CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
KEPUTUSAN LEO


__ADS_3

"Pergi? Apa maksud Kak Leo? Aku tidak ada rencana pergi besok...," Leo menarik nafas panjang mendengar perkataan Evelyn yang tampaknya juga kaget kenapa tiba-tiba Leo memegang pergelangan tangannya dengan erat barusan tanpa alasan jelas.


"Ah..., maaf Evelyn. Aku tidak bermaksud mengatakan itu," Leo berkata dengan nada pelan untuk menjawab kebingungan Evelyn, namun justru membuat Evelyn semakin bingung dengan sikap Leo yang tidak seperti biasanya, baik sikap dan kata-katanya.


"Sebaiknya kamu masuk, ada sesuatu yanag harus aku kerjakan sekarang di rumah," Leo langsung mengalihkan pembicaraan agar Evelyn tidak lagi mempertanyakan maksud dari kata-kata yang diucapkannya sebelumnya.


“Oooo…. Iya Kak. Kalau begitu aku akan masuk. Hati-hati di jalan Kak Leo,” Evelyn kembali tersenyum sebelum akhirnya menutup pintu mobil dan berjalan memasuki restaurannya.


Leo memandang ke arah samping, mengamati sosok Evelyn sampai menghilang dari pandangannya setelah memasuki restaurannya. Dengan keras Leo menghembuskan udara di hidungnya, dengan tangan terkepal dan memukul setir yang ada di depannya dengan sedikit keras, setelah itu Leo menghenyakkan tubuhnya di sandaran kursi mobilnya dengan kasar.


Sadarkan dirimu Leo! Apa yang kamu harapkan! Kendalikan dirimu sendiri! Jangan menjadi seorang pria brengsek yang akan membuat Evelyn kecewa jika tahu tentang apa yang sedang kamu pikirkan tentang Evelyn saat ini! Kenapa tiba-tiba kamu berpikir untuk mendapatkan hati Evelyn untuk dirimu sendiri padahal selama ini kamu sudah berjanji untuk menjadi Kakak yang baik baginya! Membantunya menemukan laki-laki terbaik untuknya! Lagi-lagi Leo memaki dirinya sendiri dalam hati sebelum akhirnya dia kembali mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk menenangkan dirinya, walaupun pada kenyataannya sampai Leo memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya, hati dan pikirannya tetap saja tidak tenang memikirkan bagaimana besok Evelyn memiliki janji pertemuan dengan James, dan entah apa yang akan dibicarakan mereka pada pertemuan mereka besok.


# # # # # # #


Leo yang sedang duduk bersandar di atas tempat tidurnya memandang ke arah televisi yang menyala di depannya sambil melipat kedua tangannya di depan perutnya. Acara drama komedi yang sedang disiarkan oleh televisi di depannya tampak tidak bisa membuatnya tersenyum sedikitpun sejak tadi.


Sejak mengantarkan Evelyn ke restaurannya kembali tadi sebelum akhirnya dia pulang dengan mengendarai mobilnya seperti orang gila yang sedang mabuk karena pikirannya yang kacau, Leo memilih untuk segera mandi dan menikmati acara televisi di kamarnya. Berusaha menjernihkan pikirannya yang sedikit kacau hari ini.


Setelah bosan melihat drama komedi yang bahkan tidak bisa menghibur hatinya sedikitpun, Leo mematikan televisinya dan memilih untuk merebahkan tubuhnya dengan pandangan mata kosong ke arah langit-langit kamarnya yang bewarna putih bersih. Tanpa disadarinya, Leo pikiran Leo kembali teringat dengan kejadian tadi sore di rumah Dave dan Laurel, saat dia mengantar Evelyn. Bayangan tentang sosok James dan bagaimana tadi di mobil Leo sempat mendengar percakapan antara Lurel dan Evelyn tentang rencana Evelyn untuk bertemu dengan James besok siang, yang entah untuk urusan apa sudah membuat dada Leo tiba-tiba terasa sakit.


Belum lagi Leo mencoba mencari jawaban kenapa dia begitu tidak menyukai sosok James yang sebenarnya di pertemuan mereka sore itu, saat mereka bersama melakukan penggerebekan di rumah Devan, James merupakan sosok laki-laki tampan yang ramah dan menyenangkan, tiba-tiba saja Leo terbayang dengan wajah ceria Evelyn dan senyum manisnya tadi saat mereka berdua sedang bersama di mobil Leo.


Tangan Leo bergerak ke arah kepalanya dan memukul-mukul keningnya begitu tiba-tiba saja dia membayangkan bisa mencium bibir Evelyn. Bahkan hanya dengan membayangkan itu saja Leo harus berusaha keras untuk tidak membiarkan dirinya menelan ludahnya sendiri.


Sial! Kenapa aku tiba-tiba menjadi seorang pria mesum? Membayangkan sesuatu yang tidak-tidak bersama Evelyn! Leo merutuk dalam hati sambil meraih bantal yang ada di sampingnya dan menutupkannya ke wajahnya sendiri, mencoba keras menghilangkan bayangan Evelyn di pikirannya, yang entah kenapa sepanjang hari ini begitu memenuhi pikirannnya.


Setelah beberapa lama berusaha menenangkan pikirannya, dan tampakya tidak berhasil, Leo bangkit dari posisi tidurnya, berjalan ke arah jendela besar di kamarnya yang langsung menghadap ke arah taman samping rumahnya. Dengan gerakan sedikit kasar Leo membuka pintu yang ada diantara jendela kamarnya yang langsung menghubungkan kamarnya dengan balkon kamarnya.


Kamar Leo yang berada di lantai dua bangunan rumahnya, membuat angin malam langsung menerpa tubuhnya dengan cukup kencang. Dengan tatapan tidak fokus, Leo menatap ke arah bangku beton bercat hijau yang ada di taman di bawah tempatnya sedang berdiri.


Warna hijau, Evelyn menyukai warna biru, seharusnya kursi beton itu dicat biru, bukan hijau, Leo berbisik dalam hati sambil pandangan matanya beralih ke arah taman dimana ada beberapa macam bunga yang sengaja ditanam oleh mamanya sendiri yang kebetulan sangat suka bercocok tanam.

__ADS_1


Di taman rumah Leo dipenuhi oleh berbagai bunga, mulai dari bunga geranium (Bunga geranium atau dikenal juga dengan tapak dara selain bunganya beraneka warna, bunga geranium juga sering dimanfaatkan untuk bahan wewangian. Tanaman ini sangat cocok ditanam di wilayah tropis karena dapat beradaptasi dengan baik dengan cuaca panas. Selain itu, bunga geranium jugadapat dijadikan tanaman hias sekaligus pengusir nyamuk) dan beberapa tanaman hias lain seperti mawar, bunga Gaillardia (dilihat sekilas bentuk bunga ini seperti bunga matahari, karena memang termasuk dalam keluaraga bunga matahari (Asteraceae atau Compositae) berasal dari Amerika, disebut juga dengan nama blanketflower atau firewheel), bougenville, bayam hias dan bahkan cemara dengan berbagai jenis, mulai dari cemara udang, cemara kipas, dan cemara norfolk tampak tersusun rapi membuat pemandangan di taman rumah Leo terlihat begitu asri.


Setiap kali Evelyn bersantai di taman ini tangannya pasti dengan usil memetik daun cemara kipas (Evelyn sengaja selalu mengambil daun dari cemara kipas yang memang tidak tajam daunnya dibanding dengan cemara norfolk apalagi cemara udang), meremas dengan jari-jari lentiknya setelah itu sibuk menciumi baunya yang katanya begitu menyegarkan dan membuatnya ketagihan, Leo berkata dalam hati sambil menarik nafas dalam-dalam, dan tanpa sadar bibirnya menyunggingkan senyum di bibirnya karena ingatannya tentang wajah menggemaskan Evelyn saat sibuk meremas daun cemara dan menciumnya dengan menarik nafas dalam-dalam.


Pemandangan asri di taman rumah Leo semakin terlihat menyegarkan mata ditambah dengan susunan tanaman sayur yang rapi dengan sistem hidroponik yang berada di sisi lain samping rumahnya. Tanaman hidoponik yang tampak subur, yang juga merupakan hobi mamanya sehingga terlihat begitu terawat dan menyegarkan mata, juga menggiurkan lidah, serasa ingin memetik dan segera memasak dan memakannya, belum lagi selain sayuran, Mama Leo juga menanam buah stroberi yang tambah menggoda dengan ukurannya yang cukup besar dan warna merah menyalanya.


(Tanaman hidroponik merupakan tanaman yang media tanamnya tidak berupa tanah. Teknik menanam hidroponik ini umumnya menggunakan media tanam berupa air. Terdapat berbagai jenis tanaman yang bisa tumbuh subur dengan menggunakan teknik menanam hidroponik, ada juga yang tidak. Tetapi, dapat dikatakan bahwa penanaman secara hidroponik ini bisa menghasilkan tanaman yang sehat. Karena, tanaman hidroponik tidak membutuhkan herbisida ataupun pestisida yang beracun).


Setiap Evelyn berkunjung ke sini biasanya dia yang akan memanen tanaman hidroponik Mama dan akan seharian berkutat di dapur bersama Mama untuk memasaknya, lagi-lagi Leo berkata dalam hati, dan dia cukup tersentak kaget menyadari bahwa keinginannya untuk menyegarkan pikirannya justru kembali membayangkan sosok Evelyn dengan segala kebiasaannya saat berkunjung ke rumahnya.


Dengan menarik nafas panjang akhirnya Leo memilih untuk kembali ke dalam kamarnya, menutup pintu yang menghubungkan kamarnya dengan balkon rapat-rapat, dan menarik tirai kain di depannya agar menutupi baik seluruh jendela maupun pintu kaca di depannya. Setelah itu dengan langkah pasti Leo mendekati tempat tidurnya, meraih handphone yang tergeletak di atas tempat tidurnya, mencari sebuah nama yang tersimpan di kontak handphonenya dan melakukan panggilan.


“Hallo,” Dave yang sedang memainkan pianonya dengan Laurel yang duduk di sampingnya, dengan kepala menyandar dengan mesra di bahu Dave langsung menghentikan permainan pianonya dan menjawab panggilan telepon dari Leo.


“Dave, besok pagi aku ijin untuk pulang cepat. Besok aku hanya bisa masuk setengah hari saja. Ada sesuatu yang harus aku selesaikan,” Dave langsung tersenyum mendengar kata-kata Leo yang terdengar diucapkan dengan begitu terburu-buru dan jelas sedang dalam kondisi hati yang tidak baik.


“Ok, tidak masalah, besok aku akan mengaturkan untukmu agar besok kamu bisa meninggalkan rumah sakit lebih awal. Tapi Leo…, apa ada sesuatu yang terjadi padamu? Sepertinya kamu sedang dalam kondisi tidak terlalu baik?” Dave bertanya dengan matanya melirik ke arah Laurel yang sejak awal Dave menerima panggilan telepon dari Leo begitu fokus melihat dan mendengarkan pembicaraan mereka berdua.


“Tidak…, tidak ada yang terjadi,”


“Tidak, aku harus menyelesaikan masalah ini sendiri. Maaf besok aku harus merepotkanmu…,”


“It’s ok Leo. Jangan khawatir, selesaikan urusanmu supaya ke depannya kamu bisa merasa lebih tenang,” Dave langsung memotong perkataan Leo.


Mendengar perkataan Dave, Leo sedikit bernafas lega, merasa mendapatkan dukungan bahwa apa yang akan dia lakukan besok merupakan sesuatu yang benar harus dilakukan olehnya sebelum semuanya menjadi lebih tidak terkendali. Leo sebagai sahabat Dave selama lebih dari 20 tahun juga yakin bahwa sahabatnya itu akan selalu siap mendukungnya saat dia memerlukan bantuan, sama seperti dirinya yang selalu siap mendukung Dave di saat seburuk apapun.


Begitu Leo memutuskan panggilannya dengan Dave, Laurel langsung memandangi wajah Dave dengan wajah penuh dengan rasa ingin tahu, membuat Dave gemas dan langsung mencubit kecil kedua pipi Laurel yang langsung memajukan bibirnya, menyipitkan matanya sambil membalas cubitan Dave di kedua pipinya, membuat Dave langsung tertawa geli.


“Ayolah Dave…, ceritakan padaku, apa ynag baru saja dikatakan oleh Leo? Kenapa dia menelponmu malam-malam begini?” Dave mengerlingkan matanya mendengar Laurel yang begitu penasaran dengan apa yang baru Leo bicarakan dengannya.


“Leo meminta ijin padaku besok hanya akan masuk kerja setengah hari…, dia meminta ijin untuk pulang lebih cepat dari biasanya,”

__ADS_1


“Dan…?”


“Dan, besok pasti ada sesuatu yang besar yang akan terjadi antara Leo dan Evelyn. Aku yakin itu,” Dave langsung menyambung kata-kata Laurel yang diucapkan Laurel dengan nada ragu.


Mendengar jawaban Dave, Laurel langsung tersenyum, membayangkan apa yang sudah mereka rencanakan tentang hubungan Leo dan Evelyn akan berjalan dengan baik. Dan sepertinya, besok Leo akan melakukan sesuatu agar hubungan Evelyn dan James tidak berkembang ke arah lain.


Di tempat lain, begitu memutus sambungan telponnya dengan Dave, Leo yang masih duduk termangu di atas tempat tidurnya sambil memainkan handphonenya berusaha menyunggingkan senyum di wajahnya karena keputusannya yang sudah bulat malam ini.


Bagaimanapun aku harus melakukan sesuatu sebelum terlambat dan menyesal di kemudian hari. Good night my little princess, Leo berkata dalam hati sambil berusaha keras memejamkan matanya agar besok dia siap menghadapi harinya.


# # # # # # #


“Ya Kak Dave, aku akan menunggu Kak James  sebelum keluar untuk bertemu klienku,” Evelyn menjawab pertanyaan Dave via telepon dengannya.


“Iya Kak, jangan khawatir, semua yang Kak Dave butuhkan sudah aku masukkan dalam amplop dan aku sudah menyegelnya dengan rapi,” Evelyn kembali menjawab pertanyaan Dave dari seberang sana sambil tangannya membuka laci meja kerja yang ada di kantornya.


Mendengar suara ketukan pelan di pintu kantornya, Evelyn menghentikan kegiatannya sebentar dan mengangkat kepalanya lalu mengalihkan pandangan matanya dari laci mejanya ke arah pintu kantornya.


“Sebentar,” Evelyn berkata dengan nada agak keras untuk menjawab orang yang berada di balik pintu kantornya yang barusan mengetuk pintu kantornya.


“Eh, Kak Dave, aku tutup ya teleponnya, mungkin itu Kak James yang  datang,” Evelyn berkata sambil bangkit dari duduknya.


“Ok, salamku buat James ya,”


“Ok, Kak Dave,” Setelah menutup panggilan teleponnya, Evelyn meletakkan hanpdhonenya di atas meja kerjanya, dengan mata menatap ke arah pintu kantornya, setelah itu dengan langkah cepat Evelyn berjalan menuju pintu kantornya dan membukanya.


“Hai Evelyn, aku diminta datang oleh Dave dan Ornado untuk mengambil file yang kata mereka sudah kamu siapkan,” Evelyn langsung tersenyum melihat kehadiran James dan mendengar sapaannya.


“Ayo Kak James, masuklah ke kantorku,” Evelyn langsung mempersilahkan James masuk ke kantornya.


Belum lagi Evelyn menutup pintu kantornya setelah James melangkah masuk ke dalam, tiba-tiba sosok Leo muncul di dekat Evelyn dan menghalangi Evelyn menutup pintu kantornya dengan cara mengganjalkan kakinya di antara kusen (Kusen Kusen adalah salah satu bagian dari konstruksi bangunan yang berfungsi untuk membentuk hubungan, baik antara sebuah dinding pasangan bata, beton ataupun kayu dengan pintu atau jendela. Ukuran pintu biasanya dibuat disesuaikan dengan tempat dimana Daun pintu itu akan di tempatkan) dan daun pintu dan kantor Evelyn, membuat Evelyn langsung menoleh kaget, tidak menyangka kehadiran Leo yang begitu tiba-tiba, apalagi langsung meletakkan kakinya sebagai ganjal pintu kantornya yang awalnya sudah hampir dia tutup kembali.

__ADS_1


 


 


__ADS_2