CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
BOLEHKAH AKU KEMBALI KE SISIMU?


__ADS_3

Suara ketukan di pintu kamar Laurel membuat Laurel bangkit dari kursinya yang ada di samping jendela kamarnya, sekilas diliriknya langit yang sudah mulai gelap sebelum dia melangkah ke arah pintu kamarnya.


“Non, ada tamu,” Begitu Laurel membuka pintu kamarnya, Rita langsung memberi info kepada Laurel sedang ada tamu yang mengunjunginya.


“Siapa? Tuan Dave?” Rita langsung menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan dari Laurel.


“Bukan non, saya tidak kenal. Tamunya laki-laki, katanya teman sekolah Non Laurel dulu,” Laurel mengernyitkan dahinya, rasanya dia sedang tidak ada janji bertemu dengan siapapun.


“Baiklah, bawakan minuman dan cookies ke ruang tamu,”


“Baik Non,” Rita langsung beranjak pergi setelah mendengar perintah dari Laurel, sedang Laurel sendiri sambil mengira-ira siapa yang datang, berjalan ke arah ruang tamu.


Untuk beberapa saat Laurel terhenyak dan diam dalam posisi berdirinya di ruang tamu, karena dilihatnya sosok Devan yang berdiri membelakanginya, sedang mengamati ruang tamunya. Laurel mengamati sosok laki-laki itu sebentar sebelum melangkah ke arahnya.


Sosokmu tetap menarik seperti dulu, bahkan dengan bertambahnya usia membuat kamu semakin menawan, tapi entah kenapa, kehadiranmu tidak lagi membuatku berdebar sama sekali, mungkin memang waktu 7 tahun telah mengikis habis rasa cintaku padamu. Saat ini memandangmu tidak lagi ada perbedaan, sama seperti saat aku memandang laki-laki lain yang aku kenal, Laurel berbisik dalam hati dan kembali berjalan ke arah Devan.


Mendengar suara langkah seseorang mendekat, Devan langsung membalikkan tubuhnya, begitu melihat sosok Laurel, Devan langsung tersenyum ke arah gadis itu.


“Selamat malam Laurel,”


“Ada perlu apa kamu berkunjung kemari?” Laurel bertanya dengan wajah terlihat datar tanpa emosi, sengaja tidak mempersilahkan Devan untuk duduk di sofa ruang tamunya, karena memang tidak ingin Devan berlama-lama berada di rumahnya.


“Begitukah caramu menyambut seorang teman lama yang datang berkunjung ke rumahmu?” Devan bertanya sambil tetap tersenyum mendengar nada suara Laurel yang acuh tak acuh, karena dia sadar betul dengan alasan apapun, dia adalah orang yang paling bersalah dengan kejadian 7 tahun lalu.


“Aku tidak tahu apakah seorang yang sudah berkhianat tetap pantas dianggap sebagai seorang teman,” Devan menarik nafasnya dalam-dalam mendengar perkataan Laurel yang menusuk hatinya, dan dia tahu, semuanya adalah salahnya, Laurel tidak bersalah sedikitpun atas peristiwa yang terjadi 7 tahun lalu. Devan memandang ke arah Laurel dengan tatapan dipenuhi oleh rasa rindu yang menggebu-gebu.


“Apa kamu tidak  akan mempersilahkanku duduk?” Laurel menarik nafas panjang mendengar pertanyaan Devan.


“Kalau kamu datang kesini untuk meminta maaf, sebaiknya kamu segera pulang, aku sudah memaafkanmu sejak lama, jadi tidak ada gunanya kamu meminta maaf, karena sudah tidak ada yang perlu dimaafkan,” Devan terdiam sesaat sebelum menanggapi perkataan Laurel dengan wajah datarnya.

__ADS_1


Aku merindukan tawa manis yang menunjukkan lesung pipitmu, tawa yang tidak pernah bisa aku lupakan sampai dengan detik ini. Aku berjuang dengan keras meraih semua yang saat ini aku capai untuk menunggu hari ini. Hari dimana aku bisa mengungkapkan kebenaran 7 tahun lalu dan membawamu kembali ke sisiku, Devan berkata dalam hati dengan matanya memandang Laurel dalam-dalam tanpa ada niat untuk mengalihkan pandangannya, seolah-olah jika dia mengalihkan pandangannya dari gadis itu, maka gadis itu akan menghilang dari hadapannya.


"Laurel, aku datang kesini karena aku berhutang sesuatu tentang 7 tahun yang lalu. Aku berhutang sebuah penjelasan kepadamu," Laurel menatap ke arah Devan tanpa menjawab sepatah katapun, membiarkan Devan hanya bisa tersenyum getir melihat bagaimana gadis yang dulu begitu manja padanya, membawa kebahagiaan dan begitu dicintainya sekarang bersikap sedatar itu kepadanya.


"Aku hanya punya waktu 5 menit untuk mendengar penjelasanmu, aku baru saja melakukan perjalanan yang tidak sebentar, aku harus beristirahat," Devan menganggukkan kepalanya dengan pelan dan wajah pasrah.


"Kedatanganku di bandara tadi sore bukan suatu kebetulan. Setelah kembali dari Australia 5 tahun lalu, selama 5 tahun ini aku berusaha mencari info tentang keberadaanmu, dan aku baru saja mendapatkan info dari salah seorang teman baru beberapa bulan ini kamu kembali ke Indonesia dan bekerja di rumah sakit Anugrah Indonesia. Aku mendapatkan info kamu kembali dari kota X hari ini. Karena itu aku sengaja mencari kesempatan untuk bertemu denganmu, tapi aku tidak menyangka kamu pergi bersama dengan suamimu," Laurel tersentak kaget, dengan kedua keningnya berkerut karena heran dengan perkataan Devan barusan. Suaminya? Darimana Devan tahu bahwa Dave adalah suaminya? Apa Devan menyimpulkannya sendiri karena melihat lengan Dave yang melingkar di bahunya tadi saat bertemu Devan? Atau sebelumnya mereka sudah pernah bertemu satu dengan yang lain?


"Aku tidak memiliki kesempatan untuk memberikan penjelasan apapun padamu karena keberadaan suamimu, karena itu aku memberanikan diri untuk datang ke rumahmu sekarang ini," Lagi-lagi apa yang dikatakan Devan terlihat ganjil bagi Laurel.


"Di bandara kamu tidak mau mengatakan apa-apa karena keberadaan suamiku, tapi kamu justru nekat datang ke rumahku, kamu ingin sekarang aku memanggil suamiku agar ikut mendengarkan apa yang akan kamu katakan padaku?" Devan tersenyum mendengar ancaman Laurel.


"Aku datang ke sini karena aku tahu selama ini hubunganmu dengan suamimu tidak seperti yang aku bayangkan. Aku tahu suamimu tidak ada di rumah ini, tidak tinggal serumah denganmu. Aku begitu bodoh tidak secepatnya menemuimu begitu mendengar kamu kembali ke Indonesia. Seharusnya saat itu aku bisa mencegahmu untuk bergabung dengan rumah sakit Anugrah Indonesia," Mata Laurel membulat karena melotot mendengar Devan mengetahui kondisi hubungannya dengan Dave sampai sedetail itu.


"A..., apa maksudmu Devan?" Devan berjalan mendekat ke arah Laurel, membuat Laurel langsung bergerak mundur untuk menjauhinya.


"Aku sudah mengetahui bahwa 7 tahun lalu kamu meninggalkannya di hari pernikahan kalian, melarikan diri ke Amerika selama 7 tahun, tapi kenapa begitu kamu kembali ke Indonesia justru kamu bekerja di rumah sakit yang dipimpinnya? Apa kamu ingin memperbaiki hubunganmu dengan suamimu yang sudah terbengkalai selama 7 tahun ini?"


"Aku bersalah padamu, tapi percayalah, aku masih begitu mencintaimu. Kamu harus mendengarkan penjelasanku, setelah itu silahkan jika kamu tetap membenciku. Kalau saat ini kamu berencana memperbaiki hubunganmu dengan suamimu, lebih baik kamu dengarkan dulu apa yang akan aku jelaskan, agar kamu tidak menyesal. Suamimu bukanlah orang yang baik, seperti yang mungkin kamu pikirkan selama ini," Devan menahan nafasnya sebelum meneruskan perkataannya.


"7 tahun lalu keluarga Shaw menemui papaku, meminta agar aku pergi meninggalkanmu, kembali ke Australia karena anak pertama mereka, pewaris utama keluarga Shaw, Dave Alexander Shaw, menginginkanmu untuk dijadikan istrinya. Mereka menawarkan sejumlah besar suntikan dana kepada papaku yang saat itu kondisi perusahaan memang sedang goyang karena kekurangan dana untuk investasi mesin-mesin modern, untuk meningkatkan daya saing dengan perusahaan sejenis. Bahkan Tania, gadis asal Inggris yang seringkali berfoto denganku sebagai pacarku, aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya. Dia sengaja dibayar oleh papaku untuk membuatmu melupakan aku. Selama 2 tahun aku tidak diperbolehkan kembali ke Indonesia sebagai syarat lainnya. Tolong kamu mengerti, saat itu kondisi papaku sangat terjepit, kamu tahu betapa besar kekuasaan keluarga Shaw di kota ini, bahkan di negara ini." Laurel terhenyak mendengar perkataan Devan.


"Apa katamu? Jadi kamu menjualku kepada keluarga Shaw? Jadi..., selama ini bukan hanya keluargaku, bahkan kekasihku juga menjualku kepada laki-laki lain karena uang?" Devan sedikit menundukkan kepalanya sambil menarik nafas dalam-dalam mendengar perkataan Laurel yang diucapkannya dengan nada tinggi, menunjukkan bahwa gadis itu sedang dalam keadaan sangat marah.


"Aku tahu aku bersalah, bisakah aku menebus kesalahanku? Selama 5 tahun ini aku berjuang keras untuk membesarkan perusahaan papaku. Aku bertekad setelah meraih kesuksesan, aku akan mengembalikan uang yang sudah diberikan keluarga Shaw beserta bunganya, berapapun itu, aku akan membayarnya sampai tidak tertinggal satu sen pun sebagai hutang. Ijinkan aku membawamu kembali ke sisiku. Kali ini aku akan melindungimu dengan seluruh kekuatanku. Aku tidak akan membiarkan siapapun merebutmu kembali," Laurel menarik nafas panjang sambil memejamkan matanya sekilas.


"Aku tidak ada urusan apapun dengan hutang keluarga kalian. Bagaimana aku bisa kembali kepada laki-laki yang mengaku mencintaiku tapi rela menyerahkanku kepada laki-laki lain karena uang?"


"Ke depannya aku harap kamu tidak lagi menemuiku dengan alasan apapun, aku tidak mau Dave salah paham dengan keberadaanmu di sekitarku, hubungan kita sudah berakhir sejak 7 tahun lalu," Laurel meneruskan bicaranya, membuat Devan mengepalkan tangan kanannya mendengar bagaimana Laurel menyebutkan nama Dave dengan begitu lembut di depannya.

__ADS_1


Devan menarik nafas panjang sambil menutup kedua matanya rapat-rapat untuk beberapa saat, sebelum akhirnya dia melanjutkan penjelasannya, yang dia tahu pasti hanya itu satu-satunya jalan yang bisa di pikirkannya saat ini untuk memisahkan Laurel dari Dave.


"Kamu bisa membenciku karena aku menyerah tentang hubungan kita 7 tahun lalu, tapi Dave juga tidak pantas menerima cinta darimu. Bagaimana kamu bisa menerima laki-laki yang ikut terlibat dalam kehancuran usaha papamu? Membuat hampir semua asset yang dimiliki papamu disita oleh negara, membuat papamu meninggal karena stress memikirkan kehancuran hidupnya? Bahkan membuat papamu harus mendekam di penjara beberapa waktu untuk kesalahan yang tidak pernah dia lakukan? Bagaimana kamu bisa bersama dengan laki-laki yang sudah melakukan hal yang begitu buruk pada keluargamu?" Mata Laurel melotot kaget mendengar perkataan Devan, wajahnya berubah pucat, sepucat kapas, dadanya terasa begitu nyeri, dan tiba-tiba kakinya terasa begitu lemas, membuatnya jatuh terduduk di lantai.


Apa itu benar? Dave? Apa benar kamu setega itu kepada keluargaku? Apa salah keluargaku padamu? Laurel berbisik dalam hati dengan airmata yang sudah tidak bisa ditahannya lagi, mengingat bagimana dengan mata kepalanya sendiri dia melihat bagaimana kondisi papanya yang terpuruk saat itu, menghadapi kehancuran usahanya, menghadapi dakwaan bahwa dengan sengaja dia membuat makanan dari bahan yang tidak tersertifikasi secara kesehatan, bukan bahan yang harusnya digunakan untuk bahan baku makanan dan menyebabkan keracunan pada beberapa orang, dituduh melakukan semua itu hanya untuk mendapatkan keuntungan yang berlipat-lipat, selain itu juga harus menghadapi tagihan hutang dari bank.


Devan memandang wajah Laurel dalam-dalam, wajah yang terlihat begitu pucat, shock dan dipenuhi oleh airmata, dengan perlahan Devan mendekat ke arah Laurel, tangan Devan terulur ke arah Laurel, namun dengan cepat Laurel menggeser tubuhnya yang jatuh terduduk di atas lantai ruang tamunya untuk menjauh.


"Jangan mendekat! jangan menyentuhku! Lebih baik kamu pulang sekarang. Aku tidak mau mendengar apapun lagi darimu," Devan hanya bisa menarik nafas panjang mendengar apa yang dikatakan oleh Laurel.


"Aku akan pulang sekarang, kalau kamu butuh bantuan, apapun itu, hubungi aku. Aku pastikan aku akan selalu ada untukmu," Akhirnya dengan hati berat Devan berjalan meninggalkan Laurel yang masih terduduk di lantai, dan begitu Devan menghilang dari pandangannya, Laurel menangis sekeras-kerasnya sambil memegang dadanya yang saat ini benar-benar terasa begitu sakit.


# # # # # # #


Laurel memandang wajahnya di kaca yang tergantung di atas wastafel yang ada di kamar mandinya, dikeringkannya air yang baru saja dia gunakan untuk membersihkan wajahnya dari air matanya, diliriknya handphonenya yang ada di meja marmer sebelah wastafel. Sambil menarik nafas dalam-dalam Laurel meraih handphonenya, menekan sebuah nomer telepon dari daftar kontaknya.


"Hallo," Suara lembut Dave langsung terdengar dari seberang sana.


"Apa kamu sibuk malam ini? Bisakah kita bertemu sebentar?" Dave tersenyum mendengar pertanyaan Laurel.


"Apa kamu tidak merasa lelah setelah perjalanan tadi? Aku ada di rumah kaca, apa perlu aku ke rumahmu sekarang?"


"Tidak perlu, aku yang akan kesana, aku sudah bersiap untuk berangkat," Dave sedikit mengernyitkan dahinya mendengar suara Laurel yang terdengar serius, bahkan tegang, dan terkesan ngotot untuk segera bertemu dengannya. Bagi Dave, suara Laurel hari ini terdengar begitu berbeda dari biasanya, tidak ada sedikitpun nada ceria dalam suaranya.


"Apa kamu baik-baik saja Laurel?" Laurel berusaha menahan airmatanya yang hampir saja kembali turun mendengar Dave menanyakan tentang kondisinya.


"Tunggu saja aku, aku akan segera kesana," Tanpa menunggu respon dari Dave, Laurel menutup panggilan teleponnya, diangkatnya kepalanya, memandang ke arah langit-langit kamar mandi, mencegah air matanya agar tidak turun lagi.


 

__ADS_1


 


__ADS_2