CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
MENGHABISKAN WAKTU DENGANMU


__ADS_3

Laurel menyunggingkan senyum geli di bibirnya begitu Dave dengan cepat langsung memeluknya dengan erat setelah semua orang meninggalkan mereka berdua, kembali ke tempatnya masing-masing, termasuk Evelyn yang awalnya masih begitu ngotot ingin tinggal dengan alasan ingin menemani Laurel, tapi Mama Rosalia juga tidak mau kalah, tetap memaksa Evelyn untuk ikut pulang bersamanya. Dan bukan hanya sekedar memeluk tubuh Laurel, dengan intens Dave langsung sibuk memberikan kecupan-kecupan mesra baik di kening, pipi, maupun bibir Laurel secara berulang-ulang, membuat sesekali Laurel justru bergidik karena geli.


"I love you mo cuisle," Dave berkata pelan sambil mengelus-elus pipi Laurel menggunakan hidung mancungnya bukan tangannya.


"I know Mr. Shaw," Laurel menjawab pernyataan cinta Dave dengan kedua lengannya memeluk pinggang Dave, membalas pelukan Dave ke tubuhnya.


"I love you, I am who I am because of you. You are every reason, every hope and every dream I’ve ever had and no matter what happens to us in the future, everyday we are together is the greatest day of my life, I will always be yours (Aku mencintaimu. Aku seperti sekarang ini, itu karena kamu. Setiap harapan dan mimpi yang aku buat, semua adalah karenamu. Tak peduli apa yang akan terjadi esok, karena setiap hari saat ini adalah hal yang luar biasa bagi hidupku. Aku akan selalu menjadi milikmu)," Dave berbisik pelan ke telinga Laurel dengan suara mesra, setelah itu Dave langsung mencium leher Laurel dengan penuh perasaan cinta.


Dave begitu menikmati bau harum dari tubuh Laurel yang sejak mereka hidup bersama menjadi bau yang begitu menenangkan bagi Dave, terutama saat Dave sedang dalam suasana hati yang buruk, dia akan selalu membutuhkan kehadiran Laurel untuk membuatnya bisa mengendalikan emosi dan perasaan galaunya. Menikmati bau harum tubuh Laurel bagi Dave selalu membuat dada Dave berdebar-debar sekaligus bersyukur karena bau tubuh Laurel merupakan bukti nyata keberadaan Laurel di dekatnya.


"Dave..., I choose you. And I'll choose you over and over, and over. Without pause, without doubt, in a heartbeat, I'll keep choosing you. I'll be right here loving you till the end, (Dave..., aku memilihmu. Dan aku akan memilihmu lagi, dan lagi, dan lagi. Tanpa henti, tanpa ragu, dalam setiap detak jantungku, aku akan terus memilihmu. Aku akan ada di sini mencintaimu sampai akhir)," Laurel menjawab pernyataan cinta dari Dave dengan tidak kalah mesranya.


Laurel mengucapkan kata-katanya dengan penuh perasaan cinta, dengan kakinya yang berjinjit, sambil bibir dan hidungnya menempel di leher Dave, membuat Dave bisa merasakan udara hangat yang keluar dari bibir dan nafas yang timbul dari hidung Laurel. Apa yang dilakukan Laurel sukses membuat Dave harus menahan nafasnya karena tindakan Laurel membuat detak jantung Dave berubah menjadi begitu cepat, tidak lagi terkontrol dan otot-otot di tubuhnya menegang, seluruh tubuhnya bereaksi dengan cepat karena sentuhan Laurel yang begitu menggodanya dan membangkitkan gairahnya.


"Mo cuisle, aku begitu mencintaimu, dan begitu..., menginginkanmu lebih dari apapun," Mendengar perkataan Dave, Laurel hanya bisa tersenyum sambil kedua tangannya yang tadinya memeluk pinggang Dave mulai bergerak di balik pakaian Dave, menyingsingkannya dan dengan kedua telapak tangannya mengelus lembut kulit punggung Dave, membuat detak jantung Dave semakin terpacu.


Mendapatkan sentuhan lembut di kulit punggungnya, dengan cepat kedua tangan Dave bergerak ke arah punggung dan kedua kaki Laurel lalu mengangkat tubuh istri tercintanya ke dalam gendongannya, membawanya ke atas tempat tidur, membaringkan tubuh Laurel dengan pelan di sana sebelum akhirnya Dave menyusulnya naik ke atas tempat tidur. Melihat bagaimana dari tatapan matanya Dave begitu menginginkannya, apalagi sesaat sebelumnya Laurel bisa merasakan dengan jelas bagian bawah tubuh Dave yang sudah mengeras saat mereka berpelukan tadi, tangan kiri Laurel langsung bergerak menarik tengkuk Dave agar wajah Dave mendekat ke arahnya, dan dengan cepat Laurel mencium bibir Dave dengan penuh gairah, sedang tangan kanannya dengan lembut mengelus-elus dengan lembut dada dan perut six-pack Dave.


Merasakan sensasi hebat yang timbul karena sentuhan dari Laurel, dan debaran di dada Dave yang membuat nafasnya semakin terpacu karena tindakan Laurel, Dave tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak bergerak membalas setiap perlakuan dan sentuhan mesra Laurel ke tubuhnya yang sejak pertemuan mereka dulu selalu bereaksi saat melihat sosok Laurel, apalagi jika sosok itu berada di dekatnya. Mengingat kehamilan Laurel sudah memasuki masa aman, membuat Dave tidak lagi berusaha menahan dirinya untuk mulai melakukan dan menikmati sentuhan-sentuhan, ciuman-ciuman mesranya sekaligus memberikan banyak tanda kepemilikan dan cintanya terhadap seluruh tubuh Laurel untuk melepaskan kerinduannya setelah sekian lama berusaha menahan diri karena bayi dalam kandungan Laurel. Namun saat ini Dave ingin sekali melepaskan hasratnya yang juga untuk menunjukkan cintanya yang begitu dalam kepada Laurel.


Dan apapun yang dilakukan Dave padanya, selalu saja membuat Laurel begitu sulit untuk tidak merespon, apalagi tidak membalasnya, membuat Dave semakin sulit untuk tidak tergila-gila dengan Laurel yang selalu merespon setiap tindakan mesranya dengan tidak kalah mesranya. Selain itu Laurel yang seringkali bersikap manja, membuat Dave selalu merasa berhasil menjadi laki-laki hebat untuk istri tercintanya.

__ADS_1


"Kamu selalu membuatku tergila-gila padamu dan selalu menginginkanmu lagi dan lagi," Dave berbisik lembut di telinga Laurel dengan suara terdengar sedikit serak karena gairahnya yang sudah memuncak, membuat Laurel justru memberikan respon dengan ciuman-ciumannya di leher dan dada Dave yang membuat Dave langsung mencium telinga Laurel dan sedikit menggigitnya dengan begitu gemas, lalu menggigit bibirnya sendiri dengan keras agar bisa mengendalikan tubuhnya agar lebih berhati-hati, karena walaupun masa kehamilan Laurel sudah lewat trisemester pertama dan bayi di dalam kandungannya sudah jauh lebih kuat, namun Dave tahu harus tetap berhati-hati agar tidak menyakiti bayi kecil mereka yang ada di perut Laurel.


# # # # # # #


Dave tersenyum dengan wajah bahagianya melihat bagaimana tubuh Laurel yang polos sedang meringkuk dalam pelukannya dengan selimut tebal menutupi tubuhnya. Melihat senyum di wajah Dave, Laurel yang sedikit mendongakkan kepalanya ke arah Dave yang sedikit menundukkan kepalanya ke arahnya, menggerakkan tangan kanannya, dan jari-jari lentik Laurel mulai bergerak menyusuri wajah Dave, sambil sesekali mengelusnya, dengan matanya memandang kagum ke arah wajah Dave yang terpahat sempurna membentuk sebuah wajah yang terlihat begitu tampan.


"Dave..., kenapa wajahmu bisa setampan ini?" Dave sedikit tertawa geli mendengar kata-kata Laurel yang memuji ketampanannya.


"Apa kamu tahu? Aku hampir saja menyesal memiliki wajah seperti ini," Laurel terbeliak kaget mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Dave.


"Memang kenapa? Bahkan banyak orang yang memimpikan memiliki wajah setampan ini. Dan sayangnya sekarang hanya aku yang berhak untuk memiliki wajah tampan ini," Laurel berkata sambil mengecup sekilas bibir Dave dengan wajah manja, membuat Dave dengan gemas mencubit pipi Laurel.


"Sejak kecil semua orang di sekelilingku selalu berusaha mendekatiku, dan paling banyak adalah para perempuan. Dan itu cukup menggangguku. Seringkali bahkan mereka selalu memandangku tanpa berkedip, apalagi saat mereka melihat mata biruku, seolah-olah aku menjadi makhluk aneh di tengah-tengah masyarakat di sini. Itu juga yang menjadi alasanku dulu aku sempat menggunakan softlens agar warna biru mataku bisa tersamar," Laurel terkikik geli mendengar penjelasan dari Dave, sepertinya baru kali ini Laurel mendengar ada seseorang yang tidak menyukai wajahnya sendiri karena orang lain menilai wajahnya terlalu tampan dan menarik bagi orang lain.


"Orang begitu sibuk membuat dirinya agar terlihat tampan, tapi pangeranku yang satu ini justru tidak menyukainya. Memang benar-benar pangeranku ini laki-laki dingin yang tidak ingin bergaul dengan banyak orang," Dave tersenyum mendengar sindiran Laurel.


"Apa kamu tahu apa yang pernah membuatku paling menyesal karena memiliki wajah ini?" Laurel mengernyitkan dahinya sambil menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan dari Dave.


"Karena kamu," Dave menjawab lirih.


"Aku?" Laurel bertanya sambil menatap Dave dengan wajah bertanya-tanya karena benar-benar tidak mengerti dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Dave, sedangkan dia dari awal pertemuan mereka begitu mengagumi ketampanan Dave.

__ADS_1


"Ketika kamu memutuskan untuk pergi meninggalkanku tujuh tahun lalu, aku berusaha keras memikirkan apa saja kemungkinan yang sudah membuat kamu pergi. Dan saat itu karena kepergianmu yang cukup membuatku terpukul membuatku sempat berpikir bahwa mungkin ketidaksukaanmu terhadap wajahku adalah salah satu alasan kenapa kamu pergi menghilang," Laurel membeliakkan matanya dengan kaget mendengar penjelasan Dave.


"Bagaimana mungkin kamu bisa berpikir seperti itu? Bahkan sampai hari pernikahan kita aku belum pernah sekalipun bertemu denganmu. Bagaimana kamu bisa berpikir sempit seperti itu? Seorang Dave Alexander Shaw bahkan bisa menjadi setidak percaya diri seperti itu?" Dave tersenyum mendengar perkataan Laurel dengan nada protesnya.


"Mo cuisle.... Apa kamu benar-benar tidak tahu atau hanya berpura-pura bodoh? Kamu adalah orang yang paling bisa membuatku berdiri dengan penuh percaya diri, tapi kamu juga orang yang bisa menghancurkan kepercayaan diriku dengan sekejap waktu saja. Kehilangan dirimu adalah hal yang paling menghancurkan hidup dan kepercayaan diriku. Saat itu dengan pikiran yang kacau karena kepergianmu yang tiba-tiba saja di hari pernikahan kita, mana bisa aku berpikir dengan jernih seperti orang normal?" Mata Laurel berkaca-kaca mendengar apa yang baru saja diungkapkan oleh Dave tentang apa yang dialaminya selama ini. Sejak dia jatuh cinta kepada Dave, rasanya bagi Laurel setiap kejadian yang menyakitkan bagi Dave, seolah dia juga merasakan, dan tentang kepergiannya tujuh tahun lalu meninggalkan Dave, bagi Laurel itu seperti luka yang bukan hanya bagi Dave, tapi baginya sangat menyakitkan jika dia kembali mengingat peristiwa itu, mengingat bagaimana dia bisa begitu bodoh menyakiti seseorang yang ternyata sangat dicintainya.


"Maafkan aku Dave...,"


"Hust..., aku mengatakan itu bukan untuk membuatmu merasa bersalah, tapi agar kamu tahu begitu berharganya arti kehadiranmu di sisiku. Hal terindah, hal paling berharga yang pernah aku miliki dalam hidupku, Laurel Tanputra, istriku, ibu dari anak-anakku, separuh dari nafasku," Dave berkata sambil mengecup kening Laurel, lalu mencium kedua mata Laurel yang hampir saja mengeluarkan airmatanya, dan dengan sengaja Dave menciumnya dengan mesra agar mata cantik istrinya itu tidak lagi melanjutkan rencananya untuk mengeluarkan airmatanya.


"Terimakasih untuk cintamu yang begitu luar biasa untukku," Laurel berkata sambil kembali mengelus wajah tampan suaminya dengan jari-jarinya.


"Apa kamu tahu? Sejak detik pertama aku melihat wajah dan mata biru milikmu yang begitu indah, detik itu juga aku sudah tahu bahwa suatu hari jika aku tidak menahan diriku aku akan tergila-gila padamu. Dari ujung rambut sampai kakimu, aku menyukai semua hal yang ada padamu Mr Shaw. Saat itu begitu sulit bagiku menahan diriku sendiri agar tidak semakin jatuh cinta padamu," Dave tersenyum sambil memandang wajah Laurel dalam-dalam dengan tatapan penuh cinta karena perkataan Laurel barusan.


"Lalu..., kenapa kamu harus menahan diri? Apa yang membuatmu begitu takut untuk jatuh cinta padaku?" Laurel melotot mendengar perkataan Dave.


"Sudah sejak awal kamu tahu jawaban dari pertanyaanmu! Tapi tetap saja kamu mempertanyakannya berkali-kali, seolah-olah tidak percaya pada jawabanku dulu. Tentu saja karena dokter Hana dan saat itu aku sadar bahwa aku hanya seorang janda. Tidak akan pantas bersanding denganmu yang terlihat begitu hebat dan sempurna bagiku," Dave tertawa renyah mendengar jawaban Laurel yang diucapkan dengan bibir sedikit memberengut.


"Tentu saja aku selalu ingin mendengar jawabanmu, karena itu membuatku begitu bahagia mengetahui bahwa ternyata sejak awal pertemuan resmi kita sebenarnya kamu sudah tertarik padaku," Dave berkata sambil menyusupkan kepalanya ke ceruk leher Laurel sambil menciumi leher jenjang itu menggunakan hidungnya, dan beberapa kali melakukan gigitan kecil menggunakan bibirnya, bermanja di sana untuk beberapa waktu.


Melihat bagaimana sikap manja Dave padanya, Laurel sedikit tersenyum geli. Sosok Dave yang bagi Laurel sejak awal pertemuan mereka merupakan sosok seorang pria yang mengagumkan, selalu tampil dewasa, elegan sekaligus sosok seorang pria pendiam, tidak suka banyak bicara ternyata di hadapannya justru seringkali menunjukkan sikap manja, membiarkan gairahnya seringkali menguasainya dan hampir selalu mengucapkan kata-kata manis dan mesra yang membuat Laurel kehabisan kata-kata.

__ADS_1


Bahkan seorang pria sehebat kamu tidak segan-segan menunjukkan sisi lemah dan manjamu di hadapan wanita yang kamu cintai. Terimakasih untuk cintamu untukku Dave. Kamu benar-benar telah menjadikan aku sebagai wanita paling bahagia. Memilikimu adalah satu hal paling berharga yang tidak pernah aku bayangkan aku bisa mendapatkan kesempatan itu, Laurel berkata dalam hati sambil tubuhnya bergerak, mencium pipi Dave sekilas dan berencana untuk bangkit dari tidurnya untuk membersihkan tubuhnya dan kembali mengenakan pakaiannya.


__ADS_2