
Dave memantul-mantulkan bola voli di tangannya sambil berjalan ke arah pojok lapangan untuk melakukan servis (servis merupakan istilah bahasa yang digunakan pada saat pukulan pertama). Begitu peluit ditiup Dave langsung melakukan gerakan jump serve, (Jump serve adalah servis dengan melambungkan bola disertai lopatan dan pukulan yang keras), membuat para penonton terutama penonton wanita berteriak dengan histeris karena gerakan Dave yang terlihat begitu mengagumkan bagi mereka yang melihatnya, apalagi didukung oleh wajah tampan, perawakan tubuhnya yang atletis, ciri khas tubuh seorang laki-laki yang rajin berolahraga dan tinggi badan mencapai hampir 190 cm.
Dan seperti yang biasanya terjadi pada saat proses latihan mereka, hari ini dengan keberadaan Dave dan Laurel, tim voli mereka di babak kedua ini membuat tim lawan tidak berkutik sama sekali, tim dari rumah sakit Nugrah Indonesia menang dengan telak.
"Prittttt...," Bunyi peluit yang ditiup panjang menandakan pertandingan sudah voli sudah selesai, membuat Nia langsung berlari memeluk Laurel karena mereka berhasil memenangkan pertandingan dengan telak di babak kedua ini. Karena ungkapan rasa bahagia berhasil memenangkan pertandingan mereka saling melakukan tos dengan kedua tangan mereka, termasuk Dave dan Laurel, tapi begitu mereka berdua sadar mereka baru saja melakukan tos mereka langsung saling mengalihkan pandangan mereka satu dengan yang lain untuk menutupi rasa canggung mereka, karena sebenarnya sejak kejadian siang itu saat asam lambung Laurel kambuh di rumah sakit mereka belum pernah saling berbicara satu sama lain.
Sejak hari itu setiap Laurel melihat sosok Dave dari jauh, dia dengan segera akan buru-buru memutar badannya untuk mencari jalan lain untuk menghindar bertemu dengan Dave. Mereka hanya bertemu saat apel pagi atau siang saat pergantian shift bersama dokter dan karyawan yang lain, itupun Laurel berusaha mengambil posisi berdiri paling jauh dari posisi Dave. Dave bukannya tidak tahu Laurel sengaja menghindarinya, tapi dia memilih untuk diam karena tidak ingin jika dia kembali memaksakan kehendaknya seperti 7 tahun lalu justru akan mendorong Laurel pergi dari sisinya lagi.
"Bos, Laurel! Kalian berdua hebat sekali," Nia melingkarkan lengan kanannya ke bahu Laurel. Dave yang berdiri di hadapan mereka tersenyum melihat Nia yang begitu ceria karena tim mereka sudah memenangkan pertandingan final sore itu.
Dari arah lain tampak Roy, Feri dan Arnold berjalan dari arah lapangan basket ke arah lapangan voli, sedang sosok Leo dan Hana tampak berjalan dari arah posko bakti sosial. Leo baru saja hendak memberikan botol air mineral ke arah Dave, tapi gerakan tangan Hana lebih cepat sehingga Dave hanya bisa menerima uluran botol air mineral dari Hana tanpa bisa menolaknya, karena jika dia menolaknya dia akan mempermalukan Hana di depan teman-teman yang lain. Melihat itu Leo berjalan ke arah Laurel, lalu menyodorkan botol minuman yang dipegangnya kepada Laurel.
"Bagi berdua dengan Nia," Laurel langsung tertawa kecil sembari mengacungkan jempol tangan kanannya mendengar permintaan Leo, sedang Dave langsung melirik ke arah wajah Laurel yang sedang tertawa menunjukkan pesona lesung pipit di pipinya.
"Walaupun di perlombaan basket kita hanya menjadi juara 3, lumayan lah, paling tidak latihan kita tidak sia-sia, dan hadiahnya bisa kita pakai untuk liburan bersama-sama," Mendengar kata-kata Feri, Lusiana langsung menepuk bahu Feri dengan tangan kanannya.
"Itukan tim kalian para pria, tim basket kami tetap yang terbaik," Laurel dan yang lain langsung tertawa mendengar perkataan Lusiana yang memang berhasil membawa tim basket wanitanya menjadi juara 1.
"Lain kali tim basket pria perlu banyak belajar dari kami para wanita-wanita hebat," Feri langsung menjitak jidat Lusiana mendengar bicaranya dengan nada sombong, membuat Lusiana langsung bergerak ke arah Feri dan berusaha memukulnya, sehingga membuat Feri langsung membungkuk dengan kedua tangan di depan dadanya untuk melindungi diri.
__ADS_1
"Hei, kalian sudah seperti anjing dan kucing saja," Nia langsung meraih lengan Lusiana untuk menghentikan tindakannya pada Feri yang langsung tertawa tergelak.
"Laki-laki memang benar-benar menakutkan, betul kan Laurel," Tanpa disangka-sangka Lusiana langsung memeluk Laurel dengan gaya seperti orang yang ketakutan, membuat Laurel justru mengelus-elus kepala Lusiana seperti seorang mama yang mendapat laporan dari anaknya bahwa baru saja ada teman yang membullynya, membuat Feri semakin tertawa terpingkal-pingkal.
"Ok Lus, laporkan saja ke mama Laurel, biar dia yang membalasku. Kalau Laurel yang memukulku, dengan senang hati aku menyerahkan tubuhku, membiarkan dia memukulku sampai puas, anggap saja aku dapat pijatan gratis darinya," Mendengar perkataan Feri, Arnold langsung melingkarkan lengannya ke leher Feri dan mencekiknya walaupun tidak dengan sepenuh tenaga, hanya sekedar berpura-pura, membuat Feri kembali tertawa.
Mendengar candaan dari teman-teman sejawatnya Laurel hanya bisa tersenyum simpul, sekilas diliriknya wajah Dave yang tampak tegang dan tampak sengaja mengalihkan pandangannya ke tempat lain, seolah-olah tidak mendengar apa yang baru mereka ributkan barusan.
# # # # # # #
Denia dan Freya dibantu Bi Umi dan Rita tampak sibuk menata aneka masakan dan jajanan basah di atas meja yang diletakkan di kebun belakang rumah yang akan ditempati Laurel kembali. Sesuai permintaan Laurel beberapa waktu yang lalu, Laurel meminta bantuan Denia dan Freya untuk membantunya menyiapkan pesta sederhana di kebun belakang karena Laurel tidak mau acaranya terlalu resmi, dia ingin suasana santai untuk pestanya malam itu.
"Aduh kakak, kenapa memakai pakaian dan berdandan seperti itu?" Laurel mengerucutkan bibirnya sekaligus mengernyitkan dahinya.
"Memang ada yang salah dengan dandananku?" Mendengar pertanyaan Laurel bukannya menjawabnya, Freya justru melipat tangannya ke depan sambil mengamati Laurel dari atas ke bawah yang sedang mengenakan kaos berkerah dan celana jeans biru. Freya mengamati penampilan kakaknya sambil mencibirkan bibirnya, lalu membuat bibirnya naik ke atas dengan pandangan tidak puas melihat penampilan tuan rumah hari ini.
"Ckckckckc..., kakak ini harusnya sebagai tuan rumah berdandan lebih anggun dan cantik, sini, biar aku yang bereskan," Freya menggeleng-gelengkan kepalanya dan langsung menarik tangan Laurel, mengajaknya kembali ke kamarnya. Setelah sampai di depan meja rias, Freya langsung memaksa Laurel untuk duduk di depan meja rias, dan mulai memperbaiki riasan Laurel.
Freya selain memiliki keahlian masak juga memiliki kemampuan merias wajah, bahkan banyak dari teman-temannya sering memanggilnya secara pribadi untuk merias wajah mereka jika mereka hendak menghadiri pesta atau mereka sendiri menjadi tuan rumah pesta. Beda dengan Laurel yang terbiasa berdandan asal-asalan karena memang kurang bisa, untung saja wajah cantiknya tidak memerlukan make up untuk membuatnya cantik.
__ADS_1
"Freya, kenapa sih harus berdandan berlebihan? Ini kan hanya makan bersama untuk syukuran pindah rumah?"
"Hust...Kakak diam saja, tolong tetap tutup mata ya, sebentar saja selesai kok aku. Pokoknya malam ini tuan rumah harus terlihat paling cantik diantara tamu undangan yang lain. Walapun kakak pada dasarnya sudah cantik sih, tapi dengan sentuhan make upku, aku yakin semua teman-teman kakak akan terperangah, terutama bos kakak," Dengan mata masih tertutup, Laurel mengernyitkan dahinya, merasa heran Freya menyebutkan tentang Dave.
"Memang kenapa dengan bos kakak? Apa kamu kenal dia?" Freya sempat menghentikan gerakan tangannya sebentar, seperti seseorang yang baru saja ketahuan melakukan kesalahan, tapi dengan cepat Freya langsung menggerakkan tangannya kembali.
"Ehmm, tidak, kakak dulu pernah cerita tentang bos kakak adalah laki-laki single yang sangat tampan. Apa kakak tidak ada keinginan untuk mendekatinya?" Laurel langsung tertawa mendengar perkataan Freya.
"Tidak! Kamu belum tahu betapa menakutkan tatapan matanya dan wajah tanpa senyumnya. Tampan sih tampan, tampannya kebangetan malah, tapi dia tidak pernah bersikap ramah kepada kakak, seperti kakak ini musuh besarnya. Lagipula laki-laki sehebat dia, mana mau dengan seorang janda?" Freya tertawa mendengar pertanyaan Laurel.
"Kalau dia mau berarti kakak juga ok?" Laurel tertawa geli melihat Freya yang begitu ngotot mau menjodohkannya dengan Dave, padahal Freya hanya mendengar tentang Dave dari apa yang pernah diceritakan oleh Laurel.
"Kalaupun dia mau, keluarganya yang kaya raya belum tentu bisa menerima kakak yang janda sebagai menantunya," Freya tersenyum mendengar kata-kata Laurel yang terdengar rendah diri.
"Kakak kan bukan janda biasa, kakak masih perawan, mana bisa dikatakan janda?" Mendengar kata-kata Freya, Laurel langsung terdiam untuk beberapa lama.
"Apa yang bisa dibanggakan dari itu? Bukannya itu justru mengingatkan betapa kurang ajarnya aku terhadap almarhum suamiku? Meninggalkannya di hari pernikahan kami, bahkan saat kematian dan penguburannya aku tidak ada di sisinya," Laurel menarik nafas panjang, entah kenapa akhir-akhir ini rasa bersalah itu begitu sering menghantuinya, mungkin benar kata orang, kadang kita begitu terlambat menyadari kebaikan seseorang saat orang itu sudah tidak ada di dunia ini lagi.
__ADS_1