CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
KUNJUNGAN


__ADS_3

“Kak, apa kakak dan bos kakak sedang pacaran?” Mendengar pertanyaan Freya, Laurel sedikit melotot karena kaget tidak menyangka mendapat pertanyaan seperti itu dari Freya.


“Ah, tidak, eh belum,”


“Tidak? Belum? Maksudnya?” Kali ini Evelyn ikut berkomentar karena penasaran.


“Ehmmm, tadi siang bos kakak menyatakan cintanya, tapi kakak belum jawab, kakak masih minta waktu untuk memikirkannya,” Laurel menjawab pelan.


“Ah, kenapa tidak langsung diterima saja kak?” Mendengar protes dari Evelyn, Freya buru-buru menyengolkan lengan tangan kirinya ke lengan kanan Evelyn yang langsung tersadar dengan apa yang baru dikatakannya mungkin membuat Laurel berpikir aneh kenapa Evelyn justru begitu mendukung mantan kakak iparnya dengan laki-laki lain, padahal kakaknya belum ada setahun meninggal.


“Kak Dave sepertinya laki-laki yang baik, kenapa kakak tidak berusaha memberinya kesempatan?” Freya segera mengajukan pertanyaan untuk mengalihkan perhatian Laurel dari pertanyaan Evelyn barusan sambil memandang ke arah Laurel yang terlihat sedikit termenung, terlihat bahwa dia sedang serius memikirkan sesuatu.


“Kalau boleh jujur, siapa sih yang tidak merasa bangga mendapatkan pernyataan cinta dari laki-laki sehebat bos kakak? Tapi rasanya masih sulit bagi kakak untuk menerima cintanya,” Laurel menarik nafas dalam-dalam.


“Apa kakak mencintai bos kakak?” Mendengar pertanyaan Evelyn, Laurel sedikit ragu-ragu untuk menjawab, mengingat siapa Evelyn, yang merupakan adik dari almarhum suaminya.


“Kakak jangan khawatir, kakak berhak untuk bahagia, kalau memang kakak mencintai bos kakak, tidak perlu menunggu lama untuk menjawab iya,” Laurel tersenyum mendengar perkataan Evelyn yang telihat tulus.


"Ah, kakak masih belum yakin dengan perasaan kakak sendiri, sepertinya kakak selalu tidak beruntung jika menjalin hubungan percintaan dengan seseorang," Selain almarhum suaminya, tentu saja Laurel langsung teringat kepada Devan.


"Kakak seorang gadis yang cantik, pintar, baik hati, apalagi yang membuat kakak tidak percaya diri?" Evelyn ikut tersenyum mendengar kata-kata Freya. Rasanya dia sangat tidak sabar menunggu kedua kakaknya itu bersatu selayaknya suami istri betulan, pasti akan menyenangkan melihat kebahagiaan kedua kakaknya itu.


"Mungkin aku tidak ditakdirkan untuk berjodoh dengan seseorang sementara ini," Freya dan Evelyn langsung melotot mendengar perkataan Laurel, tanda mereka tidak setuju dengan  apa yang baru saja mereka dengar.

__ADS_1


“Ah, sudah, kita tidak usah membahas itu lagi, lagipula bos kakak akan kesini, malu kalau sampai dia dengar kita membicarakannya,”


“Ehem…,” Suara deheman pelan dari arah pintu ruang tamu membuat ketiga gadis itu langsung menoleh ke arah sana, dimana sosok Dave sudah berdiri di ambang pintu ruang tamu dengan tangan kanannya memegang sebuah buket bunga yang terlihat cantik.


“Eh, silahkan masuk Dave,” Dengan buru-buru Laurel bangkit dari duduknya diikuti oleh Freya dan Evelyn. Dave tersenyum melihat Laurel yang tampak tetap cantik dengan pakaian santainya. Sekilas diliriknya Freya, dan Evelyn yang tentu saja membuat Dave sedikit mengernyitkan dahinya karena tidak menyangka akan bertemu Evelyn di rumah Laurel.


“Selamat malam Kak Dave, masuk yuk,” Freya menyodorkan tangan kanannya untuk memberikan salam pada Dave, dengan sedikit kikuk Evelyn ikut mengarahkan tangannya kepada Dave.


“Ini temanku Kak Dave, Evelyn,” Dengan santai Dave membalas uluran tangan Evelyn yang terlihat sedikit salah tingkah.


“Dave, senang berkenalan denganmu,”


“Evelyn,” Freya sedikit melirik ke arah Laurel dengan sedikit menarik nafas lega, karena dilihatnya Laurel begitu terfokus pada Dave, sehingga tidak memperhatikan Evelyn yang terlihat gugup karena harus berpura-pura tidak mengenal Dave.


“Eh, kak, kami ke dalam dulu, silahkan kalian lanjutkan urusan kalian,” Dengan sedikit terburu-buru Freya menarik lengan Evelyn dan mengajaknya masuk ke dalam, walaupun mereka akhirnya memilih untuk berdiri di balik lemari yang ada di ruang tamu agar bisa mendengarkan pembicaraan kedua kakak mereka itu.


“Terimakasih,” Laurel menerima buket bunga tersebut sambil tersenyum malu.


“Ada yang perlu kamu sampaikan? Tumben kamu kesini?” Mendengar pertanyaan Laurel, Dave sedikit menahan nafasnya.


“Mmmm, aku minta maaf untuk masalah tadi siang,” Laurel sedikit terbeliak mendengar perkataan Dave, mulai bertanya-tanya apakah Dave menyesal dan bermaksud menarik kembali pernyataan cintanya tadi siang?


“Apa ada yang salah dengan tadi siang? Apa kamu bermaksud menarik perkataanmu kemba…,” Dave buru-buru menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Laurel.

__ADS_1


“Tidak! Apa yang aku katakan tadi siang tidak ada yang salah, hanya saja…, seharusnya aku mengatakan itu di tempat dan suasana yang lebih sesuai, bukan dalam kondisi seperti tadi siang,” Kali ini mata Laurel benar-benar terbeliak, karena tidak menyangka Dave dengan wajah malu-malu mengatakan itu, hampir saja Laurel tidak bisa menahan senyumnya.


“Ah, Dave.., masalah itu…,”


“Aku minta maaf, seharusnya malam ini aku membawamu makan malam bersama, membawakanmu bunga, seharusnya aku menyatakan perasaanku di tengah alunan musik di restoran dengan suasana romantis,” Kali ini mendengar perkataan Dave, Laurel benar-benar tidak bisa menahan senyum lebarnya, membuat wajah Dave memerah.


“Apa sebelumnya kamu sudah berencana mengatur seperti itu?” Dave menganggukkan kepalanya pelan.


“Bahkan aku sudah menghafalkan setiap kata-kata dan urutan yang harus dilakukan sebelum aku menyatakan cintaku padamu, tapi semuanya menjadi berantakan tadi siang, karena itu aku datang kesini menyerahkan bunga yang sudah aku pesan sebelumnya untuk malam ini, dan kalau kamu tidak keberatan…, kita bisa keluar makan di restoran yang sudah aku pesan,” Laurel langsung terkikik pelan mendengar penjelasan Dave, membuat Dave sedikit menundukkan kepalanya sambil berdehem pelan.


“Maaf, aku bukan tipe laki-laki romantis yang pandai mengeluarkan kata-kata manis, aku harus banyak belajar dari orang lain. Beberapa hari ini aku banyak belajar dari internet dan bertanya dengan beberapa orang yang pakar dalam hal perempuan, tapi pada akhirnya tidak ada satupun yang berhasil aku lakukan,” Tawa Laurel meledak mendengar pengakuan Dave tentang dirinya, bagaimanapun pernyataan cinta Dave tadi siang sudah cukup membuatnya hampir kehilangan kendali dan langsung mengatakan iya saat itu juga tanpa berpikir panjang. Laurel kembali teringat kejadian tadi siang saat Dave menyatakan perasaannya, dan mengingat itu saja sudah cukup membuat dada Laurel kembali berdetak dengan keras.


“Ah, kamu benar-benar membuatku kehabisan kata-kata Dave,” Dave mengernyitkan alisnya mendengar perkataan Laurel yang terlihat berusaha keras menghentikan tawanya.


“Kamu tidak perlu menjadi orang lain atau belajar dari orang lain, dengan menjadi dirimu sendiri bagiku kamu adalah sosok pria yang sangat mengagumkan, kamu tidak perlu berubah menjadi orang lain,” Laurel tersenyum melihat senyum lega di wajah Dave.


Ah, andaikata aku bisa langsung mengatakan ya saat ini juga, Laurel berbisik dalam hati, dipandanginya wajah laki-laki di depannya yang sejak pertemuan pertama mereka sudah membuatnya sulit untuk mengalihkan pandangannya dari sosok laki-laki itu. Baik saat Dave menatapnya dengan tajam dan dingin dulu, atau sekarang dengan tatapan lembut, bagi Laurel, Dave merupakan laki-laki yang seringkali membuat dadanya berdebar dengan kencang dan membuatnya ingin selalu berada di sisi laki-laki itu, ingin lebih lagi mengenal tentang laki-laki itu.


“Aku tidak berencana keluar malam ini, tidak apa kan Dave?” Dave mengangguk sambil tersenyum, toh tadi siang dia sudah mengungkapkan isi hatinya kepada Laurel, kalaupun mereka keluar malam ini ke restoran, hanya akan menjadi makan malam biasa.


“Terimakasih untuk buket bunganya, cantik,” Laurel memandang ke arah buket bunga yang dia letakkan di atas meja di depannya.


“Tapi tidak secantik yang menerima bunganya,” Laurel tersenyum geli mendengar Dave memujinya dengan suara gugup, sepertinya dia berusaha keras untuk mengucapkan kata-kata barusan, seperti orang yang sedang menghafalkan materi pelajaran sekolahnya, dan entah darimana dia mempelajari kata-katanya barusan.

__ADS_1


 


 


__ADS_2