
Dave memandang apa yang ada di depannya dengan wajah frustasi. Kedua pengawal yang mengikutinya hanya bisa terdiam melihat bagaimana wajah majikannya, Dave yang tampak begitu berantakan. Dengan mata tajam Dave melihat dalam-dalam ke arah handphone Laurel yang berada di tangan salah satu pegawalnya. Sesuai dengan perkiraan Ornado, penculik Laurel bukan orang bodoh, dia cukup berhati-hati dalam bertindak. Penculik itu tampaknya tahu Laurel memiliki orang-orang kuat yang mendukungnya, yang pasti akan mengejarnya kemanapun dengan mengerahkan segala kemampuan dan kekuatan.
Penculik itu dengan sengaja membawa Laurel ke pom bensin dan membuang handphone beserta tas Laurel ke dalam tong sampah yang ada di salah satu ruang toilet pom bensin. Selain itu pelaku penculikan Laurel menutup rapat-rapat pintu toilet, bahkan mengikat knop pintu toilet, dan dengan sengaja menempelkan tulisan "SEDANG DIPERBAIKI" ke pintu toilet agar orang lain tidak masuk ke toilet itu dan menemukan barang-barang Laurel yang sudah dibuang oleh penculik itu, agar siapapun mengalami kesulitan untuk melacak keberadaan Laurel.
Dicky! Walaupun hanya sehelai rambut Laurel kamu berani menyakitinya! Aku tidak akan membuat hidupmu tenang! Kamu akan menyesal seumur hidupmu! Aku tidak akan membiarkanmu bebas berkeliaran! Dave berkata dalam hati dengan kedua tangannya terkepal dengan erat.
Selanjutnya dengan gerakan pelan Dave mengambil hanpdhone Laurel dari tangan pengawalnya. Dave harus segera mengalihkan pandangan matanya dari orang-orang di sekitarnya agar mereka tidak bisa melihat bagaimana saat ini Dave harus berusaha begitu keras menahan gemuruh dalam dadanya dan menahan agar airmata tidak menerobos keluar dari sudut matanya. Tangannya yang sedang memegang hanpdhone Laurel terlihat sedikit bergetar karena rasa khawatir dan takut yang tiba-tiba saja menyergapnya, membayangkan hal buruk apa yang mungkin menimpa Laurel sedang dia tidak berada di sisi Laurel.
"Tuan Dave..., apa yang harus kita lakukan sekarang?" Dave terdiam mendengar pertanyaan salah seorang pengawalnya, di dekat pom bensin itu terdapat jalan bercabang ke empat arah penjuru. Jujur saja saat ini Dave benar-benar tidak tahu harus melanjutkan pencarian Laurel ke arah mana. Haruskah dia mengambil jalan lurus, berbelok ke kanan, berbelok ke kiri atau bahkan harus berbalik arah? Saat ini Dave benar-benar tidak tahu, dan itu semakin membuatnya frustasi.
Suara panggilan telepon membuat Dave sedikit tersentak, dan begitu melihat nama Ornado di layar handphonenya, membuat Dave dengan gerakan secepat mungkin menerima panggilan tersebut. Saat ini Dave benar-benar berharap Ornado memberikan kabar baik padanya.
"Hallo Ad,"
"Dave, cepatlah kamu bergerak ke arah selatan dari pom bensin tempat kamu berada sekarang, tim IT ku menemukan sosok wanita dengan tingkat kemiripan dengan Laurel mencapai 95%. Wanita itu beberapa waktu yang lalu memasuki sebuah kawasan wisata perkebunan teh," Dave menarik nafas dalam-dalam mendengar perkataan Ornado, merasa mendapat setitik harapan untuk bisa segera menemukan wanita tercintanya.
"Sosok itu diketahui memasuki bangunan sebuah bangunan villa beberapa waktu yang lalu. Selain itu...," Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut dari Ornado, Dave berlari dengan cepat untuk kembali ke mobilnya diikuti oleh para pengawalnya yang langsung melajukan mobilnya ke arah selatan sesuai petunjuk dari Ornado.
__ADS_1
# # # # # # #
"Dicky...," Begitu Laurel menyebutkan namanya, Dicky menghentikan langkahnya, melepaskan cekalan tangannya kepada pergelangan tangan Laurel dan langsung membalikkan tubuhnya, memandang ke arah Laurel, mengamat-amati wajah cantik di depannya dengan senyum di wajahnya yang sebenarnya terlihat sabagai sosok laki-laki yang tampan. Dari tatapan matanya, terlihat Dicky begitu berharap Laurel mau mengubah keputusannya untuk menikah dengannya.
Setelah beberapa saat Dicky memandang ke arah Laurel dengan pandangan antara kagum, cinta, berharap namun juga kecewa, dengan gerakan pelan tangan Dicky bergerak ke arah wajah Laurel. Awalnya Dicky berusaha menyentuh wajah Laurel untuk mengelusnya, namun dengan cepat Laurel memalingkan wajahnya ke samping, sehingga wajah Dicky kembali menegang dengan tangan yang tadinya hendak mengelus wajah Laurel terkepal karena menahan kekecewaannya karena penolakan Laurel yang terlihat jelas.
"Kenapa memanggil namaku? Apa yang kamu inginkan? Apa kamu berencana menerima penawaranku untuk meninggalkan laki-laki itu dan menikah denganku?" Mendengar pertanyaan Dicky dengan wajah berharapnya, Laurel sedikit termenung.
Aku harus mencari cara untuk mengulur waktu, berharap seseorang datang ke sini dan menyelamatkanku, Laurel berkata dalam hati sambil berusaha agar Dicky tidak melihat kedua tangannya yang terikat di bagian belakang tubuhnya sudah hampir berhasil melepaskan diri, setelah sedari tadi pergelangan tangan dan jari-jari tangannya sibuk bergerak kesana kemari untuk melonggarkan ikatan tali di tangannya.
"Dicky, kamu adalah putra tunggal dari orangtuamu. Dengan melakukan ini apakah kamu tidak tahu bagaimana orangtuamu akan merasa sedih karena kehilangan putra mereka satu-satunya. Apa kamu pernah memikirkan perasaan Tante Lia dan Om Pram? Mereka dua orang yang begitu perduli dan mencintaimu. Apa yang akan terjadi jika mereka mengetahui kamu berencana untuk membakar dirimu sendiri?" Dicky mengernyitkan dahinya mendengar kata-kata Laurel, seolah memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh Laurel kepadanya.
"Bagi mereka kehilangan aku harusnya membuat mereka bahagia. Setelah selama ini mereka tidak bisa membantuku untuk mendapatkan istriku, bahkan mereka selalu berusaha untuk menghalangiku pergi mencarimu," Dicky berkata sambil berkacak pinggang.
"Apa kamu tahu? sejak tujuh tahun lalu aku selalu memohon kepada orangtuaku untuk membawamu kembali kepadaku. Tapi mereka selalu mengatakan bahwa kamu sudah menjadi istri orang lain, menjadi milik laki-laki lain. Apa kamu tahu betapa menderitanya aku menyadari bahwa di reinkarnasi kita kali ini kamu mengkhianatiku dengan laki-laki lain," Laurel menahan nafasnya sejenak, berusaha berpikir dengan cepat agar perhatian Dicky teralihkan.
"Maaf kalau selama ini aku sudah membuatmu sakit hati. Aku tidak pernah berniat menyakiti siapapun," Dicky sedikit terbeliak mendengar kata-kata Laurel, bagi Dicky permintaan maaf Laurel barusan merupakan pernyataan cinta kepadanya.
__ADS_1
"Apa itu artinya kamu akhirnya memutuskan untuk meninggalkan laki-laki itu dan menikah denganku?" Dicky berkata sambil mendekat ke arah Laurel dengan pandangan mata berbinar-binar, membuat Laurel justru sedikit bergidik melihatnya.
"Bukan begitu Dicky..., aku minta maaf sudah membuatmu sakit hati, tapi aku tidak bisa meninggalkan suamiku untuk menikah denganmu. Aku benar-benar mencintai suamiku. Kami saling mencintai. Aku dan…,”
"Dasar pembohong!" Dicky langsung memotong perkataan Laurel dengan nada tinggi, bahkan berteriak dengan cukup keras.
Lalu Dicky yang sudah berada tepat di depan Laurel menggerakkan tangannya ke arah dagu Laurel, mencengkeramnya dengan cukup keras, dan mendekatkan wajahnya yang dipenuhi kemarahan ke arah Laurel, berencana untuk mencium bibir Laurel.
Melihat bagaimana Dicky berusaha untuk mencium bibirnya, dengan gerakan reflek kedua tangan Laurel yang sudah terlepas dari ikatannya bergerak ke arah dada Dicky dan mendorongnya dengan sekuat tenaga. Dorongan dari laurel berhasil membuat tubuh Dicky sedikit terdorong sehingga dia langsung mundur ke belakang dua langkah, namun dengan gerakan cepat Dicky langsung kembali mendekati Laurel, lalu dengan kasar menyambar kedua pergelangan tangan Laurel, mencengkeramnya dengan begitu erat, membuat Laurel sedikit meringis karena rasa sakit di pergelangan tangannya akibat tali belum lagi pulih, Dicky sudah mencengkeram pergelangan tangannya dengan begitu erat.
"Beraninya kamu! Beraninya kamu berencana melarikan diri dariku!" Dengan gerakan kasar Dicky menarik kedua pergelangan tangan Laurel mendekat ke arah api yang masih terlihat menyala dengan kobaran besarnya.
Laurel berusaha menahan gerakan tubuhnya dengan menahan gerakan kakinya. Sehingga Dicky harus menyeret Laurel agar berjalan mengikutinya. Dengan sekuat tenaga Laurel berusaha agar tubuhnya tetap berdiri di tempat asalnya berdiri, namun tenaganya tidak bisa melawan Dicky yang sudah terlihat seperti orang kesetanan.
Dave..., kalaupun hidupku harus berakhir hari ini di tempat ini.... Ingatlah untuk kamu harus tetap hidup dengan bahagia. Aku tahu kamu akan bersedih, karena aku tidak bisa lagi menemani hari-harimu, tapi aku hanya akan mengijinkanmu untuk bersedih sebentar saja. Setelah itu kamu harus tetap bahagia, karena aku begitu mencintaimu. Aku mau kamu selalu bahagia. Semoga kamu bisa mendengar dan mengabulkan keinginanku. Maafkan aku karena aku hanya bisa memberimu kebahagiaan yang terlalu singkat, Laurel berkata dalam hati sambil memejamkan mata, dengan airmata mulai mengalir membasahi pipinya.
Satu hal yang begitu membuat Laurel takut saat ini, bukan karena kematian yang sedang berada tepat di depannya saat ini, tapi ketakutan membayangkan bagaimana dan apa yang akan terjadi pada Dave jika laki-laki itu tahu dia kembali meninggalkannya sendirian seperti tujuh tahun lalu, dan bahkan kali ini mungkin tidak lagi ada jalan untuk kembali ke sisi Dave.
__ADS_1