CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
BERI AKU WAKTU


__ADS_3

“Dave,” Dengan lembut Laurel melepaskan tangan kanannnya dari genggaman tangan kanan Dave, lalu bergerak melepaskan pelukan tangan kiri Dave di pinggangnya, setelah itu Laurel membalikkan tubuhnya ke arah Dave yang tampak menarik nafasnya dalam-dalam dengan wajah tegang, menanti respon dari Laurel atas penyataan cintanya barusan.


“Dave, apa kamu sadar dengan apa yang baru saja kamu katakan padaku?” Mendengar pertanyaan Laurel yang terdengar ragu dengan apa yang baru saja didengarnya, Dave menatap lembut ke arah Laurel, membuat Laurel benar-benar sulit untuk tidak terpesona melihat keindahan mata biru yang sedang menatapnya saat ini. Tanpa Dave harus menjawab pertanyaannya, sebenarnya Laurel dapat melihat dengan jelas dari tatapan mata biru itu bahwa Dave serius dengan apa yang barusan dikatakannya, tapi banyak hal yang mengganjal di hati Laurel.


“Aku mencintaimu, mau berapa kalipun kamu mempertanyakan apa yang barusan aku katakan, aku tetap akan mengatakan bahwa aku mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu Laurel Tanputra,” Kedua telapak tangan Dave kembali menumpu di atas meja dapur, membuat tubuh Laurel kembali berada dalam kungkungan kedua lengannya, membuat wajah Laurel memerah, dadanya berdegup dengan kencang, apalagi jarak diantara kedua tubuh mereka berdua saat ini begitu dekat, membuatnya harus menarik nafas panjang untuk membuatnya memiliki keberanian untuk mengangkat wajahnya, memandang ke arah Dave.


“Terimakasih sudah mencintaiku, tapi kamu belum mengenal siapa aku Dave, aku tidak mau kamu menyesal setelah tahu tentang aku, tentang masa laluku, aku pernah membuat kesalahan besar terhadap seseorang, bahkan aku belum bisa memaafkan diriku sendiri karena kesalahanku itu,” Dave menatap wajah Laurel yang terlihat sedih, membuatnya ingin menjelaskan kepada Laurel bahwa dia adalah orang itu, dia sudah memaafkan semua kesalahan Laurel 7 tahun lalu, dan dia tidak pernah menyalahkan apalagi membenci Laurel barang sedetikpun, bahkan semakin hari dia semakin mencintai istrinya walaupun mereka belum pernah bersama selama 7 tahun lebih.


“Aku merasa sudah cukup mengenalmu, dan aku tidak perduli dengan masa lalumu, asal kamu menyambut perasaanku kita hanya perlu melihat ke depan, tidak perlu menoleh ke belakang,” Dengan lembut kedua tangan Laurel bergerak ke arah lengan Dave yang mengurung tubuhnya, menarik kedua lengan itu agar menjauh dari meja dapur, sehingga ada cukup jarak antara tubuhnya dan Dave yang saat ini saling berhadapan.


“Dave, aku bukan gadis remaja lagi, kalau aku menjalin hubungan dengan seorang pria, berarti aku akan serius memikirkan ke arah pernikahan,”


“Menurutmu aku juga tidak akan serius ke arah sana denganmu? Umurku juga sudah tidak lagi muda,” Laurel tersenyum mendengar perkataan Dave, andaikata boleh jujur, sejak Dave mengatakan Dave mencintainya pertama kali tadi, rasanya dia ingin sekali langsung memeluk Dave, berteriak mengatakan bahwa aku juga mencintaimu.


“Orang yang memutuskan menikah berarti dia tidak hanya menikah dengan pasangannya, tapi juga dengan keluarga pasangannya, itu artinya…,”


“Aku tahu,” Dave langsung menjawab perkataan Laurel dengan cepat.


“Keluargamu…,”


“Mereka pasti menerimamu dengan senang hati. Siapa yang tidak bangga memiliki menantu seorang dokter spesialis lulusan Harvard? Cantik? Pandai memasak? Murah senyum? Dan yang pasti, satu-satunya gadis yang sudah membuat jatuh cinta anak mereka, apalagi yang perlu dipertanyakan?” Laurel tersenyum mendengar kata-kata optimis dari Dave.


“Banyak gadis yang lebih pantas untukmu. Dengan latar belakang keluargamu yang hebat, kamu bisa mendapatkan gadis yang jauh lebih hebat dariku,”


“Aku hanya menginginkan Laurel Tanputra sebagai wanitaku, satu-satunya Laurel Tanputra yang saat ini ada di hadapanku, bukan Laurel yang lain, apalagi gadis lain,” Laurel menarik nafas dalam-dalam, dari mata biru Dave yang sedang memandangnya saat ini, dia tahu pasti bahwa Dave benar-benar serius dengan apa yang dikatakannya, apalagi selama ini dia tahu pasti, Dave bukan orang yang mudah bercanda, apalagi untuk hal sebesar ini.


“Dave, beri aku sedikit waktu untuk menjawab perasaanmu,” Dave sedikit mengernyitkan alisnya, dia tahu dari reaksi tubuh Laurel saat dalam pelukannya tadi dia bisa merasakan bahwa Luarel memiliki perasaan yang sama dengannya. Dengan jelas Dave melihat tidak ada sedikitpun penolakan Laurel terhadap pelukannya tadi, membuat Dave semakin percaya diri untuk mengulang pernyataan cintanya, tapi dia tidak mungkin memaksa Laurel untuk mengakuinya saat ini.


“Berapa lama aku harus menunggu jawabanmu?” Dave memandang wajah Laurel dengan lembut, rasanya dia ingin jawaban ya siang ini juga, tapi Dave menahan dirinya agar tidak memaksakan kehendaknya kepada Laurel, baginya mengingat reaksi Laurel tadi sudah cukup membuatnya bahagia dan yakin bahwa Laurel juga mencintainya, itu sudah cukup untuk saat ini, paling tidak dia yakin Larel tidak akan menghilang dari sisinya lagi seperti 7 tahun lalu.


“Aku akan memberimu waktu sampai aku kembali dari Irlandia,” Laurel tersenyum, dan tanpa disadarinya dengan cepat dia menganggukkan kepalanya, membuat Dave tersenyum lega.


“Terimakasih untuk pengertianmu Dave,” Dave tersenyum lembut mendengar perkataan Laurel, sekilas matanya melirik ke arah jam di pergelangan tangan kirinya.

__ADS_1


“Ah, sebaiknya kita segera makan, waktu kita tinggal 15 menit lagi,” Seolah-olah baru tersadar, mendengar perkataan Dave, Laurel buru-buru membereskan masakan yang tadi akan dipanaskannya, tangannya bergerak cepat ke arah kotak makan berisi ayam bakar yang tadi tumpah.


“Untung saja yang tumpah ayam bakarnya, bukan supnya,” Dave tersenyum melihat wajah Laurel yang sudah kembali ceria.


“Sini, aku bantu, serahkan padaku,” Dave kembali mendekat ke arah Laurel, diambilnya wadah kaca yang sudah berisi ayam bakar dan sup tom yam, dimasukkannya ke dalam microwave, memanaskannya untuk beberapa detik setelah itu mengambilnya kembali dan meletakkannya di atas meja marmer. Tanpa menunggu lama, Dave langsung mengambil ayam bakar dan menikmatinya.


“Enak sekali, aku tidak akan keberatan jika sepulangku dari Irlandia ada yang memasakkan aku ayam bakar seperti ini lagi,” Laurel tersenyum mendengar pemintaan dari Dave yang terlihat bahagia siang hari ini.


“Jangan khawatir, aku akan membuatkan lagi untukmu saat kamu pulang dari Irlandia,” Dave langsung tersenyum sambil menganggukkan kepalanya dengan mulut masih mengunyah, menikmati ayam bakar buatan Laurel.


“Dan saat aku menikmati ayam bakar ini untuk kedua kalinya, aku berharap gadis yang memasakkan ayam bakar ini sudah menjadi kekasihku, atau bahkan istriku,” Wajah Laurel langsung memerah mendengar perkataan dari Dave.


Walaupun aku menjawab ya saat inipun, mana mungkin dalam hitungan hari statusku langsung berubah menjadi istrimu? Laurel sedikit menundukkan kepalanya, berusaha fokus pada makanan di depannya agar Dave tidak menyadari bahwa sampai detik ini sejak Dave memeluknya, debaran di dadanya masih belum berkurang sama sekali.


# # # # # # #


“Kakak!” Freya yang baru saja datang langsung berlari memeluk Laurel, membuat Laurel langsung tertawa geli, melihat adiknya sampai dengan sekarang tetap bersikap manja padanya masih sama seperti saat mereka masih kanak-kanak.


“Selamat malam kak,” Laurel tersenyum mendengar suara sapaan dari Evelyn yang datang bersama Freya.


“Ah, ternyata menyenangkan sekali memiliki kakak perempuan,” Evelyn berkata sambil melepaskan pelukannya dari Laurel.


“Sudah lama aku iri dengan Freya, sepertinya enak sekali memiliki kakak perempuan, apalagi kakak secantik dan sebaik Kak Laurel,” Freya dan Laurel langsung tertawa mendengar perkataan Evelyn.


“Rumput tetangga memang seringkali terlihat lebih hijau ya, kamu ingin kakak perempuan, sedang aku begitu iri melihatmu memiliki kakak laki-laki yang memanjakanmu,” Evelyn langsung tertawa mendengar perkataan Freya, tapi tawa mereka langsung terhenti begitu melihat wajah Laurel yang langsung berubah tegang, membuat Freya dan Evelyn saling berpandangan, sadar sudah salah dalam berkata-kata di depan Laurel.


“Maafkan aku Evelyn,” Mendengar kata-kata Laurel, Evelyn langsung mendekat ke arahnya.


“Sudah kak, jangan bersedih, maaf, candaan kami mengingatkan Kak Laurel lagi tentang kakakku,” Laurel menarik nafas panjang, kata-kata Evelyn membuat rasa bersalah terhadap almarhum suaminya kembali memenuhi pikirannya, dan membuatnya teringat kembali akan pernyataan cinta Dave siang tadi. Rasa bersalah yang begitu besar terhadap almarhum suaminya merupakan alasan terbesar Laurel tidak berani menjawab pernyataan cinta Dave padanya saat itu juga.


“Ayolah, kita ke dalam dulu, jangan memikirkan hal yang menyedihkan hari ini,” Freya langsung menarik tangan Evelyn dan Laurel, mengajak mereka untuk memasuki rumah.


Begitu mereka masuk ke ruang tamu, Bi Umi segera menyambut mereka dengan sepiring penuh jajanan dan irisan buah segar.

__ADS_1


“Wah, makan besar,” Tanpa menunggu dipersilahkan, Freya dan Evelyn langsung menikmati suguhan di depannya, membuat Laurel tersenyum, sedikit melupakan apa yang baru saja terjadi.


Baru saja beberapa menit berlalu, suara panggilan di handphone Laurel membuat Laurel mengalihkan pandangannya dari kedua gadis yang sedang menikmati makanan di depannya ke arah handphonenya yang tergeletak di meja, di layar handphone jelas tertulis si mata elang, Freya dan Evelyn yang tidak sengaja membaca nama yang tertulis di layar handphone Laurel saling berpandangan heran karena nama yang tertulis di sana, sedang Laurel langsung tersenyum melihat nama itu, karena terus terang sejak beberapa waktu lalu dia ingin mengubah nama panggilan di kontak tersebut tapi selalu saja terlupakan.


“Siapa kak?” Freya berkata sambil mengernyitkan dahinya.


“Bos,” Laurel berkata sambil menempelkan jari telunjuk kanannya di bibirnya, memberi tanda agar Freya menghentikan bicaranya. Begitu Laurel menyebut bos, Freya dan Evelyn kembali saling berpandangan sambil mengernyitkan alis, karena mereka berdua tidak menyangka Laurel memberi sebutan si mata elang kepada Dave, yang bagi mereka berdua merupakan sosok kakak laki-laki yang walaupun pendiam tapi sangat baik hati dan lembut, tidak cocok sama sekali dengan julukan si mata elang yang diberikan oleh Laurel.


Laurel meraih hanpdhonenya dan berjalan menjauhi Freya dan Evelyn, duduk di kursi lain bersiap menerima panggilan telepon dari Dave.


"Eh, kamu lihat? Si mata elang? Kenapa Kak Laurel sampai memberikan julukan seperti itu buat Kak Dave?" Evelyn berbisik pelan ke telinga Freya.


"Kamu belum tahu, Kak Laurel sering bercerita kalau di rumah sakit sikap Kak Dave benar-benar dingin dan acuh tak acuh kepada Kak Laurel. Sepertinya selama ini sikap Kak Dave sudah membuat Kak Laurel salah paham," Evelyn menepuk keningnya.


"Ah, dasar Kak Dave, memang dia benar-benar tidak memiliki kemampuan kalau berhubungan dengan bagaimana mendapatkan hati perempuan, harusnya dia belajar dari Kak Bryan dan Kak Jhon. Memang kakak kita yang satu itu tidak bisa diandalkan kalau masalah mendekati wanita, walaupun istrinya sendiri. Kak Dave memang paling ahli jika harus melakukan jurus diam seribu bahasa," Evelyn berkata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Hust..." Freya buru-buru menutup mulut Evelyn begitu melihat Laurel melirik ke arah mereka, membuat Freya dan Evelyn harus melempar senyum ke arah Laurel agar tidak mempertanyakan bisik-bisik mereka berdua.


“Hallo,” Senyum bahagia langsung mengembang di bibir Dave begitu mendengar suara sahutan Laurel.


“Hallo Laurel, apa kamu sibuk malam ini? Bolehkan aku mampir ke rumahmu sebentar? Ada sesuatu yang mau aku berikan padamu, ada sesuatu yang tertinggal tadi,” Laurel melirik ke arah Freya dan Evelyn sebelum menjawab pertanyaan Dave dari seberang sana.


“Ehmmm, tidak sih, aku sedang bersantai di ruang tamu, silahkan saja kalau mau mampir kesini,”


“Aku sudah di dekat rumahmu, kurang dari 5 menit aku sampai,”


“Ok, aku tunggu,” Setelah Dave mengakhiri panggilannya, dengan gerakan pelan Laurel kembali mendekat ke arah Freya dan Evelyn, meletakkan handphonenya di atas meja.


“Waaahhhhh, ada yang mau kesini kak?” Freya langsung menggoda Laurel yang tampak sedikit memerah wajahnya setelah menerima telepon barusan.


“Ah…, tidak. Bos kakak besok berangkat ke Irlandia, mungkin ada sesuatu yang mau disampaikan sebelum pergi, mungkin tugas untuk di rumah sakit selama dia tidak ada,” Mulut Freya dan Evelyn langsung terbuka mendengar perkataan Laurel karena kaget.


“Maksud kakak bos kakak? Kak Dave? Mau kesini?” Laurel mengangguk pelan mendengar pertanyaan Freya yang tidak bisa menyembunyikan wajah senangnya mendengar Dave akan berkunjung ke rumah Laurel.

__ADS_1


 


 


__ADS_2