CINTA KARNA CINTA

CINTA KARNA CINTA
MAKAN SIANG TANPAMU


__ADS_3

"Ayolah..., cepat habiskan makanmu, keburu dingin," Nia berkata sambil menggerak-gerakkan telapak tangannya di depan wajah Laurel yang terlihat banyak melamun sambil sesekali mengulum senyum di wajahnya siang ini.


Melihat tangan Nia yang bergoyang-goyang di depan wajahnya membuat Laurel sedikit tersentak kaget, dan untuk beberapa detik ke depan Laurel memandang ke arah Nia dan Lusiana yang sedang duduk di depannya, di meja makan kantin sambil tersenyum manis, membuat Lusiana tertawa pelan.


"Kenapa Nia? Apa ada yang salah denganku?" Laurel bertanya dengan wajah polosnya, membuat Lusiana langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ckckckck..., melihatmu seperti ini rasanya aku percaya sekarang kamu pasti sedang melamunkan Bos. Pasti kamu sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya sekarang," Lusiana langsung saja menjawab pertanyaan Laurel yang ditujukan untuk Nia, membuat Indah yang sedang duduk di sebelah Laurel langsung mengernyitkan dahinya karena merasa heran.


"Memang sudah berapa lama kamu tidak bertemu Bos? Bukannya tadi pagi kalian masih berangkat kerja bersama?" Nia langsung tertawa mendengar pertanyaan polos dari Nia yang belum tahu tentang kondisi kehamilan Laurel.


"Tenang Indah, mereka itu sepasang pengantin baru yang sedang menikmati masa bulan madu mereka. Apa kamu tidak melihat wajah Laurel yang sekarang sedang begitu merindukan sosok suaminya? Sedari tadi sibuk mengaduk-aduk makanan di piringnya sambil melamun, bahkan kadang tersenyum-senyum sendiri. Aku tidak akan percaya kalau Laurel berani mengatakan kalau nasi soto banjar yang sudah ada di hadapannya bukan makanan favoritnya, sedangkan hampir setiap hari dia memilih menu itu untuk makan siangnya," Mendengar perkataan Nia, Indah menatap ke arah Laurel yang wajahnya terlihat memerah karena kata-kata Nia yang dengan sengaja mengolok-oloknya sambil tertawa sedikit keras, sedang Lusiana lebih memilih menahan tawanya, apalagi dilihatnya Feri yang duduk di meja lain bersama Arnold dan Leo sedang menatap ke arahnya, seolah ikut penasaran dengan apa yang sedang mereka bicarakan sehingga terdengar sedikit ribut bahkan dari arah mejanya yang terletak cukup jauh dengan meja Lusiana dan teman-temannya.


"Mulai sekarang sepertinya kami harus benar-benar mengawasi pola makanmu. Kamu sendiri juga harus benar-benar menjaga emosimu sekarang, agar asam lambungmu tidak mengganggumu," Mendengar nasehat dari Nia, Laurel tersenyum dengan wajah masih memerah, rasanya dia bersyukur memiliki para sahabat yang begitu perduli dengannya, namun juga merasa malu karena mereka seolah-olah sedang memperlakukannya seperti anak kecil.


Indah melirik memandang bergantian ke arah Indah, Lusiana dan Laurel, dalam hatinya dia bisa memastikan ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh ketiga sahabatnya yang lain.


"Sepertinya ada yang sedang kalian sembunyikan, tidak bolehkah aku tahu?" Nia langsung meraih tangan Indah begitu mendengar pertanyaan dari Indah.


"Tunggu dulu Indah, sedikit bersabarlah dahulu. Dalam waktu dekat kita akan memberitahukan kepadamu apa yang sedang terjadi, tapi jangan sekarang, ada seseorang yang harus tahu berita ini dahulu dibanding kamu," Nia mengedipkan sebelah matanya ke arah Laurel.


"Tenang saja Indah, ini berita baik kok, jadi kamu tidak perlu khawatir. Cuma belum waktunya orang lain untuk tahu. Kalau sudah waktunya pasti Laurel akan memberitahumu, apalagi selama ini kamu yang menjadi asistennya di poliklinik, ke depannya pasti Laurel akan banyak membutuhkan bantuanmu dengan kondisinya sekarang," Lusiana menambahkan kata-kata Nia, membuat Indah hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya sambil melirik ke arah Laurel, karena dalam hati Indah sudah bisa menebak jika semua ini ada hubungannya dengan Laurel, artinya itu berhubungan juga dengan Dave yang merupakan Bos besar di rumah sakit ini, membuat Indah begitu maklum kenapa teman-temannya tidak berani langsung memberitahunya apa yang sedang terjadi.


"Oke-oke, aku akan menunggu dengan sabar, asal jangan terlalu lama, bukannya jika ada berita bagus kita harus merayakannya bersama-sama?" Nia tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Indah sambil mengangguk tanda setuju.


"Eh, omong-omong tentang perayaan, malam ini aku diundang oleh dokter Leo ke acara ulang tahunnya, apa kalian juga?" Laurel berbisik dengan pelan karena tidak ingin Leo yang duduk meja yang ada di sebelah utara mereka mendengar kata-katanya.


Mendengar pertanyaan Laurel, ketiga temannya langsung mengangguk bersamaan untuk menyatakan bahwa mereka juga diundang. Laurel tersenyum sambil sedikit menarik nafas lega, karena ternyata akan ada orang-orang yang dikenalnya di acara Leo nanti sore, karena menurut info awal dari Dave, Leo sebenarnya tidak ingin merayakan ulang tahunnya, tapi karena kedua orang tua dan kakak perempuannya memaksanya untuk merayakannya membuat Leo akhirnya memutuskan untuk merayakannya di restauran milik Evelyn.


Awalnya dokter Leo hanya berencana mengundang orang-orang terdekatnya termasuk keluarga Dave. Untunglah ternyata teman-teman yang lain juga diundang, Laurel berkata dalam hati sambil tersenyum. Paling tidak di acara ulang tahun Leo nanti malam dia tidak akan seperti seekor anak ayam di tengah-tengah sekumpulan anak burung merak yang memiliki bulu-bulu indah yang diwariskan dari induknya.

__ADS_1


Laurel masih sibuk menikmati nasi soto banjar di depannya ketika handphonenya berbunyi, membuat ketiga temannya yang lain langsung melirik ke arah layar handphone Laurel, begitu penasaran siapa yang sudah menelponnya. Tentu saja mereka mengharapkan nama Dave yang terbaca di sana, sekaligus mereka ingin tahu Laurel memberikan sebutan sayang seperti apa kepada bos mereka di kontak handphonenya, tetapi mereka harus menelan kekecewaannya karena di sana tertulis nama Freya.


"Hallo,"


"Kak Laurel, bisa tidak sekarang kakak keluar sebentar?" Laurel sedikit menggerakkan matanya ke atas karena heran dengan permintaan Freya yang tiba-tiba.


"Memang ada apa Frey? Kamu ada dimana sekarang?"


"Sekarang aku ada di depan rumah sakit Kakak. Kak Dave minta siang ini aku mengantar Kakak ke suatu tempat," Laurel semakin keheranan mendengar apa yagn dikatakan oleh Freya.


"Sebentar, aku akan menelpon Kakak iparmu dahulu. Aku matikan dulu ya telponmu," Tanpa menunggu jawaban dari Freya, Laurel mematikan panggilan telponnya, dan dengan cepat dia segera mencari kontak Dave dan menelponnya.


Dave yang baru saja menyelesaikan meetingnya dengan klien dan sedang menunggu sajian makan siangnya bersama kliennya dan juga Mira langsung tersenyum melihat tulisan "mo cuisle" di layar handphonenya sedang melakukan panggilan telepon kepadanya, tanpa menunggu lama Dave langsung menggeser tombol hijau bergambar gagang telepon di layar handphonenya untuk menerima panggilan telepon dari Laurel.


"Hallo mo cuisle," Dave langsung menyapa Laurel sambil menggerakkan tubuhnya, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi restauran tempatnya duduk.


"Eh, Freya mengatakan kalau kamu menyuruhnya menjemputku untuk mengajakku ke suatu tempat. Memangnya dia mau membawaku kemana? Apa ada sesuatu yang terjadi? Apa semua baik-baik saja?" Dave tersenyum geli mendengar suara dengan nada khawatir yang terdengar dari Laurel.


"Mo cuisle? Kamu masih disana? Kamu masih mendengarkan aku?" Dave yang melihat tidak ada reaksi atau jawaban dari Laurel selama beberapa saat langsung menegurnya, membuat Laurel sedikit tersentak kaget karena teguran lembut dari Dave.


"Eh, iya, kalau begitu aku akan segera menemui Freya. Ok, sampai nanti, semoga meetingmu dengan klien berjalan dengan lanjar," Akhirnya Laurel lebih memilih untuk tidak meneruskan pertanyaannya karena sepertinya Dave ingin dia melihat sendiri apa yang hendak ditunjukkan Freya kepadanya. Laurel tahu dengan pasti kalaupun dia memaksakan diri untuk mendapatkan jawaban, pasti Dave akan tetap berkelit dan tidak menjawabnya, satu-satunya cara untuk mengetahui apa yang dimau oleh Dave adalah mengikuti apa yang diperintahkannya, hanya itu.


"Sampai nanti mo cuisle, hati-hati di jalan. Kabari aku tentang hasil perjalananmu bersama Freya siang ini," Dave tersenyum sebelum mengakhiri panggilan teleponnya, melihat itu Mira yang duduk di sampingnya hanya bisa tersenyum melihat betapa bahagianya wajah Dave setelah menerima telepon dari Laurel, dan wajah bahagia Dave cukup membuat klien yang duduk di depannya ikut tersenyum.


"Sepertinya Tuan Shaw sedang dalam suasana hati yang sangat baik," Dave langsung tertawa kecil mendengar perkataan kliennya.


"Tentu saja, siapa pria yang tidak akan bahagia mendengar suara istrinya setelah menyelesaikan diskusi panjang tentang kerjasama yang cukup menguras otak,"


"Tuan Shaw sudah menikah? Saya bahkan belum pernah mengucapkan selamat atas pernikahan Tuan Shaw," Mendengar perkataan Dave, wajah pria yang duduk di depannya tampak kaget, membuat Dave tersenyum sambil menggerakan tubuhnya mendekati meja yang memisahkannya dengan klien di depannya dan menumpangkan kedua lengan bawahnya di atas meja di depannya dengan posisi saling berjajar depan dan belakang.

__ADS_1


"Jangan khawatir, dua minggu lagi kami akan mengadakan pesta perayaan pernikahan kami, dan pastinya Anda merupakan salah satu tamu kerhormatan yang akan kami undang," Laki-laki yang ada di depan Dave tertawa mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Dave, seolah ikut berbahagia atas berita pernikahan Dave.


"Saya akan dengan senang hati menerima undangan itu, dan saya akan menantikannya," Dave tersenyum sambil sedikit mengangguk untuk merespon kata-kata kliennya tentang undangan pesta pernikahannya.


“Saya begitu penasaran ingin segera bertemu dengan Nyonya Shaw. Saya ingin melihat wanita hebat seperti apa yang sudah berhasil menaklukkan hati Tuan Shaw yang selama ini belum pernah terdengar dekat dengan seorang wanita, tapi tiba-tiba ternyata sudah menikahi wanita impiannya,” Dave kembali tertawa kecil mendengar perkataan kliennya.


“Yang pasti dia wanita hebat yang tidak ada duanya bagi saya, dan wanita yang benar-benar bisa membuat saya begitu nyaman berada di dekatnya. Bagi saya, dia merupakan istri, adik, sekaligus sahabat terbaik dalam kehidupan saya,” Dave berkata sambil membayangkan wajah cantik Laurel yang tersenyum dengan lesung pipitnya yang pasti akan membuatnya terlihat semakin cantik, membuat Mira hanya bisa menahan senyumnya melihat bagaimana Dave menggambarkan sosok Laurel kepada orang lain.


# # # # # #


"Wuih..., teman kita ini ternyata suaranya bisa berubah begitu lembut dan manja saat menelpon Bosnya," Lusiana berkata sembil terkikik, membuat wajah Laurel kembali memerah untuk kesekian kalinya.


"Bos? Sepertinya itu suara lembut untuk suaminya, bukan Bosnya," Indah ikut menambahi kata-kata Lusiana yang sukses membuat Nia tersenyum-senyum melihat bagaimana kikuknya Laurel mendengar mereka sibuk menggodanya.


"Eh, aku harus pergi sekarang," Laurel menggeser mangkuk berisi nasi soto banjarnya yang amsih berkurang setengahnya.


"Kenapa Laurel? Sepertinya serius sekali?" Lusiana langsung bertanya kepada Laurel begitu melihat Laurel dengan buru-buru menyingkirkan makan siangnya tanpa menghabiskannya terlebih dahulu.


"Maaf ya semua, aku harus menemui adikku yang sudah menunggu di luar rumah sakit. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba adikku menyusulku ke sini, katanya Bos yang menyuruhnya menjemputku," Laurel berkata sambil bangkit dari duduknya.


"Ehem...,"


"Suit-suit...,"


"Uhuk-uhuk...," Baik Lusiana, Indah dan Nia langsung mengeluarkan berbagai suara untuk menggoda Laurel yang hanya bisa membalas mereka dengan senyuman di wajahnya.


"Kalian ini...," Laurel berkata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar bagaimana ketiga temannya langsung bereaksi untuk menggodanya begitu dia mengatakan sesuatu tentang Dave.


"Iya-iya, kami tidak akan mengganggu kegiatan pengantin baru kok,"

__ADS_1


"Hust..., sembarangan saja, aku mau menemui adikku, bukan suamiku," Laurel langsung berbisik pelan untuk menanggapi perkataan Lusiana yang langsung terkikik.


"Berarti kalau kamu bertemu Bos, kalian selalu melakukan kegiatan pengantin baru? Pantas saja hasilnya begitu cepat terlihat, kerja keras memang tidak pernah mengkhianati hasil," Lusiana berusaha mengeluarkan suara sepelan mungkin untuk menggoda Laurel yang wajahnya langsung bertambah merah, membuat Nia ikut terkikik geli, sedang Indah hanya bisa tersenyum, tapi dari apa yang barusan dikatakan oleh Lusiana, rasanya dia sudah bisa menebak apa yang sedang terjadi, hanya dia lebih memilih diam dan mencoba mengira-ira dalam hati daripada nantinya dia dituduh sebagai seseorang yang bocor mulut, lagipula sebagai seorang sahabat dia ingin menjadi sahabat sejati yang bisa dipercaya.


__ADS_2