CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
TENTANG DAVE (1)


__ADS_3

Dave melirik ke arah wajah Laurel yang terlihat selain tegang tapi juga terlihat begitu tidak tenang, terlihat benar-benar gelisah, membuat Dave  mengernyitkan dahinya, tidak mengerti dengan sikap Laurel.


"Kenapa denganmu? Apa lukamu masih terasa begitu sakit?"


"Dave, aku tidak mau kamu mengobati lukaku," Laurel buru-buru mencegah Dave yang sudah bersiap untuk mengobatinya, tidak perduli dengan pertanyaan Dave barusan.


"Kenapa? Aku sudah bilang kepada Lusiana, mulai hari ini aku sendiri yang akan mengurus lukamu dan mengobat...,"


"Aku tidak mau...," Laurel memotong perkataan Dave dengan cepat, membuat Dave tersenyum.


"Memangnya dengan posisi luka di punggungmu kamu bisa mengobati sendiri lukamu?" Sambil bertanya kepada Laurel, Dave bergerak mendekat ke arah Laurel. Dengan sedikit membungkuk, Dave mengarahkan kedua lengannya ke arah tubuh Laurel. Salah satu lengan bergerak ke leher belakang Laurel, sedang lengan yang lain terarah ke lutut bagian belakang Laurel. Dengan gerakan cepat tanpa memberi kesempatan Laurel untuk protes, Dave mengangkat tubuh Laurel, membuatnya dari posisi duduk menjadi terbaring. Setelah itu Dave langsung duduk di pinggiran tempat tidur, bersiap untuk segera memulai melakukan pengobatan pada Laurel.


Karena tidak melihat adanya kesempatan untuk menghindar, dengan cepat Laurel menggerakkan tubuhnya agar dalam posisi tengkurap. Paling tidak dalam posisi tengkurap Laurel berharap Dave tidak akan bisa dengan jelas melihat bagian dadanya yang sedang tidak menggunakan penutup.


Dengan perlahan dan hati-hati Dave membuka pakaian tidur Laurel bagian atas dengan menariknya ke atas, lalu dengan gerakan lembut mulai membuka perban yang menutupi luka Laurel, sedang Laurel hanya bisa terdiam sambil menggigit bibirnya bagian bawah untuk mengendalikan kondisi hatinya yang saat ini bercampur aduk jadi satu antara malu, salah tingkah dan dada berdebar-debar karena Dave yang melihatnya dalam kondisi yang baginya sangat memalukan.


Ah, terserahlah, lihatlah sepuasnya kalau kamu mau melihat. Toh, aku akan membuatmu kamu hanya akan mendapatkan kesempatan untuk melihatnya saja, aku tidak akan membiarkanmu melakukan lebih dari itu! Laurel menggerutu dalam hati sambil mencoba menenangkan dadanya yang saat ini berdebar dengan keras, mencoba tidak memikirkan bagaimana Dave melihat tubuh bagian atasnya yang terlihat polos tanpa penutup.


Entah hanya perasaan Laurel atau memang begitu kenyataannya, hari ini dia merasa Dave menyelesaikan pengobatan pada lukanya dalam waktu yang begitu lama, jauh lebih lama dibanding biasanya Lusiana yang  melakukannya.


"Lukamu sudah mengering dengan baik, tidak perlu waktu lama pasti kamu sudah bisa beraktifitas dengan normal, dan tidak perlu lagi menutup lukamu dengan perban lagi, walaupun masih harus menghindarkan lukamu kontak dengan air," Laurel tetap diam seribu bahasa, tidak menanggapi perkataan Dave.


Kalau memang sudah, kembalikan pakaianku seperti semula, kenapa kamu justru berlama-lama seperti itu? Kamu bisa mengatakan itu nanti setelah pakaianku rapi kembali! Laurel mengomel dalam hati, rasanya dia ingin sekali langsung membalikkan tubuhnya dan menegur Dave, tapi saat ini, itu adalah hal yang sangat mustahil untuk dilakukannya, membuatnya hanya bisa terdiam tanpa berani bergerak.


Laurel harus menunggu untuk beberapa lama lagi, baru setelah itu dengan gerakan pelan dan lembut Dave kembali merapikan baju tidur Laurel bagian atas. Laurel berencana langsung memiringkan tubuhnya begitu tubuhnya sudah tertutup kembali dengan pakaiannya. Melihat itu, dengan cepat tangan Dave bergerak menahan kedua bahu Laurel dan membantunya untuk membalikkan badannya dan membuatnya kembali dalam posisi duduk di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Aku mau setelah ini Lusiana yang mengobatiku seperti biasanya," Dave tersenyum geli mendengar permintaan Laurel, dia bukannya tidak tahu apa yang dipikirkan Laurel tentangnya barusan, apalagi melihat semburat merah di wajah Laurel yang terlihat belum menghilang sama sekali.


"Kenapa? Apa kamu merasa malu padaku?" Begitu Dave bertanya tentang itu, Laurel langsung terdiam sambil mengalihkan pandangannya ke tempat lain.


"Dari awal aku sudah melihatnya, kamu tahu, saat kejadian itu aku sendiri yang menangani lukamu bersama Lusiana. Memangnya aku akan membiarkan dokter laki-laki lain menyentuh tubuhmu? Apalagi membiarkan mereka melihat bagian tubuhmu saat kejadian itu seperti hari ini? Aku tidak akan pernah membiarkan mereka mendapatkan kesempatan seperti itu barang sedetikpun," Dave berkata dengan tersenyum sambil memandang ke arah Laurel yang terlihat sedikit menelan ludah karena kata-kata Dave barusan.


"Toh, cepat atau lambat kamu akan menjadi milikku. Tidak ada bedanya aku melihatnya dulu, sekarang atau besok, juga tidak ada alasan bagimu untuk malu. Mulai sekarang kamu harus mulai membiasakan diri agar tidak canggung," Mendengar kata-kata Dave, Laurel langsung menoleh, menatap tajam ke arah Dave sambil melotot, sedang Dave yang duduk di samping tempat tidur Laurel dan mendapatkan tatapan tajam dari Laurel hanya tersenyum geli.


“Aku tidak akan membiarkanmu mendapatkan kesempatan itu Dave!” Dave langsung tergelak mendengar ancaman dari Laurel.


“Sampai kapan kamu mau menipu dirimu sendiri? Bibirmu mengatakan tidak, tapi baik tubuhmu dan tatapan matamu tidak pernah menunjukkan penolakan sedikitpun,” Mata Laurel langsung melotot mendengar apa yang baru saja dikatakan Dave.


"Istirahatlah dengan baik, aku akan kembali ke rumah sakit," Tanpa perduli dengan pelototan mata Laurel, Dave mengelus lengan kiri Laurel dengan lembut dan dengan gerakan cepat yang benar-benar tidak disangka oleh Laurel, Dave mencondongkan tubuhnya ke arah Laurel dengan cepat, mengecup telinga kiri Laurel lembut sambil berbisik dengan suara mesra.


"Cepatlah sembuh, aku tidak sabar menantikan saat-saat kamu menjadi milikku seutuhnya mo cuisle. I love you," Dengan gerakan tak kalah cepat dari sebelumnya, Dave langsung bergerak menjauh dari tubuh Laurel, bangkit dari duduknya dan meraih tas kerjanya, lalu berjalan menjauh dari tempat tidur, menghindari Laurel yang mungkin akan menyerangnya. Sekilas Dave melirik ke arah Laurel dan membiarkan Laurel yang masih terpaku di tempatnya dengan dadanya yang berdegup dengan sangat kencang karena kaget akibat tindakan dan kata-kata Dave barusan.


Laurel memandang ke arah kaca meja riasnya sambil menyisir rambutnya, luka di bahunya sudah tidak terlalu terasa sakitnya, membuat dia sudah mulai bisa melakukan aktifitas sehari-harinya dengan normal.


Suara nada dering di handphonenya membuat Laurel menghentikan kegiatannya dan meraih handphonenya yang tergeletak di atas meja rias.


“Hallo Lus,”


“Laurel, aku sudah mendapatkan info tentang kejadian 7 tahun lalu, seperti yang kamu minta,” Laurel langsung tersenyum mendengar kata-kata Lusiana. Selama dia tidak masuk kerja, Laurel memiliki banyak waktu luang untuk berpikir, ataupun mengingat-ingat kejadian di  masa lalu, salah satunya kejadian penusukan 7 tahun lalu yang dialaminya. Laurel begitu penasaran ingin mengetahui siapa dokter yang sudah menolongnya saat itu. Karena 7 tahun lalu dia juga dilarikan ke rumah sakit Anugrah Indonesia, dia meminta tolong Lusiana untuk mencari info yang mungkin bisa membawanya untuk mengetahui siapa dokter yang sudah menolongnya.


“Kamu benar-benar tidak akan menyangka siapa yang sudah menolongmu 7 tahun lalu,” Laurel mengernyitkan keningnya mendengar suara Lusiana yang terdengar begitu bersemangat.

__ADS_1


“Apa dokter itu masih bekerja di rumah sakit kita? Apa info yang kamu dapat benar-benar bisa dipercaya?”


“Aku jamin, karena aku mendengar info ini bukan dari satu orang saja,” Lusiana langsung menjawab dengan pasti.


“Lalu, siapa dokter itu?” Laurel bertanya sambil menggigit bibir bawahnya,  begitu penasaran dengan jawaban Lusiana berikutnya.


“Dia adalah Bos kita, suamimu sendiri yang sudah menyelamatkanmu 7 tahun lalu,”


“Apa? Jangan bercanda. Itu tidak mungkin, mereka tidak memiliki ciri-ciri fisik yang sama. Pasti ada kesalahan info,” Lusiana yang mendengar protes dari Laurel hanya tersenyum geli.


“Aku sudah mengecek ke beberapa pegawai yang sudah bekerja di rumah sakit ini lebih dari 7 tahun, juga daftar dokter jaga yang bertugas malam tepat terjadinya penusukanmu, menuliskan nama Bos di sana sebagai salah satu dokter jaga di IGD. Bahkan, beberapa dari mereka yang ingat kejadian hari itu mengatakan kalau Bos sendiri yang menolongmu dan melakukan tindakan malam itu,” Laurel tertegun mendengar penjelasan Lusiana, karena jelas-jelas dokter yang menolongnya memiliki mata bewarna coklat, sedang mata Dave, jelas-jelas bewarna biru.


“Tapi Lus, seperti yang pernah aku ceritakan, dokter itu memiliki warna rambut senada dengan Bos, tapi mata mereka berbeda, mata Bos jelas-jelas bewarna biru, sedang warna mata dokter itu bewarna coklat. Walaupun aku setengah sadar dan tidak malam itu, sehingga aku tidak ingat wajah dokter itu, tapi aku ingat dengan jelas mata coklat dokter itu,” Laurel mencoba mematahkan analisa Lusiana tentang Bos yang sudah menolongnya malam itu.


“Eh, iya!” Lusiana berkata dengan nada sedikit keras mendengar perkataan Laurel, karena ada sesuatu yang baru diingatnya.


“Aku lupa menjelaskan padamu, menurut info dari Mira, yang ternyata saudara sepupu Bos, dulu bos suka memakai softlens untuk menutupi warna biru matanya agar tidak terlalu menarik perhatian, walaupun tentu saja menurutku itu tidak akan terlalu membantu, karena pada dasarnya wajah Bos tetap saja terlihat bule, heheheh. Tapi, kata Mira beberapa tahun ini Bos sudah tidak pernah memakai softlens lagi,” Laurel terbeliak kaget mendengar kata-kata Lusiana, karena penjelasan tentang softlens cukup masuk akal untuk mengubah warna mata seseorang.


“Mira? Saudara sepupu Bos? Jadi itu yang kamu ceritakan barusan itu semuanya benar? Tujuh tahun lalu Bos yang sudah menolongku? Dokter yang selama ini aku cari-cari adalah Dave?” Laurel bertanya dengan dahinya mengernyit, membuat kedua alisnya berdekatan.


“Yap! Betul! Seratus persen aku yakin!” Lusiana langsung menjawab pertanyaan Laurel dengan cepat, sedang Laurel hanya bisa terdiam seribu bahasa mendengar itu.


Dokter yang selama ini begitu sering dia bayangkan sosoknya, begitu ingin dia temui karena telah menyelamatkannya 7 tahun lalu. Ternyata sosok yang dia cari selama ini berada begitu dekat dengannya, bahkan memiliki hubungan yang tidak biasa dengannya. Kebenaran yang baru saja dia dengar siang ini dari Lusiana benar-benar membuatnya terkejut. Laurel menahan nafasnya sekilas, pantas saja sejak pertama bertemu Dave, pandangan mata Dave selalu mengingatkannya kepada pandangan mata dokter yang malam itu sudah menyelamatkannya.


Ah, berapa banyak rahasia lagi yang aku belum tahu tentang kamu Dave? Apakah rahasia-rahasia itu justru akan membuat kita semakin dekat atau membuat kita semakin menjauh? Laurel berbisik dalam hati sambil menarik nafas panjang.

__ADS_1


 


 


__ADS_2