CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
KEPUTUSAN AKHIR


__ADS_3

“Papa tidak berhak mengatakan itu! Papa tidak berhak untuk menyalahkanku! Keluarga kita yang selama ini selalu mengatakan padaku lakukan apapun untuk masuk menjadi anggota keluarga Shaw!” Meria berteriak sambil matanya menatap tajam ke arah papanya dengan tangannya masih memegang pipinya yang barusan ditampar oleh papanya. Dada Meria terasa begitu sakit, mengingat selama ini dia melakukan apa yang diinginkan oleh keluarganya namun hari ini dia merasa menjadi satu-satunya orang yang dikorbankan.


“Meria!” Mama Meria langsung menarik tubuh Meria agar menjauh dari papanya sebelum suaminya semakin marah kepada Meria.


Mama Meria yang masih memegang pergelangan tangan Meria dengan erat tersentak begitu Meria mengebaskan tangannya dari pegangan tangan mamanya. Sejak kecil sebagai anak perempuannya yang paling kecil dan paling dimanjakan oleh papanya, dari kecil Meria memang tidak sepandai kedua kakaknya, secara kemampuan akademis maupun bidang lainnya tidak ada yang menonjol. Kedekatan keluarga Meria dengan keluarga Shaw membuat Meria sedari kecil sudah ditanamkan pemikiran oleh orangtuanya untuk berusaha keras agar kelak bisa menjadi menantu dari keluarga Shaw. Mama Meria sadar betul apa yang dilakukan oleh Meria saat ini bukan hanya kesalahan Meria, tapi kesalahan dari seluruh keluarganya karena selama ini selalu mendorong Meria untuk mencari cara agar bisa menjadi menantu di keluarga Shaw. Mengingat itu Mama Meria hanya bisa menarik nafas dalam-dalam, melihat bagaimana ambisi dan keserakahan keluarganya telah menghancurkan kehidupan anak-anaknya. Menyadari kenyataan itu, Mama Meria hanya bisa terdiam dan menahan tangis penyesalannya.


“Sepertinya anakmu Meria benar-benar tidak merasa bersalah. Kami akan segera melanjutkan masalah ini ke ranah hukum. Biar hukum yang mengadili segala tindakan Meria,” Mendengar kata-kata Augistin, salah satu dari kakak laki-laki Meria mendekat, lalu menarik tangan Meria dengan kasar ke arah dimana Dave dan Laurel duduk.


Begitu sampai di depan Dave dan Laurel, kakak Meria mendorong dengan keras Meria ke arah depan sehingga jatuh tersungkur di depan Dave dan Laurel, membuat Dave dan yang lain tersentak kaget, terutama Laurel, yang selama ini selalu diajarkankan untuk tidak berlaku kasar kepada orang lain.


“Cepat minta maaf kepada mereka!” Melihat tindakan kasar kakak Meria, hampir saja Laurel bangkit berdiri untuk menolong Meria, tapi dengan cepat tangan Dave bergerak ke arah Laurel untuk menghalanginya bertindak.


Dave bukannya tidak suka jika Laurel menolong Meria, tapi mengingat bagaimana nekatnya Meria saat kondisi terjepit seperti tadi di rumah sakit, Dave harus memikirkan kemungkinan terburuk jika Meria kembali berusaha untuk menyerang Laurel. Akhirnya Leo maju ke depan, berjongkok di samping Meria dan berniat membantu Meria untuk bangkit dari tersungkurnya, namun dengan kasar Meria menyentakkan tangan Leo, membuat Leo hanya bisa menahan nafasnya, lalu berdiri, dan berjalan kembali untuk menjauhi Meria.


“Aku tidak mau! Apa salahku mencintai Kak Dave? Kenapa aku harus minta maaf? Toh tidak ada bukti sama sekali yang menunjukkan apa yang sudah pernah aku lakukan! Hukum tidak akan ada yang bisa menjeratku tanpa bukti!” Anggota keluarga Meria melotot mendengar apa yang dikatakan oleh Meria yang terlihat begitu putus asa namun tidak mau menyerah begitu saja. Kedua tangan Meria yang menempel di lantai mengepal dengan erat.


“Meria!” Kakak Meria yang baru saja mendorong tubuh Meria berteriak keras.


“Kamu boleh mencoba melarikan diri dari hukum. Tapi apa kamu pikir keluarga kami, keluarga Shaw akan berdiam diri? Kamu terlalu merendahkan keluarga kami. Karena selama ini kami hanya berdiam diri, bukan berarti kami tidak melakukan apa-apa. Bahkan semua bukti dari rencanamu bersama laki-laki bernama Ben, bukti transfer uang, bukti percakapanmu dengan Ben, bahkan pengakuan Ben, bukti tentang pemalsuan hasil pemeriksaan kesehatanmu, semuanya ada padaku. Dan sebenarnya banyak bukti lain tentang rencana jahatmu yang sudah aku pegang,” Meria terbeliak mendengar perkataan Augistin Shaw yang tiba-tiba saja sudah berdiri di sampingnya.


“Kenapa begitu sulit menjadi orang baik? Sedangkan banyak kesempatan yang sudah diberikan padamu. Apa kamu pikir aku tidak tahu sebelum kejadian Ben, dua hari sebelumnya kamu berusaha mencelakakan menantuku dengan merusak mesin mobil temannya yang berencana mengantarnya ke tempat kerja paruh waktunya? Walaupun kamu hanya ingin menyebabkan kecelakaan kecil, apa kamu pernah berpikir jika kecelakaan itu menjadi sebuah kejadian yang bisa membuat orang terluka parah atau kehilangan nyawa? Bahkan tiga tahun sebelumnya, saat Dave masih di kuliah di Amerika, aku tahu, kamu mengirimkan beberapa pemabuk untuk mengganggu Laurel sepulang dari tempat kerja part timenya? Dengan semua bukti yang ada kamu akan dijerat pasal berlapis, dan salah satunya bisa jadi adalah pasal pembunuhan berencana,” Bukan hanya Meria yang melotot kaget karena penjelasan dari Augistin, wajah Dave berubah merah padam mendengar apa yang dikatakan oleh papanya, bagaimana selama ini Meria sudah begitu jahat merencanakan berbagai hal buruk kepada Laurel.

__ADS_1


Dave ingat dengan jelas saat dia mengamati Laurel yang pulang larut malam setelah kerja paruh waktunya diikuti oleh beberapa pemabuk saat melewati gang sepi dan saat itu Dave yang sengaja berjalan beberapa meter di belakang Laurel berhasil menghajar para pemabuk itu sebelum sempat mendekati Laurel. Peristiwa itu juga yang membuat Dave menyewa para pengawal untuk mengawasi dan menjaga Laurel setelah dia kembali ke Indonesia. Dave benar-benar tidak menyangka bahwa beberapa kejadian buruk yang hampir menimpa Laurel ternyata terjadi karena adanya campur tangan Meria.


"Meria, kenapa kamu sampai berbuat sejauh itu?" Mama Rosalia bertanya dengan mata memandang Meria yang masih terduduk di lantai dengan pandangan mata tidak percaya karena Augistin ternyata mengetahui semua rencana jahatnya untuk menyakiti Laurel, bahkan memiliki bukti-bukti perbuatannya.


"Aku hanya ingin memberi Kak Laurel peringatan, agar tidak lagi menjalin hubungan dengan Kak Dave," Meria menjawab dengan suara lirih.


"Pemikiranmu sungguh dangkal, walaupun saat itu Laurel tidak menyadari keberadaan Dave yang selalu berada di dekatnya saat di Amerika, tapi mereka berdua tetaplah suami istri. Dave yang sejak awal hanya mencintai Laurel, tidak mungkin  membiarkan sesuatu terjadi pada Laurel. Aku kenal siapa anakku, Dave akan melakukan apapun untuk gadis yang dicintainya. Dan aku sudah melihat itu sejak Dave bertemu dengan Laurel. Setelah dua tahun berlalu, aku mengharapkan kamu bisa memulihkan patah hatimu, dan mulai menerima kenyataan bahwa Laurel dan Dave benar-benar telah bersatu kembali. Karena itu juga aku membiarkan kehadiranmu di tengah-tengah pesta perkenalan Laurel di keluarga Shaw waktu itu, sekaligus untuk membuatmu tersadar bahwa sudah tidak ada lagi alasan untuk kamu tetap berusaha memisahkan Dave dan Laurel. Tapi ternyata kamu belum bisa menerima kenyataan," Augistin mendekat ke arah Meria yang masih terlihat shock setelah mendengar apa dikatakan oleh Augistin tentang semua bukti kejahatannya.


"Om, maafkan aku, aku bersalah, tolong maafkan aku," Augistin Shaw yang berdiri di samping Meria menarik nafas dalam-dalam.


"Permintaan maaf harusnya untuk orang yang benar-benar mengalami perlakuan burukmu," Mendengar jawaban Augistin, Meria merangkak mendekat ke arah Dave dan Laurel.


"Kak Dave..., Kak Laurel..., tolong maafkan aku, aku bersalah," Dave melirik ke arah Laurel yang wajahnya terlihat begitu tegang, tanpa senyum di bibirnya yang terasa kering dan sulit sekali untuk memulai untuk membuka bibirnya untuk mengatakan sesuatu.


"Baiklah, kalian semua yang ada di sini sudah mendengar keputusan final keluarga kami. Kami memaafkan kalian, namun proses hukum akan tetap berjalan dengan semestinya. Kami percayakan kasus ini kepada pihak berwenang. Dan untuk ke depannya, seperti yang sudah aku umumkan di awal pertemuan kita. Mulai saat ini tidak akan ada lagi kerjasama bisnis antara pihak Shaw Corporation dengan Perusahaan Mulia," Augistin berkata dengan nada suara tegas yang tampak tidak bisa dibantah lagi.


Setelah menegaskan kembali tentang keputusan keluarganya, Augistin berjalan memasuki rumah sambil melewati Dave yang masih duduk di tempatnya, berhenti sebentar di samping Dave dan menepuk pelan bahu Dave sebelum akhirnya berjalan kembali untuk meninggalkan ruang tamu. Seluruh anggota keluarga Meria tampak pucat dan kaget dengan keputusan akhir Augistin, namun mereka tahu mereka tidak dapat berbuat apa-apa lagi.


Tidak lama setelah Augistin Shaw meninggalkan ruangan itu beberapa orang berpakaian rapi yang merupakan para pengawal keluarga Shaw segera memasuki ruangan tempat mereka berkumpul dan mempersilahkan seluruh keluarga Meria untuk meninggalkan rumah besar. Dengan langkah gontai mereka semua berjalan meninggalkan rumah itu, beberapa diantara mereka beberapa kali mereka menoleh ke belakang, namun tidak ada satupun yang perduli lagi dengan mereka, baik Mama Rosalia, Dave, Leo, apalagi Laurel dan Evelyn yang terlihat masih termangu karena apa yang baru saja terjadi.


"Dave, bawa Laurel ke kamarmu untuk beristirahat, sepertinya lebih baik kalian menginap di sini untuk malam ini," Mama Rosalia berkata sambil mendekat ke arah Laurel, lalu mengelus lembut bahu Laurel yang sejak kedatangannya di rumah besar tidak mengucapkan sepatah katapun dari bibirnya.

__ADS_1


"Tante Ros, aku akan pulang dulu," Mama Rosalia menoleh ke arah Leo begitu mendengar Leo berpamitan untuk pulang.


"Ini sudah larut malam Leo, apa tidak lebih baik kamu menginap di sini?" Leo tersenyum mendengar penawaran dari Mama Rosalia yang selalu dengan senang hati menerima kehadirannya di rumah besar, bahkan ada sebuah kamar tamu yang selalu disiapkan dengan ekstra jika Leo menginap di rumah besar.


"Tenang saja Tante Ros, aku akan hati-hati di jalan. Ok, Dave, Laurel, aku pamit pulang dulu. Ada baiknya kalian segera beristirahat. Hari ini hari yang cukup melelahkan bagi kita semua, terutama Laurel," Dave mengangguk sebagai tanda setuju mendengar perkataan Leo, lengannya bergerak memeluk bahu Luaurel dan mengelus-elusnya dengan lembut.


"Ok, Evelyn! Aku pulang dulu ya!" Leo berpamitan kepada Evelyn dengan suara sedikit keras dan melambaikan tangannya ke arah Evelyn yang hanya bisa mengangguk sambil tersenyum dengan wajah masih terlihat sedikit tegang, karena dia benar-benar tidak menyangka mendengar perkataan tentang apa yang sudah dilakukan Meria kepada Laurel selama ini.


Sepertinya memang lebih baik malam ini kami menginap di sini, Dave berkata dalam hati sambil melirik ke arah Laurel yang dari wajah dan tatapan matanya terlihat tidak lagi bisa menyembunyikan rasa lelahnya.


Begitu sosok Leo pergi meninggalkan rumah besar, Dave langsung menggerakkan wajahnya ke arah Laurel, dipandanginya wajah istrinya yang tetap diam, sibuk berkutat dengan pikirannya sendiri.


"Malam ini kita menginap di sini ya?" Laurel hanya mengangguk pelan mendengar pertanyaan dari Dave, rasanya tubuhnya saat ini juga sudah ingin segera berada di atas tempat tidur untuk beristirahat.


"Kemarilah mo cuisle," Dave langsung menepuk-nepuk kasur yang ada di sampingnya begitu dilihatnya Laurel keluar dari kamar mandi setelah dia berganti dengan pakaian tidurnya.


Laurel berjalan mendekati tempat tidur dimana Dave sudah berbaring di sana dalam posisi miring dengan tangan kanannya menopang kepalanya di atas tempat tidur. Begitu Laurel sampai di tempat tidur, dia segera menggerakkan tubuhnya untuk berbaring di sisi Dave yang langsung menghujaninya dengan ciuman hangat namun lembut, membuat wajah tegang Laurel sedikit rileks dan bibirnya mulai menyunggingkan sebuah senyum.


"I Love you Dave," Laurel membalas pelukan Dave dengan satu tangan melingkar di leher Dave, dan satu tangan lagi melingkar di pinggang Dave.


"I love you more and more mo cuisle," Dave menarik selimut dan menutup tubuh Laurel dengan selimut, lalu menepuk-nepuk paha Laurel pelan.

__ADS_1


"Tidurlah, sepanjang hari ini pasti sudah membuatmu sangat lelah. Jangan lagi memikirkan tentang Meria, fokuslah pada kesehatanmu dan acara pesta kita," Dave berkata sambil mengelus lembut punggung Laurel yang mengangguk mendengar perintah dari Dave.


"Good night, have a nice dream mo cuisle," Dave mencium bibir Laurel lembut dan langsung memeluknya dengan erat, membiarkan Laurel tidur dengan kepala Laurel berada di lengan tangan Dave sekaligus menelusup di dada bidangnya, seolah mencoba mencari perlindungan dan kedamaian dari tubuh Dave yang terasa begitu hangat bagi Laurel.


__ADS_2