
"Saya tidak tahu dokter Arman mendapat foto-foto itu darimana dan siapa yang menyampaikan berita tentang status pernikahan saya kepada dokter Arman. Tapi dok, bukannya semua itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan dokter, kenapa dokter begitu repot mencari-cari info tentang saya?" Dokter Arman tersenyum sinis mendengar pertanyaan Laurel.
"Apa ada yang salah apa yang baru aku katakan? Saya tahu dengan baik kedua pria di foto itu, walaupun salah satunya tidak jelas, tapi aku tahu betul siapa mereka, salah satunya jelas bos kita, dokter Dave Alexander Shaw, pimpinan dari rumah sakit Anugrah Indonesia sekaligus pewaris utama Shaw Corporation, sedang pria yang berdiri di depan kalian, Devan Amarta, pengusaha muda yang sukses membangun bisnisnya di negara ini, dan selama 5 tahun ini menjadi pembicaraan bagaimana dia sukses membangun kembali dan membesarkan perusahaan orangtuanya yang hampir bangkrut. Ternyata dokter Laurel hebat sekali ya, sampai diperebutkan oleh dua orang pria berpengaruh di kota ini?" Laurel hanya bisa menahan nafasnya mendengar perkataan dokter Arman yang justru membuat kepalanya sakit kepala.
"Apa yang dokter Arman katakan barusan tidak benar sama sekali. Saya tidak memiliki hubungan apapun dengan Devan Amarta seperti yang dokter Arman tuduhkan kepada saya. Saya tidak pernah mengganggu kehidupan dokter Arman, kenapa dokter selalu berusaha memojokkan saya? Bahkan sejak saya datang di rumah sakit ini?" Laurel benar-benar harus menahan emosi dalam dadanya, berusaha mengeluarkan kata-kata dengan nada tetap terdengar normal dan sopan, tanpa nada tinggi karena dia sadar dia sedang menghadapi orang yang jauh lebih tua darinya, karena itu dia harus tetap menaruh rasa hormat pada pria di depannya.
"Kamu pernah mendengar nama Rosiana? Dia keponakanku, sudah lama aku mencari kesempatan untuk membawanya kepada Bos, tapi kamu merusak semua rencanaku, bahkan karena keberadaanmu di rumah sakit ini, Bos memerintahkan kepada front office untuk menolak kedatangan Rosiana yang ingin melamar kerja di rumah sakit ini,"
"Saya tidak pernah meminta Bos untuk mencegah keponakan dokter Arman untuk menemui Bos, apalagi menghalangi keinginannya untuk bekerja di rumah sakit ini. Itu murni keinginan dari Bos untuk tidak menemuinya," Dokter Arman kembali tersenyum sinis mendengar pembelaan diri dari Laurel.
"Bagaimana bisa aku mempercayai perkataan wanita penggoda sepertimu?" Laurel menarik nafas panjang, saat ini hal yang benar-benar ingin dia lakukan adalah segera meninggalkan ruangan dokter Arman.
"Lalu, apa yang dokter Arman inginkan sekarang?"
"Jauhi bos, dan jelaskan kepada bos kenyataan bahwa kamu sebenarnya adalah seorang janda," Mendengar permintaan dokter Arman saat ini rasanya Laurel ingin tertawa terbahak-bahak. Jauhi bos? Itu hal yang paling ingin dia lakukan saat ini lebih dari apapun di dunia ini. Memberitahu bahwa dia seorang janda kepada Dave? Itu adalah hal paling tidak masuk akal yang diminta oleh dokter Arman, bagaimana bisa dia menjelaskan status pernikahannya kepada suaminya sendiri?
"Saya tidak punya kewajiban untuk memenuhi permintaan dokter Arman, dokter juga tidak punya hak memaksa saya melakukan itu. Sepertinya sudah tidak ada lagi yang perlu kita bahas, saya permisi," Laurel langsung membalikkan tubuhnya, berjalan ke arah pintu keluar ruangan dokter Arman, membuat dokter Arman kaget dan langsung berteriak.
"Kalau kamu tetap keras kepala, jangan salahkan aku kalau berita tentang keburukanmu akan segera tersebar di rumah sakit ini," Laurel membuka pintu ruangan dokter Arman, lalu menoleh ke arah dokter Arman sambil tersenyum.
"Lakukan apapun yang dokter Arman mau, saya tidak perduli," Laurel melangkahkan kakinya keluar, meninggalkan dokter Arman yang langsung menggebrak meja kerjanya dengan tangan kanannya.
Kalau berita keburukanku menyebar di rumah sakit ini dan membuat Dave membiarkanku meninggalkan rumah sakit ini, agar nama keluarga Shaw tidak dipermalukan, justru aku akan sangat bersyukur karena itu, Laurel berkata dalam hati sambil sedikit memegang kepalanya yang sedikit pusing karena kejadian barusan.
# # # # # # #
Siang ini Laurel sengaja menghabiskan waktu istirahatnya di kantornya, tidak ada keinginan untuk keluar ke kantin rumah sakit, apalagi makan siang di sana. Lusiana yang duduk di sebelahnya hanya bisa terdiam tanpa banyak bicara, hanya bisa menemaninya sambil mengisi perutnya dengan roti manis isi coklat dan segelas teh hangat.
"Lus, apa yang bisa kulakukan agar bisa segera meninggalkan rumah sakit ini?" Lusiana menarik nafas panjang mendengar pertanyaan Laurel, dengan apa yang dia lihat selama ini dan cerita dari Laurel, tampaknya adalah hal yang mustahil Dave akan membiarkannya meninggalkan rumah sakit ini.
"Ah, kenapa hubungan percintaan kalian serumit ini? Aku tidak tega melihatmu seperti ini Laurel. Andaikata aku bisa membantu kalian," Laurel tersenyum mendengar perkataan Lusiana.
"Tolong jangan mengasihani aku, aku tidak selemah yang kamu kira. Aku tidak suka dikasihani, toh sampai detik ini aku tetap baik-baik saja walaupun sudah melalui banyak hal," Lusiana meminum teh hangat di tangannya.
__ADS_1
Untuk beberapa saat Lusiana dan Laurel saling berdiam diri, berkutat dengan pikiran mereka masing-masing, sampai sebuah notifikasi dari handphone Lusiana berbunyi.
Begitu Lusiana mulai membaca pesan yang masuk, wajahnya berubah tegang dan matanya terbeliak, membut Laurel yang duduk di depannya melihatnya dengan wajah bertanya-tanya.
"Ada apa Lus?" Lusiana yang awalnya fokus memandang layar handphonenya mengangkat kepalanya, memandang ke arah Laurel dengan wajah bingung.
"Apa yang terjadi? Kenapa wajahmu terlihat kaget?" Laurel kembali bertanya kepada Lusiana dengan wajah gusar.
"Ini..., aku tidak tahu apakah ini perbuatan dokter Arman atau bukan. Apa mungkin dia benar-benar melakukan ancamannya kepadamu seperti yang dikatakannya tadi pagi. Coba kamu lihat ini," Lusiana menyodorkan handphonenya ke arah Laurel yang langsung meraihnya.
Mata Laurel sedikit terbeliak melihat pesan dari Nia kepada Lusiana menanyakan tentang foto-foto yang dia dapatkan dari seseorang, bukan hanya foto Laurel di bandara seperti yang ditunjukkan dokter Arman pagi tadi, tapi ada foto mereka di hotel, di kota X, dengan Dave terlihat sedang menggandeng tangannya berjalan memasuki kamar Dave. Wajah Laurel terlihat sangat jelas di foto itu, sedang wajah Dave terlihat dengan sengaja dikaburkan, sehingga orang sulit mengenali siapa laki-laki yang sedang bersama Laurel. Dan, foto-fotonya bersama Leo di bawah payung saat hujan waktu itu kembali lagi muncul disana.
Laurel menarik nafas panjang, selain foto-foto itu, Nia juga mem-forward (meneruskan kepada orang lain melalui pesan, bisa berupa foto, percakapan, video) percakapan beberapa orang yang bergunjing tentang Laurel.
Aku tidak menyangka, padahal dokter Laurel terlihat seperti gadis baik-baik, ternyata hobinya mendekati pria tampan dan kaya....
Aku tidak menyangka, ternyata sudah janda tho? hati-hati ya para istri, dijaga suaminya agar tidak diambil alih. Eh, suaminya meninggal mungkin sakit hati karena hobi selingkuhnya. Ha ha ha ha.
Waduh, kasihan dong para laki-laki kaya yang jadi korbannya? Kenapa harus jatuh ke tangan janda, padahal masih banyak gadis cantik diluar sana.
Amit-amit, janda tho ternyata? Cih, aku pikir masih gadis.
Mungkin dokter Laurel menggunakan ilmu pelet
Cantik-cantik wanita penggoda ternyata, padahal gayanya sok jadi wanita baik-baik.
Jangan asal menyebar fitnah, sebaiknya kita tanya dokter Laurel tentang kabar dan foto-foto itu.
Seorang wanita penggoda pasti punya banyak cara dan banyak alasan untuk membuat berita itu seolah-olah salah, dan dia hanya korban.
Bagaimana reputasi rumah sakit kita kalau di dalam rumah sakit kita ada seorang janda tidak bermoral diijinkan bekerja di rumah sakit ini?
Lusiana, itu pesan-pesan yang aku terima dari beberapa orang di rumah sakit ini, mereka pasti tidak berani mengirimkan ke kamu karena tahu kamu paling dekat dengan Laurel, apa yang harus kita lakukan untuk membersihkan nama Laurel? Aku tahu tidak semua orang percaya kabar burung seperti itu, bahkan ada yang marah-marah karena ada yang berusaha memfitnah Laurel. Tapi, bukannya kita seharusnya sebagai teman berusaha menanyakan kepada Laurel apa yang sebenarnya terjadi dan menjelaskan kepada semua orang tentang kesalahpahaman ini.
__ADS_1
Setelah membaca pesan terakhir yang berasal dari Nia, Laurel menyerahkan kembali handphone Lusiana, setelah itu dia menyandarkan punggungnnya ke sandaran kursi tanpa mengatakan sepatah katapun, membuat Lusiana memandang ke arahnya dengan wajah bingung.
"Laurel, apa yang harus aku tuliskan kepada Nia untuk menjawab pertanyaannya?"
"Biarkan saja, tidak perlu menjelaskan apapun, semakin mereka tidak menginginkan aku ada di rumah sakit ini, semakin bagus, jadi Bos bisa membiarkan aku pergi dari sini untuk menjaga image hebat rumah sakit ini. Aku justru senang Bos sedang tidak ada di rumah sakit saat ini, biarkan saja mereka semakin salah paham kepadaku," Lusiana membeliakkan matanya mendengar apa yang dikatakan Laurel yang terlihat acuh tak acuh, tidak perduli dengan nama baiknya.
"Laurel? Kamu serius akan memutuskan hubunganmu dengan Bos?" Mendengar pertanyaan Lusiana, Laurel mengalihkan wajahnya ke samping, tidak ingin Lusiana melihat matanya mulai terasa panas karena mulai berkaca-kaca dan jika dia biarkan, pasti airmatanya akan kembali keluar membasahi pipinya.
"Kamu..., apa benar-benar bisa melupakan Bos? Benar-benar bisa melepaskan cintamu kepada Bos?" Tanpa menjawab, Laurel bangkit dari duduknya.
"Sudah waktunya kembali bekerja," Setelah mengatakan itu, Laurel langsung berjalan mendekati pintu kantornya dan keluar, disusul oleh Lusiana yang berjalan dengan wajah bingung di belakangnya, sampai akhirnya mereka berpisah jalan karena posisi poliklinik tempat mereka bertugas berbeda lokasi.
Sepanjang Laurel berjalan dari kantornya ke poliklinik tempatnya bertugas dengan jelas Laurel melihat pandangan sinis dari beberapa pegawai rumah sakit, bahkan beberapa orang terlihat langsung saling berbisik begitu melihat dia lewat di dekat mereka, walaupun ada beberapa orang tetap tersenyum ramah kepadanya.
"Dokter Laurel, kita perlu bicara," Laurel langsung menahan nafasnya melihat sosok Hana dan dokter Arman yang berdiri di depannya dan mendengar permintaan dokter Arman untuk kembali berbicara dengannya.
"Apa masih ada yang perlu kita bicarakan lagi?" Hana sedikit mendengus kesal melihat Laurel yang terlihat bersikap tidak perduli dengan keberadaan mereka berdua.
"Aku harap kamu mau ikut dengan kami sebentar," Hana langsung berjalan ke arah taman, Laurel yang pada awalnya tidak ingin meladeni mereka, pada akhirnya mengikuti langkah-langkah mereka menuju taman.
Sesampainya di taman, Hana langsung membalikkan tubuhnya sehingga berhadap-hadapan dengan Laurel, dengan wajah yang jelas-jelas menunjukkan rasa tidak sukanya kepada Laurel.
"Untuk beberapa waktu ini aku sengaja berdiam diri, dengan susah payah aku berusaha melepaskan Bos, melihat bagaimana Bos begitu perduli padamu, tapi apa yang kamu lakukan? Bahkan kamu berani berselingkuh di belakangnya dengan banyak laki-laki lain. Sudah lama aku mendengar info bahwa kamu seorang janda yang sudah menyebabkan suamimu mati karena sakit hati, tapi aku berusaha tidak ambil pusing, tapi ternyata kamu benar-benar tidak tahu diuntung," Laurel memandang Hana dengan tatapan datar, tanpa emosi.
"Apa yang sebenarnya ingin dokter Hana katakan? Ingin mengatakan bahwa dokter Hana akan kembali mengejar Bos? Atau dokter Arman mau menjodohkan keponakan dokter dengan Bos? Lakukan apapun yang kalian inginkan, saya tidak perduli," Dokter Arman membeliakkan matanya mendengar perkataan Laurel yang jelas-jelas membocorkan rahasianya di depan Hana, yang selama ini sengaja dia dekati untuk melancarkan aksinya menjodohkan Dave dengan keponakannya, padahal dia sengaja mendekati Hana untuk dapat mendekati Dave, dengan berpura-pura mendukung Hana untuk mengejar Dave.
Dasar perusak rencana orang! Kalau kamu tidak ada di rumah sakit ini, keponakanku akan menikah dengan Bos dan dengan cepat aku bisa menjadi bagian dari keluarga Shaw! Dokter Arman berteriak dalam hati sambil melotot ke arah Laurel.
"Beraninya kamu bersikap sok dan tidak menghormati seniormu, memang dasar wanita murahan!" Tangan dokter Arman bergerak hendak menampar Laurel, tapi sebuah tangan langsung bergerak dengan cepat memegang pergelangan tangan dokter Arman.
"Beraninya menghalangiku!" Menyadari tangannya ditahan oleh seseorang dokter Arman langsung menoleh, dan langsung tersentak kaget begitu melihat Leo sudah berdiri di belakangnya dengan tangan kanannya memegang pergelangan tangan dokter Arman, menahan gerakan dokter Arman untuk memukul Laurel.
"Dok..., dokter Leo?" Dokter Arman langsung terlihat gugup begitu melihat kehadiran Leo yang langsung melepaskan kembali tangan dokter Arman begitu dokter Arman sudah mengetahui dia yang menahan tangan dokter Arman untuk tidak memukul Laurel.
__ADS_1
"Apa yang dokter Arman pikirkan, sampai-sampai berniat memukul wanita?" Wajah dokter Arman memerah mendengar pertanyaan yang sekaligus teguran dari Leo, yang menatapnya dengan tajam.
Sial, aku lupa selain Bos, dokter Leo selalu membela dokter Laurel. Aku pikir dengan tidak adanya Bos di sini sepanjang hari ini, aku bisa membuatnya jera, dokter Arman berkata dalam hati dengan mata berusaha menghindari tatapan Leo.