalian info dari tetangga 5 tahun lalu kamu dan Jeremy sudah pindah dari rumah itu," Cladia mengganguk, karena kejadian 5 tahun lalu untuk mengurangi trauma Cladia, Jeremy memutuskan untuk pindah dari rumah lama mereka yang sebelumnya berada tidak jauh dari rumah Laurel yang lama.
Cladia memandang ke arah Dave, pria tampan seperti yang dikatakan pelayannya, dari wajahnya Cladia bisa menebak bahwa umur pria itu tidak jauh dari suaminya, Ornado. Mungkin 1-2 tahun di atas Ornado, postur tubuhnya hampir sama dengan Ornado, tinggi, berhidung mancung, bermata biru seperti Ornado, namun rambutnya bewarna coklat tua, dan Cladia maklum pelayannya tadi cukup terkesima dengan wajah tampan tamunya hari ini. Di negara ini wajah-wajah berciri khas Eropa atau Amerika yang sering disebut "bule" sepertinya masih saja membuat orang di daerah Asia terkesima, sedangkan bagi Cladia sendiri karena selama ini perusahaan papanya banyak memiliki klien dari luar negeri sejak kecil dia sudah terbiasa bertemu dengan wajah-wajah bule. Cladia sedikit tersenyum geli memikirkan itu.
"Ayolah, duduklah, aku dengar dari Renata kondisimu kurang sehat," Laurel menarik tangan Cladia lembut mengajaknya ke arah sofa. Setelah Cladia duduk, Laurel kembali duduk di samping Dave, berhadap-hadapan dengan Cladia. Begitu Ornado duduk di samping Cladia, Laurel tiba-tiba terpekik kecil, baru teringat dengan keberadaan Ornado, sahabat masa kecilnya yang saat ini terlihat semakin tampan dan berwibawa.
"Ad, Ornado, hahh, bagaimana kabarmu? Sudah lama sekali, kamu semakin tampan saja," Laurel tertawa memandangi Ornado yang tersenyum sambil mengacungkan kedua jempolnya tanpa membalas pujian dari Laurel dengan kata-kata. Sejak kecil Laurel dan semua orang yang mengenal Ornado selalu memanggil Ornado dengan sebutan “Ad”, dan hanya Cladia yang memanggilnya dengan sebutan “Al” karena sewaktu masih kecil lidah Cladia begitu sulit menyebutkan Ad, membuatnya memilih memanggil Ornado dengan sebutan Al sampai sekarang.
"Ehem..." Dave yang ada di samping Laurel menyenggolkan lengan kanannya ke lengan kiri Laurel, Laurel langsung menoleh ke arah Dave sambil tersenyum malu-malu, menyadari dia tanpa sengaja sudah memuji laki-laki lain di depan suaminya.
"Sori......" Laurel mengatupkan kedua telapak tangannya untuk menutupi mulutnya yang sedikit terkikik.
"Kamu tidak mengenalkan dia kepada kami?" Ornado tersenyum geli melihat Laurel yang salah tingkah karena mendapatkan lirikan tajam dari Dave setelah memuji ketampanannya.
"Ah, aku hampir lupa, Dave, seperti yang sempat aku ceritakan dulu, ini Cladia Sanjaya dan Ornado Xanderson. Kenalkan, dia Dave Alexander Shaw, suamiku," Laurel menyebutkan kata-kata "suamiku" dengan suara lirih sambil menunjukkan jari manis tangan kanannya yang dilingkari sebuah cincin indah.
Ornado dan Cladia langsung tersenyum mendengar penjelasan Laurel. Laurel yang mereka lihat saat ini masih seperti Laurel 15 tahun lalu, gadis baik yang murah senyum dan ceria, mungkin itu alasan terbesar Dave jatuh cinta dengan Laurel.
"Kamu sudah menikah? Kapan kamu menikah? Sayang sekali aku tidak tahu kabarnya, kalau tidak pasti aku bisa menjadi pendampingmu," Cladia tersenyum dengan wajah sedikit menunjukkan penyesalan karena di pernikahannya Laurel tidak hadir, sedang di pernikahan Laurel, dia juga tidak hadir.
"Sebenarnya aku sudah menikah 7 tahun lalu," Cladia dan Ornado terbeliak, 7 tahun lalu, berarti saat itu Laurel masih berumur 18 tahun. Cladia terbengong-bengong, begitu lulus kuliah dia diharuskan menikah dengan Ornado, sedangkan karena kemampuan akademisnya Cladia hanya menjalani masa SD nya selama 5 tahun dan kuliah hanya dalam waktu 3,5 tahun, sehingga saat dia menikah dengan Ornado, umurnya masih 21 tahun. Itupun dia sudah merasa masih terlalu muda untuk menikah, ternyata Laurel lebih gila lagi, menikah di umur 18 tahun? Serius? Di jaman sekarang? Melihat wajah terkejut Cladia, Laurel tertawa terkikik.
Laurel maklum sekali melihat wajah kaget Cladia dan Ornado. Pada saat Laurel menikah dengan Dave tujuh tahun lalu, dia sudah pindah dari rumah peninggalan papanya yang bertetangga dengan rumah lama Cladia dan Jeremy yang sudah dijual mamanya kepada Dave untuk menutup semua hutang-hutang mereka. Kepindahan Laurel dan keluarganya saat itu sangat terburu-buru dan dalam kondisi masih dirundung kesedihan setelah kepergian papa Laurel, sehingga Laurel tidak sempat berpikir untuk berpamitan kepada Jeremy dan Cladia, juga Ornado yang saat itu sudah kembali ke Italia, apalagi mengundang mereka di acara pernikahan yang sangat tidak diharapkannya saat itu.
__ADS_1
"Kami sudah menikah 7 tahun lalu, tapi karena ada satu dan lain hal yang rumit, kami baru bertemu 6 bulan lalu dan melakukan resepsi pernikahan beberapa waktu lalu," Laurel menjelaskan sambil melirik ke arah Dave yang memilih untuk diam sambil tersenyum tipis, membiarkan Laurel begitu bersemangat menceritakan tentang hubungan mereka berdua di depan kedua sahabatnya.
"Hah?" Cladia semakin bingung dengan penjelasan Laurel, sudah menikah 7 tahun lalu, tapi baru bertemu 6 bulan lalu, baru merayakan resepsinya beberapa waktu lalu. Pernikahan macam apa itu? Benar-benar cerita yang rumit.
"Sudah, tidak cukup waktu seharian untuk menceritakan kisahmu, lain kali kamu bisa ceritakan lagi," Dave meraih bahu Laurel dalam pelukannya, mencoba memperingatkan Laurel dengan lembut.
"Ok, ok, lain kali aku akan ceritakan pada kalian. Ah, aku senang sekali, akhirnya kalian menikah. Sejak kecil saat kita bermain rumah-rumahan Ornado selalu minta menjadi pengantin priamu kan Cla. Akhirnya mimpimu jadi kenyataan juga Ad," Laurel tersenyum, dari wajahnya terlihat dia sangat puas bisa melihat saat ini Ornado dan Cladia benar-benar sudah menikah.
Dave sedikit mengernyitkan dahinya karena melihat Cladia sedikit salah tingkah dengan ucapan Laurel barusan, sedangkan Ornado tetap terlihat tenang dengan senyuman di wajahnya. Membuat Dave mulai berpikir apakah benar pernikahan kedua sahabat Laurel ini benar-benar bahagia. Dari cara Ornado memandang Cladia, terlihat jelas bahwa laki-laki itu begitu mencintai istrinya, namun jika Dave mengamati sikap dan tingkah laku Cladia yang duduk di samping Ornado dengan sikap salah tingkah, sepertinya wanita itu begitu menjaga jarak dengan suaminya.
"Maaf, apa hubunganmu dengan Tuan Augistin Shaw?" Tiba-tiba Ornado teringat sesuatu tentang nama Shaw, membuat Dave sedikit tersentak dari lamunannya, setelah itu Dave tertawa kecil, melihat bagaimana Ornado mempertanyakan tentang papanya.
"Tuan Xanderson ternyata ingatannya sangat tajam, dia papaku," Dave menjawab sambil tersenyum memandang Ornado.
"O, pantas saja, salam buat Tuan Augistin Shaw jika bertemu beliau, panggil saja aku Ad atau Ornado," Ornado tersenyum, Augistin Shaw, tentu saja Ornado ingat nama itu, salah satu pemilik usaha farmasi terbesar di Irlandia, yang juga merupakan salah satu supplier bahan baku kimia terbesar untuk perusahaan manufaktur milik Grup Xanderson. Dan Dave Alexander Shaw yang sekarang sedang duduk dihadapannya, pasti adalah putra pertama Augistin Shaw yang sekarang merupakan pimpinan tertinggi di Shaw Corporation.
"Baik, mewakili beliau salam juga untuk Tuan Alberto Xanderson," Ornado mengangguk mengiyakan. Cladia dan Laurel saling berpandangan, ternyata dunia begitu sempit, tidak disangka-sangka ternyata kedua orangtua Ornado dan Dave sudah saling mengenal bahkan mempunyai hubungan bisnis yang kelihatannya sudah cukup lama dan dekat.
"Kita ke kamar tamu saja," Cladia bangkit berdiri diikuti Laurel yang langsung membawa tas berisi peralatan kedokterannya berjalan mengikuti Cladia ke arah kamar tamu di lantai bawah.
# # # # # # #
Laurel yang duduk di pinggiran tempat tidur hanya bisa memandang wajah Cladia dengan tatapan sedih mendengar bagaimana kehidupan Cladia selama 5 tahun ini sejak terjadinya kasus perkosaan dan pembunuhan sahabatnya yang dia lihat di depan matanya. Trauma yang dialami Cladia membuatnya mengalami phobia terhadap laki-laki, tidak bisa berinteraksi, apalagi bersentuhan kulit dengan pria manapun kecuali Jeremy yang adalah kakak kandungnya, yang sudah merawatnya lebih dari 5 tahun lalu sejak kedua orangtua mereka meninggal dalam kecelakaan.
Bahkan Laurel tidak menyangka jika Ornado yang selama ini dia tahu begitu mencintai Cladia dan selalu berusaha melindunginya, ternyata harus menghadapi kenyataan bahwa setelah mereka menikah trauma Cladia juga belum dapat disembuhkan, sehingga sampai saat ini hubungan antara Cladia dan Ornado masih seperti dua orang asing yang tinggal satu atap dengan status pernikahan mereka. Padahal saat mereka masih kecil dulu bagi Laurel, Ornado dan Cladia seperti pasangan yang sudah ditakdirkan untuk selalu bersama sejak kecil. Bahkan Cladia menceritakan bagaimana akibat traumanya atas kejadian 5 tahun lalu, dia sudah tidak lagi bisa mengingat banyak masa kecilnya yang begitu bahagia bersama Ornado dan Laurel, terutama kenangannya dengan Ornado.
Ada rasa bersalah menelusup di hati Laurel, mengingat bagaimana saat kejadian itu dia sudah kehilangan kontak dengan Cladia, sehingga tidak bisa menjadi sahabat yang bisa membantu dan menghiburnya di saat-saat terberatnya. Laurel menarik nafas dalam-dalam, dipandanginya wajah Cladia dengan lembut. Cladia mengatakan kepada Laurel benar-benar tidak ingin hasil pemeriksaannya hari ini diberitahukan kepada Ornado, suaminya.
Saat ini Cladia curiga jika dirinya sedang hamil setelah beberapa hari ini dia mengalami ciri-ciri seseorang yang sedang mengalami morning sick. Apalagi walaupun saat ini hubungan Cladia dan Ornado tidak seperti pasangan suami istri normal pada umumnya, di malam pernikahan mereka, mereka sudah melakukan hubungan suami istri walaupun Cladia dalam pengaruh obat tidur.
Mendengar semua yang diceritakan Cladia padanya, hanya bisa membuat Laurel menahan nafasnya. Selama ini Laurel selalu berpikir bahwa Cladia sejak kecil adalah perempuan yang beruntung karena memiliki Ornado sebagai orang yang selalu mencintai dan melindunginya, tetapi mendengar bagaimana perjuangan Cladia menghadapi traumanya setelah peristiwa lima tahun yang lalu, saat ini Laurel merasa benar-benar bersyukur memiliki Dave di sampingnya, dengan kehidupan pernikahan mereka sekarang yang begitu bahagia.
__ADS_1
"Cla, aku tahu pasti orang seperti Ornado, tidak akan menganggap remeh pernikahan, apalagi yang dia nikahi adalah kamu, gadis kecil yang sejak kecil dia idam-idamkan. Apapun yang terjadi aku percaya Ornado pasti akan tetap menjaga janji pernikahannya denganmu." Cladia menghela nafasnya.
"Awalnya aku ingin membatalkan pernikahan ini, aku ingin memberi pengertian Ornado pelan-pelan, dia laki-laki yang baik, dia berhak untuk bahagia, tapi kalau benar aku hamil, aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan." Laurel bangkit dari duduknya, lalu membuka tas kerjanya.
"Kebetulan sekali aku bawa testpack hari ini, kita cek sekarang bagaimana kondisimu, tapi apapun hasilnya, kamu harus tetap menerima dan mensyukurinya, bukan berarti jika hasilnya negatif itu bisa menjadi alasan untukmu memutuskan untuk meninggalkan Ornado. Kalian sudah menikah, apapun yang terjadi kalian harus mempertahankan pernikahan kalian." Cladia hanya terdiam mendengar nasehat Laurel.
Tanpa menunggu lama, Laurel menarik tangan Cladia, mengajaknya ke kamar mandi untuk melakukan tes kehamilan padanya.
# # # # # # #
Cladia memandangi hasil test pack yang dia pegang di tangan kanannya, tanpa terasa air matanya menetes di pipinya, dia tidak dapat mengungkapkan perasaannya saat ini, antara bahagia, haru, tidak percaya, takut, khawatir, campur aduk menjadi satu. Dia benar-benar tidak menyangka mendapatkan kepercayaan ini.
Sejak kejadian 5 tahun lalu, dalam angan-anganpun dia tidak pernah membayangkan suatu ketika dia akan menikah bahkan dia bisa merasakan bagaimana bahagianya mengetahui ada sesuatu yang hidup di tubuhnya yang akan membawanya menjadi seorang mama. Sejak saat itu tidak pernah dalam pikiran Cladia untuk dekat dengan seorang pria, apalagi bermimpi untuk menikah dan memiliki anak. Laurel hanya terdiam sambil mengamati perubahan emosi di wajah Cladia. Setelah berapa lama Laurel kembali mengajak Cladia keluar dari kamar mandi dan duduk di tepi tempat tidur.
"Kamu sudah tahu hasilnya, tapi besok atau lusa datanglah ke rumah sakitku untuk memastikannya dengan melakukan tes usg, sekarang apa yang mau kamu lakukan?" Cladia menggeleng pelan dengan sisa-sisa air matanya yang masih mengalir di pipinya, karena saat ini dia benar-benar tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
"Percayalah padaku, phobiamu bisa disembuhkan, apalagi kamu menikah dengan laki-laki yang baik, yang begitu mencintaimu. Kita sama-sama pernah dekat dengan Ad. Bagiku, Ad adalah pria terbaik untukmu. Jangan khawatir, aku akan berusaha membantumu," Laurel yang duduk di sebelah Cladia mengelus-elus punggung Cladia dengan lembut, lalu mengelus perut Cladia.
"Keberadaan bayi ini bukan suatu kebetulan, aku yakin dia akan mempersatukanmu dan Ornado," Setelah berkata begitu Laurel menarik tangan Cladia untuk menyentuh perutnya.
"Dan pasti bukan suatu kebetulan juga, saat ini aku juga sedang hamil, dan sepertinya usia kehamilan kita hampir bersamaan," mata Cladia membeliak kaget, untuk sementara dia lupa tentang apa yang baru terjadi pada dirinya, kedua tanganya segera memeluk Laurel dengan erat.
"Aku ikut bahagia untukmu," Laurel menepuk punggung Cladia lembut.
"Aku yang lebih berbahagia untukmu, setelah sekian lama aku kehilangan kabarmu, sekarang kamu muncul lagi dengan tidak disangka-sangka," Cladia merenggangkan pelukannya.
"Tapi Laurel, aku harap kamu mau menepati janjimu untuk tidak memberitahu masalah kehamilanku kepada Ornado, beri aku sedikit waktu lagi, ke depannya biar aku sendiri yang memberitahunya," Laurel tersnyum sambil mengangguk.
"Apapun, asal bisa membuatmu bahagia, tapi aku akan menolak dengan tegas jika aku mendengar kamu berniat menceraikan Ornado, aku akan lakukan yang aku bisa untuk menghalangimu. Dan kupikir memang Ad akan lebih bahagia jika berita baik ini kamu sendiri yang menyampaikannya padanya," Cladia tersenyum sambil mengelus-elus perutnya.
“Ingat Cla, Ad bukan orang bodoh, kamu tidak bisa menyembunyikannya terlalu lama, dia pasti akan menyadari perubahanmu cepat atau lambat,” Cladia mengangguk, memberikan tanda bahwa dia juga tahu pasti tentang itu.
__ADS_1
"Cla, lain kali aku akan ceritakan kisah cintaku padamu, tapi percayalah, aku juga mengalami kisah cinta yang tidak mudah. Pria adalah makhluk yang jauh lebih egois dibanding kita para wanita, tapi kalau seorang pria sudah menemukan cinta sejatinya, dia akan bersedia lakukan apapun untukmu, bahkan jika itu kadang melukai harga dirinya dan menjatuhkan egonya, atau bahkan untuk hal yang tidak masuk akal sekalipun, dia akan tetap rela berkorban untukmu," Laurel berkata sambil tersenyum, matanya menerawang jauh, seolah-olah kenangan akan kisah cintanya kembali mengingatkan dia bahwa sudah banyak yang Dave korbankan untuknya.