
“Maaf…, aku turut bersedih mendengar berita tentang Meria,” Dave tersenyum, dikecupnya lembut kening Laurel begitu mendengar Laurel mengatakan tentang simpatinya kepada Meria.
“Kemarin Meria memintaku untuk menemaninya beberapa waktu ini sebelum dia memutuskan untuk menjalani operasi atau tidak. Tapi aku mengatakan aku tidak bisa bertindak seperti dulu lagi kepadanya, seperti saat kami masih remaja, karena aku sudah memilikimu sebagai istriku. Dan aku tidak mau kamu salah paham kepadaku dan Meria,” Laurel menarik nafas panjang, antara lega dengan penjelasan Dave, sekaligus merasa bersalah kepada Meria, karena merasa menjadi seorang wanita yang benar-benar egois.
Apa aku salah tidak mengijinkan suamiku, tidak ingin laki-laki yang begitu aku cintai untuk tidak terlalu dekat dengan wanita lain? Apalagi wanita yang jelas-jelas memiliki perasaan suka kepada suamiku. Apa aku tidak bisa berbaik hati membiarkan Dave memberikan sedikit perhatiannya kepada yang lain? Bahkan kepada wanita yang kesempatannya untuk hidup sudah di ujung tanduk? Laurel berbisik dalam hati dengan matanya masih memandang dalam-dalam ke arah Dave yang menatapnya dengan tatapan tenang.
“Aku hanya bisa menjanjikan padanya untuk sering-sering berkunjung menjenguknya selama dia berada di rumah sakit bersamamu. Aku berjanji padamu untuk selalu mengajakmu saat menjenguknya," Begitu mendengar apa yang dikatakan oleh Dave, Laurel menggerakkan tubuhnya sedikit ke atas, agar wajahnya bisa sejajar dengan wajah Dave, lalu dengan mesra diciumnya bibir Dave.
“Terimakasih sudah begitu menghargai keberadaanku di sisimu,” Laurel berkata dengan suara pelan dan sedikit serak, membuat Dave langsung meraih kembali kepala Laurel yang sudah menjauh darinya, memegang tengkuk Laurel dan mengarahkan wajah Laurel ke arah wajahnya, sehingga dengan jelas Dave bisa melihat wajah cantik Laurel yang terlihat merasa bersalah.
“Tidak pernah sedetikpun aku melupakan bahwa kamu adalah istriku, wanitaku yang sangat berharga bagiku, yang harus aku jaga dan hargai. Jangan merasa bersalah, tidak ada yang akan ada yang menyalahkanmu jika sebagai istri kamu bersikap egois terhadap laki-laki yang menjadi suamimu, merasa keberatan jika suamimu bersama dengan wanita lain apalagi melihatnya memegang tangan suamimu,” Laurel tersenyum mendengar perkataaan Dave, pikirannya sedikit melayang memikirkan bagaimana dia harus menyikapi masalah ini, sehingga dirinya langsung tersentak kaget begitu Dave mendekatkan wajahnya ke arahnya dan langsung menciumnya dengan hangat sekaligus penuh gairah, tidak menyangka Dave akan menciumnya dengan penuh hasrat seperti itu secara tiba-tiba.
Dan tidak menunggu lama tanpa disadari oleh Laurel, tubuh Dave sudah berada di atas tubuhnya, menindih tubuh Laurel dengan bibir Dave yang tidak mau lepas dari bibir Laurel barang sedetikpun, sehingga membuat Laurel sesekali memaksanya untuk sedikit menjauh agar Laurel bisa menarik nafas karena hidung mancung Dave yang menutup hidungnya saat mereka berciuman, sedang tangan Dave dengan cepat mulai membuka satu persatu kain yang dikenakan Laurel untuk menutupi tubuhnya, tanpa memberikan kesempatan pada Laurel untuk menghalangi tindakannya atau menolaknya.
Apakah benar kata orang selama ini yang pernah aku dengar? Setelah pertengkaran antara suami istri, maka setelah mereka berdamai, pasti terjadi sesuatu yang akan selalu diakhiri dengan kemesraan seperti sekarang ini? Laurel berbisik dalam hati dengan dadanya yang terasa berdebar-debar karena apa yang dilakukan Dave padanya, yang membuatnya tidak dapat lagi menahan dirinya untuk tidak bereaksi terhadap tindakan Dave. Sentuhan-sentuhan, pijatan-pijatan, ciuman-ciuman dan elusan-elusan Dave di tubuhnya sukses membuat Laurel benar-benar terlena dan menikmatinya.
Pikiran Laurel yang awalnya ingin membuat tubuhnya bisa mengendalikan dirinya, membuat dirinya ingin berhenti, namun akhirnya Laurel hanya bisa menyerah, membiarkan dirinya terlarut dalam kemesraan dan gairah dari Dave yang berusaha mengusainya, sehingga dengan lembut Laurel mulai membalas setiap sentuhan, pijatan dan ciuman dari Dave dengan tidak kalah panasnya, membuat Dave tersenyum menyeringai karena gairah dalam diri Dave semakin menggebu. Apalagi saat ini dilihatnya wajah Laurel yang tersenyum manis ke arahnya, menunjukkan bahwa hati Laurel sudah tidak lagi gundah, bahkan dari desahan yang keluar dari bibir Laurel dan gerakan tubuh Laurel saat Dave mencium dan menyentuhnya di bagian-bagian sensitifnya, Dave bisa mengerti saat ini Laurel pun begitu menikmati tindakan yang sedang Dave lakukan kepadanya. Tindakan yang mengekspresikan cinta Dave yang luar biasa untuk istrinya, begitu juga Laurel, membiarkan tubuhnya memberikan reaksi untuk membuktikan cintanya kepada suaminya, hingga mereka melakukan penyatuan tubuh mereka pagi ini dengan penuh cinta.
# # # # # # #
“Pagi Laurel,” Begitu Laurel terpisah dari Dave yang berjalan ke kantornya, sedang Laurel ke arah kantornya sendiri, Nia langsung menarik lengan Laurel dan mengajaknya ke arah kantornya.
“Eh…, ada apa denganmu Nia?”
“Hust…, jangan berisik, kita ke kantorku dulu,” Nia meletakkan salah satu jari tangannya ke bibirnya, memberi tanda kepada Laurel agar tidak berisik. Akhirnya Laurel hanya bisa terdiam sambil mengikuti langkah-langkah Nia ke arah kantornya.
Setibanya di kantornya, Nia langsung menutup pintu kantornya, bahkan menguncinya dari dalam, sehingga membuat Laurel mengernyitkan alisnya tanda heran melihat tindakan Nia.
__ADS_1
“Sebenarnya apa yang terjadi Nia?” Tanpa menjawab pertanyaan Laurel, Nia mendorong pelan tubuh Laurel agar menjauh dari pintu kantornya ke arah meja kerjanya.
“Dengar Laurel, pagi ini aku tidak sengaja joging di dekat taman kota,” Nia meraih handphonenya yang tergeletak di meja kerjanya.
“Kamu tahu aku punya kebiasaan sering mengambil foto orang-orang di sekitarku saat aku melakukan kegiatan di luar. Di taman kota tempatnya banyak orang berkumpul, dan tanpa sengaja aku mengambil foto ini,” Nia menunjukkan ke arah Laurel beberapa buah foto yang menunjukkan gambar seseorang, bukan…, lebih tepatnya dua orang yang cukup dikenalnya, foto Raga dan Devan yang terlihat sedang berjoging beriringan berdua.
“Awalnya aku ingin mendekat ke arah Raga saat melihatnya dari kejauhan, tapi begitu tampak seseorang mendekat ke arahnya, aku jadi membatalkan niatku, dan tanpa sadar aku mengikuti mereka dan mengambil beberapa foto mereka karena penasaran,” Nia berkata sambil sedikit menaikkan salah satu alisnya ke atas.
“Kalau saja beberapa hari lalu kamu tidak menceritakan tentang hubunganmu di masa lalu dengan Devan Amarta, aku tidak akan sebegitu penasarannya ketika melihat Raga dan Devan yang tiba-tiba berjoging bersama. Terus terang aku mengenal sosok Devan Amarta karena foto-fotnya yang sering terpampang di koran daerah. Kamu yang kenal dia lebih baik dariku. Apa benar dia Devan Amarta? Kalau benar itu dia, apa menurutmu itu tidak aneh? Apa menurutmu ini hanya sebuah kebetulan? Atau kesengajaan?”
“Apanya yang aneh? Mungkin saja itu hanya kebetulan, Raga kenal dengan Devan,” Nia menarik tangan Laurel ke atas, di depan dadanya lalu menggenggamnya dengan erat.
“Laurel, perasaanku sungguh tidak enak mengenai foto-foto itu. Menurutku tindakan Raga di dekat Devan bukan seperti hubungan pertemanan atau persaudaraan, lebih ke arah hubungan antara atasan dan bawahan, antara pemimpin dan pegawainya,” Wajah Laurel berubah menjadi serius mendengar perkataan dari Nia.
“Ada baiknya foto-foto ini kamu tunjukkan ke Bos, aku yakin dia akan lebih bisa memecahkan masalah ini dibanding kita. Aku akan kirim foto-foto ini ke emailmu,” Laurel mengangguk menyetujui ide dari Nia. Tidak ada salahnya dia menunjukkan foto-foto itu kepada Dave, untuk menyelidiki sebenarnya apa hubungan Raga dan Devan, dan Laurel berharap jika hubungan mereka benar-benar hanya dua orang yang saling kenal tanpa sengaja.
Laurel sengaja meminta bantuan Lusiana untuk mengambil sample darahnya dan menyerahkannya ke lab rumah sakit atas nama orang lain yang diakui Lusiana sebagai salah seorang pasiennya agar tidak menimbulkan kecurigaan dan berita heboh jika hasil tes darah itu keluar atas namanya.
“Ok, aku akan menyempatkan waktu mampir ke kantornya nanti jam istirahat,” Laurel berkata sambil melirik jam di pergelangan tangannya.
“Ayo, sudah waktunya apel pagi,” Laurel berkata sambil melangkah mendekat ke arah pintu untuk keluar dari ruangan Nia yang langsung menyusulnya.
“Eh, memang bos tidak mengajakmu makan siang bersama nanti siang?” Laurel tersenyum mendengar pertanyaan Nia.
“Tidak, siang ini Bos ada janji makan siang bersama dengan salah satu klien perusahaannya yang ada di kota ini. Bos akan mengajak Mira sebagai asistennya,” Nia langsung tersenyum sambil menepuk pelan punggung Laurel setelah mendapatkan penjelasan dari Laurel tentang jadwal makan siang Dave.
Pantas saja…, kalau Bos ada di sini pasti kamu tidak ada kesempatan untuk bertemu kami. Rasanya Bos benar-benar membuatmu menjadi wanita yang paling bahagia dengan semua perhatian dan kasih sayangnya padamu, Nia berkata dalam hati sambil tersenyum geli.
__ADS_1
# # # # # # #
“Laurel...,” Begitu Laurel melangkahkan kakinya memasuki ruangan Lusiana, dengan cepat Lusiana memeluk tubuh Laurel sambil melompat-lompat kecil menunjukkan dia begitu bahagia, membuat Nia yang juga baru saja masuk ke ruangan tersebut mengernyitkan dahinya karena heran melihat tindakan kedua temannya.
“Kenapa denganmu Lus? Seperti orang yang baru menang undian saja?” Lusiana dan Laurel langsung menoleh bersamaan ke arah Nia dengan wajah kaget melihat kehadiran Nia yang tiba-tiba di ruangan itu.
“Nia! Tolong tutup pintu kantorku,” Nia yang mendengar perintah dari Lusiana hanya bisa mengangkat bahu, berjalan ke arah pintu dan menutupnya rapat-rapat.
“Sebenarnya ada apa sih? Apa ada sesuatu yang rahasia? Kenapa wajahmu berubah jadi tegang Lus?” Lusiana memberikan tanda melalui tangannya kepada Nia agar mendekat ke arahnya dan Laurel.
“Kenapa? Ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi?” Nia bertanya dengan kening berkerut.
“Haishh…, aku tidak berhak menjawabnya, karena itu berkaitan dengan masalah Laurel dan Bos,” Nia yang sudah berada di dekat Laurel dan Lusiana dengan tetap mengernyitkan dahinya memandang ke arah Laurel dalam-dalam, mencoba mengira-ira apa yang sudah terjadi antara Laurel dan Dave.
“Apa yang terjadi antara kamu dan Bos? Jangan bilang kalau Bos selingkuh. Beraninya dia mengkhianatimu! Aku akan membuat perhitungan dengannya sebagai sahabatmu! Aku akan…,”
“Hust!” Lusiana langsung menutup mulut Nia agar menghentikan bicaranya yang mulai tidak terkendali.
“Tidak apa-apa Lus, tunjukkan saja hasil lab darahku kepada Nia, tapi tolong jangan sampai orang lain mendengar tentang ini ya, karena orang pertama yang harusnya aku beritahu adalah Bos,” Nia menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju walaupun wajahnya terlihat benar-benar kebingungan. Tes darah? Apa Laurel sedang sakit? Kenapa tiba-tiba dia melakukan tes darah? Tapi melihat begitu senangnya wajah Lusiana, sepertinya itu bukan sesuatu yang buruk.
“Jelaskan saja hasil tes darahnya Lus,” Lusiana tersenyum dengan wajah bahagia mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Laurel.
“Hasil tes darahmu menyatakan kamu positif, kamu sedang mengandung, usia kehamilanmu sekarang berada pada usia kurang lebih 2 minggu,” Mendengar penjelasan Lusiana, tiba-tiba saja kaki Laurel mundur dua langkah ke belakang dengan wajah tidak percaya, dengan kedua tangannya mengatup di depan wajahnya, menutupi hidung dan bibirnya yang sedikit terbuka karena kaget.
Walaupun sebenarnya sejak Lusiana memeluknya sambil melompat-lompat kecil tadi Laurel sudah bisa mengira bahwa hasil tes darahnya akan menyatakan dia positif hamil, tapi dia tetap saja kaget mendengar penjelasan dari Lusiana, terlebih lagi Nia. Mata Nia melotot dengan mulut terbuka lebar, tubuhnya tiba-tiba saja terasa kaku dan tidak bisa digerakkan mendengar kabar yang baginya sungguh membahagiakan, namun juga begitu mengagetkannya.
Dave…, aku hamil…, aku hamil…! Di rahimku ada calon anak kita, bukti dari buah cinta kita, Laurel berkata dalam hati, tanpa sadar tiba-tiba saja matanya terasa lembab, dengan buru-buru Laurel menekan ujung kedua matanya dengan jari-jarinya agar tidak menangis, walaupun sebenarnya saat ini dia begitu ingin berteriak dan menangis karena bahagia, rasanya saat ini juga dia ingin berlari ke arah Dave, memberitahu Dave dengan bibirnya sendiri tentang kabar kehamilannya, ingin melihat bagaimana reaksi bahagia Dave saat mendengar kabar kehamilannya.
__ADS_1