CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
MENJADI PELINDUNGMU


__ADS_3

"Hallo," Dengan ragu-ragu Laurel mengangkat panggilan, suaranya sedikit gugup karena selain memikirkan dan berusaha menebak apa yang ada di pikiran Dave saat dia melihat dan membaca apa yang tertulis di grup, jujur saja Laurel juga merindukan suara Dave yang sudah cukup lama tidak didengarnya selama beberapa hari ini sejak Dave pergi ke Irlandia. Laki-laki itu memang selalu mengirimnya banyak pesan, tapi selama dia berada di Irlandia belum pernah sekalipun Dave menelponnya.


"Jangan meneruskan apapun yang akan kamu tulis di grup, biarkan saja, kamu tidak perlu menjelaskan apapun kepada yang lain, aku tidak perduli apa kata mereka tentang kamu, aku lebih tahu tentang kamu dari siapapun diantara mereka," Laurel sedikit tersentak mendengar perkataan Dave yang lebih menyerupai sebuah perintah, sedikit heran bagaimana Dave tahu dia berencana menuliskan sesuatu di grup, kecuali..., sedari awal pesan-pesan itu bermunculan Dave terus mengikuti, sehingga dia bisa tahu dengan jelas jika ada seseorang yang sedang menulis sesuatu sebelum benar-benar terkirim.


"Iya," Laurel menjawab singkat dengan sedikit tersenyum, karena dari perintah dan perkataan Dave barusan baginya jelas bahwa Dave begitu mempercayainya, tidak perduli dengan apa yang dikatakan orang tentangnya dan Leo, sehingga dia tidak perlu mengklarifikasi apapun. Selain itu, dari perintah Dave terlihat jelas Dave begitu ingin melindunginya dari orang-orang yang justu akan memojokkannya jika dia salah menuliskan sesuatu di grup saat melakukan klarifikasi.


"Kenapa dengan suaramu? Apa kamu sedang sakit?" Dave langsung menanyakan kondisi Laurel begitu didengarnya suara Laurel yang menunjukkan tanda-tanda bahwa hidungnya sedang tersumbat. Laurel buru-buru meraih tissue di atas nakas dan membersihkan hidungnya.


"Ah, aku baik-baik saja, hanya sedikit demam dan pilek karena sejak kemarin terkena hujan," Laurel menjawab pelan.


"Kenapa kamu tidak memberitahuku kalau kamu sedang tidak enak badan? Padahal setiap hari aku bertanya tentang kabarmu. Kalau aku tidak menelponmu saat ini, aku yakin kamu pasti tidak akan memberitahuku bahwa kamu sedang sakit. Kenapa tidak mengajukan cuti supaya kamu bisa beristirahat? Apa kamu sudah minum obat?" Laurel tersenyum mendengar perkataan Dave, yang membuatnya yakin Dave sudah melupakan sesuatu tentang statusnya sebagai karyawan baru di rumah sakitnya.


"Aku sudah minum obat, tapi sesuai perjanjian di awal kontrak ketika aku bergabung di rumah sakitmu, dilarang mengajukan cuti sebelum masa percobaanku 3 bulan berakhir," Dave tersenyum mendengar penolakan dari Laurel untuk beristirahat.


"Jangan perdulikan tentang surat kontrak perjanjian kerja itu, sesampainya aku di sana kita bisa perbarui surat perjanjiannya," Laurel sedikit tertawa mendengar kata-kata Dave.


"Tidak perlu, aku juga ingin bekerja secara profesional, bukannya mendapat banyak kemudahan karena koneksi. Itu justru akan membuatku jadi orang yang manja,"


"O ya? Sejak kapan seseorang yang kuliah di luar negeri dengan beasiswa yang di dapatnya dengan cara belajar dengan begitu keras dan melakukan kerja part time, bahkan dua kerja part time sekaligus untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dianggap sebagai seorang yang manja?"


"Eh, bagaimana kamu tahu?" Laurel sedikit terbeliak mendengar perkataan Dave, sedang Dave sedikit tersentak karena tanpa disadarinya dia sudah terlalu banyak bicara tentang sesuatu yang harusnya tidak dia bicarakan.


"Ehm, dengan nilai cumlaude yang kamu miliki pasti kamu dapat banyak tawaran beasiswa, masalah part time..., aku dengar dari adikmu Freya ketika bertemu dengannya di pesta pindah rumahmu," Laurel tersenyum mendengar penjelasan dari Dave yang langsung sedikit menarik nafas lega begitu Laurel tidak melanjutkan pertanyaannya.

__ADS_1


"Yang penting besok kamu istirahat saja di rumah," Dave melanjutkan bicaranya.


"Kita lihat saja besok, kalau keadaanku sudah membaik, buat apa aku bermalas-malasan di rumah? Apalagi saat bosku tidak ada di tempat. Bisa-bisa orang berpikir aku memanfaatkan kesempatan untuk bersantai saat tidak ada pemimpin yang mengawasi,"


"Kamu benar-benar keras kepala," Laurel tersenyum mendengar perkataan Dave yang diikuti dengan desahan pelan karena tidak berhasil membujuknya mengambil libur besok untuk beristirahat.


"Bukankah itu yang normal? Bayangkan saja kalau tulang kepala kita tidak sekeras ini, pasti otak kita akan bermasalah, sebagai dokter bedah syaraf rasanya kamu pasti lebih mengerti daripada aku," Dave tertawa pelan mendengar candaan dari Laurel, rasanya sore ini dia merasa puas bisa mendengar suara ceria Laurel, membayangkan wajah cantik dan lesung pipitnya saat berbicara sambil tersenyum.


Sejak kepergiannya ke Irlandia Dave sudah beberapa kali menahan dirinya untuk tidak menelpon Laurel, karena dia juga ingin memberi Laurel waktu untuk memikirkan perasaannya tanpa merasa tertekan, dan juga dia ingin gadis itu seperti dirinya yang merasakan rindu saat mereka berjauhan selama beberapa hari ini, tapi dengan adanya kejadian di grup tadi, membuatnya memiliki alasan kuat untuk menelpon gadisnya. Dave tersenyum dengan membayangkan bagaimana ke depannya saat Laurel benar-benar sudah menjadi wanitanya.


"Sudahlah, terserah apa maumu asal kamu senang dan tidak mengganggu kesehatanmu. Di sana pasti sudah malam. Aku akan tutup telponnya, lebih baik kamu istirahat sekarang. Matikan handphonemu agar tidak terganggu istirahatmu. Selamat beristirahat," Dave mematikan panggilannya, Laurel memandang ke arah handphonenya dengan senyum tersungging di bibirnya, rasanya hatinya merasa bahagia karena bisa mendengar suara Dave hari ini, dan dengan sikap Dave hari ini rasanya dia semakin yakin dan sudah bisa memastikan pada dirinya sendiri jawaban apa yang akan dia berikan kepada Dave tentang pernyataan cintanya, apalagi selama beberapa hari ini dia mulai merasa yakin dengan perasaan cintanya terhadap Dave. Tanpa disadarinya Laurel merasakan malam ini sakit kepala dan demamnya terasa jauh lebih baik setelah beberapa saat dia mengobrol dengan Dave.


# # # # # # #


Leo memandangi layar handphonenya sedari tadi, dibacanya dengan pelan dan teliti setiap komentar-komentar yang bermunculan di grup. Ada satu pesan yang saat ini begitu ditunggunya untuk muncul, tapi beberapa kali Leo mengecek pesan-pesan yang masuk, tidak ada satupun yang berasal dari Laurel.


Laurel Tanputra, aku berharap kamu menuliskan sesuatu di grup untuk menanggapi semua pesan itu, agar paling tidak aku bisa menilai sebenarnya apa yang kamu pikirkan tentang aku. Aku tahu kamu adalah wanita milik Dave, tapi kenapa begitu sulit menyingkirkan bayanganmu dari pikiranku, apalagi sampai saat ini kamu belum memutuskan memberikan hatimu untuk Dave. Aku akan dengan rela hati membiarkan cinta tidak terbalasku asal kalian bahagia. Dave laki-laki yang sangat mencintaimu, tapi jika Dave membuatmu menangis lagi, aku tidak akan membiarkannya lagi seperti waktu itu, aku ingin menjadi malaikat pelindungmu selama aku bisa, Leo berkata dalam hati sambil menarik nafas dalam-dalam, setelah itu jari-jarinya sibuk menuliskan sesuatu di grup mereka.


# # # # # # #


Untuk beberapa saat setelah mengakhiri panggilan teleponnya Dave kembali membaca pesan-pesan baru yang tertulis di grup, sampai pada pesan terakhir yang dituliskan oleh Leo.


Kenapa dengan kalian semua? Apa ada yang salah jika seorang pemimpin membantu anak buahnya yang sedang butuh bantuan? Ke depannya jika kalian menjadi pemimpin kalian harus belajar menjadi orang yang siap membantu orang lain apalagi jika itu anak buahmu, yang artinya anak-anak kalian juga. Tidak akan ada pemimpin yang sukses jika dia tidak pernah menjadi seorang yang rela melayani orang lain.

__ADS_1


Dave tersenyum membaca pesan dari Leo yang membuat semua orang menghentikan ocehannya di grup tanpa harus membuat Laurel menjelaskan apapun. Sedari awal Dave memang membiarkan semua orang berkata sesuka hatinya dan menghalangi Laurel melakukan klarifikasi karena saat ini posisi Laurel sebagai pegawai baru pasti akan menjadi masalah jika dia dianggap terlalu vokal, tapi dengan adanya Leo sebagai orang lain yang terlibat dalam kejadian itu sekaligus posisi Leo sebagai pemimpin kedua setelah dia di rumah sakit itu membuat yang lain tidak akan berani menentangnya, apalagi saat dia sedang tidak ada di tempat, menentang Leo sama dengan menentangnya sebagai pemimpin tertinggi di rumah sakit Anugrah Indonesia. Apalagi, Dave tidak ingin jika Laurel memberikan klarifikasi tentang kejadian tadi sore, membuat Leo berpikir bahwa Laurel sengaja memberikan klarifikasi karena mengkhawatirkan Leo.


Setelah membaca pesan Leo di grup, Dave yang mengenakan setelan jas lengkap dan berdiri dengan kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana jasnya memandang keluar dari kaca besar yang ada di kantornya di Irlandia.


Aku percaya padamu, tapi jujur saja aku tidak percaya pada orang-orang di sekitarmu, apalagi mengingat malam itu, kejadian 7 tahun lalu. Aku benar-benar berharap kamu segera menerima perasaanku agar aku bisa selalu berdiri di sisimu, bisa sepenuhnya melindungimu, Dave berkata dalam hati sambil menarik nafas panjang.


"Kak," Dave langsung menoleh mendengar suara panggilan dari Bryan yang langsung mengambil posisi berdiri di sebelahnya.


"Apa ada masalah kak? Apa yang sedang kamu pikirkan?" Melihat wajah Dave yang begitu serius membuat Bryan tidak tahan untuk tidak bertanya.


"Ada sedikit masalah yang terjadi di rumah sakit tadi sore," Bryan tersenyum sambil melirik ke arah Dave yang baginya tampak menawan dan gagah mengenakan setelan jasnya, sayangnya dia tahu pemandangan seperti itu sangat jarang dia temui karena kakaknya lebih senang mengenakan jas dokternya, padahal dengan otaknya yang boleh dibilang jenius Bryan tahu seharusnya perusahaan akan jauh lebih berkembang jika Dave yang terjun langsung, bukan hanya sekedar sebagai BOD.


"Apa ada hubungannya dengan Kak Laurel?" Dave mengangguk pelan menjawab pertanyaan dari Bryan.


"Ayolah kak, Kakak harus cepat menarik Kak Laurel di sisi Kakak sebelum yang lain merebutnya dari Kakak. Kakak ipar begitu cantik dan manis, pasti banyak laki-laki yang menyukainya. Kenapa Kakak lambat sekali. Sudah berapa lama kalian bertemu, kenapa Kakak tidak langsung bertindak?" Dave tersenyum mendengar perkataan Bryan.


"Aku sudah menyatakan perasaanku kepadanya, begitu aku kembali dia berjanji akan menjawabnya," Bryan tertawa mendengar perkataan Dave.


"Hmmm, ternyata kakak cukup ada kemajuan walaupun masih minim sekali, tapi Kak, belajarlah menarik hati wanita dengan kata-kata dan sikap manis, berikan banyak hadiah, perhatian, senyum, kata-kata manis. Kakak harus memperlakukan Kak Laurel dengan lembut dan romantis, jangan galak-galak," Dave langsung menoleh dengan mata sedikit melotot mendengar perkataan Bryan yang mengatakan dirinya galak.


"Sial, aku bukan playboy bermulut manis sepertimu," Dave memukul lengan Bryan pelan sambil tersenyum.


"Kak...," Bryan mendekat ke arah Dave, menggerakkan bibirnya ke arah Dave dan berbisik pelan ke telinga Dave.

__ADS_1


"Bagaimanapun kakak ipar kan istri Kakak. Sudah 7 tahun lebih Kakak menunggunya kan? Bagaimana kalau dengan cara lembut tidak berhasil Kakak sedikit bersikap agresif? " Dave langsung melotot mendengar saran dari Bryan, dan langsung memiting leher Bryan dengan lengan kanannya dan sedikit membungkukan badannya, seolah dia akan membanting tubuh Bryan di lantai, membuat Bryan segera meminta ampun sambil tertawa terbahak-bahak.


"Tidak ada ruginya dicoba kan? Setelah begitu lama..., aku tahu Kakak juga pasti menginginkannya kan?" Bryan yang sudah lepas dari Dave kembali mengeluarkan pendapatnya sambil buru-buru berlari menjauh dengan tetap tertawa sebelum Dave kembali bertindak, membuat Dave kembali memelototkan matanya ke arah Bryan.


__ADS_2