
Laurel memandang amplop coklat di tangannya. Setelah melihat kejadian tadi rasanya benar-benar tidak memungkinkan untuk dirinya kembali ke kantor Dave untuk menyerahkan dokumen itu. Akhirnya dengan langkah berat karena masih teringat kejadian barusan yang cukup membuatnya shock, Laurel melangkah ke arah kantor Mira. Rasanya saat ini satu-satunya orang yang paling memungkinkan untuk bisa membantunya adalah Mira.
“Mir,” Begitu melihat Laurel memasuki kantornya Mira langsung tersenyum menyambutnya.
“Ya dok, ada yang bisa saya bantu?”
“Ehmmm, bisa minta tolong kamu mengantarkan dokumen ini ke kantor bos?” Laurel berkata sambil menunjukkan amplop coklat yang ada di tangannya. Mira memandangi amplop itu dan Laurel secara bergantian, berusaha menebak apa yang sudah terjadi antara Laurel dan Dave, kenapa Laurel meminta bantuannya untuk mengantar dokumen ke Dave.
“Mir, bisa tolong aku kan?” Mira sedikit mengernyitkan keningnya melihat wajah Laurel yang tampak berharap dia mau menolongnya menyerahkan dokumen di amplop coklat yang saat ini sedang dipegangnya kepada Dave, bagaimanapun setelah kejadian yang dia lihat tadi hatinya benar-benar terasa kacau. Walaupun dia tahu dia tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Dave, tidak berhak merasa cemburu, tapi hatinya terasa sakit melihat kejadian tadi.
“Tapi dokter Laurel…,”
“Please…, bantu aku kali ini saja, ada sesuatu yang harus aku kerjakan sekarang,” Belum lagi Mira sempat memberikan jawaban atas permintaan Laurel, terdengar suara telp dari meja kerja Mira.
“Hallo” Begitu suara di seberang sana mengatakan sesuatu, mata Mira langsung terarah ke wajah Laurel.
“Iya bos, kebetulan dokter Laurel ada di depan saya sekarang,” Mendengar kata-kata Mira di telpon, Laurel langsung menarik nafas panjang, sudah bisa mengira-ira apa yang bakal dikatakan Mira selanjutnya.
“Baik bos, akan saya sampaikan ke dokter Laurel sekarang,” Mira menutup telponnya, setelah itu Mira langsung tersenyum manis sambil memandang wajah Laurel, karena Mira sendiri sudah bisa menebak pasti Laurel sudah tahu apa yang akan dikatakannya.
“Dok..,”
“Kenapa? Apa bos memintaku untuk ke kantornya sekarang?” Dengan tetap tersenyum, Mira menganggukkan kepalanya, dalam hati merasa geli juga Laurel begitu cepat bisa menebak keinginan Dave untuk bertemu dengannya sekarang.
“Ah, tampaknya memang sudah nasibku,” Laurel kembali menarik nafas panjang sebelum akhirnya bangkit dari duduknya di depan Mira.
__ADS_1
“Dok…,” Mendengar Mira memanggilnya, Laurel langsung kembali amengarahkan pandangannya ke arah Mira.
“Semangat!” Mendengar perkataan Mira, Laurel langsung tersenyum dengan dipaksakan. Andai saja bisa, rasanya dia ingin sekali menghindari untuk bertemu Dave hari ini. Rasanya tidak masuk akal, tapi sepertinya karena kejadian yang dilihatnya tadi cukup membuat Laurel kesal, kecewa, sedih bercampur aduk menjadi satu, seolah - olah dia memiliki hak atas Dave sehingga merasa berhak memiliki perasaan seperti itu terhadap kejadian tadi siang.
Apa aku sudah jatuh cinta pada bos? Sejak kapan aku merasa tidak rela jika dia dekat dan mengarahkan pandangan matanya kepada gadis lain? Laurel berbisik dalam hati sambil menarik nafas panjang.
# # # # # # #
“Masuk!” Kali ini Laurel benar-benar menunggu ada perintah masuk dari Dave baru berani membuka pintu kantornya, karena kejadian sebelumnya cukup membuatnya trauma. Kalau sampai saat ini dia melihat kejadian seperti itu lagi rasanya lebih baik dia ijin untuk pulang lebih awal hari ini daripada tidak bisa berkonsentrasi saat bekerja.
“Selamat siang bos,” Laurel langsung menganggukkan kepalanya dan memberi salam begitu memasuki ruangan Dave. Dilihatnya Dave yang sedang duduk di kursi meja kerjanya, sekilas Laurel melirik ke arah lantai di dekat meja kerja Dave yang tampak sudah bersih, sudah tidak terlihat lagi bekas pecahan gelas disana.
“Duduklah,” Dengan gerakan pelan Laurel berjalan mendekat ke arah meja kerja Dave, dan mengambil posisi duduk di depan meja kerjanya.
“Tadi kamu mencariku, ada yang mau kamu sampaikan?” Mendengar pertanyaan Dave, Laurel menyodorkan amplop coklat berukuran kertas folio ke arah Dave.
“Eh, bos, maaf sedikit terlambat, selamat ulang tahun,” Laurel langsung mengulurkan tangannya ke arah Dave sambil berusaha tersenyum dengan manis.
“Belum terlambat, masih di hari yang sama, belum lewat tengah malam,” Dave menggerakkan tangannya untuk membalas uluran tangan Laurel, dan begitu Laurel melihat punggung tangan Dave yang tampak terluka Laurel langsung tersentak kaget.
“Eh, bos, tangan bos? Kenapa dengan tangan bos? Kenapa tidak diobati?” Laurel langsung bangkit dari duduknya.
“Saya akan mengambilkan kotak obat dulu,” Laurel langsung membalikkan tubuhnya, berencana mengambil kotak obat di kantornya.
“Tunggu!” Laurel langsung menghentikan langkahnya mendengar suara dari Dave.
__ADS_1
“Kita ambil di rumahku saja, lebih cepat daripada kamu harus mengambilnya dari tempat lain,” Laurel terdiam sejenak, Mencoba berpikir apakah dia akan mengikuti Dave kembali memasuki wilayah pribadinya atau tidak, karena jika didengar oleh Hana rasanya akan menjadi masalah, apalagi mengingat kejadian tadi berarti hubungan Dave dan Hana bukan lagi sekedar bos dan anak buahnya.
“Apa kamu baru saja memutuskan untuk tidak jadi membantuku mengobati lukaku?” Laurel yang sedikit melamun tersentak kaget mendengar perkataan Dave.
“O, iya bos, tidak, saya akan membantu mengobati tangan bos,”
Terserahlah, niatku hanya menolong, kalau sampai dokter Hana salah faham pasti bos bisa menjelaskannya, Laurel berkata dalam hati, sedikit menarik nafas panjang dan bergerak mendekati Dave yang sudah lebih dahulu menuju pintu penghubung antara kantor dan rumah pribadinya.
Begitu memasuki pintu rumah Dave, Laurel segera berjalan mendahului Dave.
“Bos, duduk saja di sofa, saya akan ambilkan obatnya, tolong katakan dimana bos menyimpan obat-obatan bos,”
“Di tempat yang sama seperti terakhir kali aku mengambilkan obat untuk asam lambungmu,” Mendengar perkataan Dave, dengan cepat Laurel berjalan menuju dapur, membuka salah satu lemari gantung disana dan mengambil sebuah kotak obat, memeriksa isinya, begitu dia merasa semua kebutuhan untuk mengobati luka Dave ada di kotak itu, Laurel segera mengambil baskom dan mengisinya dengan air bersih, kemudian berjalan kembali ke arah ruang tamu dengan membawa baskom berisi air dan kotak obat, mendekati Dave yang sedang menunggunya dalam posisi duduk di sofa sambil kedua siku lengannya berada di kedua pahanya, dengan badan sedikit membungkuk dan matanya tanpa berkedip mengawasi setiap apa yang sedang dilakukan Laurel sejak Laurel berjalan dari arah ruang tamu ke dapur dan kembali lagi ke ruang tamu.
“Maaf bos, permisi,” Laurel mengambil posisi berlutut di samping Dave duduk, dengan lembut Laurel meraih telapak tangan kanan Dave dan mulai membersihkan luka di punggung telapak tangannya. Setelah selesai membersihkannya dengan cepat Laurel mengeringkannya, mengoleskan salep yang mengandung antibiotik (Antibiotik adalah kelompok obat yang digunakan untuk mengatasi dan mencegah infeksi bakteri. Obat ini bekerja dengan cara membunuh dan menghentikan bakteri berkembang biak di dalam tubuh. Antibiotik tidak dapat digunakan untuk mengatasi infeksi akibat virus atau bakteri), dan menutup luka di tangan Dave dengan perban untuk mencegah terjadinya infeksi (Kondisi infeksi disebabkan oleh adanya serangan dan perkembangbiakan mikroorganisme seperti bakteri, virus, dan parasit yang pada dasarnya tidak berasal dari dalam tubuh. Infeksi bisa terjadi pada satu area saja pada tubuh atau bisa menyebar melalui darah sehingga menjadi bersifat menyeluruh). Tanpa mengeluarkan suara sedikitpun Dave hanya memandang ke arah Laurel yang sibuk mengobati lukanya.
Dave memandang wajah Laurel dalam-dalam, memperhatikan setiap gerakan Laurel yang sedang mengobati luka di tangannya sambil menikmati kecantikan gadis itu, rasanya semakin lama dia semakin sulit untuk mengendalikan keinginannya untuk membuat Laurel selalu berada di sisinya, dan dia tidak tahu sampai kapan dia bisa menahan perasaannya terhadap gadis yang sedang serius mengobati luka di tangannya itu, apalagi dia tahu pasti bahwa sebenarnya gadis itu adalah miliknya, istrinya yang sah. Sebagai lelaki normal yang sudah menanti kedatangan Laurel selama 7 tahun lebih, dia sadar dirinya begitu menginginkan Laurel.
“Sudah selesai bos, saya akan kembali ke klinik,” Laurel bangkit dari posisi berlututnya di samping Dave, sedang Dave langsung menggerakkan kepalanya ke atas, mendongakkan kepalanya untuk memandang ke arah wajah Laurel yang sudah dalam posisi berdiri di sampingnya.
“Dokter Laurel,”
“Ya bos,” Laurel yang baru saja dalam posisi berdiri dan hendak membereskan baskom berisi air dan kotak obat di atas meja langsung menghentikan gerakannya begitu Dave menyebutkan namanya.
“Apa ada lagi yang bisa saya bantu?” Laurel meletakkan kembali baskom yang baru saja dipegangnya.
__ADS_1
“Walaupun undangan pesta ulang tahunku baru besok diadakan, bisakah aku meminta hadiahku sekarang?” Laurel sedikit tersentak mendengar kata-kata Dave.