CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
CEMBURU?


__ADS_3

Ketika semua tamu sudah mulai berpamitan untuk pulang, Laurel memilih duduk di salah satu kursi yang ada di salah satu sudut tempat pesta, ditemani oleh Mama Rosalia yang wajahnya menunjukkan begitu lelah tapi senyum bahagia tetap mengembang di bibirnya, sedang Dave dan papanya masih asyik mengobrol dengan para tamu pria yang tampaknya membicarakan tentang bisnis mereka.


Dasar pengusaha, dimanapun kalian tetap akan mencari kesempatan untuk membicarakan bisnis kalian, Laurel berkata dalam hari dengan matanya masih menatap ke arah suaminya yang sebenarnya beberapa kali menunjukkan gerakan memandang ke arah Laurel, tapi tampaknya sulit baginya untuk mengakhiri pembicaraan itu karena ada papanya di situ, berusaha untuk tetap menahannya di sana, membuat Laurel sedikit tersenyum geli, karena menyadari sepenuhnya wajah Dave yang tampak lelah dan ingin segera mendekat ke arahnya.


“Ah, melelahkan sekali, tapi mama suka sekali dengan pesta malam ini. Bagaimana denganmu Laurel?” Laurel tersenyum mendengar pertanyaan mertuanya.


“Tidak alasan untuk Laurel tidak menyukainya ma. Terimakasih karena papa dan mama sudah begitu bersusah payah menyiapkan pesta ini untuk kami,” Mama Rosalia dengan wajah tersenyumnya menggerakkan tangannnya untuk menarik tangan Laurel, mengenggamnya dan meletakkan ke pangkuannya.


“Mama begitu senang melihat bagaimana kamu mencintai Dave, bagaimana kamu membuat wajah Dave begitu dipenuhi dengan aura bahagia karena mendapatkan cinta darimu. Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi mama selain melihat Dave dan kamu kembali bersatu,”


“Tante…,” Laurel dan Mama Rosalia langsung menoleh ke arah asal suara, terlihat Meria yang datang mendekat bersama dengan Evelyn dan Leo.


“Iya Meria? Apa ada yang mau kamu sampaikan kepada Tante?” Meria tersenyum ke arah Mama Rosalia sambil melirik sekilas ke arah Laurel yang memilih untuk memandang ke arah lain, berusaha untuk tidak ikut terlibat dalam pembicaraan mereka.


“Meria mengatakan dia baru akan kembali hari Selasa,” Evelyn mewakili Meria untuk mengatakan tentang rencana Meria beberapa hari ke depan.


“Kalau Tante mengijinkan, bolehkan Meria menginap di rumah besar?” Mama Rosalia tertawa.


“Tentu saja, sejak kapan kamu perlu minta ijin kalau mau menginap di sini? Bukannya sudah pernah tante bilang kalau kapanpun kamu ingin menginap di rumah ini, kami akan selalu menerima kehadiranmu dengan senang hati,” Meria tersenyum mendengar jawaban dari Mama Rosalia yang terlihat tidak menunjukkan keberatan sama sekali, membuktikan bahwa Meria memiliki tempat khusus di hati Keluarga Shaw.


“Terimakasih Tante, kalau begitu bolehkah Meria tidur di kamar tamu lantai dua?” Mendengar permintaan Meria, Leo dengan reflek menggerakkan punggung tangannya ke arah punggung tangan Evelyn, memberi kode kepada Evelyn untuk mencegah keinginan Meria untuk tidur di kamar tamu yang disebutkan oleh Meria, karena Leo tahu kamar itu terletak tepat bersebelahan dengan kamar Dave.


“Eh, lebih baik kamu tidur denganku malam ini, sudah 6 bulan kita tidak bertemu, aku ingin banyak bercerita denganmu,” Evelyn langsung meraih tangan Meria, menunjukkan dia begitu ingin menghabiskan waktu dengan Meria, membuat wajah Meria berubah salah tingkah, bahkan kaget karena apa yang dikatakan Evelyn membuatnya tidak bisa mendapatkan apa yang sedang direncanakan dan diinginkannya.

__ADS_1


“Sepertinya memang sebaiknya kamu bersama Evelyn malam ini, tidak baik mengganggu pasangan yang masih dalam suasana bulan madu mereka,” Laurel sedikit tersentak mendengar perkataan dari Leo, yang jelas-jelas terdengar seperti menyindir Meria, membuat gadis itu hanya bisa terdiam dengan wajah terlihat sedikit jengkel, tapi dalam hitungan detik dia langsung membuat wajahnya menjadi memelas, sehingga membuat Mama Rosalia tidak bisa melihat perubahan wajah Meria.


“Kak Leo, apa maksud Kak Leo, aku tidak mengerti sama sekali, aku hanya ingin tidur di rumah besar sambil mengenang masa lalu saat kita masih sama-sama tumbuh sampai remaja dan menghabiskan waktu kita untuk bermain dan belajar di rumah besar. Aku tidak ada pikiran untuk mengganggu Kak Dave dan Kak Laurel," Leo tersenyum menanggapi perkataan Meria.


“Tidak ada apa-apa, aku hanya bercanda, tapi memang ada baiknya kamu bersama Evelyn malam ini, dia bilang dia sangat merindukanmu. Temanilah Evelyn untuk malam ini,” Leo berkata sambil menatap ke arah Mama Rosalia untuk meminta persetujuannya.


“Iya Mer, malam ini temani Evelyn supaya dia bisa mengobati rasa kangennya padamu, bukannya sejak dulu setiap ke sini kamu juga selalu tidur di kamar Evelyn?” Akhirnya Leo menarik nafas lega mendengar Mama Rosalia juga mendukung sarannya untuk membuat Meria tidur bersama Evelyn malam ini, karena bagi Mama Rosalia, Leo sudah seperti anaknya sendiri, jadi sedikit banyak dia seringkali mendengarkan apa yang dikatakan Leo.


“Baiklah, untuk malam ini aku akan menemani Evelyn,” Leo dan Evelyn saling melirik tanpa sepengetahuan Mama Rosalia, merasa senang mereka berhasil membuat Meria menjauh dari kamar tamu yang ada di sebelah kamar Dave.


“Ma, Laurel pamit ke dalam untuk mengganti pakaian,” Laurel yang merasa tidak ingin ikut dalam pembicaraan mereka memilih untuk ijin masuk ke rumah terlebih dahulu, membuat Mama Rosalia memandang dalam-dalam ke arah wajah Laurel yang memang sudah menunjukkan wajah lelah.


“Gantilah pakaianmu, dan tidak perlu kembali ke sini. Beristirahatlah, kamu juga baru saja sembuh dari lukamu. Nanti mama yang akan bilang kepada Dave kamu ingin beristirahat lebih dahulu,” Laurel langsung mengangguk dan bangkit berdiri, dan tanpa berkata-kata lagi Laurel langsung berjalan meninggalkan mereka berempat.


# # # # # # #


Siapa sebenarnya Meria, apa yang pernah terjadi antara Meria dan Dave di masa lalu, dan apa yang diinginkan Meria sekarang membuat pikiran Laurel berputar-putar, mencoba menebaknya.


Walaupun Laurel sadar dari cara Meria memandang Dave terlihat bahwa gadis itu begitu menyukai Dave, namun sikap Leo yang tampak tidak bersahabat membuatnya berpikir keras mencoba menebak apa yang pernah terjadi dengan Meria, mengingat Leo bukanlah seorang yang dengan gampang menunjukkan wajah tidak sukanya kepada seseorang. Tapi, malam ini dengan jelas Laurel bisa melihat bagaimana pandangan mata Leo yang tidak bersahabat saat menatap sosok Meria.


Laurel yang masih memandangi wajahnya di kaca yang terletak di kamar mandi Dave menatap ke arah tubuhnya yang saat ini hanya terbalut dengan sebuah handuk, rasanya kejadian yang terjadi di sepanjang pesta hari ini selain membuatnya bahagia juga begitu membuatnya lelah, termasuk kejadian yang berkaitan dengan Meria, karena membuatnya tidak nyaman, sehingga membuatnya berusaha menyegarkan dirinya dengan mandi.


Ketika Laurel berjalan menuju pintu kamar mandi, dia baru sadar kalau dia lupa untuk membawa baju gantinya ke kamar mandi, membuatnya harus membuka pintu kamar mandi dengan perlahan-lahan dan mengamati sekelilingnya, memastikan tidak ada orang lain yang sedang berada di kamar tersebut.

__ADS_1


Laurel baru saja ingin memastikan pintu kamarnya tertutup dan ingin mengunci pintu kamar tersebut ketika tiba-tiba saja Dave membuka pintu kamar dan hampir menabrak tubuh Laurel yang hanya mengenakan selembar handuk di tubuhnya, membuat dengan cepat Dave melangkah masuk ke dalam kamarnya dan menutup kembali pintu, juga langsung menguncinya, tidak ingin ada seorangpun memiliki kesempatan untuk melihat tubuh Laurel yang hanya terbalut handuk.


“Laurel, apa yang sedang kamu lakukan tanpa mengunci pintu dengan tubuh hanya terbalut handuk seperti itu?” Mendengar pertanyaan Dave, Laurel langsung menundukkan kepalanya dengan wajah terlihat begitu merasa bersalah, membuat Dave tersenyum.


“Apa yang terjadi? Apa kamu sengaja melakukan itu untuk menggodaku?” Laurel tersentak kaget mendengar pertanyaan Dave, kepalanya langsung mendongak memandang wajah suaminya yang masih menyungingkan senyum di wajahnya, bahkan senyum ditambah dengan pandangan mata yang menggoda, dengan pandangan mata menjelajah untuk mengamati tubuh Laurel.


“Maaf, aku tidak sengaja, tadi aku buru-buru ke kamar mandi dan lupa untuk membawa pakaian ganti,” Laurel baru saja berencana untuk menjauh dari Dave, hendak mengambil pakaian tidurnya ketika tangan Dave dengan cepat meraih tubuh Laurel untuk mendekat ke arahnya, dan tanpa menunggu lama, Dave mengarahkan bibirnya ke leher Laurel, menciumnya dan memberikan beberapa tanda kepemilikannya di sana. Bau harum dan segar dari tubuh Laurel yang baru saja mandi justru membuat Dave semakin bergairah untuk menciumi leher Laurel, membuat Laurel bergerak, sedikit menjauhkan tubuhnya dari Dave.


“Dave…,”


“Hmm…,” Mendengar suara Laurel memanggil namanya Dave menghentikan tindakannya sejenak, namun beberapa detik kemudian dia kembali mendekatkan bibirnya ke bibir Laurel, menikmati lembutnya bibir Laurel, menghisap dan me..lu..matnya, lalu bergerak ke arah leher bagian depan Laurel, dengan kedua lengannya melingkar di pinggang Laurel.


“Kenapa mo cuisle? Malam ini kamu harus bertanggungjawab atas apa yang sudah kamu lakukan padaku sedari pagi tadi, disamping itu…, bukannya kamu ingin membuktikan bahwa kamu sedang tidak bermimpi hari ini?” Dave berbisik pelan ke arah telinga Laurel sembil tetap sibuk menciumi seluruh wajah dan leher Laurel.


Laurel sedikit menggigit bibirnya mendengar perkataan Dave, karena pikiran Laurel tentang Meria cukup membuatnya terganggu sehingga dia tidak merespon tindakan Dave terhadapnya, dan tidak perlu menunggu lama, Dave merasakan ada yang salah dengan Laurel, membuatnya menghentikan tindakannya, sedikit menjauhkan tubuhnya dari Laurel dan memandang wajah Laurel dalam-dalam.


“Kenapa denganmu? Apa yang terjadi padamu?” Laurel terdiam sesaat, sampai akhirnya dia memutuskan untuk mengeluarkan suaranya.


“Siapa Meria bagimu Dave?” Dave sedikit tersentak mendengar pertanyaan Laurel, namun beberapa saat kemudian Dave tersenyum.


“Apa kamu cemburu?” Dave bertanya dengan wajahnya mengamati wajah Laurel dengan serius, dalam hatinya merasa begitu senang melihat bagaimana Laurel terlihat tidak nyaman melihat dia dekat dengan wanita lain, rasa cemburu yang selama ini belum pernah sekalipun Laurel tunjukkan kepadanya.


“Tidak,” Laurel menjawab cepat.

__ADS_1


“Benarkah? Selama ini aku tidak pernah sekalipun mendengar kamu menanyakan hubunganku dengan seorang wanita dengan wajah begitu masam seperti malam ini,” Dave berkata sambil memberikan ciuman mesra di dada Laurel, dan lagi-lagi meninggalkan tanda kepemilikannya di sana, meninggalkan bekas bewarna merah di area itu, setelah itu Dave memandang ke arah wajah Laurel, menatapnya dalam-dalam, mencoba mencari jawaban kenapa istrinya bersikap aneh terhadapnya malam ini.


Laurel langsung berusaha mengalihkan wajahnya dari pandangan Dave karena dari mata Dave, karena saat ini Laurel merasa benar-benar ditelanjangi oleh Dave, bagaimana dia bisa menjawab tidak atas pertanyaan Dave, sedangkan saat ini hatinya begitu tidak nyaman mengingat bagaimana cara Meria memandang laki-lakinya dan berusaha selalu berada di dekat suaminya, laki-laki yang merupakan miliknya dimana dia tidak akan pernah mau berbagi dengan wanita lain.


__ADS_2