CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
STATUSKU SELAMA JAM KERJA


__ADS_3

“Apa kamu baik-baik saja?” Laurel yang berusaha bangun dari tidurnya, awalnya berencana untuk membersihkan diri dan bersiap untuk bekerja menoleh ke arah Dave mendengar pertanyaan Dave barusan.


“Kenapa? Apa kamu baru sadar tentang perbuatanmu tadi malam hampir saja meremukkan seluruh tulang-tulangku?” Laurel bertanya sambil tersenyum manis ke arah Dave, membuat Dave hanya bisa membalasnya dengan senyuman juga, walaupun senyuman geli karena kata-kata Laurel barusan yang menunjukkan bagaimana semalam tindakannya sudah membuat tenaga Laurel begitu banyak terkuras karena berusaha memanjakannya sesuai janji Laurel sebelumnya.


“Kemarilah sebentar, mo cuisle,” Dave menarik lengan Laurel lembut, dan begitu tubuh Laurel berada di dekatnya, Dave langsung memeluknya dengan erat dalam posisi berbaring di tempat tidur, dengan mesra diciumnya kening Laurel sambil telapak tangan kirinya mengelus kepala bagian belakang Laurel dengan lembut berulang-ulang.


"Terimakasih untuk cintamu padaku yang sudah kamu tunjukkan semalam," Dave berbisik pelan dengan nada begitu mesra, membuat Laurel hanya bisa tersenyum kecil dengan wajah memerah.


“Sudah bertahun-tahun aku memimpikan saat mataku terbuka dari tidurku, melihat wajahmu yang sedang tertidur di sisiku dan berada dalam pelukanku. Karena itu, aku selalu berusaha untuk bangun lebih awal darimu, agar setiap pagi aku tidak kehilangan kesempatan untuk menikmati wajah damaimu dalam tidur,” Laurel menarik nafas dalam-dalam mendengar kata-kata Dave, tangan kanannya bergerak ke arah wajah Dave dan mengelus lembut wajah suaminya dengan ujung-ujung jarinya yang lentik, membuat Dave sekali-sekali mencium jari-jari Laurel yang bergerak di wajahnya.


“Kalau begitu, sampai kapanpun kamu tidak akan memberiku kesempatan untuk melihat wajahmu saat tertidur?” Dave tersenyum mendengar pertanyaan Laurel.


“Entahlah, tapi kamu bisa mengambil kesempatan lain, seperti kemarin aku tertidur di pangkuanmu, pasti kamu sudah puas mengamati wajahku yang sedang tertidur,” Laurel tertawa mendengar apa yang barusan dikatakan Dave.


“Kamu curang, setiap pagi kamu ingin melihatku, sedangkan untuk mendapatkan kesempatan kamu tertidur di jam lain pasti tidak akan mudah, kemarin hanya karena aku beruntung,” Dave langsung menarik lembut hidung Laurel mendengar protesnya, membuat Laurel memanyunkan bibirnya ke depan.


“Kalau begitu aku memberimu kesempatan, dalam 7 hari kamu boleh bangun lebih awal dariku sehari,” Dave menyampaikan penawarannya.


“4 hari,” Laurel menjawab cepat.


“2 hari,” Dave langsung membalasnya.


“Tidak, aku mau 3 hari,” Laurel berkata sambil mendekatkan wajahnya ke arah Dave, membuat Dave terdiam sesaat, dan Laurel tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mencium bibir Dave dengan lembut sekilas.


“3 hari atau akan mengambil semua kesempatanmu yang 4 hari dan kamu kehilangan kesempatan untuk aku memanjakanmu selama seminggu ini,” Dave langsung melotot mendengar perkataan Laurel, dan dengan gerakan cepat, Dave langsung menggerakkan tubuhnya dalam posisi berada di atas tubuh Laurel dengan kedua lututnya menumpu di atas tempat tidur dan kedua telapak tangannya berada di kanan kiri tubuh Laurel, dengan tubuh Laurel berada di antara kaki dan tangan Dave.


“Sejak kapan istriku mulai berani mengancam?” Dave berkata sambil menundukkan wajahnya, lalu menghujani Laurel dengan ciuman di seluruh wajah Laurel, membuat Laurel tertawa karena geli.


“Aku mana berani mengancammu Mr. Shaw? Aku hanya sedang melakukan tawar menawar denganmu,” Dave tertawa mendengar suara rengekan dari Laurel yang terdengar manja, yang sebenarnya cukup membuatnya tergoda untuk mengulang lagi kegiatan mereka semalam, tapi melihat aura lelah yang masih terlihat jelas di wajah istrinya, Dave lebih memilih untuk menyingkir dari dari tubuh Laurel, duduk di pinggiran tempat tidur lalu menarik tubuh istrinya agar bangun dari berbaringnya.

__ADS_1


“Ayo kita mandi bersama, sudah siang,” Laurel sedikit terbeliak mendengar perkataan Dave.


“Mandi bersama?” Laurel yang masih menutup tubuhnya dengan erat menggunakan selimut bertanya dengan suara terdengar ragu-ragu, membuat Dave tersenyum dan mendekatkan wajahnya kembali ke arah Laurel.


“Kenapa? Masih malu? Aku sudah berkali-kali melihat seluruh tubuhmu tanpa sehelai benang sedikitpun,” Mendengar perkataan Dave, sontak wajah Laurel langsung memerah.


“Tapi…, tetap saja…,” Dave mengecup kening Laurel lembut, membuat Laurel tidak jadi meneruskan kata-katanya.


“Ok, tidak hari ini, tapi ke depannya aku berharap kita selalu bersama, bahkan untuk urusan mandi,” Tanpa menunggu jawaban dari Laurel, Dave langsung bangkit berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi. Laurel hanya bisa memandang tubuh Dave yang hanya mengenakan celana boxernya (Pada dasarnya, boxer adalah celana pendek longgar berbahan katun atau wol yang mengutamakan kenyamanan dengan posisi karet di pinggang dan kaki celana mencapai tengah paha. Awalnya dikenakan oleh para petinju agar mereka dapat bergerak bebas di atas ring. Bentuk boxer saat ini diperkenalkan oleh Jacob Colomb, pendiri perusahaan perlengkapan olahraga dan pakaian merek Everlast, pada tahun 1925 sebagai alternatif celana berikat pinggang kulit yang biasanya para petinju pakai. Boxer memang tidak menyediakan support yang baik untuk bagian genitalia, tapi muncul dalam berbagai bahan dan corak menarik. Sebaiknya, boxer tidak digunakan untuk kegiatan yang membutuhkan banyak gerakan dan dijadikan celana tidur saja karena memberikan sirkulasi udara terbaik untuk bagian genitalia. Boxer juga akan membuat bagian pinggang Anda tampak menggembung secara tidak alamiah jika dipakai bersamaan dengan celana panjang bahan).


Mau tidak mau Laurel harus mengakui bahwa Dave memiliki bentuk tubuh atletis yang begitu sempurna bagi seorang pria, apalagi didukung oleh tinggi badannya yang di atas 185 cm. Bahkan saat Laurel hanya memandang bagian punggung suaminya itu, membuat Laurel harus tersenyum dengan wajah sedikit memerah, apalagi ingatannya pagi ini sejak dia terbangun dari tidurnya begitu sulit lepas dari ingatan kejadian tadi malam bersama Dave.


Aduh, kenapa pikiranku jadi mesum begini? Sadarkan dirimu Laurel, sekarang bukan saatnya memikirkan tentang hal seperti itu, Laurel merutuk dalam hati dan buru-buru menggeleng-gelengkan kepalanya dan dengan sedikit melompat turun dari tempat tidur dan mengenakan kembali pakaian tidurnya untuk menghilangkan bayangan di pikirannya tentang apa yang sudah dialaminya semalam, bagaimana Dave begitu memanjakan dan memperlakukannya dengan lembut dan mesra, membuat Laurel tenggelam dalam rasa bahagia karena Dave menunjukkan bahwa dirinya begitu dicintai oleh Dave. Dengan gerakan cepat, Laurel segera berjalan ke arah walk in closet kamarnya, mendekati lemari pakaian, mulai memilih dan mengambil pakaian baik untuk Dave dan dia sendiri untuk mereka kenakan hari ini.


# # # # # # #


Dave masih menikmati sarapannya ketika Laurel menghentikan makan paginya, meletakkan garpu dan sendoknya dalam posisi terbalik, menandakan dia sudah menyelesaikan makannya.


"Iya, kenapa? Kamu sudah tidak membutuhkan mobil itu kan?" Laurel menarik nafas panjang mendengar pertanyaan Dave.


"Apa karena kamu juga punya andil dalam membeli mobil itu makanya kamu juga merasa berhak mengaturnya?" Dave mengernyitkan dahinya mendengar apa yang baru saja diucapkan Laurel.


"Aku tidak pernah mengungkit apapun yang sudah aku berikan kepada orang lain," Dave merengkuh bahu Laurel yang duduk di sampingnya dan memeluknya dengan erat.


"Apa yang ada di pikiranmu? Jangan membuat pikiranmu bertambah rumit. Mobil itu milik Freya. Tidak bagus juga kamu terlalu lama meminjamnya, kalau dia membutuhkan dia akan segan memintanya, jadi lebih baik aku mengembalikannya," Laurel melirik ke arah Dave sekilas.


"Iya juga sih, kalau begitu mulai sekarang aku harus mulai berpikir untuk membeli kendaraan sendiri," Dave langsung melotot mendengar perkataan Laurel.


"Hei, mulai hari ini kita akan berangkat bersama, kenapa kamu meributkan soal kendaraanmu sendiri? Aku juga sudah sejak lama menyiapkan mobil untukmu, kamu hanya tinggal memakainya saja, lagipula sebenarnya tidak ada alasan kamu memakai mobil sendiri untuk beberapa waktu ke depan, karena kamu akan ikut bersamaku saat berangkat dan pulang kerja," Laurel menjauhkan tubuhnya dari Dave, lalu siku tangan kanannya menumpu pada meja makan di depannya, sehingga posisi tubuhnya sedikit miring dengan wajah menghadap ke arah Dave.

__ADS_1


"Dave, walaupun secara status aku adalah istrimu, istri dari kepala rumah sakit tempatku bekerja, aku tidak mau mendapatkan perlakuan istimewa, selama jam kerja aku adalah dokter Laurel, dokter spesialis penyakit dalam yang bekerja sebagai pegawai rumah sakit Anugrah Indonesia," Dave tersenyum mendengar perkataan Laurel.


"Lalu?" Dave bertanya singkat untuk menanggapi pernyataan Laurel tentang statusnya di rumah sakit.


"Lalu? Dave..., ayolah..., kamu pasti tahu dengan jelas apa maksudku," Dave tersenyum mendengar nada manja saat Laurel berkata-kata barusan.


"Jadi? Selama bekerja aku tidak boleh mendekatimu? Tidak boleh memandangmu? Tidak boleh memanggilmu ke kantorku? Tidak boleh mencarimu? Tidak boleh menemuimu? Tidak boleh memanggil namamu?" Laurel terkikik mendengar pertanyaan-pertanyaan dari Dave.


"Sudah berapa lama kita menikah?" Dave mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Laurel.


"7 tahun," Dave menjawab cepat.


"Hmmm, iya, di surat nikah kita memang tertulis 7 tahun. Lalu, berapa lama aku bekerja di rumah sakit Anugrah Indonesia?" Laurel berkata dengan suara pelan seolah-olah sedang berkata dengan dirinya sendiri.


"Hampir 4 bulan," Begitu Dave menjawab hampir 4 bulan, Laurel langsung melingkarkan kedua tangannya ke leher Dave.


"Lalu? Apa bedanya kamu sekarang dengan 4 bulan lalu. Perlakukan saja aku sama dengan 4 bulan lalu saat aku baru pertama masuk rumah sakitmu dan belum tahu tentang statusku," Laurel berkata sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Dave.


"Ishhhh..., gampang sekali kamu meminta hal seperti itu, padahal sekarang saja aku sudah tidak tahan membayangkan setelah sampai rumah sakit kita harus berpisah selama 4-5 jam sebelum jam makan siang. Apalagi, kamu tidak tahu betapa selama 3 bulan ini kamu membuatku benar-benar tersiksa dengan keberadaanmu di dekatku tanpa aku bisa mendekatimu," Laurel tertawa mendengar perkataan Dave yang baginya seperti anak kecil yang sedang merajuk kepada mamanya.


"Pokoknya, di dalam jam kerja, aku hanya seorang pegawai rumah sakit, bukan istri dari pimpinan rumah sakit. Selain itu aku mau menjalankan jadwalku seperti semula. Jadwal piket malamku tetap akan aku jalankan sesuai jadwal yang sudah ada, aku tidak mau ada perlakuan istimewa," Laurel melepas pelukannya dari leher Dave, dan bangkit berdiri.


Dave hanya bisa menahan nafasnya, karena baru saja dia berpikir untuk meminta Mira mengganti semua jadwal kerja Laurel agar sesedikit mungkin mendapatkan jadwal piket malam. Sebagai pimpinan rumah sakit tentu saja Dave tidak pernah mendapatkan jadwal jaga malam, (kecuali keadaan mendesak yang mengharuskan dia sendiri yang menangani pasien seperti kasus kecelakaan sepupunya waktu itu. Dia menangani kasus itu atas keinginan pribadi, bukan tugas dari rumah sakit karena sebenarnya sudah ada dokter lain yang bertugas, namun dia mengambil alih tugas itu) yang artinya dia sebagai suami Laurel harus mengikhlaskan dirinya untuk tidak bertemu Laurel sepanjang hari jika Laurel sedang mendapatkan jadwal tugas malam, bahkan di saat-saat tertentu bisa saja kondisi mengharuskan Laurel untuk menginap di rumah sakit.


"Ayo kita berangkat," Laurel yang sudah berjalan beberapa langkah menjauhi meja makan menghentikan langkahnya dan kembali berbalik melihat Dave yang masih duduk termenung di kursi meja makan, membuat Laurel berjalan mendekatinya kembali.


Dave yang masih dalam posisi duduk sedikit tersentak begitu menyadari Laurel yang berdiri di belakangnya tiba-tiba memeluk tubuhnya dari belakang.


"Dave...," Laurel berbisik pelan sambil membungkukkan tubuhnya yang sedang memeluk Dave, dengan kepalanya berada di antara bahu dan leher Dave. Mendengar bisikan lembut Laurel, Dave menggerakkan kepalanya ke samping, ke arah wajah Laurel.

__ADS_1


"Untuk semangatmu sepanjang hari ini," Begitu Dave memalingkan wajahnya ke arah Laurel, Laurel langsung mencium bibir Dave dengan mesra untuk beberapa saat.


"Ayo, kita berangkat bekerja," Laurel langsung menarik lengan Dave dengan manja setelah dia melepaskan bibirnya dari bibir Dave yang langsung tersenyum dan mengikuti Laurel untuk berjalan keluar dari rumah ke arah mobil yang sudah siap terparkir di depan pintu rumah mereka.


__ADS_2