
“Minta perhatiannya sebentar ya, saya mau menyampaikan sedikit pengumuman dari bos kita,” Mendengar suara Leo melalui pengeras suara, sebagian besar tamu-tamu yang hadir, yang merupakan pegawai dari rumah sakit Anugrah Indonesia menghentikan aktifitasnya, mengarahkan pandangan matanya ke arah Leo.
“Ehmmm, selamat malam semuanya, sebelumnya saya mewakili seluaruh pegawai dari rumah sakit Anugrah Indonesia mengucapkan terima kasih banyak atas undangan dari dokter Laurel. Semoga di rumah yang baru ini kehidupan dokter Laurel dipenuhi oleh kebahagiaan dan kesuksesan. Selanjutnya saya akan menyampaikan pengumuman kepada semua pegawai rumah sakit Anugrah Indonesia minggu depan merupakan acara penting bagi rumah sakit kita, bos kita, dokter Dave Alexander Shaw akan merayakan ulang tahunnya yang ke 29 tahun, kita semua diundang untuk datang dalam perayaannya pesta ulang tahunnya di gedung Bina Bersama. Hari Sabtu minggu depan tepat jam 7 malam ya,” Leo melirik ke arah Dave, hari ulang tahun Dave tepatnya jatuh pada hari Jumat minggu depan, tapi dia sengaja memilih hari Sabtu agar lebih santai.
“Yeee,”
“Hore,”
“Yess!”
“Siap!”
Setiap orang yang mendengar pengumuman dari Leo langsung menyambut gembira undangan dari Dave di pesta ulang tahunnya minggu depan. Dave yang berdiri di samping Laurel melirik ke arah Laurel yang tersenyum dengan pandangan mata fokus ke arah Leo. Tanpa disadari oleh Laurel, Dave menarik nafas lega sambil mengalihkan pandangannya ke arah Freya yang kebetulan sedang memandang ke arahnya.
# # # # # # #
"Ayolah kak," Dengan manja Freya memegang lengan tangan kanan Laurel dan menggerak-gerakkannya, membuat Denia hanya bisa tersenyum melihat tingkah kedua anak gadisnya.
Malam ini Denia dan Freya sengaja ikut menginap di rumah Laurel. Karena acara baru saja selesai pukul 11 malam, Laurel tidak mengijinkan Denia dan Freya untuk pulang dan meminta mereka menemaninya untuk malam ini, dan sekarang Freya memaksanya untuk membuka kado-kado yang ada.
"Besok ya? Aku sudah lelah seharian ini," Freya mengerucutkan bibirnya mendengar penolakan dari Laurel.
"Kalau begitu, kakak duduk saja dengan tenang, biar aku yang membukanya," Tanpa meminta ijin dua kali Freya langsung menarik salah satu kado dan membukanya, setelah itu satu persatu Freya membuka kado-kado itu.
"Dari Kak Dicky," Freya menyodorkan sebuah kotak perhiasan ke arah Laurel. Kotak itu terlihat indah dan mewah dengan ukiran-ukiran di sekeliling kotak dan bagian atas kotak tampak ukiran berbentuk bunga carnation yang dikenal juga dengan bunga anyelir bewarna putih. Laurel tersenyum melihat kotak perhiasan yang indah itu, tapi jujur saja dalam hati merasa tidak nyaman karena mendapat hadiah sebuah kotak perhiasan indah dan pastinya mahal dari seseorang yang sebenarnya dia tidak terlalu kenal.
__ADS_1
"Harusnya Kak Dicky tidak memberikan hadiah seperti ini, dia kan tidak memiliki hubungan apa-apa dengan kakak. Hadiah ini jelas-jelas menunjukkan dia menyukai kakak," Laurel tersenyum melihat wajah Freya yang berkata-kata dengan wajah memberengut, terlihat jelas sekali ketidaksukaan Freya terhadap Dicky.
"Hust...jangan berprasangka buruk pada niat baik orang lain," Denia langsung menegur Freya yang dengan tidak perduli mulai membuka satu persatu kado yang ada, sampai akhirnya dia mengambil salah satu kado lagi yang cukup besar. Begitu membuka dan membaca kartunya wajah Freya berubah ceria.
"Kak, dari bos kakak," Laurel yang awalnya tidak lagi perduli dengan kesibukan Freya membuka kado dan mulai fokus menonton televisi, mau tidak mau menoleh, mengarahkan pandangannya kepada Freya. Bagaimanapun sampai saat ini sepertinya masih sulit bagi Laurel untuk tidak perduli tentang sesuatu yang ada sangkut pautnya dengan Dave.
"Cantik sekali," Freya menyodorkan sebuah jam dinding mewah ke arah Laurel. Jam dinding itu berukuran cukup besar, dengan design warna emas, dikelilingi oleh ukuran-ukiran berbentuk bunga yang timbul di bagian atas dan bawah jam dinding itu.
Laurel sedikit mengernyitkan dahinya. Dave dan Dicky, sama-sama memberinya hadiah dengan motif bunga. Jenis bunga yang ada di kotak perhiasan dari Dicky, Laurel bisa memastikan bunga itu bentuk bunga anyelir, tapi hadiah dari Dave, bentuk bunga yang ada disana dia tidak terlalu familiar. Ada dua jenis bunga yang dibentuk seolah-olah menjadi sebuah rangkaian bunga. Laurel merasa sering melihat bunga dengan bentuk seperti itu, tapi dia tidak tahu pasti jenis atau nama kedua bunga itu.
"Kak, hadiah dari bos kakak dipasang di kamar kakak ya, design jam dinding ini benar-benar cocok dengan dekorasi kamar kakak," Laurel tertawa mendengar perkataan Freya yang terlihat bersemangat.
"Freya, sini sebentar," Freya yang sudah bangkit berdiri berniat berjalan ke arah kamar Laurel untuk meletakkan jam dinding itu di kamar Laurel menghentikan langkahnya mendengar panggilan Laurel.
"Duduklah dulu," Laurel menepuk-nepuk sofa yang ada di sampingnya, membuat Freya mengambil posisi duduk disana dan meletakkan jam dinding itu di atas meja di depan tempatnya duduk.
"Apa kamu..., jatuh cinta dengan bos kakak?" Freya langsung melotot mendengar pertanyaan Laurel. Pertanyaan Laurel barusan tidak hanya membuat Freya benar-benar kaget, tapi juga Denia, sampai dia tersedak oleh ludahnya sendiri karena kaget.
"Kakak! Aku sudah punya kekasih. Aku sudah punya Juan, kenapa kakak bertanya seperti itu?" Laurel langsung terkikik melihat reaksi Freya.
"Karena sepertinya apa yang berhubungan dengan bos kakak membuat kamu tertarik dan begitu bersemangat," Wajah Freya sedikit memerah mendengar perkataan Laurel, bukan karena dia benar-benar jatuh cinta dengan Dave, tapi karena malu, Laurel begitu mudah menggodanya karena sifat ekspresifnya (ekspresif adalah sifat yang memberikan gambaran atau menyatakan perasaan yang dalam yang dialami pada suatu saat yang penyajiannya secara terus terang, dan sifatnya spontan, berani dan mampu mengungkapkan apa yang dirasakan bahkan apa yang ada dalam pikiran).
"Aku tidak mungkin menduakan Juan, aku justru berharap kakak dan bos kakak bisa memiliki hubungan sekedar bos dan karyawan," Freya berkata sambil memandang dalam-dalam wajah Laurel, membuat Laurel hanya bisa tersenyum, dan dengan cepat tangannya bergerak untuk mengacak-acak rambut Freya dengan gemas, dia tahu adiknya sangat mengidolakannya, menginginkan yang terbaik untuknya bahkan masalah jodoh, tetapi Dave? Walaupun dari cara Freya bersikap kepada Dave tadi menunjukkan bahwa Freya juga mengagumi Dave, sepertinya khayalan Freya terlalu tinggi untuk menjadikan Dave sebagai kakak iparnya.
"Tidak baik memiliki mimpi yang terlalu tinggi, nanti kalau jatuh terlalu sakit, tidak bisa bangun lagi,"
__ADS_1
"Tapi kak, kakak dan bos kakak pasangan yang sangattttt cocok, benar kan ma?" Laurel tertawa melihat Freya yang begitu ngotot menjodohkannya dengan Dave, diliriknya Denia yang hanya bisa berdehem mendengar pertanyaan Freya.
"Emmm, tergantung Laurel, bagaimana perasaanmu terhadap dia, mama ikut saja selama kakakmu bisa bahagia," Laurel mencubit pelan pipi Freya.
"Kamu sepertinya ingin sekali menjadikan bos kakak sebagai kakak iparmu. Padahal kamu belum kenal dia. Kalau kamu lihat sikapnya kepada kakak selama di rumah sakit, kakak yakin kamu akan menghentikan kegilaanmu untuk menjadikan dia kakak iparmu," Freya tertawa mendengar perkataan Laurel tentang Dave.
"Eh kak, apa kakak tahu, beberapa laki-laki ada yang begitu sulit menunjukkan perasaan mereka yang sebenarnya, bahkan kadang menutupinya dengan sikap tidak masuk akal mereka. Mungkin bos kakak masuk ke dalam jenis laki-laki seperti itu?" Laurel langsung tergelak mendengar perkataan Freya.
"Kamu ini bicaramu seolah-olah kamu lebih mengenal bos kakak daripada kakak. Sudah..., tidak usah dibahas lagi, kalau memang jodoh pasti ketemu, kalau bukan, diapa-apakan pasti terpisah," Freya tersenyum mendengar perkataan Laurel, dia kembali bangkit berdiri sambil memeluk jam dinding hadiah dari Dave ke dadanya, berencana untuk dia bawa ke kamar Laurel, tetapi sebelum pergi Freya mendekatkan bibirnya ke arah terlinga Laurel dan berbisik pelan.
"Masak sih kakak tidak pernah merasa berdebar-debar jika berada di dekat bos kakak?" Laurel membeliakkan matanya mendengar pertanyaan Freya yang sepertinya bisa menebak bahwa bukannya pernah, tapi seringkali keberadaan Dave di dekatnya membuat dadanya berdebar-debar, tapi kembali lagi dia selalu berusaha mengendalikan agar hatinya tidak semakin jatuh cinta pada Dave, dengan sengaja berpikir bahwa Dave tidak mungkin memiliki perasaan apapun padanya, dan sebenarnya, sejak dia datang ke Indonesia, ada satu orang yang benar-benar mengusik pikirannya, membuatnya begitu ingin bertemu lagi dengannya, yaitu dokter yang telah menyelamatkannya 7 tahun lalu, dokter dengan mata coklatnya, yang bahkan saat itu dia sama sekali belum sempat mengucapkan terimakasih karena telah menyelamatkannya.
Belum lagi Laurel sempat menjawab untuk menyangkal kata-kata Freya, Freya langsung bergerak cepat meninggalkannya berlari ke arah kamarnya.
# # # # # # #
"Kak!" Laurel yang sudah berpakaian rapi siap untuk berangkat ke rumah sakit sedikit tersentak mendengar panggilan dari Freya dari arah luar kamarnya.
"Kakak," Tanpa menunggu sahutan dari Laurel, Freya langsung membuka pintu kamar Laurel dan menerobos masuk ke dalam.
"Lihat ini," Laurel memandang ke arah tangan Freya yang memegang setangkai bunga tulip segar bewarna merah dan sebuah kartu yang tergantung dengan tali di tangkai bunga tesebut.
"Pak Ujang tadi yang barusan menerimanya dari seorang pengantar barang," Laurel mengernyitkan dahinya dan langsung meraih kartu yang tergantung di tangkai bunga tulip merah tersebut, membuka dan langsung membacanya.
Untuk: cintaku, Dewi Parwati. Sekian lama aku menunggu waktu menyerah untuk mempermainkan tali jodoh kita. Akan tiba waktunya mereka semua menyerah dan memberikan restu pada kita. Dari: kekasih hatimu, Dewa Siwa.
__ADS_1