CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
MENIKMATI LIBURAN


__ADS_3

Laurel hanya bisa menahan nafasnya sekilas mendengar penjelasan Mira tentang kamarnya yang dipindahkan ke bangunan villa utama, yang artinya dia yang sedang berusaha menghindari Dave akan semakin sulit menghindari laki-laki tersebut jika mereka berada dalam satu atap walaupun beda kamar.


Laurel kembali teringat kejadian tadi pagi di ruang tamu villa dimana dia dan Dave hampir saja berciuman jika saja Evelyn dan Freya tidak datang. Dan dia tidak dapat membayangkan bagaimana malunya jika Evelyn dan Freya menemukan mereka sedang dalam kondisi berciuman, apalagi posisi dia yang duduk di pangkuan Dave.


Orang yang tidak mengerti kejadian sebenarnya bisa jadi akan berpikir bahwa dia sedang berusaha merayu Dave habis-habisan. Laurel sedikit mengutuki dirinya sendiri kenapa dia begitu sulit untuk menolak pesona dari Dave, begitu gampang terbawa arus dan suasana saat berada di dekat laki-laki itu. Tekad bulat dalam dirinya untuk berusaha untuk menenangkan diri, menata hatinya, mempertimbangkan hubungan mereka rasanya begitu saja luruh saat dia sudah berhadapan langsung dengan sosok Dave.


Membayangkan kejadian tadi pagi dan beberapa kata-kata Dave saat menggodanya membuat Laurel sedikit bergidik, walaupun secara status mereka sudah menikah tapi untuk benar-benar menjalani kehidupan sebagai istri Dave rasanya dia belum benar-benar siap karena dia merasa belum cukup mengenal siapa Dave sebenarnya.


Walaupun Laurel harus mengakui dia mencintai Dave, tapi baginya Dave adalah sosok yang masih asing, belum ada 3 bulan mereka saling mengenal. Bagaimanapun Laurel tidak bisa membayangkan bagaimana dia harus hidup bersama Dave untuk saat ini, dia benar-benar merasa belum siap.


Entah kenapa sampai saat ini dalam hati Laurel masih belum bisa percaya kenapa Dave yang begitu tampan, hebat dan kaya raya bisa jatuh cinta padanya dan memilihnya sebagai istrinya, bukan gadis lain yang lebih cantik, dan bahkan lebih kaya, supaya benar-benar sebanding dengan Dave, kadang ada rasa tidak percaya diri yang mencuat di dalam hatinya karena merasa bahwa dia hanya seorang gadis biasa-biasa saja, bahkan papanya yang sempat menjadi seorang narapidana untuk beberapa saat dan walaupun akhirnya nama baiknya bisa dipulihkan, membuat pandangan beberapa orang yang mengenal mereka kadang masih memandang keluarganya dengan pandangan merendahkan.


"Dok? Dokter Laurel?" Suara panggilan Mira membuat Laurel yang sedikit melamun begitu tersentak.


"Eh, ya Mir," Mira langsung tersenyum melihat wajah Laurel yang sedikit bingung dan terlihat tidak nyaman karena masalah perpindahan lokasi kamar mereka. Sebagai sesama wanita Mira bisa membayangkan bagaimana perasaan Laurel, tapi tetap saja sebagai orang yang ada di pihak Dave dia harus tetap mendukung Dave, baik sebagai bosnya sekaligus saudara sepupunya.


"Di bangunan villa utama ini ada 5 kamar, 4 diantaranya biasa dipakai oleh kedua orangtua bos, bos sendiri, Bryan, Evelyn dan satu lagi adalah yang biasa dipakai tamu yang berkunjung bersama mereka. Bos dan Evelyn akan menggunakan kamar yang biasa mereka pakai, dokter Leo akan memakai kamar yang biasa dipakai oleh Bryan, dan kita akan menempati kamar yang biasanya dipakai oleh tamu keluarga mereka," Laurel hanya bisa mengangguk asal-asalan mendengar penjelasan Mira, toh sepertinya dengan alasan apapun dia tidak akan diijinkan untuk berpindah kamar.


"Kamar kita ada di lantai bawah, 3 kamar yang lain ada di lantai dua," Mendengar Mira kembali melanjutkan penjelasannya membuat Laurel hanya diam sambil melirik ke arah sofa di ruang tamu yang tampak sudah kosong karena baik Leo dan Dave sudah meninggalkan ruang tamu ke kamar mereka masing-masing.


# # # # # # #


Laurel melirik ke arah jam di dinding kamar yang ditempatinya bersama Mira, jarum jam menunjukkan hmpir pukul 5 sore, berarti dia hanya punya waktu 15 menit sebelum semuanya berkumpul di lapangan terbuka dekat salah satu bangunan villa yang lain untuk makan malam bersama yang bertema bakaran, dengan berbagai menu yang dibakar, mulai dari ayam bakar, ikan bakar, baik ikan laut maupun ikan air tawar, udang bakar, cumi-cumi bakar, bakso bakar, sosis bakar, sate ayam, steik daging.

__ADS_1


Udara di villa keluarga Shaw yang memang terletak di daerah pegunungan membuat Laurel langsung meraih jaketnya sebelum berjalan keluar dari kamarnya. Untuk menghabiskan waktu sebelum waktu untuk makan malam Laurel lebih memilih untuk berjalan-jalan di sekeliling bangunan villa yang dikelilingi taman yang tertata rapi dan cukup memanjakan mata.


Laurel yang berjalan sampai di pinggiran jalan raya yang terletak di depan villa mengarahkan pandangannya ke arah villa keluarga Shaw. Villa tersebut memiliki 6 bangunan dan salah satu bangunan yang terlihat paling besar dan paling megah berada di sisi paling utara, bangunan yang saat ini di tempati oleh dia sendiri bersama Dave, Leo, Evelyn, Freya dan Mira.


Setiap bangunan di villa tersebut dipisahkan oleh taman yang cukup lebar di sebelah kanan kirinya dan di depan ke enam bangunan villa yang berjajar itu nampak lapangan terbuka yang cukup lebar, yang saat ini sedang berdiri tenda yang sengaja disiapkan untuk makan malam mereka sebentar lagi. Sebelum meninggalkan bangunan villa utama Laurel sempat berjalan ke arah bagian belakang villa, disana terdapat dua buah kolam renang, yang satu berukuran sangat besar, di sampingnya terlihat kolam renang lebih kecil dan terlihat dangkal, kolam renang yang sepertinya dikhususkan untuk anak-anak.


Di samping kiri kanannya kolam terlihat berjajar beberapa Gazebo (Gazebo adalah salah satu fasilitas dengan ruang-ruang terbuka sebagai alternatif tempat berkumpul dan melakukan kegiatan santai bersama anggota keluarga lainnya, banyak juga yang menyebut saung karena digunakan untuk tempat santai. Kuncinya adalah suasana alami, keakraban, kenyamanan dan keindahan) dengan design sekelilingnya terbuka, dengan atap berupa payung taman berukuran lebar, di bawahnya terdapat 2-4 kursi di masing-masing gazebo.


"Sepertinya kamu sedang menikmati indahnya pemandangan di villa ini," Laurel langsung menoleh begitu mendengar suara seseorang yang tiba-tiba berdiri di sebelahnya. Begitu Laurel menoleh ke arahnya, Arnold langsung tersenyum.


"Rasanya sudah lama kita tidak mengobrol," Laurel hanya bisa tersenyum mendengar perkataan Arnold.


"Beberapa lama ini sepertinya kita sama-sama sibuk," Arnold tertawa mendengar tanggapan Laurel atas perkataannya, diliriknya sekilas wajah Laurel sebelum matanya beralih mengikuti mata Laurel yang memandangi bangunan villa di depannya untuk mengaguminya.


"Kalau begitu sekarang waktunya kita melupakan kesibukan kita untuk bersenang-senang bersama yang lain," Laurel tersenyum mendengar kata-kata Arnold yang terdengar ceria.


"Wahhh, ternyata diam-diam kalian mencuri-curi waktu untuk berduaan disini ya?" Feri dan Roy yang baru saja datang ke arah Arnold dan Laurel langsung menggoda mereka berdua, membuat Laurel harus berpura-pura melihat ke arah lain sambil bergerak sedikit menjauh agar tidak menimbulkan salah paham, apalagi dilihatnya Dave dan Leo yang sedang berdiri di depan pintu masuk bangunan villa utama mengamati persiapan makan malam yang ada di bawah tenda besar yang terletak diantara bangunan villa dan tempat Laurel sedang berdiri dengan yang lain. Karena yang pasti dari tempatnya berdiri Leo dan Dave bisa dengan jelas melihat saat ini Laurel sedang berbincang santai dengan para dokter pria yang kebetulan masih lajang semuanya.


"Eh, tahu tidak, tadi aku lihat adik bos datang kesini bersama dengan seorang gadis cantik. Rasanya aku pernah bertemu dengannya, dimana ya?" Laurel melirik sekilas ke arah Roy yang membahas mengenai Evelyn dan Freya, bagaimanapun dia berharap mereka tidak ingat bahwa Freya adalah adiknya, karena pasti menjadi pertanyaan besar bagaimana Evelyn yang merupakan adik Dave terlihat begitu akrab dengan Freya yang merupakan adiknya.


Untung saja waktu pesta pindah rumah Freya lebih banyak di dapur, hanya sesekali muncul, jadi tidak banyak yang mengenalnya, Laurel berbisik dalam hati sambil mencoba tidak ikut terlibat dalam pembicaraan agar tidak mencurigakan.


"Di keluarga bos, bukan hanya adik bos yang cantik, bahkan teman-temannya pun cantik," Lusiana yang baru datang langsung menepuk bahu Feri.

__ADS_1


"Dokter kita satu ini matanya selalu hijau kalau melihat gadis cantik," Feri sedikit tersentak mendengar perkataan Lusiana yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya dan menepuk bahunya gara-gara perkataannya barusan yang memuji kecantikan Evelyn.


"Apa salahnya memuji keindahan ciptaan Tuhan, yang penting masalah hati, hanya dimiliki oleh satu orang gadis saja,"


"Wouuuuu...," Roy dan Arnold langsung berteriak sambil tertawa lebar mendengar jawaban Feri barusan.


"So sweet..., sejak kapan Feri bisa bersikap romantis begini? Aku pikir setelah terlalu lama berkutat dengan pasiennya yang semuanya perempuan, Feri sudah memutuskan untuk membujang seumur hidup," Arnold langsung tertawa mendengar olok-olok Roy yang ditujukan untuk Feri, membuat wajah Feri sedikit memerah, sedang Lusiana langsung tersenyum lebar.


"Ah, senang sekali ternyata temanku Feri sudah kenal apa itu jatuh cinta setelah sekian lama, semoga gadis yang kamu suka juga membalas cintamu. Kalau dia berani menolakmu, aku akan memberikan ceramah panjang padanya bagaimana baiknya laki-laki yang satu ini, rugi besar jika dia menolakmu," Lusiana menepuk-nepuk bahu Feri, membuat Laurel menahan senyumnya karena melihat sikap Lusiana yang benar-benar tidak sadar siapa gadis yang dimaksud oleh Feri yang wajahnya semakin memerah mendengar perkataan Lusiana.


Suara panggilan dari Raga melalui pengeras suara segera menyadarkan mereka untuk bergerak mendekat ke arah tempat untuk makan malam, membuat mereka untuk sementara menghentikan candaan mereka.


"Lus," Mendengar panggilan dari Feri, Lusiana langsung menghentikan langkahnya, membiarkan yang lain meninggalkan mereka lebih dahulu untuk menuju tenda tempat makan malam bersama.


"Eh, kalau kamu ada waktu, bagaimana kalau setelah makan malam kita keluar sebentar untuk membeli makanan ringan di toko yang ada di bawah. Temani aku, tadi Raga minta tolong padaku," Lusiana mengernyitkan alisnya sekilas mendengar permintaan Feri, lalu tersenyum, setelah sekian lama ini dia selalu menjadi orang yang selalu merepotkan Feri untuk membantu adiknya, paling tidak kali ini dia bisa membantu Feri walaupun hanya sekedar menemaninya belanja.


"Ok, tidak masalah, kebetulan aku juga harus membeli pasta gigi, aku lupa membawanya," Mendengar jawaban Lusiana, Feri tersenyum dengan wajah bahagia sambil menepuk bahu Lusiana lembut.


"Ayo, kita makan dulu, nanti aku tunggu kamu di depan pintu gerbang setelah makan malam," Lusiana mengangguk santai mendengar perkataan Feri, setelah itu dengan sedikit berlari langsung menyusul Laurel yang sudah berjalan sedikit jauh di depannya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2