
“Evelyn…Tolong antarkan Kakakmu Laurel ke kamar,” Laurel langsung menoleh ke arah Dave dengan wajah bertanya-tanya begitu mendengar Dave meminta kepada Evelyn untuk mengantarnya ke kamar.
“Mo cuisle, istirahatlah di kamar. Jangan khawatir, aku akan menyelesaikan semuanya dengan baik, dan pasti sesuai dengan keinginanmu. Kasihan baby kita. Sebaiknya kamu beristirahat dan menenangkan diri bersamanya di kamar,” Mendengar perkataan Dave, Laurel hanya terdiam tanpa memberikan respon.
Beberapa waktu kemudian Laurel masih berdiam diri dengan tatapan mata sedikit kosong. Melihat itu, Dave langsung mendekatkan bibirnya ke telinga Laurel dan berbisik pelan ke telinga Laurel.
“Mo cuisle, pikirkan baby kita, jangan sampai emosimu mempengaruhi dia, kasihan dia. Setelah semuanya beras, aku akan segera menyusulmu dan menemanimu,” Mendengar permintaan dari Dave yang dibisikkannya dengan suara lembut dan dengan nada memohon, sekaligus demi bayinya, akhirnya Laurel bangkit berdiri, berjalan menjauh dari ruang tamu diikuti oleh Evelyn yang langsung memeluk Laurel yang sedang bergegas meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya.
Dave sedikit menahan nafasnya sebelum akhirnya menatap lurus ke arah Pramono Agung dan Tante Lia. Sebenarnya sebagai seorang dokter yang biasa menghadapi problema para pasien dan keluarga pasien, ada rasa kasihan menyembul di dada Dave, saat Dave melihat mereka berdua. Dave tahu bukan keinginan mereka untuk memiliki anak yang memiliki kelainan seperti itu, apalagi Dicky merupakan anak satu-satunya bagi mereka. Namun mengingat bagaimana Dicky yang seringkali sudah menyakiti Laurel, bahkan sejak tujuh tahun yang lalu membuat amarah Dave juga tidak bisa begitu saja dia hilangkan dari hatinya saat ini.
“Tante bisa meneruskan apa yang akan Tante ceritakan tentang Dicky,” Dave berkata sambil matanya melirik ke arah tangga rumahnya, memastikan Evelyn sudah mengantar Laurel ke kamar mereka.
“Sejak kepergian Laurel 7 tahun lalu ke Amerika, kami berusaha keras untuk membuat Dicky melupakan Laurel dan mencarikan psikiater terbaik di kota ini. Ketika Laurel kembali ke Indonesia, kami berusaha keras mencegah agar Dicky tidak mendengar berita tentang Laurel. Namun, saat itu ketika Denia mengantarkan kue ke rumah dan mengatakan akan ada pesta pindah rumah, tanpa sengaja Dicky mendengarnya dan memaksa untuk ikut ke sana dan…,”
“Saat itu aku belum mengetahui tentang penyakit Dicky. Karena itu aku membiarkannya ikut ketika kamu memintanya, Harusnya saat itu kamu sudah menjelaskan padaku tentang kondisi Dicky, bukan malah mengajaknya untuk menemui Laurel dan justru membuat Dicky semakin menjadi!” Mama Denia memotong kata-kata Tante Lia dengan nada suara yang masih terdengar cukup tinggi, dengan nafas sedikit tersengal-sengal karena emosi di dadanya saat ini yang masih sulit untuk dia kendalikan teringat bagaimana selama beberapa lama ini Dicky sudah berkali-kali berusaha untuk menyakiti Laurel, bahkan hampir saja membunuhnya dengan cara membakarnya. Sungguh, dengan membayangkan itu membuat dada Mama Denia semakin sesak dan amarah kembali timbul menguasai hatinya.
“Setelah Dicky melakukan penusukan kedua kepada Laurel di tempat parkir rumah sakit, dan Dave mengatakan tentang kecurigaaannya bahwa pelakunya adalah Dicky. Saat itu juga Mama langsung mencari info ke Tante Lia dan dia memohon kepada Mama agar mengampuni Dicky, berjanji bahwa Dicky tidak akan lagi mendekati Laurel dan mereka akan segera mengirimkan Dicky ke luar negeri untuk melakukan pengobatan. Bahkan saat itu Tante Lia meyakinkan Mama bahwa kondisi Dicky selama di luar negeri akan jauh lebih baik dan pasti bisa disembuhkan. Mama benar-benar tidak menyangka bahwa kamu sudah menipuku dengan mengatakan sudah mengirim Dicky ke luar negeri sedangkan beberapa waktu kemudian ternyata Dicky berusaha untuk menculik Laurel di depan rumahku,” Mama Denia mengakhiri kata-katanya dengan suara yang terdengar geram dan mata memandang sinis ke arah Tante Lia karena amarah yang benar-benar memenuhi hatinya.
“Denia, maaf. Kami terlalu gegabah berani mengatakan kalau Dicky bisa segera sembuh. Tapi setelah mengatahui Laurel benar-benar sudah menikah dengan Dave, justru membuat Dicky semakin menjadi. Kami juga tidak menyangka akan seperti itu. Di depan kami Dicky benar-benar menunjukkan bahwa dia sudah berubah. Kami benar-benar tidak menyangka bahwa dalam hatinya dia masih begitu menginginkan Laurel,” Tante Lia berusaha menjelaskan dengan mata terlihat bengkak akibat terlalu banyak menangis.
“Ma, tenanglah…,” Freya bekata pelan untuk menenangkan hati mamanya yang akhirnya memilih untuk diam.
“Apa yang sekarang Om Pram dan Tante Lia inginkan dari kami?” Dave berkata sambil melirik ke arah Augistin Shaw dan Mama Rosalia yang tampak serius mengamati apa yang sedang terjadi.
__ADS_1
“Dave…, Om minta maaf, dan mohon…, jangan melanjutkan perkara ini ke pihak yang berwenang. Tolong ampuni Dicky. Jika dia harus mendekam di penjara, kami sebagai orang tua sangat tidak tega karena bisa memperparah kondisi Dicky. Bahkan kami takut justru di penjara Dicky akan melakukan sesuatu yang lebih buruk lagi,” Dave menarik nafas dalam-dalam mendengar permintaan maaf sekaligus permohonan dari Pramono Agung untuk melepaskan Dicky dari jerat hokum setelah tindakannya yang sungguh hampir melukai dan bahkan menghilangkan nyawa seseorang. Dan kenyataan bahwa orang itu adalah istri tercintanya sungguh membuat Dave harus berpikir keras sebelum menjawab perkataan Pramono Agung.
Sekilas Dave melihat ke arah papa dan mamanya yang cenderung tenang, seolah dari wajah mereka sudah menunjukkan bahwa mereka mempercayakan semua keputusan kepada Dave. Setelah itu Dave melirik ke arah Mama Denia yang menggigit bibirnya, menunjukkan dia masih begitu tidak terima mendengar kenyataan bahwa Dicky sudah berbuat sesuatu yang jahat kepada Laurel.
“Kalau aku membiarkan Dicky dan mencabut semua tuntutan. Apa yang akan Om dan Tante lakukan? Apa kalian berdua tetap akan membiarkannya berkeliaran dan kembali mencari cara untuk menyakiti Laurel?” Dave bertanya kepada Pramono Agung dan Tante Lia dengan tatapan matanya yang tajam, membuat Pramono Agung sedikit salah tingkah.
“Tidak…, tentu tidak…. Kami akan memastikan bahwa Dicky akan mendapatkan perawatan agar segera pulih. Dan kami akan selalu berusaha agar dia tidak lagi mendekati Laurel,” Pramono Agung buru-buru menjanjikan untuk menjauhkan Dicky dari Laurel.
“Kalau Dicky tetap berada di kota ini, aku secara pribadi tidak yakin dia bisa segera pulih sedang sosok Laurel masih memenuhi pikirannya, dan dia tahu jelas Laurel masih hidup dan berada di kota yang sama dengannya. Aku hanya bisa memberikan dua alternative. Membiarkan Dicky mendekam di penjara atau kalian harus mengirim Dicky ke rumah sakit jiwa di luar negeri sekaligus melakukan rehabilitasi kesehatan mentalnya di sana. Aku tidak mengijinkan kalian memilih salah satu rumah sakit jiwa di negara ini. Bawa jauh Dicky dari kota ini, bahkan dari negara ini kalau ingin aku mencabut semua tuntutan dan membebaskan Dicky dari segala tuntutan,” Pramono Agung dan Tante Lia terbeliak kaget mendengar perkataan Dave.
Mengirim Dicky keluar negeri sama arrtinya dengan membuangnya, menjauhkan anak satu-satunya bagi mereka dari semua keluarganya, termasuk mereka sebagai orangtuanya. Tapi jika mereka menolak, maka jeruji penjara jelas sedang menunggu Dicky.
“Dave, apakah harus sekejam itu pilihan yang kamu berikan kepada kami?” Mendengar pertanyaan Tante Lia, Dave mengernyitkan dahinya.
# # # # # # #
Dave menarik nafas lega begitu Pramono Agung dan Tante Lia berpamitan dan meninggalkan ruanga tamu rumah kaca. Begitu mereka berdua pergi, Dave langsung berjalan mendekat ke arah Mama Denia yang terlihat diam sejak terakhir kali dia bersuara sebelum Dave mengajukan 2 pilihan kepada orangtua Dicky.
“Ma, apa Mama keberatan dengan keputusanku barusan dengan memberikan dua pilihan, dan mereka memilih untuk mengirim Dicky ke luar negeri dan melakukan pengobatan di sana?” Mendengar pertanyaan Dave, Mama Denia langsung mendongakkan kepalanya ke arah Dave dan tersenyum lembut.
“Sekarang Laurel sudah menjadi istrimu yang sah, baik secara agama maupun hukum negara. Kamu lebih berhak dari siapapun untuk memutuskan segala sesuatu tentang Laurel sebagai suaminya. Dan aku yakin apapun yang kamu putuskan adalah hal terbaik yang sudah kamu pikirkan matang-matang untuk kebaikan Laurel,” Dave tersenyum lega mendengar bagaimana Mama Denia yang akhirnya mendukung keputusannya tentang Dicky.
“Ok, kalau begitu, sebaiknya kita pergi, supaya Laurel dan Dave bisa beristirahat setelah peristiwa yang pasti membuat mereka lelah,” Mama Rosalia berkata sambil mendekat ke arah Mama Denia dan Freya, sedang Leo sebelum Pramono Agung dan Tante Lia memutuskan pilihannya dia sudah berpamitan kepada Dave karena sudah terlalu lama meninggalkan rumah sakit, apalagi Dave hari ini sedang mengambil hari liburnya.
__ADS_1
“Sebaiknya kita temui Laurel sebentar untuk berpamitan,” Mama Denia berkata sambil menarik tangan Mama Rosalia untuk berjalan menuju kamar Laurel, sedang Augistin Shaw memilih untuk menunggu di ruang tamu.
Dave yang melihat kedua mamanya berjalan menuju ke kamarnya, diikuti oleh Freya bergegas mengikuti langkah-langkah mereka ke sana. Begitu mendengar suara pintu dibuka Laurel yang sedang mengobrol dengan Evelyn di sofa yang ada di kamarnya langsung menoleh ke arah pintu. Dan senyum langsung mengembang di bibir Laurel melihat kehadiran kedua mamanya bersama dengan Freya dan Dave di belakang mereka.
“Laurel, kami mau berpamitan untuk pulang. Sebaiknya hari ini kamu menghabiskan waktumu untuk banyak istirahat,” Mama Denia berkata sambil mencium kedua pipi Laurel yang memeluk tubuh mamanya dengan hangat.
“Lain kali kamu harus lebih hati-hati saat berada di luar. Kalau memang tidak ada perlunya, lebih baik kamu tidak keluar dari rumah. Jangan sampai ada kejadian mengerikan seperti ini lagi,” Mendengar kata-kata Mama Denia, Laurel langsung menganggukkan kepalanya agar mamanya merasa lega.
“Mama juga akan pulang. Istirahatlah dengan baik hari ini. Jangan berpikir macam-macam, ingat bayi dalam kandunganmu harus dijaga dengan baik. Emosi dan kondisi pikiran wanita yang sedang hamil begitu berpengaruh terhadap perkembangan bayi di dalam kandungan. Mulai saat ini pikirkan saja segala sesuatu yang baik dan menyenangkan. Jauhkan segala hal yang bisa membautmu sedih, takut atau khawatir,” Mama Rosalia berkata panjang lebar sambil memegang kedua tangan Laurel dengan erat.
“Iya Ma, Laurel akan mengingat semua pesan Mama Denia dan Mama Rosalia. Laurel akan menjaga diri Laurel baik-baik. Jangan khawatir, Mama tahu Laurel bukan orang yang gampang bersedih maupun susah. Apalagi sekarang di samping Laurel ada Dave yang selalu mendukung Laurel tanpa lelah,” Laurel berkata sambil melirik ke arah Dave yang langsung tersenyum mendengar bagaimana istrinya memuji keberadaannya sebagai suaminya.
“Ok, kalau begitu, kami pamit dulu,” Mama Rosalia berkata sambil melepaskan pegangan tangannya kepada Laurel.
“Kak Laurel, aku juga pamit sekarang. Kalau ada apa-apa tolong jangan sungkan untuk segera memberitahu kami. Jangan seperti hari ini, kami mendengar kabar dari Evelyn. Jika tidak karena Evelyn, mungkin sampai saat ini kami tidak tahu bahwa Kakak baru saja mengalami kejadian mengerikan seperti itu. Walaupun mungkin kami tidak bisa banyak membantu, tapi kamu berharap kehadiran dan doa kami bisa cukup menghibur Kakak,” Laurel tersenyum tipis mendengar perkataan Freya, dengan gerakan pelan dipeluknya tubuh adik satu-satunya itu sebentar, lalu dilepasnya pelukannya diamatinya wajah Freya dalam-dalam dengan penuh kasih sayang.
“Maafkan Kakak, lain kali Kakak akan ingat apa yang baru saja kamu katakan. Selama ini Kakak selalu berpikir untuk tidak mengatakan hal-hal seperti itu agar kamu dan Mama tidak perlu mengkhawatirkan Kakak. Tapi Kakak tahu, walaupun menyakitkan, menakutkan atau menyedihkan, sebagai satu keluarga harusnya kita harus saling terbuka,” Freya langsung tersenyum mendengar kata-kata dari Laurel.
“Ok. Ayo kita turun. Dave, kami pulang dulu ya. Kamu tidak perlu mengantar. Temani saja Laurel dan buat dia senyaman mungkin hari ini,” Mama Rosalia berkata kepada Dave sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat Dave hanya bisa membalasnya dengan seyuman yang terlihat begitu kaku karena salah tingkah akibat godaan mamanya yang sedari pagi sepertinya tahu betul apa yang sudah dilakukannya bersama Laurel.
“Evelyn…, ayo kita pulang,” Mama Rosalia berkata sambil melirik ke arah Evelyn yang dilihatnya masih terlihat diam di samping Laurel, seolah tidak ada rencana untuk ikut pulang bersamanya.
“Ma…, aku masih ingin bersama Kak Laurel hari ini. Aku ingin menemani Kak Laurel Ma. Biarkan aku tetap di sini sampai nanti sore ya?” Mendengar perkataan Evelyn, bukan hanya Mama Rosalia yang terbeliak kaget, namun tanpa sadar mata Dave juga ikut terbeliak kaget dengan wajahnya menunjukkan tanda bahwa dia sungguh tidak rela jika sepanjang hari ini Evelyn berencana berada di sini bersama Laurel, sedangkan dia sudah mempunyai rencana yang sejak pagi tadi sudah begitu diangan-angankannya.
__ADS_1
“Tidak…, ada sesuatu yang sangat penting yang harus dikerjakan oleh kedua kakakmu untuk menenangkan diri. Pokoknya kamu harus ikut Mama pulang sekarang,” Mama Rosalia menolak dengan tegas keinginan Evelyn, bahkan dengan cepat langsung menarik pergelangan tangan Evelyn dan mengajaknya untuk segera keluar meninggalkan kamar kedua kakaknya.